Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
Pov Rama


__ADS_3

Aku melihat Rima sangat lusuh waktu itu. Ntah karena dia kelelahan atau memang Rima sudah tidak pandai merawat diri, di mataku saat itu Rima tidak terlihat menarik lagi. Penampilan istriku berbeda jauh dari kami sebelum menikah dulu. Terkadang, aku bertanya di mana salahnya. Hingga akhirnya aku menemukan apa yang aku cari ada di dalam diri Citra.


Citra adalah mantan kekasihku dulu, kami sudah lama tidak bertemu sampai akhirnya Citra menjadi manager di tempat aku bekerja. Diawali pertemuan itu kami pun sering bertemu dan sering menghabiskan waktu berdua. Hingga aku putuskan menduakan Rima dan menjalin hubungan gelap dengan Citra.


Awalnya aku pikir hanya untuk main-main saja, tapi perlahan hubungan kami semakin dalam. Citra dengan tangan terbuka menerima aku di apartemennya hingga kami berakhir di atas ranjang. Baru aku tahu ternyata aku bukan orang pertama yang menyentuh Citra. Aku meniduri wanita itu dalam kondisi sudah tidak perawan.


Namun, bagiku saat itu bukanlah masalah besar. Toh, aku pun bersatuskan suami orang. Citra meyakinkan aku hanya aku lah lelaki yang dekat dengannya saat itu. Hingga aku terlena dan berulang kali merajut kasih di atas ranjang dengan Citra, bahkan wanita itu tidak segan memberi aku uang dan memenuhi apapun yang aku mau. Gajiku tidak terlalu banyak waktu itu. Tidak segan aku memenuhi kebutuhan Rima, Susan dan Ibu dengan uang pemberian Citra. Hingga akhirnya hubungan kami dituntut Citra dengan sebuah pernikahan.

__ADS_1


Aku bingung harus bagaimana, di satu sisi berat hati meninggalkan Citra, tapi di sisi lain aku pun tidak bisa menceraikan Rima yang selama ini sudah begitu berjasa mengurus ibuku yang sering sakit-sakitan.


Namun, ketika aku sedang dilema. Rima bersikeras mencari pekerjaan. Jujur aku akui istriku itu terlihat cantik sekali. Aku tahu Rima mencari pekerjaan karena desakan ibu dan diriku. Hal yang aku sesali sampai saat ini.


Dulu, aku bersanding dengannya di pelaminan. Di mana mata kami saling menatap penuh cinta. Tapi, kini kami duduk berjarak menghadap hakim yang akan mengetuk palu di meja hijau. Memutus ikatan suci pernikahan ini.


Beberapa minggu tidak berjumpa dengan Rima, aku seperti daun kering tertiup angin tidak tahu arah. Saat itu aku berharap Rima mau kembali ke rumah. Tapi, tidak sekalipun Rima datang ke rumah yang kami tempati.

__ADS_1


Aku pun bingung harus mencarinya di mana, sebab aku tidak tahu Rima tinggal di mana. Mencari informasi di kantor pun tidak bisa aku lakukan karena aku dilarang mendekati kantor itu. Mediasi yang aku perjuangkan pun berakhir sia-sia. Pengacaraku tidak bisa melawan dan merayu pengacara Rima. Semua informasi tentang Rima dikunci seolah wanita itu begitu berharga dan sangat dilindungi.


Ya, aku sadar Rima memang seberharga itu. Dan sekarang, mataku selalu ingin melihat Rima. Istriku itu tampak cantik sekali. Aku semakin sadar tidak ada yang salah di dalam diri Rima. Selama ini akulah yang tidak becus menjadi suaminya. Aku menuntutnya tetap tampil cantik dan sempurna tapi tidak memberikannya uang dan waktu lebih agar Rima bisa mengurus dirinya sendiri. Buktinya, begitu jauh dariku, Rima tampak baik-baik saja.


Kepergian Rima dari rumah sudah membuat mataku terbuka, bahwa mengurus rumah tidak semudah yang aku bayangkan. Saat itu aku tidak menghargai pengorbanan Rima yang harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapanku dan mengurus ibuku. Ketika aku merasakan sendiri barulah aku bisa merasakan seperti apa jadi Rima saat itu. Bahkan, Citra saja tidak sanggup melakukannya. Hampir setiap hari Citra bertengkar dengan ibu hanya karena masalah sepele. Dan aku semakin pusing dibuatnya, belum lagi Citra selalu mendesakku untuk segera menikahinya.


"Sidang dibuka." Hakim membubarkan lamunanku. Aku menunduk rasanya tidak siap duduk di kursi ini. Semua usahaku membujuk Rima agar mau membatalkan perceraian berakhir sia-sia. Wanita cantik itu tetap memilih lepas dariku.

__ADS_1


__ADS_2