Melody Untuk Galaxy

Melody Untuk Galaxy
Bab 27


__ADS_3

Melody memilih pulang, sementara Maya masih melakukan pekerjaannya di kafe untuk mengantikan posisi Melody.


Setibanya di kontrakan, Melody pun bergegas masuk dan menuju kamar mandi. Dengan cepat ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Tidak lupa, Melody juga menaburkan beberapa genggam bunga tujuh rupa di atas permukaan air, di dalam bak mandi.


Terdengar dengan sangat jelas suara gayung yang beradu di atas permukaan air kemudian mengguyur seluruh tubuh gadis itu. Sesekali terdengar juga suara Melody yang tengah menggerutu tidak jelas di dalam ruangan kecil tersebut.


"Ya, ampun! Kenapa lelaki itu berani sekali menyentuhku? Bagaimana nasibku selanjutnya, jangan-jangan aku akan terkena kutukan itu selamanya," gumam Melody sembari menggosok-gosokkan bunga tujuh rupa ke seluruh tubuhnya.


Ia berharap dengan begitu, energi negatif yang berasal dari tubuh Galaxy segera menghilang dari tubuhnya. Setelah merasa cukup bersih, gadis itu pun bergegas menyelesaikan ritual mandinya.


Melody keluar dari kamar mandi kemudian kembali ke kamarnya. Ia duduk di sebuah kursi kayu yang terletak tepat di depan cermin rias. Bukannya meraih sisir atau pun krim malam, Melody malah termenung sambil menopang dagunya dengan kedua belah tangan.


Bayangan Galaxy ketika berbisik di samping telinganya, kembali terlintas dengan jelas di kepala Melody. Bahkan deru napas lelaki itu seakan masih terasa di lehernya.


"Ternyata dia manis juga ...." Sekilas Melody tampak tersenyum. Namun, beberapa detik berikutnya ekspresi wajah gadis itu kembali seperti semula. Tampak kesal dan cemas.


"Ah, tidak-tidak! Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu! Ya, aku akui dia memang tampan. Namun, sayangnya dia adalah lelaki pembawa sial untukku dan aku tidak boleh sampai jatuh hati kepada lelaki itu. Jangan pernah!" tegasnya.


Setelah mengatakan hal itu, Melody malah bangkit dan menuju tempat tidurnya.


Beberapa jam kemudian.


Ternyata Melody masih saja terjaga. Matanya melotot dan tidak bisa terpejam walaupun ia sudah berusaha keras untuk memejamkan matanya. Bayangan wajah tampan Galaxy semakin bebas berkeliaran di dalam pikiran gadis itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Ada apa denganku," gumam Melody sambil memukul-mukul kepalanya dengan pelan. Ia sangat kesal ketika wajah tampan itu berhasil menguasai otaknya.


Tepat di saat itu terdengar suara seseorang yang sedang mencoba membuka kunci pintu depan. Melody yakin itu adalah Maya yang baru saja tiba di kontrakan mereka. Ternyata apa yang Melody pikiran saat itu benar. Maya baru saja pulang dari kafe.


Maya masuk ke dalam kamar mereka kemudian melepaskan jaket serta berbagai aksesorisnya.


"Kamu sudah pulang, Maya?" tanya Melody yang berhasil mengejutkan Maya.


Maya mengelus dadanya yang berdebar akibat terkejut. "Eh, Melody, bikin kaget aja! Ngomong-ngomong kamu belum tidur juga, Mel?"


Melody menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak bisa tidur. Mataku masih belum ngantuk. Oh ya, bagaimana boss Aaron? Apa dia marah padaku?" tanya Melody sembari bangkit kemudian duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Maya berjalan menghampiri Melody kemudian duduk di samping gadis itu. "Boss Aaron tidak bicara apa pun. Oh ya, Mel. Aku penasaran soal Tuan Galaxy. Sebelum aku dipanggil oleh Om Heri, aku sempat dengar bahwa Tuan Galaxy ingin menemuimu. Apa itu benar?"


Maya menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap Melody dengan begitu serius. "Memangnya apa yang dilakukan oleh Tuan Galaxy kepadamu?"


"Dia memelukku, May! Memelukku," pekik Melody dengan mata membulat.


"Apa! Memelukmu? Tapi kenapa? Apa Tuan Galaxy menyukaimu, Mel?" tanya Maya yang begitu penasaran.


"Suka apanya? Dia itu sengaja memelukku agar seluruh energi negatifnya menempel di tubuhku. Gila, 'kan?! Belum lagi dia menyumpahin aku biar makin sial," kesal Melody.


Maya tertawa mendengar penuturan Melody. "Kirain Tuan Galaxy menyukai kamu trus menyatakan cinta," ucap Maya di sela tawanya.

__ADS_1


"Ish, apaan sih! Enggak banget," celetuk Melody sambil membuang muka.


"Ya, sudah. Sebaiknya kamu pergi tidur. Aku mau membersihkan tubuhku dulu baru setelah itu aku menyusulmu."


"Baiklah." Melody kembali merebahkan tubuhnya kemudian mencoba memejamkan matanya dengan erat.


Beberapa menit kemudian Maya kembali ke kamar. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia pun berniat tidur. Sama seperti yang ia katakan kepada Melody barusan.


Maya melirik Melody dan ia yakin sahabatnya itu sudah tertidur. Dengan sangat perlahan, Maya melangkahkan kakinya kemudian naik ke atas ranjang dan segera tidur. Dalam hitungan menit, Maya pun masuk ke alam tidurnya. Sementara Melody masih saja terjaga.


Keesokan paginya.


Maya menggeliatkan tubuhnya kemudian membuka mata secara perlahan. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada tempat tidur Melody. Di mana gadis itu masih bersandar di sandaran ranjang dengan mata yang tampak berat.


"Selamat pagi, Melody."


"Pagi juga," jawab Melody masih dengan mata beratnya.


"Kamu baru saja bangun tidur atau sama sekali tidak tidur, Mel?" Maya duduk di tepian ranjang sambil menatap lekat Melody.


Melody menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak tidur dan rasanya mataku ini sudah sangat berat."


"Ya ampun, Mel-Mel." Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2