
9
Mereka mengkhianatiku.
Mereka ingin menghancurkan hidupku.
Mereka ingin merusak mentalku secara perlahan.
Aku tidak akan biarkan mereka berhasil dengan rencana busuk itu. Rasanya, ingin sekali aku mendobrak semua pintu kamar hotel agar aku bisa menangkap basah mereka, namun aku barus menahan diri agar tidak tampak menyedihkan di hadapan semua orang. Harga diriku harus tetap utuh meski suamiku sudah berkhianat.
Ya, aku tidak boleh kegabah dalam bertindak. Percuma rasanya bila aku menegur bang Rama dan Citra tanpa bukti. Bisa saja kedua orang itu bersilat lidah dan malah menuduhku menyebar fitnah.
Setelah dua jam menunggu percuma di taman, akhirnya kedua orang itu muncul juga. Mereka keluar dari hotel dengan wajah sumringah. Citra menggandeng tangan bang Rama sangat mesra. Bang Rama juga tidak segan membelai rambut Citra. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang dimadu kasih. Tidak kusangka pria yang sudah 7 tahun menjadi suamiku tega mendua dengan cinta masa lalunya.
Ini kesempatanku mengumpulkan bukti. Diam-diam aku mengambil beberapa foto mereka hingga mereka berpisah. Citra pergi menggunakan taxi sementara bang Rama berlalu dengan mobilnya sendiri.
"Lihat saja, sampai di mana kalian bisa menyembunyikan bangkai yang kalian tutupi dariku!"
Kuhapus sisa-sia air mata yang hampir mengering. Cukup sudah aku menunggu ditemani air mata ini. Meskipun hati ini rasanya teramat sakit, aku harus tetap kuat demi anakku Susan.
Dengan kepingan hati yang telah patah aku menjemput Susan di rumah kak Eli.
"Kenapa ayah nggak ikut jemput Susan, Bu?" Susan tampak kecewa, matanya mengekori sembarang arah berharap melihat ayahnya.
"Ayah sibuk, Nak. Susan pulang sama ibu aja, ya," ajakku sembari mengelus rambut halus Susan. "Mulai besok, sepulang sekolah Susan tunggu ibu di sini aja nanti ibu jemput."
"Memangnya kamu udah dapat kerja, Ma?" Kak Eli tampak cemas melihatku.
"Udah, Kak. Mulai besok aku udah bisa masuk kerja. Aku nitip Susan lagi ya, kak."
"Kamu tenang aja. Susan di sini betah kok main sama Rara. Kamu fokus kerja aja."
Percakapan kami tidak berlangsung lama. Aku juga tidak bisa bercerita banyak tentang apa yang aku lihat di hotel tadi. Biarlah, kali ini aku akan selesaikan masalahku sendiri.
__ADS_1
Pukul 16.30 kami tiba di rumah. Mobil bang Rama juga sudah terparkir di halaman. Suamiku itu bisa pulang cepat setelah puas bermain di hotel bersama selingkuhannya.
"Hebat ya kamu Rima jam segini baru pulang! Bukannya ngurus rumah dan suami malah kelayapan nggak jelas!"
Begitu aku membuka pintu suara ibu langsung menyambutku dengan kesal.
"Rima keluar bukan tanpa alasan, Bu." Aku menjawab sembari menggandeng Susan untuk aku antarkan ke kamar.
"Kamu memang banyak alasan! Selain boros, kamu juga berani membangkang!"
Sengaja kututup telinga Susan agar tidak mendengar suara ibu. Aku tidak mau omongan neneknya itu menyakiti hati dan mengganggu psikis putriku.
"Kamu tunggu di sini, ibu mau mandi sebentar."
"Ibu nggak apa-apa?" Pertanyaan Susan membuatku bingung melihatnya. Sepertinya dia tahu apa yang dirasakan ibunya.
"Memangnya ibu kenapa? Seperti yang kamu tahu ibu baik-baik aja." Aku tersenyum dan menghujani wajah Susan dengan ciuman. "Nanti ibu temani kamu tidur, ya."
