Membalas Pengkhianatan Suamiku

Membalas Pengkhianatan Suamiku
34


__ADS_3

35


Beberapa bulan sudah berlalu. Selama itu juga aku tidak bertemu dengan Rima. Hanya Susan yang aku temui di tempat kami janji bertemu. Susan hanya ditemani pengasuhnya, terkadang dia juga menginap di rumah. Tapi, tidak pernah sekalipun menyebutkan alamat tempat tinggalnya yang baru.


Mantan istriku itu sudah tidak bekerja di perusahaan Dimas lagi. Aku tidak tahu mengapa Rima keluar dari perusahaan itu. Padahal, menurutku karir dan keuangannya terjamin dan tentunya lebih baik.


Saat melangsungkan vidio call dengan Susan, Rima tidak pernah sekali pun menampakkan dirinya. Mungkin, wanita itu memang sudah tidak mau lagi berhubungan denganku.


Di sana, Rima sudah melanjutkan kehidupannya, tapi di sini aku tetap terbelenggu dalam masa lalu. Aku seperti mayat hidup yang tidak punya arah tujuan.


"Sudah hampir satu tahun, mau berapa lama lagi Mas menggantungkan hubungan kita? Aku lelah bertanya kapan Mas nikahin aku!" Suara Citra membuyarkan lamunanku dan menarik perhatian semua orang yang ada di bengkel mobil. Ya, aku sudah membuka usaha sendiri di ruko yang aku sewa selama ini.

__ADS_1


"Citra, jaga sikapmu!" Aku membawa Citra ke ruanganku. Wanita itu cemberut padaku. "Kalau lelah, berhentilah bertanya."


"Gila, enak saja Mas nyuruh aku berhenti. Apa Mas lupa kalau aku juga ikut andil dalam usaha ini? Apa setelah pengorbanan dan pengeluaranku yang banyak Mas mau membuang aku?" sungut Citra berapi-api.


"Jadi, kamu mau menikah denganku hanya karena takut kehilangan uang mu selama ini? Kamu takut rugi?" Aku memijit pelipis mataku, bingung dan pusing karena kehabisan cara menghadapi Citra.


"Bukan karena itu. Aku cuma menagih janji kamu aja. Aku mau kita menikah. Kenapa sih susah sekali mengabulkan permintaanku?" Citra semakin menaikkan intonasi suaranya dan hampir tidak terkontrol. Pernah, dia mengancam akan bu nuh diri kalau aku mengakhiri hubungan kami.


"Alasan, atau jangan-jangan kamu belum move on dari Rima?" Pertanyaan Citra membuat aku terdiam. Jujur, aku masih sering memikirkan Rima.


"Ini nggak ada hubungannya dengan Rima. Jadi, jangan bawa-bawa namanya. Kalau mau kita menikah mulai hari ini kamu harus bisa merubah sifat dan sikapmu itu!"

__ADS_1


Citra menghentakkan kaki. Sepertinya dia kesal sekali.


"Sudahlah, aku nggak mau kita bahas inj terus. Aku sengaja datang ke sini mau ajak kamu lunch bareng. Ada testoran baru yang wajib kita coba."


Citra menarik tanganku tanpa bisa aku hindari. Akhirnya kami pergi ke restoran yang belum pernah sekalipun aku datangi. Selama ini aku mencoba menghemat pengeluaran, lebih baik membelikan mainan Susan daripada menghabiskan uang untuk makan di restoran.


Jarak restoran itu dari bengkel memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Dan aku baru sadar kalau letak Restoran ini tidak jauh dari perusahaan utama milik Dimas. Lokasi yang cukup strategis membuat tempat ini ramai didatangi pengunjung. Beberapa tempat sudah dipenuhi sebagian karyawan dan ada juga mahasiswa dari kampus sebelah. Tidak heran sebab ini memang jam istrahat.


"Mas mau pesan apa?" tanya Citra sembari menyerahkan daftar menu makanan. Beberapa makanan di sini mengingatkan aku dengan Rima.


Aku pun memesan satu makanan sama persis seperti yang pernah dimasak Rima. Anggap saja aku bernostalgia dengannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, makanan yang kami pesan tersaji di atas meja. Lidahku langsung mengecap rasa yang tidak asing dari makanan ini. Mengapa rasanya sama seperti makanan buatan Rima?


__ADS_2