
"Sepertinya mantra mak Sum cukup ampuh. Beberapa hari ini aku bisa bernapas dengan tenang karena lelaki pembawa sial itu sama sekali tidak menampakkan wajahnya di hadapanku," ucap Melody sambil tersenyum semringah.
Maya yang sedang asik merapikan riasannya di depan cermin pun ikut tersenyum mendengar penuturan Melody barusan. Ia ikut bahagia mendengarnya.
"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya kamu tidak sia-sia mandi buang sial sama mak Sum sampai menggigil," sahut Maya.
"Ish, kamu benar. Air di dalam bak mandi mak Sum itu dingin banget. Sampai-sampai bibirku membiru karenanya. Bukan hanya dingin, Maya. Kocek yang aku keluarkan untuk membayar jasa mak Sum pun cukup dalam. Uang itu cukup untuk jajanku selama dua minggu," celetuk Melody.
Maya tersenyum kecut. "Kamu benar. Aku biasanya nabung dulu kalau mau menemui mak Sum," ucap Maya kemudian.
"Wah, idenya boleh juga. Jadi, jika aku ingin mengunjungi mak Sum lagi, maka aku akan menabung terlebih dahulu."
Maya bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Melody. "Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang, yukk!"
"Hayukk lah!"
Baru beberapa langkah, Maya kembali menghentikan langkahnya kemudian menarik pelan lengan Melody sehingga membuat gadis itu ikut menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan bunga tujuh rupa? Kamu tidak melupakan benda penolak sial itu, kan?"
Melody terkekeh pelan. "Tentu sana tidak, lah. Coba lihat ini!"
Melody membuka isi tas kecilnya kepada Maya dan di sana tampak bunga tujuh rupa milik gadis itu terbungkus kantong kresek kecil.
"Baguslah kalau kamu tidak melupakannya."
Kedua gadis itu pun segera berangkat dan meninggalkan kontrakkan kecil mereka menuju kafe, di mana mereka mengais rejeki di tempat itu.
Sementara itu di kediaman mewah Daniel.
"Ehm, Kak! Sebentar," teriak Berlian sembari berlari kecil menghampiri Galaxy yang sedang berjalan menuruni anak tangga.
Galaxy menoleh kemudian menghentikan langkahnya. Ia berhenti tepat di tengah-tengah tangga dan kini tengah memperhatikan Berlian yang kini sedang menyusulnya. Dengan napas terengah-engah, Berlian kini berdiri tepat di hadapan Galaxy.
"Ada apa, Berlian? Ada yang bisa kubantu?" tanya Galaxy.
__ADS_1
"Ehm, sebenarnya aku hanya ingin bertanya pada Kakak tentang seseorang." Berlian meraih tangan Galaxy kemudian memeluknya. Ia juga mengajak kakak lelakinya itu berjalan bersama menuruni anak tangga.
"Tentang siapa?" tanya Galaxy dengan wajah heran.
"Namanya siapa, ya ...." Berlian tampak mengingat-ingat. "Ah iya! Tuan Amir Aziz Hermawan," lanjut Berlian.
Lagi-lagi Galaxy menautkan kedua alisnya heran. "Tuan Amir Aziz Hermawan? Dari mana kamu mengetahui nama itu, apa kamu mengenalnya?"
Berlian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak kenal, Kak. Makanya aku ingin bertanya tentang pria bernama tuan Amir Aziz bla-bla-bla itu sama Kakak."
"Kalau kamu tidak mengenalnya, trus dari mana kamu tahu nama itu, Berlian?" Galaxy menatap Berlian dengan wajah malas.
"Dari salah satu karyawan senior di minimarket. Dia bilang pria itu direktur di perusahaan Daddy, benarkah itu?"
Galaxy menghembuskan napas panjang. "Ya, itu benar. Beliau sudah lama mengabdi di perusahaan milik Daddy dan juga menjadi salah satu orang kepercayaan. Kalau ingin tahu lebih jelasnya, tanya saja Daddy karena Daddy yang tahu semuanya," sahut Galaxy.
Berlian mengangguk pelan. "Oh, begitu ya."
"Ehm, ngomong-ngomong, Kakak mau ke mana, sih? Wangi banget," lanjut Berlian sembari mengendus tubuh Galaxy.
"Berhentilah mengendusku!" titahnya. "Kamu mengingatkan aku sama—"
"Sama apa? Guk-guk!" kesal Berlian dengan wajah menekuk.
Galaxy tertawa pelan. "Bukan aku yang bilang lo, yah!"
"Kakak memang keterlaluan!"
Galaxy tidak mempedulikan gerutuan adik perempuannya itu. Ia terus melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Berlian yang masih kesal dengannya.
"Sebenarnya Kakak mau ke mana, sih?" tanya Berlian lagi, sembari mengikuti langkah Galaxy dari belakang.
"Bukan urusanmu," jawab Galaxy acuh.
"Ish, Kakak!"
__ADS_1
Galaxy menghampiri Daniel dan Dania yang sedang bercengkerama di ruang televisi.
"Mau ke mana kamu, Nak? Keren sekali," sapa Dania sambil tersenyum semringah menatap putra pertamanya yang datang mendekat.
"Pasti ke kafe itu lagi," celetuk Daniel.
"Kok, Daddy tau?" Galaxy heran karena ia belum berkata apa-apa.
"Insting Daddy itu kuat," jawab Daniel.
"Benarkah itu, Dad? Trus apalagi?" Galaxy tersenyum miring.
Daniel menatap anak lelakinya itu dengan lekat kemudian kembali bicara. "Kamu ingin menemui seorang gadis 'kan?"
Ekspresi wajah Galaxy sontak berubah. Wajahnya tampak memerah menahan malu. Ia heran bagaimana sang daddy bisa membaca pikirannya saat itu.
"Bagaimana Daddy bisa membaca pikiranku?" gumam Galaxy dalam hati.
"Daddy benar 'kan?" Daniel kembali melirik wajah Galaxy yang masih tampak memerah.
"Benarkah itu, Gala? Kalau benar, segeralah ajak gadis itu untuk bertemu dengan kami," sambung Dania sambil tersenyum lebar.
"Benar 'kan, Sayang?" Dania melirik Daniel.
"Ya," jawab Daniel singkat.
"Ehm, sebenarnya itu ... sudahlah. Aku berangkat dulu." Galaxy segera pamit karena ia tidak ingin membahas soal itu lebih jauh lagi.
Sepeninggal Galaxy.
"Apakah itu benar, Sayang?" Dania masih penasaran.
"Apa kamu tidak lihat bagaimana ekspresi wajahnya? Padahal aku cuma main tebak saja," sahut Daniel sambil tergelak.
...***...
__ADS_1