Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
Cukup Sudah


__ADS_3

"Wah, TAMU yang ditunggu sudah datang." Aku sengaja menekankan kata tamu agar Citra menyadari posisinya di rumah ini. Tidak perduli ada hubungan apa wanita itu di rumah mertua ku ini. Yang pasti dia memang tamu yang harus tau diri.


"Mbak nggak keberatan 'kan kalau aku datang ke sini? Sebenarnya aku terkejut waktu tadi ibu nelpon. Aku takut mbak merasa terganggu kalau aku sering-sering bertamu ke rumah ini," tutur Citra sembari menyelipkan rambut halusnya di balik telinga. Citra sengaja memperlambat gerakannya seolah nemamerkan cincin yang melingkari jari manisnya. Huh, tentu aku tidak iri melihatnya.


"Keberatan atau tidak, satu suara akan kalah dengan dua suara. Dan itu nggak masalah untuk ku. Lihat, aku sendiri menyambutmu." Kali ini aku bicara sembari menatap mata bang Rama. Sontak, pria itu menjauhi Citra lalu mendekatiku. Sementara wajah Citra sudah cemberut.


"Kamu ... mau pergi ke mana dengan pakaian seperti ini?" Bang Rama mengitariku seolah ingin memastikan sesuatu.


"Pertanyaan apa itu? Ibu bilang aku harus menyambut Citra yang akan datang ke rumah ini. Ibu saja sudah dan sengaja menyiapkan makanan lezat. Dan abang rela meluangkan waktu mengirimkan buah-buahan untuk tamu yang telah kalian undang tanpa sepengetahuanku. Aku pikir ini malam special untuk kalian berdua. Jadi, nggak ada salahnya kalau aku ikut menyambut Citra 'kan?"


Aku berusaha bersikap tenang dan biasa saja. Padahal, hati ini terasa teriris karena suamiku tega dengan terbuka membawa wanita lain ke rumah yang ditempati bersama istri dan anaknya.


"Nggak ada yang spesial. Makan malam ini atas inisiatif ibu." Bang Rama meraih tanganku hingga jemari tangan kami saling menyatu. "Ayo kita masuk," ajaknya tanpa menoleh kepada Citra barangkali untuk sedikitpun.


Citra dan ibu mengikuti langkah kami. Harusnya memang seperti itu. Seorang tamu harus bisa memposisikan dirinya di rumah orang.


"Aku mau mandi sebentar. Kalau mau kalian bisa mulai saja makan malamnya," ujar Bang Rama kepada Citra dan ibu tanpa melepaskan genggaman tangan kami. Aku tidak tahu mengapa bang Rama bersikap manis seperti ini. Oh, bisa saja dia sengaja agar aku tidak curiga padanya.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku nggak akan bosan nungguin Mas Rama," jawab Citra. Matanya bergantian melihat aku dan bang Rama.


Bisa kurasakan tangan bang Rama mulai berketingat dingin. Hal yang selalu terjadi bila suamiku itu sedang gelisah.


"Abang mandi saja. Pakaian sudah aku siapkan di tempat biasa." Tanpa kuduga Bang Rama langsung menarik tanganku hingga kami masuk ke dalam kamar.


"Kenapa kamu tiba-tiba berpenampilan seperti ini?" tanya Bang Rama sembari memojokkan punggung ku di balik pintu yang tertutup rapat. Ibu jarinya mengelus pipiku sangat lembut.


"Bukankah tadi udah aku jelaskan, Bang? Aku nggak mau penampilan lusuh dan daster harianku membuat abang malu. Kenapa? Apa aku terlihat cantik?"


Bang Rama mendekatkan wajahnya hingga wajah kami nyaris tanpa jarak. Bahkan, aku bisa merasakan nafasnya itu.


"Cantik ... sangat cantik," pujinya tepat di wajahku. Bibirnya bahkan hampir menempel di bibirku.

__ADS_1


"Abang mandi lah dulu." Aku mendorong dada bang Rama hingga sedikit menjauhiku. "Aku mau lihat Susan sebentar."


Sungguh, rasanya aku tidak rela dicium suamiku sendiri. Hingga aku memilih meninggalkan pria itu sendirian.


Rumah mertuaku ini hanya satu lantai. Namun, cukup luas dan ruangannya pun bersekat. Sepertinya hari ini telingaku sangat tajam hingga aku bisa mendengar obrolan ibu dan Citra yang terdengar seperti sedang berbisik.


"Kalau bisa milih, ibu maunya kamu yang jadi menantu ibu. Bukan perempuan boros seperti Rima yang nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu." Mertuaku itu memang hobi sekali membanding-bandingkan aku dengan orang lain.


