
"Sebaiknya kita bicara di dalam saja, biar enak."
Juragan Kasim berbalik kemudian melenggang masuk ke dalam rumah megah itu. Sementara Melody mengikuti langkah juragan kasim dari belakang dengan paksaan dari Tino dan sahabatnya.
"Cepat jalan!" ucap Tino sembari mendorong pelan pundak Melody.
"Jangan sentuh aku! Kalian menjijikkan," kesal Melody sembari mengibaskan-ngibas pundaknya yang baru saja disentuh oleh Tino.
Tino dan sahabatnya saling tatap sambil tersenyum kecil menanggapi reaksi Melody yang tampak galak, tetapi menggemaskan.
"Aku rasa semakin dia marah, dia malah terlihat lebih cantik," ucap Tino kepada sahabatnya.
"Iya, kamu benar."
Juragan Kasim menghentikan langkahnya di ruang utama. Ia menjatuhkan diri di sofa kemudian bersandar di sana dengan santainya.
"Duduklah, Sayang," titahnya kepada Melody.
"Aku tidak mau!" ketus Melody.
Namun, Tino dan lelaki itu mendorong pundak Melody lagi dan memaksa gadis itu untuk duduk di sofa tersebut. Walaupun kesal, Melody akhirnya duduk di sana, tepat berseberangan dengan juragan Kasim.
Dua orang wanita simpanan juragan Kasim yang sejak tadi memperhatikan Melody dari kejauhan, akhirnya datang mendekat. Wajah mereka tampak menekuk saat bersitatap dengan Melody. Sepertinya mereka tidak menyukai keberadaan Melody di rumah megah itu.
Kedua wanita muda nan seksi itu memilih duduk di samping kiri dan kanan jurangan Kasim sama seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari.
"Coba lihatlah calon istri mudaku. Cantik, bukan?" ucap Juragan Kasim sembari merengkuh kedua pundak wanita itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tapi Juragan janji, ya! Jika sudah menikah dengannya, tolong jangan lupain kami," rengek salah satu dari wanita itu sembari membelai dada juragan Kasim.
Juragan Kasim tertawa pelan dan tangan lelaki itu mulai menggerayangi paha mulus kedua wanita itu.
"Tergantung bagaimana Melody menanggapinya. Jika ia mengizinkan kalian untuk tetap tinggal di sini, maka kalian masih bisa tinggal di sini bersama kami. Namun, jika Melody-ku tidak ingin mengizinkannya, maka kalian pun harus pergi dari sini," sahut Juragan Kasim.
Kedua wanita itu menekuk wajahnya. "Aahh, Juragan Kasim tidak adil sama kami. Padahal selama ini kami selalu menuruti semua keinginan Juragan," kesal wanita itu.
Melody memutarkan bola matanya dan memasang wajah malas. "Hah, ternyata masih saja sama. Sudah tua tapi masih suka koleksi wanita dan anehnya mereka mau-maunya digituin sama lelaki bau tanah itu," gumam Melody.
Sementara itu.
"Pak Memet tunggu di sini saja. Aku ingin menemui lelaki itu sebentar dan membawa gadis itu kembali," ucap Galaxy sembari membuka pintu mobilnya.
"Ta-tapi, Tuan." Pak Memet tampak begitu khawatir sebab kali ini posisi Galaxy sama seperti memasuki kandang singa.
"Siapa Anda dan mau apa Anda ke sini?"
"Biarkan aku masuk! Aku ke sini untuk menjemput kembali calon istriku yang sudah kalian culik," tegas Galaxy dengan begitu meyakinkan.
Para lelaki itu saling lempar pandang dengan alis yang saling bertaut. Mereka memindai penampilan Galaxy dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Dari penampilan Galaxy saat itu, mereka tahu bahwa Galaxy bukanlah orang sembarangan.
"Katakan kepada juragan Kasim bahwa calon suami dari gadis itu datang dan ingin bertemu dengannya untuk menyelesaikan masalah ini," tegas Galaxy sekali lagi.
"Tunggu sebentar di sini," ucap salah satu lelaki itu sembari melenggang pergi.
Setibanya di ruang utama.
__ADS_1
"Juragan, di luar ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai calon suami dari gadis ini dan ia ingin bicara kepada Anda," ucap lelaki itu.
"Apa? Calon suami?!" pekik Juragan Kasim dengan wajah heran. "Bawa lelaki itu ke sini!"
"Baik, Juragan." Lelaki itu segera beranjak untuk menjemput Galaxy.
Bukan hanya juragan Kasim, Melody pun tampak kebingungan setelah mendengar penuturan dari lelaki itu.
"Calon suami?" gumam Melody dalam hati.
Juragan Kasim kembali menatap Melody dengan seksama.
"Benarkah itu, Melody? Kamu sudah punya calon suami?"
Belum sempat Melody menjawab pertanyaan Juragan Kasim, Galaxy tiba di ruangan itu dan segera menghampiri Melody yang masih terbengong-bengong.
"Ka-kamu?!" pekik Melody dengan mata membulat setelah tahu siapa yang sudah mengaku sebagai calon suaminya.
"Ya ampun, Sayang! Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak terluka, 'kan?" ucap Galaxy sembari memeriksa kondisi tubuh Melody. Bukan hanya itu, ia juga memeluk dan mencium kening Melody seolah-olah gadis itu benar-benar calon istrinya.
"Ikutilah permainanku jika kamu ingin selamat dari cengkraman lelaki tua itu," bisik Galaxy di samping telinga Melody yang saat itu sedang ia peluk dengan erat.
"Ba-baiklah," jawab Melody yang tampak pasrah.
"Bagus!" lanjut Galaxy.
...***...
__ADS_1