
Selesai melakukan ritual mandi buang sial, Mak Sum mengajak Melody dan Maya kembali ke ruang depan, di mana ia akan melanjutkan ritual lainnya terhadap gadis cantik itu.
Melody duduk tepat di hadapan Mak Sum yang kini sedang berkonsentrasi penuh di atas peraduannya dengan mulut yang berkomat-kamit.
Setelah selesai membacakan mantra-mantranya, Mak Sum meraih kelopak bunga tujuh rupa yang ada di hadapannya.
"Menjauh lah engkau wahai setan pembawa sial! Menjauh lah dari tubuh gadis ini! Carilah inang lain yang bisa kamu ikuti," ucap Mak Sum sembari melemparkan kelopak bunga tujuh rupa tersebut ke wajah dan tubuh Melody.
Setelah kelopak bunga tujuh rupa itu habis, maka habis pula celotehan wanita paruh baya tersebut.
"Ja-jadi, yang selama ini membuat saya selalu mengalami nasib sial itu akibat perbuatan dari setan-setan itu ya, Mak?" tanya Melody dengan terbata-bata kepada Mak Sum.
"Seperti itulah kira-kira, Nak." Mak Sum tersenyum.
"Apa sekarang setan-setan itu sudah pergi dariku, Mak?" tanya Melody sembari melirik samping kiri dan kanannya, memastikan bahwa setan-setan itu tidak muncul secara tiba-tiba.
"Kamu tenang saja, Nak. Untuk saat ini setan-setan pembawa sial itu sudah pergi darimu."
Melody mengerutkan alisnya. "Sebentar, Mak. Lalu apa hubungannya dengan lelaki itu? Kok bisa setiap kali aku bertemu dengannya, aku selalu ketiban sial."
__ADS_1
"Nah, biar Mak jelaskan padamu. Lelaki itu dikelilingi oleh energi negatif yang sangat besar hingga membuat setan-setan pembawa sial itu semakin agresif. Jadi saat kalian bertemu, para setan-setan itu semakin semangat mengerjaimu, Nak."
Melody mengangguk pelan walaupun saat itu wajahnya masih tampak bimbang. "Terus, apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengan lelaki itu, Mak? Bukan kah Mak bilang bahwa lelaki itu seperti bayang-bayang untukku? Itu artinya dia akan selalu ada di manapun aku berada 'kan, Mak."
"Ya, itu benar. Mak sarankan kamu harus bawa bunga tujuh rupa seperti ini kemana pun kamu pergi. Jadi, kalau nantinya kamu ketemu sama lelaki itu, kamu lempar saja bunga-bunga itu ke arahnya. Itu tujuannya agar energi negatif yang ada di tubuh lelaki itu tidak kembali mengundang setan-setan pembawa sial itu ke tubuhmu," jelas Mak Sum.
Melody yang tidak mengerti soal itu, hanya bisa mengangguk. "Baiklah kalau begitu, Mak. Saya akan bawa bunga tujuh rupa kemana pun saya pergi."
Mak Sum mengangguk sambil tersenyum puas. "Bagus-bagus."
Setelah memberikan sejumlah uang kepada Mak Sum, Melody dan Maya pun segera pamit dan kembali ke kediamannya.
Di perjalanan.
Melody tampak bimbang. "Entahlah, May. Masih 50-50. Antara percaya dan tidak percaya. Tapi, jika benar apa yang dikatakan oleh Mak Sum barusan, lalu bagaimana caranya aku melemparkan bunga tujuh rupa tersebut ke hadapan lelaki itu. Bisa-bisa dia marah padaku dan mungkin dia pikir aku sudah gila," sahut Melody.
Maya terkekeh pelan. "Ya, lempar saja dari belakang. Dia 'kan gak lihat, tuh."
"Memang boleh begitu? Kan kata Mak Sum harus di hadapannya, bukan di belakangnya," jelas Melody.
__ADS_1
"Ya, kali aja boleh begitu." Maya kembali tertawa pelan.
Melody menekuk wajahnya dan tidak bicara sepatah kata pun lagi.
***
Sore menjelang.
"Mel, kamu belum bersiap-siap?" ucap Maya kepada Melody yang sedang duduk melamun di sofa ruang depan.
"May. Aku kok jadi takut mau pergi ke kafe hari ini. Aku takut lelaki mesum itu kembali lagi untuk balas dendam dan aku juga takut bertemu dengan lelaki pembawa sial itu," ucap Melody dengan wajah cemas.
"Hhh, kamu 'kan sudah mandi buang sial sama Mak Sum. Kenapa kamu masih takut? Percaya aja lah, yakin semua kesialan itu sudah pergi dari dirimu," sahut Maya mencoba meyakinkan.
Melody terdiam dengan wajah yang masih bimbang. Ia benar-benar ragu kembali ke tempat kerjanya.
Maya menghampiri Melody kemudian duduk di samping gadis itu sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
"Ayolah, Mel. Percayalah bahwa kamu akan baik-baik saja. Sebaiknya kamu bersiap sekarang dan aku akan menunggumu di sini," bujuk Maya.
__ADS_1
Melody menoleh kepada Maya kemudian tersenyum kecut. "Baiklah. Tunggulah sebentar. Aku akan segera bersiap-siap," jawabnya sembari bangkit dari tempat itu dan melenggang pergi menuju kamarnya.
...***...