Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
Menjijikan


__ADS_3

6


"A-aku nggak salah lihat 'kan? Kenapa di kamar Leon ada alat kontrasepsi ini? A-apa dia sudah?" Aku membekap mulutku sendiri. Rasanya tidak sanggup memikirkan pergaulan bebas Leon. Ah, rasanya tidak mungkin, sebab Leon yang aku kenal selama ini sangat baik. Tidak mungkin Leon berhubungan intim dengan wanita yang belum halal untuknya. Dan benda ini seperti baru digunakan.


Aku menggelengkan kepala ketika bayangan dua wajah terlintas di mata. Jantungku rasanya ingin lompat dari tempatnya. Darah ini berdesir cepat dan terasa panas. Mungkinkah, Leon tidak pulang kerumah? Mungkinkah benda ini milik suamiku?


"Apa yang aku pikirkan? Di saat seperti ini bisa-bisanya aku terbayang bang Rama dan Citra. Kenapa pikiranku bisa mengarah ke mereka?"


Tanpa kusadari tubuhku gemetaran, sekujur tubuhku lemas seperti tak bertulang. Hingga aku terjatuh tepat menghadap benda kecil itu. Air mata luruh tanpa bisa aku cegah hingga jatuh membasahi pipi, bahkan perutku terasa mual akibat aroma lain yang menguar ke rongga hidungku. Ya, aku semakin yakin kalau alat ini bekas pakai.


Perutku terasa seperti diaduk-aduk. Rasanya aku ingin memuntahkan semua isi di dalamnya. Tidak bisa berfikir lagi aku berlari ke kamar mandi.


"Rima, kamu kenapa?" Bang Rama yang saat itu masih berada di dapur juga menghampiriku. "Kamu sakit? Apa kita perlu ke dokter?" tanyanya sembari memijat pangkal leherku. Pria itu tampak panik juga salah tingkah.


"Jangan sentuh aku, Bang!" Kuhempaskan tangan bang Rama hingga terjatuh begitu saja. Tiba-tiba saja aku merasa jijik disentuh olehnya.


"Kenapa? Apa kamu masih marah karena tadi malam abang membentak kamu?" tanya bang Rama saat aku mundur tiga langkah menjauhinya.


"Jawab jujur, abang tadi malam tidur di mana?" tanyaku tanpa basa-basi.


" 'kan abang udah bilang tidur di kamar Leon," jawab Bang Rama tanpa mau menatap mataku.


"Tidur sama siapa?"


"Ya sama Leon lah. Memangnya tidur sama siapa lagi? Maaf, kalau tadi malam abang udah keterlaluan dan mengabaikan kamu."


"Kenapa baru sekarang minta maaf? Bukannya beberapa hari ini abang memang sudah mengabaikan aku? Oh, atau abang sengaja menggiring pembicaraan ke sana supaya aku nggak mengendus kebohongan abang?"


Bang Rama mengusap wajahnya gusar. "Rima aku nggak tau kamu ngomong apa. Kebohongan aku yang mana yang kamu maksud barusan?"


"Kebohongan saat abang bilang tidur dengan Leon. Abang bohong ... bukan Leon yang ada di kamar itu bersama abang, ta-tapi...."


Sungguh dada ini terasa teramat sesak sekali hingga aku tidak sanggup berkata lagi.

__ADS_1


"Mbak Rima kenapa?" tanya Citra panik. Aku tidak tahu sejak kapan Citra berdiri di ambang pintu kamar mandi. "Mbak mual karena sakit atau mual karena hamil?"


Mendengar pertanyaan itu membuatku menatapnya heran. "Sepertinya kamu mau tahu sekali. Apa ada masalah kalau aku hamil?"


Citra tampak gugup. "Bu-bukan gitu maksudnya, Mbak. Ak-aku cuma khawatir aja. Aku ikut senang kalau Susan mau punya adik."


Ntah mengapa aku merasa Citra tidak tulus mengatakannya. Aku beralih melihat bang Rama dan sempat kudapati bang Rama melihat Citra dengan tatapan aneh yang tidak bisa aku artikan.


"Aku mual bukan karena hamil, tapi karena baru saja melihat sesuatu yang menjijikan. Aku mulai berfikir hal yang menjijikan itu bisa membuat kehamilan pada wanita lain! Wanita yang tidak tahu diri!"


