
23
Keputusan untuk menggugat cerai Rama ke pengadilan sudah bulat. Semua berkas dan bukti sudah disiapkan pengacara. Besok pagi aku akan segera ke kantor pengadilan agama untuk menyelesaikan semuanya. Aku juga akan menolak mediasi apa bila nanti ditawarkan untuk memperbaiki keretakan rumah tangga kami. Bagiku semua sudah cukup sampai di sini.
"Jadi, apa bisa dipastikan hak asuh Susan akan jatuh di tanganku?" Aku bertanya ragu.
"Seratus persen saya katakan iya, Bu. Apa lagi dicurigai Rama terjerat kasus korupsi yang berujung pidana. Itu artinya namanya sudah cacat secara hukum dan pengadilan tidak akan memberikan hak asuh anak di tangan yang salah meskipun itu orang tuanya sendiri," terang pengacara Dimas.
Aku bernafas lega, karena terlalu panik aku tidak bisa berfikir jernih.
"Besok, saya temani kamu menyelesaikan semuanya supaya tidak ada yang bisa mengancam kamu terutama Rama. Aku pikur desas-desus perselingkuhan mereka hanya kabar burung saja, tapi ternyata memang nyata." Dimas ikut bicara. Pria itu meletakkan berkas di atas meja lalu menatapku. "Besok aku jemput ke rumah."
"Tapi aku nggak mau terlalu jauh merepotkan kamu. Aku juga takut kamu terbawa ke dalam masalahku." Aku sudah tidak bicara formal seperti yang diminta Dimas beberapa saat lalu.
"Aku maksa dan aku tidak perduli. Jadi, kamu hanya harus bersiap saja," ucap Dimas tak terbantahkan. Dia menyudahi pertemuan ini hingga pengacaranya pamit undur diri.
__ADS_1
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Oh, ya apa putrimu menyukai sekolahnya yang baru?" Wajah Dimas tampak ceria ketika membahas Susan.
"Iya, sepertinya begitu. Mulai besok dia sudah bisa sekolah."
"Bagus, paling tidak anak itu bisa terhibur." Dimas beranjak dari tempat duduk. Aku pun mengikutinya.
"Aku pulang sendiri saja. Lagipula tadi aku diantar supir kamu." Ucapanku menghentikan langkah Dimas. Pria itu menilai diriku dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Kenapa?" tanyaku heran.
"Bodoh sekali Rama sudah menyiakan istri tangguh, baik dan cantik sepertimu." Pujian Dimas membuatku tertegun. Bahkan senyuman tipis di wajah Dimas hampir membuatku salah tingkah. Sadar Rimaaaaaa kamu tidak boleh berfikir yang macam-macam. Aku memekik dalam hati.
"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?"
"Ehm, tentu aku akan fokus membesarkan putriku."
Dimas mengangguk pelan. "Bagaimana dengan pernikahan?"
__ADS_1
Aku bergeming sejenak melihat Dimas yang seolah menunggu jawabanku. Mengapa pria itu bertanya tentang pernikahan sementara aku belum resmi bercerai. Aku memilih diam dan pergi.
Dimas menyusul dan membuka pintu. Membiarkan aku keluar terlebih dulu.
"Kenapa kamu sangat baik dan mau menolongku? Padahal, kita baru kenal itu pun jarang ngobrol, " tanyaku ketika langkah kami telah sejajar.
"Aku memang baik dan instingku mengatakan kamu juga wanita baik-baik, jadi aku pikir kita cocok." Dimas mengedipkan sebelah matanya baru kali ini aku lihat dia bercanda.
Aku tersenyum dibuatnya, seakan tidak ada masalah di dalam hidupku. "Kalau gitu, apa boleh aku tanya sesuatu?"
Dimas tidak langsung menjawab hingga kami masuk lift dan turun ke lantai dasar. Bisa kuartikan dia tidak mau aku bertanya apapun.
Karyawan yang lain seperti berbisik saat melihat aku dan Dimas. Aku baru menyadari jarakku terlalu dekat dengan Dimas. Hingga akhirnya aku mengecilkan langkah di belakang Dimas. Namun, tanpa aku duga tiba-tiba Dimas berbalik badan dan menatapku.
"Ayo, Rima. Aku ingin mendengar apa yang mau kamu tanyakan padaku."
__ADS_1