
28
Pemecatan Rama dan Citra aku saksikan sendiri. Mereka pergi dengan kepala tertunduk menahan malu. Aku tidak tega melihatnya, tapi rasanya itu hal yang wajar mereka terima. Baik Citra dan Rama tidak melakukan pembelaan apapun, sebab mereka mengaku bersalah dan mengembalikan fasilitas kantor.
Hari itu menjadi pertemuan terakhir antara aku, Rama dan Citra. Selepas hari itu aku berusaha tidak memikirkan apapun. Aku hanya fokus bekerja dan menjadi ibu yang baik bagi Susan. Dan selama itu juga tidak sekalipun Rama menemui aku atau Susan. Aku tidak tahu sejauh mana usaha Rama mencari aku dan anaknya, karena dia memang tidak tahu tempat tinggalku dan sekolah Susan yang baru. Atau mungkin juga Rama sama sekali tidak mencari aku.
Susan sendiri sudah mulai terbiasa tanpa ayahnya. Setiap kali aku bertanya apakah Susan merindukan ayahnya, anak itu selalu menolaknya. Tapi, Susan sangat bahagia karena ayahnya tidak jadi masuk penjara.
Hingga beberapa minggu kemudian kami bertemu di pengadilan. Mediasi yang diupayakan pihak pengadilan atas permohonan Rama juga tidak berarti apapun. Aku tidak pernah datang sampai hari ini di mana keputusan akan segera dibacakan.
__ADS_1
Dari jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat Rama berdiri di depan pintu ruang persidangan. Meskipun lama tidak bertemu aku masih bisa mengenalinya. Pria itu masih setampan dulu ketika kami masih bersama. Kemeja kotak-kotak yang ia pakai adalah hadiah ulang tahun dariku untuknya. Aku tidak tahu mengapa Rama seolah ingin menunjukkan kenangan indah kami dulu.
"Rima... kamu apa kabar? tanya Rama ketika kami sudah saling berhadapan. Senyumannya mengembang melihatku.
"Baik, seperti yang kamu lihat," jawabku sembari membuka kaca mata hitam yang tadi menghias wajahku.
"Terimakasih kamu sudah datang, aku pikir kamu masih menolak ketemu sama aku kayak waktu itu." Rama tampak kecewa.
"Jadi, apa rumah tangga kita nggak bisa diperbaiki lagi? Rima, jujur abang akui hidupku hampa tanpa kamu dan Susan. Hari-hariku kosong ketika kalian jauh dariku. Aku seperti mayat hidup yang kehilangan arah. Rima, sebelum semua benar-benar berakhir tolong pikirkan lagi. Jujur abang akui kamu adalah wanita terbaik yang pernah ada di hidup abang."
__ADS_1
Aku tertawa mendengar penuturan Rama. "Kenapa baru sadar? Selama ini ke mana aja? Oh, aku tahu kamu bicara seperti ini karena nggak ada Citra, 'kan? Ada di mana dia? Bukannya kalian selalu berduaan?"
"Ya, abang sudah benar-benar sadar kalau Citra tidak sebaik kamu yang bisa mengerti abang. Perasaan cinta abang sama Citra hanya bersifat sementara, sementara cinta abang ke kamu untuk selamanya. Abang mohon, percaya, maafkan dan kita kembali seperti dulu lagi." Rama memasang wajah pias, suaranya bergetar seperti menahan sesak dan sesal.
"Aku bukan perempuan yang bisa kamu permainkan. Aku punya hati dan pikiran, perceraian ini nggak akan terjadi kalau dari awal aku memaafkan kamu dan bersedia kembali sama kamu. Dan kamu tahu apa artinya 'kan? Lebih baik secepatnya kamu nikahi Citra daripada buang waktu memohon seperti ini. Nggak ada kesempatan kedua kali di dalam hubungan kita!"
Aku melangkah mendahuluinya masuk ke ruangan, tapi Rama menarik tanganku. Mata pria itu memerah seperti siap untuk menangis.
"Ibu sakit karena merindukan kamu dan Susan." Rama meletakkan handpone milikku yang pernah ia rampas dariku. "Kalau memang pada akhirnya, aku tidak bisa selamatkan rumah tangga kita. Tolong, maafkan kebodohanku yang sudah menghancurkan mimpi dan harapan kita. Aku mewakili ibu minta maaf sama kamu. Setelah ini aku harap kamu izinkan kami bertemu dengan Susan."
__ADS_1
Bang Rama langsung berbalik badan usai mengatakan itu. Kulihat ia menyeka sudut matanya. Ucapan Rama membuat aku penasaran sudah sampai mana hubungannya dengan Citra? Apa mereka tidak jadi menikah?