Melody Untuk Galaxy

Melody Untuk Galaxy
Bab 31


__ADS_3

Prank!


Senjata yang dipegang oleh lelaki itu jatuh ke tanah setelah Galaxy berhasil merebutnya. Dan sekarang, bukan hanya Tino yang mendapatkan balasan dari Galaxy. Lelaki itu akhirnya tumbang dengan wajah penuh luka lebam.


"A-awas! Kami akan bikin perhitungan denganmu suatu saat nanti!" kesal lelaki itu sembari bangkit dari posisinya.


Tino pun segera menyusul. Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan menghampiri motornya kemudian siap melarikan diri dari tempat itu.


"Ya, akan kutunggu. Temui saja aku kapan pun kalian siap berduel lagi denganku," jawab Galaxy tanpa gentar.


Setelah itu, mereka pun segera kabur dan meninggalkan Galaxy serta Melody yang sampai saat ini masih terpaku.


"Sekarang apa kamu masih menganggap aku sebagai lelaki pembawa sial untukmu, hei, Nona?" Galaxy tersenyum miring sambil mengepalkan tangannya yang tadi terluka agar darahnya tidak terus mengucur.


Melody masih terdiam dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Galaxy berbalik dan melangkah sambil bergumam.


"Aku rasa kamulah gadis pembawa sial yang terus-terusan membuat aku terlibat dalam berbagai masalah," gumamnya.


Melody sempat terkejut mendengar penuturan Galaxy barusan. Namun, untuk saat ini ia sama sekali tidak berani protes. Ia memperhatikan Galaxy yang kini melenggang pergi, hingga tatapannya berhenti pada luka di tangan lelaki itu.


"Tu-Tuan, tunggu sebentar!" panggil Melody yang akhirnya berani membuka suaranya.


Galaxy menghentikan langkahnya, tetapi lelaki itu masih berdiri dengan posisi membelakangi Melody. Ia bahkan enggan membalikkan badannya untuk menatap Melody.

__ADS_1


Melody bergegas menghampiri Galaxy sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan bermotif bunga-bunga kesayangannya. Kini gadis itu berdiri tepat di hadapan Galaxy yang tengah menatapnya dengan tatapan malas.


"Tanganmu terluka. Sini, biar aku balut dengan ini." Dengan ragu-ragu Melody menawarkan jasanya kepada Galaxy.


Lagi-lagi Galaxy tersenyum sinis. "Memangnya benda itu bisa menyembuhkan lukaku?" ucapnya sambil membuang muka.


"Ish, sombongnya!" gumam Melody dalam hati. "Sabar, Melody ... sabarrr. Kamu punya hutang budi kepada lelaki ini, jadi bersabarlah!"


Melody membuang napas kasar sembari membalas senyuman Galaxy. "Setidaknya benda ini mampu menahan darahmu supaya tidak keluar lagi," jawabnya singkat.


Galaxy yang saat itu tengah membuang muka, mengulurkan tangannya yang terluka ke hadapan Melody.


"Hmm!"


"Sebenarnya apa hubunganmu dengan para lelaki sangar itu?" tanya Galaxy tiba-tiba di saat Melody masih mengikatkan sapu tangannya.


Melody sempat mendongak dan menatap wajah dingin Galaxy untuk beberapa detik. Setelah itu, ia pun kembali fokus pada tangan Galaxy.


"Haruskah aku menjawab pertanyaan darimu itu, Tuan?"


"Harus! Karena kamu sudah membuat aku terlibat dengan masalahmu. Apa kamu tidak dengar, kedua lelaki itu bahkan mengancam akan kembali dan memberikan perhitungan kepadaku," celetuk Galaxy yang berhasil membuat Melody merasa bersalah.


Melody melepaskan tangan Galaxy yang sudah ia balut dengan sapu tangan miliknya. Ia menghela napas panjang kemudian menjawab pertanyaan dari lelaki tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya mereka adalah preman yang berasal dari kampungku. Mereka anak buah Juragan Kasim yang merupakan seorang rentenir besar di sana. Aku terjerat hutang kepada Juragan Kasim dan karena aku tidak bisa membayar hutang-hutangku, aku memilih melarikan diri dari kampung itu. Ehm, sebenarnya bukan melarikan diri. Aku sengaja pergi ke kota ini untuk mencari pekerjaan. Aku ingin mengumpulkan uang yang banyak kemudian membayar seluruh utang-utangku kepada Juragan Kasim," tutur Melody dengan raut wajah sedih.


Galaxy yang tadinya sempat merasa kesal, kini malah tampak iba kepada Melody. "Memangnya berapa banyak hutang-hutangmu kepada rentenir itu?"


"50 juta. Tapi ... sekarang aku tidak tahu berapa jumlahnya sebab bunga dari utang-utangku tersebut terus bertambah tanpa kenal waktu," jawab Melody.


"Apa kamu butuh bantuan?"


Melody mengangkat kepalanya menghadap Galaxy sambil menggeleng pelan. "Terima kasih, Tuan. Aku percaya bahwa aku bisa membayar hutang-hutangku tanpa bantuan orang lain."


Galaxy mencebikkan bibirnya. "Ya, sudah kalau begitu."


"Ya, sudah. Aku harus pergi karena seseorang sudah menungguku dan terima kasih banyak atas bantuanmu." Melody mengangguk pelan kemudian berbalik dan meninggalkan Galaxy yang masih memperhatikan dirinya dengan serius.


Melody menghampiri motor matik kesayangannya kemudian kembali melaju menuju kafe. Setelah Melody menghilang dari pandangannya, Galaxy pun kembali menghampiri Pak Memet yang berdiri di samping mobil dengan wajah memucat.


"Ayo, Pak. Kita pulang," ucap Galaxy sembari masuk ke dalam mobilnya.


"Ba-baik, Tuan!" jawab Pak Memet dengan terbata-bata.


Pak Memet pun segera melajukan mobil itu menuju kediaman megah milik Tuan Daniel dengan hati yang gelisah. Ia takut disalahkan oleh majikannya itu karena membiarkan Galaxy terlibat dalam perkelahian tersebut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2