
"Perhiasan itu aman disimpan ibu. Kalau kamu ambil takutnya ibu ngira kamu nggak percaya lagi sama ibu."
Bang Rama bicara setelah diam beberapa saat. Wajahnya tampak keberatan sekali saat aku membahas perhiasan itu.
"Aku bisa bicara baik-baik sama ibu. Dan aku mau abang juga bantu untuk meyakinkan ibu. Meskipun perhiasan itu tidak terlalu banyak, tapi bagiku itu sangat berharga karena brberapa aku beli sebelum kita menikah. Dan kali ini aku mau makai perhiasan itu. Aku akan tetap minta sama ibu meskipun tanpa persetujuan abang."
Cukup sudah. Aku tidak mau dibodohi lagi. Selama ini aku sudah cukup lama diam dan dipermainkan.
"Ya sudah, nanti abang yang minta sama ibu. Untuk malam ini tolong siapkan makan malam kita," ucap Bang Rama sembari meraih tanganku, namun aku cepat-cepat beranjak hingga tangan kotornya itu tidak berhasil memegang tanganku.
Sungguh aku tidak bisa menolerir pengkhianatannya. Bang Rama cukup tersentak. "Kenapa kamu menghindar?" tanynya curiga.
Aku tersenyum agar bang Rama tidak banyak bertanya yang bisa membuatnya curiga. "Aku mau masak karena aku tahu abang udah lapar. Ini pertama kali abang pulang cepat setelah beberapa hari ini lembur. Meskipun hari ini aku lumayan capek juga, tapi demi abang aku tetap masak makanan lezat."
Bang Rama tertawa dan itu berhasil mengiris hatiku. Sungguh rasanya aku masih tidak percaya lelakiku telah bercinta dengan wanita lain.
"Kamu memang istri terbaik," ucapnya dusta.
"Ya, aku harap abang nggak berkhianat dan nggak menyia-nyiakan istri terbaik abang ini." Aku menatapnya tajam, hingga tawa bang Rama memudar. "Biar abang nggak menyesal di kemudian hari."
"Kamu ini bicara apa?" Bang Rama tampak salah tingkah. Dia mengambil laptop yang tadi aku letakkan di tempat tidur. Sengaja mengindari mataku.
"Anggap aja ini sebagai peringatan, Bang." Aku tertawa mencoba mencairkan suasana yang aku rasakan mulai panas. Tidak mudah pura-pura tidak tahu kalau suamiku sudah mendua. "Oh, iya. Gimana kerjanya hari ini? Abang tumben pulang cepat."
Bang Rama kembali melihatku lagi. Hatiku was-was tidak sabar menunggu jawabannya.
"Target penjualan sudah terpenuhi. Tadi, abang dan team lainnya langsung bubar dan kembali ke rumah masing-masing."
Darahku berdesir panas. Dadaku terasa sesak mendengar kebohongan bang Rama. Bodoh! Harusnya aku tidak bertanya karena kutahu pria ini tidak mungkin berkata jujur tentang perselingkuhanya.
Aku cepat-cepat ke dapur agar bang Rama tidak melihat air mata yang sempat menetes. Sungguh rasanya hati ini teramat sakit sekali.
"Sekali berbohong, dia akan terus berbohong. Aku nggak tahu sudah seberapa jauh dia membohongiku."
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud?" Pertanyaan ibu membuatku terperanjat. Aku tidak tahu kalau ibu ada di kamar mandi. "Siapa yang kamu bilang pembohong?"
Ibu menatapku tajam.
"Bukan siapa-siapa, Bu. Malam ini biar Rima yang masak." Aku mengambil sayuran mentah di kulkas. Aku tidak menghiraukan ibu yang tampak tidak suka melihatku.
"Coba dulu Rama nikah sama Citra. Hidupnya pasti lebih sukses dari sekarang. Apa lagi sekarang dia udah jadi manajer di tempat Rama kerja."
Aku sekilas memejamkan mata. Mencoba menahan diri agar tidak terpancing. Meskipun aku begitu terkesiap mengetahui jika Citra adalah manajernya bang Rama.
