
Mengapa suara itu masih memengaruhi perasaanku? Mungkinkah itu pertanda aku benar-benar tidak akan bisa melupakan Rima? Ya, aku semakin hancur saja.
"Rama, kenapa diam aja? Kamu mau bicara dengan susan lagi?" Rima bicara seperti tidak ada beban, ia bahkan sama sekali tidak menanyakan kabarku.
"Ti-tidak, aku... maksudku ada yang ingin aku katakan padamu." Aku bicara terbata, sungguh bibir ini terasa berat berucap. Sebab, aku tahu yang akan kami bahas hanya akan menyakiti hatiku. "Sekarang, aku dan ibu ada di depan rumahmu. Tapi, kamu tidak ada di rumah."
"Oh, iya. Kami ada di rumah bapak. Kamu tahu... aku sudah menceritakan semuanya. Bapak dan ibu sudah tahu kalau kita sudah berpisah."
Aku sekilas memejamkan mata, sungguh ucapan Rima seperti bara api yang membakar tubuhku. Mengapa aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini?
__ADS_1
"Sampaikan maafku pada bapak dan ibu. Sungguh, aku menyesali semuanya. Aku bahkan tidak mengantarkan kamu secara langsung kepada mereka. Jika boleh aku ingin datang dan meminta maaf."
"Sepertinya itu nggak perlu. Memang, awalnya bapak dan ibu marah sekali. Tapi, aku sudah berhasil menenangkan mereka. Untuk saat ini lebih baik jangan datang menemui orang tuaku." Ucapan Rima seperti mewakili orang tuanya. Aku tahu mereka sangat kecewa dan membenciku sekarang.
"Ya, baiklah. Tapi, sampaikan salamku padanya. Meskipun kita sudah bercerai, aku harap kita masih berhubungan baik."
Rima tidak menjawab sepatah katapun. Mungkin, masih berat hatinya untuk memaafkan kebodohan dan kesalahanku.
"Aku baik, Bu. Ternyata ada ibu juga? Ibu apa kabar?" Aku bersyukur Rima masih mau bicara pada ibu, bahkan sudi menanyakan kabarnya.
__ADS_1
"Ibu nggak baik-baik aja tanpa kamu. Rima... tolong maafkan ibu." Ibu semakin terisak. "Ibu udah jahat sekali sama kamu."
"Sudahlah, Bu. Kita jangan bahas itu lagi. Aku sudah memaafkan ibu," jawab Rima. Aku tidak tahu apakah dia di sana menangis atau tidak. Suara wanita itu masih tenang sekali. Tidak ada isakan tangis yang aku dengar. Mungkin, Rima happy sekali menjalani hidupnya di luar rumah yang selama ini mengekangnya.
"Tapi, ibu belum bisa memafkan diri ibu sendiri. Selama ini ibu sudah banyak menyakiti kamu. Ibu bandingkan kamu dengan Citra dan kedua iparmu yang jauh di sana. Sekarang, ibu udah dapat ganjarannya."
Ibu tidak melanjutkan ucapannya, dadanya tampak sesak sekali.
"Minum dulu, Bu. Ibu harus tenang."
__ADS_1
Ibu menolak air mineral yang aku berikan. "Kedua iparmu terlilit hutang, semua harta bendanya habis disita dan dijual untuk kebutuhan mereka, ternyata selama ini bukan kamu yang pelit, tapi mereka yang terlalu royal menghamburkan uang hanya untuk bergaya. Ibu benar-benar telah salah menilai. Bahkan, Citra yang ibu anggap lebih baik dari kamu ternyata tidak sebaik itu." Tangisan ibu semakin terdengar pilu, ya apa yang kami sesali sekarang sudah tidak berarti.
"Aku tidak mau menyalahkan siapapun lagi. Tidak ibu juga tidak Rama. Kita punya takdir masing-masing yang harus kita jalani, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku harap kita bisa lebih baik lagi dan mengambil hikmah dari semua ini. Aku hanya bisa memafkan, tapi aku tidak bisa menjadi menantu ibu lagi." Ucapan Rima membuat air mata penyesalan ibu semakin deras.