Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
25


__ADS_3

25


"Maaf, karena masalah pribadi aku jadi tidak becus bekerja dan terpaksa harus mengabaikan tanggung jawabku." Aku bicara setelah meletakkan segelas teh di atas meja untuk Dimas. Sementara Susan baru saja masuk ke kamar diantar Art Dimas yang sudah beralih fungsi menjadi pengasuh Susan.


"Tenang saja, itu kita urus setelah kalian resmi bercerai. Aku yakin Rama dan Citra bisa kita seret ke penjara," jawab Dimas yakin.


Aku menghela nafas dalam ketika mencoba membayangkan nasib ke dua orang itu. Apa lagi selama ini ibu sangat bergantung kepada Rama. Apa ibu sanggup melihat anaknya dipenjara?


Klang!!!!


Lamunanku buyar mendengar suara kaleng jatuh. Benda itu mengelinding tepat di kakiku. Celengan Susan yang kemarin kami beli di Mall. Sementara Susan sudah berdiri tidak jauh dariku. Wajah Susan tampak shocked melihatku. Susan bergeming beberapa saat tanpa mau mendekatiku hingga aku yang mendekatinya.

__ADS_1


"Susan kenapa? Ada yang sakit, Nak?" Aku bertanya sembari menggenggam tangan Susan seketika aku tahu Susan sedang menggigil seperti kedinginan.


"Susan sakit apa? Om antar ke rumah sakit, ya." Dimas ikut bicara karena Susan hanya diam saja. Pria itu pun mendekati kami.


"A-apa a-ayah mau dipenjara? Ke-kenapa, Bu?" Susan bertanya sambil menangis. "Ja-jangan penjarakan ayah, Bu... Susan mohon."


Aku terkesiap mendengar pertanyaan dan permintaan Susan. Harusnya aku tidak ceroboh membicarakan tentang Rama agar Susan tidak mendengar semuanya. Aku berlutut dan memeluk Susan.


"Tenang, ya, Nak. Susan jangan pikirkan itu."


Susan semakin hidteris. Tangisannya terdengar pilu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku tahu Susan pasti tidak tega melihat ayahnya dipenjara. Tapi, aku juga tidak bisa berjanji padanya, sebab pria itu sudah merugikan perusahaan milik orang lain. Dan keputusan ada di tangan Dimas.

__ADS_1


"Ibu kenapa diam aja?" Susan menguar pelukan kami. Wajahnya merah dan dibasahi air mata. Sungguh, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Tapi, mana mungkin aku menjelaskan padanya.


"Om...." Susan beralih melihat Dimas, mendongak dan memegang tangan Dimas. Perhatian Dimas juga tertuju padanya. "Om, jangan penjarakan ayahku. Aku nggak mau ayah dipenjara. Tolong, Om...." Susan tersedu.


Aku tidak enak hati melihat Dimas, pria itu bergantian melihat aku dan Susan. Untuk beberapa detik Dimas bergeming menatapku. Aku menggelengkan kepala memberi kode kalau Dimas tidak harus menuruti kemauan Susan.


Dimas membelai halus rambut Susan lalu ikut berlutut dan menghapus air mata Susan. "Iya... Om janji nggak akan masukin ayah kamu ke penjara."


Jawaban Dimas membuat aku heran menatapnya. "Dimas, jangan memberi harapan seperti itu sama Susan. Dia belum paham sama masalah ini."


Dimas tidak mengindahkan ucapanku. Pria itu malah memeluk Susan dan berucap, "Susan jangan nangis lagi. Mulai hari ini Susan bisa pegang janji Om. Om nggak akan pernah ingkar janji sama Susan."

__ADS_1


Susan tersenyum senang mendengarnya. "Beneran, Om. Ayah memang udah jahat sama ibu tapi Susan nggak tega liat ayah dipenjara. Apa lagi nanti banyak temen-temen ledekin Susan karena ayah dipenjara, Om.


Susan sepolos itu dan aku tidak menyalahkan dirinya. Tapi, aku menyayangkan keputusan Dimas. Yang lebih parah lagu sebagai seorang ibu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk Susan hingga gadis kecil itu meminta pada orang lain yang merupakan atasanku. Orang yang seharusnya memenjarakan ayah Susan.


__ADS_2