
Dua hari kemudian.
"Melody, boss Aaron ingin bicara denganmu. Katanya hari ini kamu harus menemuinya di kafe," ucap Maya kepada Melody yang sedang duduk termenung di kursi ruang depan.
Melody memalingkan wajahnya kemudian menatap Maya yang kini ikut duduk di sampingnya. "Aku yakin, boss Aaron pasti ingin membicarakan soal pemecatanku," sahut Melody. Ia kembali memalingkan wajahnya dan menatap dinding dengan tatapan kosong menerawang.
Maya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, boss Aaron tidak bilang apa-apa. Dia hanya berpesan bahwa ia ingin bicara denganmu," jawabnya.
Melody menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan segera menemuinya."
Setelah mengatakan hal itu, Melody pun kembali ke kamar dan bersiap-siap menemui Aaron yang ingin bicara padanya.
Beberapa menit kemudian.
Melody keluar dari kamar dan berjalan menuju teras, di mana ia memarkirkan motor kesayangannya.
"Pergi sekarang?" tanya Maya yang kini berdiri di depan pintu utama kontrakan mereka.
Melody mengangguk sembari memasang helm ke kepalanya. "Ya."
"Ya, sudah. Hati-hati di jalan, ya."
Melody tersenyum. "Ya. Aku berangkat dulu."
Setelah menunggangi motor matiknya, Melody pun segera memacu motor kesayangannya itu menuju Cafe Dut's.
Tanpa sepengetahuan Melody, dua orang laki-laki bertubuh besar dan bertampang sangar sedang memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh. Mereka menyeringai saat mengetahui bahwa Melody melajukan motornya seorang diri, tanpa ditemani oleh siapa pun.
"Ini kesempatan kita. Kita dapatkan gadis itu kemudian serahkan dia kepada juragan Kasim," ucap salah satu dari lelaki itu.
"Kamu benar. Sebaiknya kita ikuti dia," jawab Tino, anak buah kepercayaan juragan Kasim.
__ADS_1
Tino segera menghidupkan mesin motornya kemudian melaju mengikuti Melody dari jarak yang cukup dekat. Melody yang tidak menyadari keberadaan kedua lelaki itu, tampak nyaman-nyaman saja. Ia bahkan tidak memiliki firasat buruk apa pun pada saat itu.
"Kamu lihat gadis itu? Aku rasa dia semakin cantik saja," ucap Tino sambil memperhatikan Melody yang melaju di depannya.
"Ya, aku juga ingin berkata seperti itu. Coba lihat bentuk tubuhnya, semakin ... ehmmm. Pantas saja Juragan Kasim begitu tergila-gila kepada gadis itu. Ia bahkan rela menceraikan istri pertamanya asal Melody bersedia menjadi istri sahnya," sambung lelaki yang duduk di belakangnya.
"Sebenarnya aku juga ingin memperistri gadis itu. Sayangnya aku tak sekaya juragan Kasim yang bisa menikahi banyak wanita tanpa perlu takut kekurangan uang," celetuk Tino sambil terkekeh.
Pletak! Sebuah sentilan keras mendarat di kepala Tino.
"Hush, kalau ngomong hati-hati! Kedengaran juragan Kasim, mampus lo!"
"Ah, iya-iya. Aku hanya bercanda," jawab Tino sembari mengelus kepalanya yang sakit akibat sentilan temannya itu.
Sementara itu, di waktu yang sama, tetapi tempat yang berbeda.
Galaxy duduk termenung di jok belakang sambil menatap kosong ke arah luar jendela mobilnya. Beberapa kali Pak Memet melirik Galaxy dan tampak lelaki muda itu tengah tersenyum tipis.
E-hem!
Pak Kosim sengaja berdehem dan hal itu berhasil mengalihkan perhatian Galaxy.
"Tuan Galaxy, tumben hari ini Tuan pulangnya cepat," ucap Pak Memet.
"Ya, Pak. Entah kenapa Mommy memintaku untuk pulang cepat."
Pak Memet pun mengangguk dan tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Lelaki paruh baya itu kembali fokus pada kemudinya yang kini melaju dengan kecepatan sedang.
Kembali ke Melody.
"Sebaiknya kita pepet sekarang!" ucap Tino setelah melihat situasi tempat itu cukup mendukung mereka untuk mencegat Melody.
__ADS_1
"Ya, lakukan sekarang!" sahut temannya.
Motor yang dikendarai oleh Tino melaju dan mendahului Melody. Motor itu berhenti tepat di hadapan Melody dan membuat gadis itu menghentikan perjalanannya.
Melody membuka kaca helmnya kemudian memaki kedua lelaki itu. "Heh! Kamu sudah buta, ya! Kalau mau berhenti itu lihat-lihat! Hampir saja aku menabrak motormu," gerutu Melody dengan wajah kesal.
Tino membuka helmnya kemudian turun dari motor dan berjalan menghampiri Melody. Lelaki itu menyeringai sambil menyapa gadis itu.
"Hello, Melody. Apa kabar? Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Tino.
"Ka-kamu!" pekik Melody dengan bibir bergetar.
"Ya, ini kami. Anak buah juragan Kasim. Semoga saja kamu masih ingat hutang-hutangmu kepada boss kami, Melody!" Tino semakin mendekat dan hal itu membuat Melody benar-benar ketakutan.
"Tolong!" teriak Melody kepada orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu.
Ia berharap di antara orang-orang itu sudi menolongnya. Namun, tak satu pun berani mendekat apalagi berniat menolong Melody sebab teman Tino mengeluarkan sebuah senjata tajam untuk menakuti orang-orang yang ingin ikut campur urusan mereka.
"Berteriaklah, Melody. Karena tidak akan ada orang yang berani menolongmu," lanjut Tino.
"Heh! Sebaiknya kamu ikut kami secara suka rela kalau tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu," lanjut lelaki yang sedang memegang senjata tajam.
"Ikut kalian?" Melody tersenyum kecut. "Kemudian menikah dengan siluman tokek itu?! Yang benar saja, sebaiknya kalian bunuh saja aku," sahut Melody dengan mantap.
"Hah!" Lelaki itu tampak kesal dan sudah tidak sabar ingin membawa pulang Melody agar pekerjaan mereka cepat selesai.
"Cepat, Tino. Kita bawa saja dia secara paksa. Gadis ini sampai kiamat pun pasti akan tetap keras kepala!" titahnya.
"Baiklah," jawab Tino sambil menyeringai licik.
...*** ...
__ADS_1