
33
Beberapa hari ini aku fokus merawat ibu sampai kondisinya pulih seperti semula. Selama itu juga ibu selalu memaksa untuk diantarkan ke rumah Rima. Padahal, aku sudah berjanji akan mempertemukan mereka, tapi sepertinya kali ini ibu tidak bisa menunggu lagi.
"Ayo, kita pergi, Ram. Apa kamu udah bilang sama Rima kalau kita mau datang?" Ibu antusias sekali, kedua tangannya menenteng kantung plastik berisi makanan kesukaan Rima dan Susan.
"Belim, Bu. Rama nggak punya keberanian bicara sama Rima. Tapi, Rima pernah bilang kalau kita diizinkan datang kapan pun ke rumahnua untuk bertemu Susan."
"Kalau aja ibu nggak keras kepala. Rumah tangga kamu nggak akan hancur. "Ibu duduk lesu di sofa. Tatapan matanya sedikit kosong. "Terus, apa kamu jadi menikahi Citra?"
"Ntahlah, Bu. Sekarang, aku belum bisa mengambil keputusan untuk menikah lagi. Apa lagi dengan Citra yang nggak bisa mengurus rumah dan nggak mau menjaga ibu."
Aku seperti tidak punya harapan. Satu-satunya harapan yang aku punya dan ingin aku raih adalah rujuk dengan Rima. Tapi, rasanya itu sulit terwujud. Bukan hanya karena talak tiga yang telah aku ucapkan, tapi karena Rima sudah menutup pintu hatinya. Sepertinya susah sekali membujuk wanita itu agar mau kembali padaku.
***
__ADS_1
Aku membawa ibu ke alamat rumah yang diberikan pengacara Rima. Namun, rumah itu tampak kosong seperti tidak berpenghuni. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Susan dan Rima di sana. Ketika bertanya kepada tetangga pun tidak ada yang tahu keberadaan anak dan mantan istri ku itu.
"Coba kamu hubungi Rima. Bilang kita ada di depan rumahnya. Pokoknya ibu nggak mau pulang ke rumah sebelum bicara sama Rima dan Susan."
Aku tahu ibu sama khawatirnya dengan ku. Sama menyesal, namun tidak tahu harus berbuat apa. Jalan yang aku tapaki seperti menemui jalan buntu.
Pada akhirnya, aku beranikan diri menghubungi Rima. Panggilan pertama dilewatkan begitu saja tanpa ada jawaban. Panggilan ketiga barulah panggilan itu terjawab.
"Ayah...."
Deg!!!
"Ayah kenapa nggak ngomong?" Pertanyaan Susan membuat aku membekap mulutku sendiri. Aku tidak mau putriku tahu kalau ayahnya menangis.
"Biar ibu yang bicara." Ibu mengambil alih ponsel yang masih terhubung dengan orang yang aku cintai di sana. "Susan ini nenek. Kamu apa kabar, sayang?" Aku melihat ibu juga berusaha menahan tangisannya.
__ADS_1
"Susan baik, nenek. Nenek nangis ya?"
"Iya, nenek kangen banget sama Susan. Susan ada di mana? Nenek mau ketemu."
"Susan di rumah kakek jauh." Jawaban Susan membuat aku menemukan titik terang. Itu artinya Rima mengajak susan ke rumah orang tuanya. Mungkin, Rima sudah memberitahukan perihal perceraian kami. Kini, aku semakin tahu kalau jarak diantara kami semakin jauh.
"Susan, boleh ayah bicara sama ibumu?" Aku bertanya setelah mengambil alih ponsel. Tanganku bergetar bersamaan dengan hancurnya hatiku untuk kesekian kali.
"Sebentar, Susan panggilkan ibu dulu. Ibu....!" Teriakan Susan membuat aku tertawa, sepertinya anakku baik-baik saja. Rima memang pandai merawat dan menenangkan hati gadis kecilku itu. Padahal, kedua orang tuanya tinggal di tempat terpisah.
Harusnya anak seusia Susan bisa mendapatkan kasih sayang yang sama dari ayah dan ibu. Diawasi secra bersamaan. Tapi, nyatanya anakku itu harus menghadapi perpisahan kedua orang tuanya.
"Rama....."
Deg!!!
__ADS_1