Seruanku membuat wajah bang Rama memerah. Laki-laki yang sudah menjadi suamiku selama 7 tahun itu tampak terkesiap mendengar ucapanku.


"Mbak Rima ngomong apa? Oh, iya nasi gorengnya sudah mulai dingin. Lebih baik kita sarapan dulu."


Citra tampak gugup dan aku berhasil menangkap raut wajahnya itu. Rasanya aku ingin sekali melemparkan alat kontrasepsi itu di wajahnya dan bang Rama. Tapi, berhubung aku tidak punya bukti maka aku harus menahannya.


"Kamu tanya aku ngomong apa?" Aku berdecih dan bergantian melihat Citra dan bang Rama. "Aku baru saja menemukan alat kontrasepsi di kamar Leon. Menurut kalian itu perempuan seperti apa? Bukankah pantas disebut sebagai perempuan yang nggak tahu diri?"


Citra dan Bang Rama sama-sama memalingkan muka dariku. Melihat kekompakan mereka membuat aku semakin curiga.


"Jangan bicarakan apapun tentang keluarga kita di hadapan orang lain." Bang Rama bicara setelah diam beberapa saat. Lalu matanya menemui Citra lagi. "Citra, kamu makan saja dulu."


Citra pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Tapi, aku sempat melihat wajahnya itu seperti orang yang sedang panik.


"Kamu udah mendingan? Ayo, makanlah dulu supaya kamu nggak masuk angin."


Bang Rama meraih tanganku seperti ingin menggandengnya, tapi segera aku menepis tangannya itu.


"Jangan pura-pura perduli denganku, Bang. Kenapa, setelah apa yang abang lakukan di belakangku abang masih bisa bersikap seperti ini? Sedang berusaha membodohiku lagi?"


"Cukup Rima," ucap Bang Rama geram, pria itu tampak menahan suaranya agar tidak di dengar orang lain. " Tadi, kamu sendiri yang membahas Leon. Dan kamu juga meragukan abang seperti ini. Abang nggak tahu apa hubungannya abang dengan benda yang kamu temukan di kamar Leon, tapi abang gak suka dituduh yang bukan-bukan. Memangnya untuk apa abang membodohi kamu?"


"Untuk menutupi hubungan gelapmu dengan perempuan itu." Aku hanya bisa membatin sebab aku tidak bisa membuktikannya.

__ADS_1


"Sampai saat ini hanya abang yang tahu alasannya. Tunggulah sampai aku bisa membuktikannya nanti!"


Kudorong dada bang Rama kuat lalu aky berlalu dari sana. Aku mulai tahu mengapa bang Rama sering terlambat pulang akhir-akhir ini. Aku juga mulai tahu apa alasan bang Rama tidak menyentuhku beberapa malam ini.


Citra langsung menundukkan wajah saat aku mendekatinya. Tingkahnya itu seperti orang ketakutan.


"Coba lihat, Citra pinter masak 'kan? Kamu harus makan biar tahu kalau nasi goreng buatan Citra lebih enak dari masakan kamu." Ntah yang keberapa kali ibu membandingkan aku dengan orang lain.


"Ya, aku seneng dengarnya, Bu. Dengan begitu ibu nggak perlu repot-repot cari orang untuk ngerjain tugasku selama ini. Ibu juga nggak perlu takut nggak bisa makan enak lagi. Suruh aja Citra masakin ibu setiap hari!"


Ucapanku membuat Citra melihatku lagi. "Tapi aku nggak bisa datang setiap hari. Aku punya kesibukan lain."


"Rima, udahlah jangan bicara yang bukan-bukan. Mendingan kamu duduk saja biar abang yang suapin kamu," ucap bang Rama tiba-tiba. Pria itu menarik kursi untukku.


"Kamu aja yang makan, Bang. Toh, aku yakin kamu udah terbiasa makan Citra 'kan?"


Pertanyaanku membuat bang Rama dan Citea serentak menatapku dan itu terlihat menjijikan. Bahkan, ibu juga tampak bingung.


"Ops, aku salah bicara, ya? Maksudku abang udah terbiasa memakan apa yang disuguhkan Citra untuk abang 'kan?"


Bersambung ....


Sambil menunggu mampir di sini dulu, ya.


Judul : Gerbang Perselingkuhan


author: Aisy Arbia



Judul : Hilangnya Cinta Suamiku


Author : Syasyi

__ADS_1



__ADS_2