
20
"Abang nggak mau pisah dari kamu, karena abang masih cinta sama kamu. Abang akui abang salah tapi tolong kasih abang satu kesempatan lagi. Abang janji akan berubah dan perbaiki semua kesalahan yang udah abang lakuin selama ini sama kamu." Wajah Bang Rama terlihat melas sekali. Dia bicara seperti penuh sesal.
Citra menarik tangan Rama ketika pria itu akan mendekatiku. "Bicara apa, sih Mas? Kalau kamu nggak mau pisah dari dia terus gimana sama aku? Kamu udah janji mau nikahi aku, Mas!" geram Citra.
Bang Rama mengusap wajah gusar dan kembali bicara, "Tapi, kamu dan ibuku yang memdesak aku menceraikan Rima. Aku memang melakukan kesalahan fatal, tapi bukan berarti aku ingin mengakhiri rumah tanggaku dengan Rima."
"Kesalahan kamu bilang?" Citra berdecih sembari menunjuk dada Rama. "Setelah semua yang kita lakukan kamu bilang kesalahan? Pokoknya aku nggak bisa terima kalau kamu ingkar janji. Aku mau kita menikah secepatnya."
Citra semakin menuntut dan aku tepuk tangan melihat drama yang mereka mainkan. Bang Rama dan Citra kembali terdiam di hadapanku.
"Aku yang disakiti, tapi mengapa kamu yang merasa paling tersakiti, Citra? Oh, ya... aku baru ingat kalau selama ini kamu memang udah tebal muka. Apa kamu sudah bangga karena telah berhasil merusak rumah tanggaku? Hati-hati karena rasa banggamu ini bisa menjadi bomerang untuk dirimu sendiri."
"Aku nggak perduli!" ketus Citra lagi. Wanita ini sudah semakin menunjukkan sikap aslinya.
"Jaga sikapmu, Citra. Kali ini biarkan kami selesaikan masalah berdua saja," ujar bang Rama.
"Masalah? Justru aku kesini untuk menyelesaikan masalah yang kalian buat. Aku nggak mau membahas hal yang tidak penting, sebab itu hanya akan membuang waktuku. Jadi, silahkan kalian duduk tenang dan tidak bicara di luar topik pekerjaan!"
Ucapanku berhasil membungkam mulut mereka. Bang Rama menatapku tidak percaya, wajahnya memelas sementara Citra menundukkan kepala. Ingin rasanya aku tertawa merayakan keberhasilanku membuat mereka tidak berdaya.
"Apa ada masalah?" Aku tersentak mendengar suara Dimas, ntah sejak kapan pria itu berdiri di ambang pintu yang telah terbuka. "Mereka menyulitkanmu?" tanyanya setelah berada di dekatku.
"Oh, nggak, Pak. Kami cuma mengobrol biasa saja," kilahku berbohong. Aku tidak mau mengadukan siapa mereka ini.
Dimas memicingkan mata melihatku. "Serius?" tanyanya bergantian melihat aku, Citra dan Rama.
Kudapati wajah bang Rama memerah saat melihat Dimas berada sangat dekat denganku. Heh, apa dia cemburu?
"Kalian berdua kembali ke ruangan. Ingat jangan coba-coba membuang bukti karena percuma dan akan semakin memberatkan hukuman kalian nanti!"
Jiwa pemimpin Dimas benar-benar tidak bisa diragukan. Auranya kuat sekali hingga berhasil membuat lawan bicaranya tidak bernyali.
__ADS_1
Citra bahkan tidak berani bicara. Menunduk dan segera pergi sedangkan bang Rama masih bisa pamit.
"Saya permisi, Pak. Dan tolong jangan pecat, saya."
Dimas menghela nafas panjang lalu berucap, "Tunggu sampai Rima menguak semua bukti tentangmu. Setelah itu kita pastikan hukuman apa yang tepat untuk orang-orang seperti kalian!"
Bang Rama dan Dimas saling mengunci pandangan. Mata mereka seolah membahas tentang hal lain. Ucapan Dimas membuat aku semakin merasa dia tahu sesuatu. Bang Rama melirikku sekilas kemudian berlalu pergi.
Ada rasa kasihan saat melihat punggung Rama menghilang dari pandanganku. Tidak kusangka aku akan bertemu dengannya dalam situasi seperti ini. Di mana aku melihat awal kehancuran suamiku sendiri. Tanpa terasa setes air bening membasahi pipi. Ya, aku masih merasa semua ini mimpi. Sesaat lagi rumah tangga kami akan segera berakhir.
