Melody Untuk Galaxy

Melody Untuk Galaxy
Bab 37


__ADS_3

"Kamu kenapa, Mel? Kok, dari tadi aku perhatikan kamu bengong, aja? Apa ini soal penculikan itu? Ceritakan lah kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu," ucap Maya sembari duduk di samping Melody yang sejak tadi duduk diam dengan tatapan kosong menerawang.


Melody menghembuskan napas berat. "Maya, saat ini aku dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit. Setelah terlepas dari jerat sang harimau, kini aku kembali terjerat oleh sang raja hutan," sahut Melody.


"Maksudmu apa, Mel? Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan barusan," ucap Maya dengan wajah heran.


"Setelah aku terlepas dari jeratan siluman tokek itu, sekarang aku kembali terjerat oleh lelaki pembawa sial. Dan tidak tanggung-tanggung, lelaki itu berhasil mengikat hidupku dengan satu milyarnya," celetuk Melody dengan wajah yang menekuk.


"Hah, satu milyar?! Co-coba jelaskan padaku, Mel. Aku tidak mengerti," tanya Maya lagi.


Melody kembali membuang napas berat. "Kamu tahu 'kan alasan anak buah juragan Kasim menculikku?"


Maya mengangguk pelan karena ia sudah tahu semua cerita kehidupan Melody sebelumnya.


"Nah, entah dari mana datangnya, tiba-tiba tuan Galaxy muncul di sana dan menyelamatkan aku dari jeratan si siluman tokek itu. Juragan Kasim rela melepaskan aku yang penting tuan Galaxy berani membayar seluruh hutang-hutangku kepadanya. Kamu tahu berapa jumlah hutang yang harus tuan Galaxy bayarkan?"


Maya menggeleng. "75 juta?"


"Bukan, Maya. Tapi satu milyar! Coba kamu bayangkan itu, gila 'kan itu si juragan Kasim!" kesal Melody sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Wah, beruntung sekali kamu, Mel. Tuan Galaxy memang sangat baik karena bersedia membayarkan seluruh hutang-hutangmu kepada juragan Kasim," ucap Maya kemudian sambil tersenyum mesem-mesem.


"Heh, beruntung apanya?" protes Melody. "Kamu belum dengar cerita selanjutnya tentang lelaki pembawa sial itu," lanjutnya dengan kesal.

__ADS_1


"Lelaki itu meminta aku melunasi uang satu milyar itu dengan dua pilihan sulit. Satu menjadi istrinya dan kedua menjadi pelayan di rumahnya. Dia juga bilang bahwa mommy serta adiknya sangat galak hingga tak ada pelayan yang bertahan di sana," tutur Melody.


Bukannya ikutan sedih ketika melihat sahabatnya mendapatkan kesulitan, Maya malah tergelak sejadi-jadinya. Hal itu membuat kekesalan Melody memuncak. Ia melemparkan bantal sofa ke arah Maya yang masih menertawakan nasib sialnya.


"Seneng banget ya, kamu mendengar cerita nasib sialku!"


Maya menghentikan tawanya kemudian mulai bicara dengan serius kepada Melody.


"Bukan begitu, Mel. Aku rasa ini bukan nasib sial, tetapi nasib mujurmu. Kalau aku jadi kamu, aku gak perlu mikir dua kali lagi. Aku pilih menjadi istrinya. Siapa yang tidak mau menikah dengan lelaki tajir dan super duper tampan seperti tuan Galaxy? Hanya orang aneh yang menolaknya," ucap Maya.


"Jadi, menurutmu aku orang aneh, begitu?"


"Sudahlah, Mel. Terima saja nasibmu. Mungkin tuan Galaxy memang jodohmu, hanya saja Tuhan mempertemukan kalian dengan cara yang agak sedikit lebih rumit," jelas Maya.


Maya mengangguk dengan cepat. "Ya! Daripada kamu menjadi pelayannya, mending menjadi istrinya. Benar 'kan?"


"Tapi ... aku masih ragu, Maya. Mana lelaki itu sudah menunggu jawabanku. Apa perlu aku tanya Mak Sum dulu?"


"Ah, tidak usah. Buang-buang duit, aja. Yakinlah bahwa pilihanmu kali ini tepat!" Maya meyakinkan.


Melody terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada Maya. Kini kedua pilihan berat itu seolah berperang hebat di atas kepalanya.


"Sudahlah. Percaya padaku, Mel." Maya menggenggam tangan Melody erat dan membalas tatapan sahabatnya itu.

__ADS_1


Tepat di saat itu ponsel milik Melody yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba berdering. Tampak nama Galaxy muncul di layar benda pipih itu.


"Itu dia, May! Lelaki itu sudah menghubungiku. Aku yakin dia pasti minta jawaban dariku sekarang," ucap Melody yang tampak panik.


"Cepat, Mel! Terima saja panggilannya dan katakan bahwa kamu bersedia menjadi istrinya," sahut Maya yang begitu antusias melihat panggilan yang dilakukan oleh Galaxy.


Melody menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan cepat. Ia meraih ponsel itu kemudian menerima panggilan dari Galaxy.


"Hallo. Bagaimana, Melody?"


"Ehm ...."


"Katakan! Katakan!" ucap Maya dengan setengah berbisik kepada Melody.


...***...


Para pembaca setia Melody Untuk Galaxy, Author minta maaf yang sebesar-besarnya soal update yang jarang-jarang 🤧🤧🤧 Apalagi sekarang Author lagi 'isi' dan gak bisa kejar-kejaran nulis seperti dulu.


Dan selain itu 'ADA SESUATU HAL' yang membuat Author memilih fokus ke karya baru dari pada Melody 😔😔😔 Sesuatu yang tidak boleh dituliskan di sini ....


Walaupun begitu Author janji akan tetap melanjutkan cerita ini hingga selesai walaupun dengan slow update. Jika ada yang ingin Unfav, silakan. Author tidak melarang 🤧🤧🤧 Karena Author sadar, ini memang salah Author 😔😔😔


Salam manis dari Author: Aysha Siti Akmal Ali

__ADS_1


__ADS_2