"Aku juga maunya jadi menantu ibu. Tapi, itu nggak mungkin terjadi karena mbak Rima nggak akan rela dimadu," jawab Citra.


"Kamu jangan khawatir. Nanti ibu bujuk Rama biar dia menceraikan Rima."


Aku yang saat ini bersembunyi di balik dinding berbahan kayu tipis gemetaran mendengar obrolan mereka. Tidak kusangka ibu sebegitu inginnya melihat rumah tangga anaknya hancur.


Aku sengaja menenangkan diri di kamar Susan. Gadis kecilku itu tampak asik membaca buku cerita yang tadi kamu beli di toko buku.


"Susan, nanti kamu jangan keluar kamar sebelum ibu datang, ya," ucapku setenang mungkin agar Susan tidak tahu kalau aku sedang menahan kesal dan sakit hati.


Kepolosan Susan selalu bisa menghiburku. Aku tidak mau masalah orang tuanya merusak mental anak ini.


"Tadikan Susan capek habis jalan-jalan di mall, nanti ibu bawakan makan malamnya ke kamar aja, ya."


"Susan masih kenyang, Bu. Tadi udah makan banyak," jawabnya lagi.


Perhatianku tersita pada bayangan selintas lalu yang aku lihat dari cela jendela kamar. Posisi Susan yang duduk memunggungi jendela membuat anak itu tidak menyadarinya.


"Ibu tutup jendela sebentar, ya. Kamu lanjutin aja bacanya, Sayang."


Rasa penasaran membuat aku diam-diam mengintip untuk memastikan siapa yang ada di luar sana. Mataku setengah memicing mengintip cela jendela hingga aku terpaku melihat sesuatu yang berhasil membakar dada.


Bang Rama bercumbu dengan Citra di taman belakang rumah. Sungguh, aku ingin muntah saat ini juga.

__ADS_1


"Susan, kamu tunggu di sini sebentar. Ingat pesan ibu untuk tetap di sini."


"Iya, Bu. Susan mau baca buku. Nanti kalau udah laper susan minta sama ibu."


Maaf, Nak. Ibu harus menahan kamu di kamar ini. Aku membelai rambut Susan lalu mencium pipinya sebelum akhirnya pergi.


Rumah tampak sepi, aku tidak tahu ibu pergi ke mana. Pintu yang menghadap taman belakang pun terkunci. Pantas saja mereka nekat melewati kamar Susan.


Aku mengendap-endap seperti maling berharap ibu, Citra dan bang Rama tidak melihatku. Gelapnya malam yang hanya diterangi cahaya lampu taman memudahkan rencanaku. Pelan-pelan aku bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari Citra dan bang Rama.


"Jangan lakukan itu di sini, bagaimana kalau Rima melihat kamu menciumku seperti tadi?"


"Bukan aku! Mas juga menikmati ciuman kita."


"Citra ... ini bukan waktu yang tepat untuk kita bermesraan. Lebih baik kita kembali ke rumah saja. Aku khawatir Rima melihat kita di sini."


"Kenapa sepertinya Mas takut sekali? Apa Mas sudah berubah pikiran? Apa Mas mengurungkan niat bercerai dari Rima? Apa Mas melupakan apa yang sudah kita lakukan?"


"Citra, mengertilah. Aku masih mencari waktu yang tepat untuk mengurus perpisahan ini. Dan selama itu aku minta kamu nggak kegabah. Jangan sampai Rima mengendus hubungan kita."


"Aku nggak perduli. Aku mau Rima tahu kalau aku bukan sekedar tamu di rumah ini. Aku juga berhak ada di sini untuk menjadi istri Mas!"


"Jangan sekarang, aku belum siap betul."


"Kenapa, Mas? Apa kecantikan yang tadi diperlihatkan istrimu itu sudah membuat hati Mas goyah? Apa aku harus mengingatkan Mas kalau malam itu kita tidur di kamar Leon? Apa aku harus membuka pakaianku ini agar Mas yakin kalau aku lebih segalanya dari Rima itu?"


Deg!!!!


Apa yang aku dengar baru saja seperti pukulan keras dan tepat mengenai jantungku. Rasanya luruh hingga mata kaki. Benar dugaanku kalau alat kontrasepsi yang aku lihat itu adalah milik suamiku bekas pakai dengan wanita lain.


Cukup sudah! Aku tidak bisa berlama di sini. Berulang kali aku menghembuskan nafas agar hati tetap tenang dan air mata tidak tumpah di hadapan kedua sampah itu. Kuhapus bulir bening yang sempat lolos di pipi agar aku tidak terlihat menyedihkan. Lalu aku keluar dari tempat persembunyian.

__ADS_1


"Kalian berdua menjijikan!"


__ADS_2