"Jadi, ibu mendambakan Citra jadi menantu ibu? Kalau gitu kenapa nggak ibu jodohkan sama Leon aja?" tanyaku dengan suara gemetar. "Atau, apa mau ibu jodohkan sama bang Rama."
"Kalau kamu izinkan kenapa nggak?" Ibu bicara sambil tertawa, tapi rasanya seperti membakar telingaku.
"Leon belum ada niat untuk menikah. Dia masih mau main-main. Dari kemarin belum pulang juga. Padahal, ibu berharap dia juga bisa ikut ngobrol sama Citra."
Aku tidak bisa fokus lagi seolah yang aku dengar adalah Leon yang tidak pulang ke rumah. Jadi, malam itu dengan siapa bang Rama tidur di kamar Leon? Mungkinkah benar jika alat kontrasepsi itu memang miliknya dan Citra?
***
"Kenapa abang nggak cerita kalau Citra itu manager abang?" tanyaku usai Susan selesai makan dan pergi. Aku tidak mau anaku itu mendengar obrolan orang dewasa.
Wajah bang Rama tampak salah tingkah melihatku. "Aku pikir itu bukan hal penting untuk dibahas. Dan tentang pekerjaan abang pun bukan urusan kamu," ujarnya.
"Iya, kamu kan cuma taunya menghamburkan uang, " celetuk ibu.
Aku mendesahkan nafas panjang, berharap bisa tahan menghadapi sikap mereka ini.
"Bu, nanti perhiasanku aku ambil, ya. Mau mau pakai."
Ucapanku membuat ibu tersedak. Aku mengangsurkan segelas air putih yang langsung dihabiskan ibu.
"Kamu pakai untuk apa? Mau dijual?"
__ADS_1
"Nggak, Bu. Mau aku pakai aja. Aku udah bilang sama Bang Rama, kok."
"Iya, Bu. Kembalikan aja sama Rima. Biar Rima yang menyimpan perhiasan itu." Bang Rama seolah mendukungku kali ini. Dan ibu tidak bicara lagi tapi keberatan tidak bisa disembunyikan dari raut wajahnya.
.
.
.
.
.
Akhirnya perhiasan ini kembali lagi padaku. Sedikit demi sedikit aku akan mengambil hakku dan Susan. Ya, ini bukan untuk aku saja. Tapi, aku harus persiapkan untuk Susan.
Sudah lama sekali aku tidak memakai kalung yang aku beli sebelum menikah dengan bang Rama.
"Cantik," ucap bang Rama saat aku mencobanya di depan meja rias. "Kamu masih secantik dulu."
Dasar laki-laki. Mulutnya memang nggak bisa dipercaya. Kemarin memojokkan aku dan daster harianku. Kalau baginya aku cantik nggak mungkin dia terpikat dengan kecantikan perempuan lain.
"Dan aku harap aku masih jadi yang tercantik di mata abang," ucapku sengaja memancing reaksinya. Barangkali ada sedikit saja rasa sesal di hatinya sudah menyiakan kecantikan istrinya ini.
Bang Rama mendekatiku. Dia berdiri di balik punggungku. Tangannya mengelus rambutku tanpa bisa aku hindari. Pandangan kami bertemu di cermin yang menyatu dengan meja rias.
"Ehkm, sudah berapa malam kamar ini hening. Apa kamu nggak kangen sama sentuhanku?" tanya Bang Rama tanpa basa-basi. Jemari tangannya memijit punggungku. Hal yang selalu dilakukan sebelum pria itu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami di atas ranjang.
Aku beranjak hingga berhadapan dengan bang Rama. Tangan Bang Rama jatuh begitu saja. Baru kali ini aku menghindari sentuhannya.
"Kenapa?" Bang Rama menatapku penuh tanya.
"Ak-aku mau lihat Susan sebentar, Bang. Tadi aku udah janji mau tidur di kamarnya. Susan pasti nungguin aku."
__ADS_1
Aku bergegas pergi tanpa mendengar suara bang Rama lagi. sungguh aku tidak sudi disentuh olehnya. Bang Rama benar-benar sudah berhasil merusak bahkan menghancurkan impian kami dulu.
Lututku langsung lemah saat aku masuk ke kamar Susan. Hingga aku terduduk dan menatap nanar punggung putriku yang sudah terlelap.