
Sedari awal Rima tidak menuntut apapun dariku. Rima hanya inginkan hak asuh Susan. Namun, aku pasti tetap akan menafkahi Susan dan memenuhi tanggung jawabku sebagai ayahnya.
Tidak terjadi drama perebutan harta gono-gini seperti kebanyakan. Jujur aku akui sedari dulu Rima memang bukan tipe wanita yang matrealistis. Dia bahkan tetap setia menemaniku di saat susah dan senang. Tapi, aku malah bertindak bodoh dan menyiakan Rima.
Tok!
Tok!
Tok!
Palu hakim telah diketuk. Itu artinya aku dan Rima sudah sah bukan sebagai suami istri lagi. Rasanya, hatiku seperti dipukul palu godam. Remuk, hancur lebur seperti tidak berbentuk dan kehilangan fungsinya.
Aku salah dan aku kalah. Pada akhirnya sekuat tenaga aku beranjak dari duduk dan mendekati Rima. Wanita itu sudah lebih dulu berdiri dan bicara dengan pengacaranya. Setelah kami bersalaman dengan para petugas, barulah kami benar-benar berhadapan sebagai mantan suami dan istri.
Mengapa Rima terlihat sangat cantik? Mengapa Rima tersenyum tanpa beban? Apa aku memang sudah tidak ada di hatinya? Hanya sebatas itukah hubungan kami? Aku bergeming menatap dan memuji aura kecantikan Rima yang telah aku sia-siakan.
__ADS_1
"Rama, kenapa melihat aku seperti itu?"
Pertanyaan Rima mengembalikan fokusku padanya. Suara wanita itu terdengar lembut di telingaku, tapi sayangnya dia memanggilku nama.
Aku melepaskan nafas yang sedari tadi terasa sesak, mengulurkan tangan dan berucap, "Maaf... tolong maafkan aku."
"Aku nggak mau terbebani masa lalu. Itu sebabnya aku akan coba memaafkan kamu. Terima kasih untuk semuanya," jawab Rima seraya menjabat tanganku. Mungkin, ini untuk yang terakhir kali aku bisa merasakan permukaan kulit tangannya yang sehalus sutra.
Aku lega sekaligus sedih karena Rima menarik tanganya. "Kamu izinkan aku bertemu Susan, 'kan?"
"Iya, aku pasti akan datang." Percakapan kami berakhir karena pengacara Rima mengajaknya pergi. Kami berjalan berdampingan tapi berbeda tempat tujuan.
"Boleh, aku mengantarmu pulang?" Aku beranikan menawarkan diri sebelum kami benar-benar berpisah.
"Aku rasa itu nggak perlu dan aku harap kita nggak berhubungan apa pun selain menyangkut tentang Susan, karena ada hati yang harus dijaga. Aku nggak mau Citra salah paham dan menuduhku yang bukan-bukan nanti."
__ADS_1
Penolakan dan ucapan Rima terdengar seperti sindiran halus untuk aku. Rima seolah sedang mengungkit hubungan ku dengan Citra. Kedatangan Dimas membuat aku urung menyampaikan seperti apa hubunganku dan Citra saat ini. Semenjak kami dipecat dari perusahaan, Citra lebih sering bertamu di rumah bahkan terkadang menginap. Dan hal itu pun memercik pertengkaran kecil antara Citra dan ibu.
"Sudah selesai?" Dimas langsung bertanya tanpa basa-basi. Matanya tampak berbeda melihat Citra. Bahkan, menganggap aku tidak ada di sini.
"Sudah, kenapa kamu nggak bilang mau datang?" tanya Rima sembari tersenyum. Wajah yang tadinya serius saat bicara denganku kini sudah berubah manis.
"Aku tahu, kamu pasti tidak mengijinkan aku datang ke sini. Itu sebabnya aku sengaja datang diam-diam setelah memastikan urusan kamu sudah selesai," papar Dimas lagi.
Mengapa mereka terlihat akrab sekali? Bahkan, Rima tidak segan bicara tidak formal. Apa jangan-jangan Dimas sudah menggantikan posisiku di hatinya? Jika memang demikian adanya. Mengapa secepat itu? Tidak aku sangka Rima bisa secepat itu mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku.
"Ayo, aku antar kamu pulang."
Rima tidak langsung menjawab, dia melihatku sejenak. Lalu mengatakan kepada pengacaranya untuk memberiku alamat tempat tinggalnya.
Aku tersenyum getir mendengarnya, apa itu artinya sampai kapanpun kami tidak bisa lagi tinggal di bawah atap yang sama?
__ADS_1
"Aku pergi, ya," pamit Rima padaku. Ingin sekali aku menahannya agar Rima tidak pergi dengan laki-laki lain, tapi aku sadar aku tidak punya hak lagi atas dirinya.