"Kamu menangisi suamimu itu?"
Deg!
Pertanyaan Dimas membuat jantungku tidak karuan. Pria itu duduk lalu menunjuk kursi di seberang meja. Aku duduk dengan canggung. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Jadi, dia laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu?" Dimas bertanya lagi. "Suami yang tega membiarkan istrinya pergi di malam hari bersama anaknya?"
"Memangnya apa yang aku tidak tahu?" Kali ini Dimas bicara lebih santai dari sebelumnya.
"Jadi, apa alasan bapak memanggilku ke sini untuk mempertemukan kami?"
"Kamu berfikir seperti itu?" Dimas bersandar juga menumpu salah satu kakinya di atas paha. Menatapku lekat dan berucap, "Aku hanya ingin membantumu memberikan pelajaran kepada pria itu."
Aku menggelengkan kepala heran melihat Dimas. Bisa-bisanya pria itu membuat skenario seperti ini.
"Terimakasih, Pak. Tapi, maaf saya nggak akan memanfaatkan keadaan. Saya akan berdiri dengan kaki sendiri karena saya tidak mau tergantung dengan orang lain lagi."
Dimas menganggukkan kepala. "Kamu wanita yang memiliki karakter kuat. Bodoh pria itu sudah menyiakan wanita sepertimu. Demi mengurusnya kamu rela meninggalkan karir, tapi balasan yang dia berikan tidak sebanding. Lalu, bagaimana caramu membalasnya? Apa jangan-jangan pada akhirnya kamu akan kembali padanya?"
"Apa bapak meremehkan saya?"
Dimas tersenyum lalu meletak secarik kartu nama di atas meja. "Pengacaraku akan membantumu mengurus semuanya," ucap pria itu lalu pergi.
__ADS_1
Dimas benar-benar tahu apa yang aku butuhkan. Aku sengaja membohongi Rama dan Citra padahal aku sama sekali belum menghubungi pengacara manapun. Ada rasa kecewa ketika Rama tidak menanyakan keadaan Susan. Sekarang apa lagi yang harus aku pertahankan?
***
"Sudah waktunya pulang, Bu. Tadi, pak Rama berpesan saya harus perhatikan jam kerja ibu," ucap sekretaris Dimas yang membantuku mengecek beberapa file.
"Apa pak Dimas sudah kembali?"
"Pak Dimas ada di kantor pusat. Sebaiknya ibu pulang sekarang saja. Saya nggak mau diomeli pak Dimas kalau tahu jam segini ibu masih di kantor."
Aku mendesahkan nafas. Bingung dengan sikap Dimas yang mau berbaik hati menyuruhku pulang sebelum jam kantor.
"Bapak bilang ibu mau bertemu seseorang. Jadi, biar saya yang merapikan meja kita yang berantakan ini."
Oh, jadi itu alasan Dimas? Pria itu sangat ingin aku bertemu dengan pengacaranya hingga diijinkan pulang sekarang.
"Maaf merepotkan mu." Aku bergegas pergi dan membuat janji bertemu dengan pengacara tersebut melalui handpone. Karena fokus bicara aku tidak melihat ke kiri dan ke kanan, hanya berjalan lurus menuju lift, namun tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan membawaku ke tangga darurat.
"Ada apa lagi?" tanyaku pada pria yang saat ini menatapku tajam. Terpaksa kuakhiri percakapan dengan pengacara lalu menyelipkan handpone ke saku celana. "Buka pintunya aku mau ke luar!"
"Nggak sebelum kamu menarik kata-katamu untuk berpisah dariku."
Rama menghimpit tubuhku di tembok hingga aku tidak leluasa bergerak.
"Jangan mempersulit perpisahan kita, karena itu bisa semakin membuat kamu bertambah buruk di mataku!"
Ucapanku membuat mata Rama merah. Itu artinya pria ini sedang marah.
"Jadi, kamu tetap mau menggugat aku ke pengadilan?" tanya Rama sembari menarik daguku hingga aku hanya terfokus padanya.
"Iya...."
Rama tersenyum tipis. "Baik, tapi jangan menyesal kalau hak asuh Susan jatuh ke tanganku!"
__ADS_1