Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
32


__ADS_3

32


Rasanya aku hampir kehilangan kesabaran menghadapi Citra yang semakin bertingkah seperti nyonya di rumah ini. Bahkan, tidak lagi menghargai ibuku seperti sebelumnya. Ketika aku ingin beranjak untuk memberinya pelajaran, ibu menahan tanganku.


"Sudahlah, biarkan aja. Lebih baik kamu istrahat." Nasihat ibu padaku.


"Aku nggak mungkin bisa istrahat sementara aku tau ibu belum makan. Ibu tunggu sebentar biar aku belikan makanan untuk ibu."


"Beli?" Citra menyahut seperti terkejut. "Kenapa harus menghamburkan uang? Makan aja apa yang ada."


Mataku menajam melihatnya. Aku mendekatinya lalu menariknya hingga keluar dari kamar ibu.


"Keterlaluan kamu, Citra. Bisa-bisanya kamu bilang seperti itu di depan ibu! Jadi, selama ini kamu hanya pura-pura baik, ya?" Kuhempaskan tangan Citra hingga ia menjauh dariku.

__ADS_1


"Keadaan yang membuat aku seperti ini. Sudah anyak sekali pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan kamu dan ibu, sekarang disaat kita menjadi pengangguran dan nggak punya apa-apa harusnya kita menghemat, bukan malah menghamburkan uang seenaknya!" sentak Citra, bahkan suaranya lebih meninggi dari suraku.


"Kamu nggak bisa mengatur atau pun melarangku melakukan apa yang aku mau!" Aku berbalik arah untuk pergi, tapi Citra menghadang jalanku.


"Maksudku nggak seperti itu. Aku sayang sama ibu dan kamu. Tapi aku kecewa karena kalian tidak adil memperlakukan aku. Ketika aku masih punya uang kalian bisa sayang sama aku, tapi sekarang saat aku nggak bisa kasih kalian uang aku diabaikan. Aku bahkan sering kalian bandingkan sama Rima yang nggak banyak nuntut dan pandai mengurus dapur. Tanpa kalian ingat aku ini calon istrimu, Mas. Jadi aku berhak atas kamu dan rumah ini! Jadi, cepat nikahi aku."


Citra semakin menuntut dan itu membuat kepalaku semakin pusing. Baru bercerai aku harus dihadapkan pada pernikahan dengan wanita yang menjadi selingkuhanku selama ini, tapi rasanya aku tidak punya hasrat lagi untuk menikahinya.


Aku tersentak mendengar penuturan Citra. Semua ucapan Citra kembali mengingatkan aku pada perceraian yang baru aku alami. Tidak aku sangka kehilangan Rima bisa menghancurkan dan mempengaruhi hidupku.


Tanpa bicara lagi aku berbalik badan, jalan tertatih menuju pintu. Berharap udara segar di luar sana bisa sedikit mengurangi stres yang aku rasakan.


Aku berdiam diri di mobil. Melihat kenangan lama beberapa fotoku dan Rima ketika kami masih bersama dulu. Sungguh aku sangat merindukan dirinya. Baiklah, kuputuskan untuk membeli makanan untuk ibu satelah itu aku akan mengajak ibu melihat cucunya di rumah Rima.

__ADS_1


***


Ibu sudah menghabiskan makanannya, obat juga sudah diminum. Sementara Citra masih menonton televisi seperti tidak ada niat untuk meninggalkan rumah ini.


"Rama, jadi kamu benar udah cerai sama Rima?" Raut wajah ibu tampak sedih ketika bertanya tentang Rima. Memang, akhir-akhir ini ibu selalu suka membahas tentang Rima, bahkan menyuruh aku membujuk Rima agar mau kembali dan membatalkan perceraian kami.


Aku tertunduk lesu. "Maaf, Rama nggak berhasil pertahankan Rima dan rumah tangga kami, Bu. Mungkin, ini hukuman untuk Rama karena sudah terlalu jahat sama Rima."


"Ibu yang salah." Tangan ibu gemetaran memegang tanganku. Kulihat ibu berusaha menahan tangisannya. "Ibu juga ikut andil dalam perceraian kalian. Ibu pikir menantu ibu yang lain lebih baik daripada Rima. Dan ibu pikir Citra juga lebih segalanya dari Rima, tapi ternyata Rima adalah menantu terbaik yang ibu miliki. Rima bahkan paling mengerti dan mengutamakan kebutuhan rumah daripada kebutuhan dirinya sendiri." Ibu menghela nafas panjang yang tampak begitu susah ia lepaskan. "Apa Rima mau bertemun dan memaafkan ibu?"


☘️☘️☘️☘️


Aku usahakan tamat di bulan ini, ya. Biar bisa lanjutkan Terjerat Pesona Istri dan buat novel baru lagi. Mana tau ada yang mau mampir hehehe.

__ADS_1


__ADS_2