Susan bersorak riang, aku lega karena Susan percaya kalau aku baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja. Susan menjadi alasan aku bertahan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang bisa memberatkan bang Rama di pengadilan kelak. Ntah seperti apa nanti ujungnya yang aku mau hak asuh Susan jatuh di tanganku.
"Kamu lihat cucian piring numpuk, rumah berantakan. Pakaian kotor nggak terurus. Bisa-bisanya kamu baru pulang jam segini."
Ibu berkacak pinggang tepat di depan kamar Susan yang baru aku tutup rapat.
"Mulai sekarang dan seterusnya aku nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah, Bu. Besok aku udah mulai kerja seperti yang ibu mau."
Ucapanku membuat kelopak mata ibu terbuka lebar. "Secepat itu? Terus siapa yang ngerjain semua ini?" Ibu tampak terkejut sekali.
"Bukannya kita udah bahas ini, Bu? Cari aja asisten rumah tangga. Aku nggak bisa lagi jadi pembantu di sini," jawabku sebelum berlau dari hadapan ibu.
"Dasar menantu nggak diinginkan."
Aku tersenyum getir mendengar gumaman ibu. Ternyata benar kalau selama ini pengorbanan dan kasih sayang yang aku berikan untuk ibu tidak berarti di matanya.
__ADS_1
Aku cukup lama berdiam diri di depan pintu kamar. Rasanya diri ini belum siap menghadapi suamiku itu. Kutahu saat ini bang Rama ada di dalam sana. Aku tidak perduli kalau bang Rama mendengar perdebatan ku dengan ibu.
Ceklek!
Akhirnya, kuayun daun pintu hingga terbuka. Bang Rama duduk di tepi tempat tidur sembari memangku laptop. Aku tidak tahu ntah sudah berapa lama dia membodohiku dengan wajah baiknya itu.
"Baru pulang?" tanya Bang Rama saat menyadari kehadiranku. "Mulai besok kamu di rumah aja. Kasihan ibu kecapean kalau harus ngurus rumah sendirian. Hari gini aja belum ada makanan di dapur. Kita mau makan malam apa?"
Aku sekilas memejamkan mata berharap bisa menahan amarah dan pura-pura tidak tahu kalau priaku ini telah bermain di hotel dengan wanita lain.
"Delivery aja, Bang. Lagian selama ini abang udah terbiasa makan di luar 'kan? Dan besok carikan asisten rumah tangga untuk ibu."
Bang Rama memicingkan mata melihat ku. "kenapa harus pakai asisten rumah tangga kalau ada kamu?"
"Aku bukan pembantu di rumah ini dan aku juga bukan pengangguran lagi. Mulai besok aku sudah menjadi wanita karir seperti yang kalin mau selama ini."
"Siapa yang bilang kamu pembantu?"
"Baiklah, aku akan bilang kalau itu memang tugasku sebagai seorang istri dan menantu."
Aku mengambil laptop dari pangkuan Bang Rama lalu duduk di tepi tempat tidur persis di hadapannya.
"Abang lebih menyukai wanita karir 'kan?" Aku berusaha tersenyum manis kepada Bang Rama yang hampir tidak berkedip melihatku. " Abang nggak mau ngucapin selamat atas diterimanya aku bekerja di salah satu perusahaan properti?"
"Kamu serius?" tanya bang Rama setengah tidak percaya. Dia pasti tidak menyangka aku bisa begitu mudah mendapatkan pekerjaan.
"Iya ... dan kali ini aku mau minta sesuatu dari abang."
Bang Rama memicingkan mata. "Mau minta apa?"
"Aku minta perhiasanku. Dulu atas saran dari ibu abang setuju menyimpan semua perhiasanku sama ibu. Sekarang, aku mau perhiasanku itu dikembalikan padaku."
"Apa hubungannya pekerjaan dengan perhiasan?" tanya Bang Rama lagi.
__ADS_1
"Ya, selain menambah semangat juga bisa aku pakai menunjang penampilan, Bang."
Aku tahu tidak mudah mengecoh Bang Rama. Tapi, aku tidak mau mengalah dan kalah. Apapun caranya aku harus berhasil mengambil hak ku sebelum perselingkuhannya aku bongkar.