
27
"Jadi, kamu benar-benar tidak mau memberikan kesempatan kedua untuk aku? Untuk rumah tangga kita?" tanya Rama disaksikan Citra. Wanita itu menghentakkan kaki kesal.
"Sudahlah, aku nggak mau bahas itu-itu terus. Bukankah ini yang kamu mau? Dengan begitu kamu bisa menikahi Citra secepatnya. Jadi, tolong menjauh dariku dan anggap kita nggak pernah saling mengenal, apa lagi di kantor ini!" tegasku lagi.
"Jangan-jangan kamu bersikeras mau bercerai dariku karena Dimas!" tuduh Rama dengan mata memerah. "Kemarin Citra melihatmu berduaan dengan Dimas. Apa itu alsan kamu langsung mengurus perceraian kita?"
"Kamu jangan memutar balikkan fakta, jangan omong kosong dan jangan bawa orang yang nggak bersalah di sini. Harusnya kalian malu dengan pak Dimas, bukan malah menuduh yang bukan-bukan."
Aku tidak menghiraukan kedua orang itu. Beberapa karyawan datang dan aku pun segera menekan tombol lift. Ikut masuk dengan yang lain ke lantai atas. Sementara Citra dan Rama tetap berdiam di luar sana. Kulihat mata Rama memerah melihatku.
***
Hampir jam 8 pagi saat Dimas tiba di kantor. Pria itu langsung masuk ke ruangan bersama dua orang pria yang salah satunya baru aku tahu menjabat sebagai HRD.
__ADS_1
"Sudah disiapkan semuanya?" tanya Dimas sembari memeriksa beberapa berkas. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja.
"Sudah, Pak. Saya juga sudah memanggil orang yang bersangkutan."
Disaat itu juga pintu diketuk. Dimas memersilahkan masuk dan ternyata Citra dan Rama yang datang.
"Bapak manggil saya?" Rama bertanya setelah berdiri tepat di depan meja Dimas. Sementara Citra hanya menundukkan pandangan.
"Ambil dan lihat isinya. Setelah itu kalian jangan berani datang ke sini lagi." Masih dengan posisi duduk Dimas meletakkan dua amplop secara kasar di atas meja. Ucapannya mampu membuat Citra melihatnya.
"Kalian saya pecat dengan tidak hormat! Semua fasilitas kantor seperti mobil yang kalian pakai saya sita. Jadi, cepat angkat kaki dan jangan harapkan apapun!"
Mata Citra dan Rama terbiak sempurna. Mungkin mereka terkejut setengah mati dan tidak menyangka akan dipecat di depan mataku.
"Tapi, Pak. Kami tidak melakukan kesalahan apapun. Bapak nggak bisa mecat kami secara sepihak seperti ini." Citra tidak terima keputusan Dimas.
__ADS_1
"Apa saya harus menjabarkan dan mempertontonkan kesalahan kalian di depan semua orang? Apa kamu mau mereka ikut menghitung berapa banyak uang yang kalian korupsi dari sini?"
Suara Dimas terdengar lantang dan menakutkan membuat Citra terdiam seketika.
"Maaf, Pak. Tolong berikan kami satu kesempatan lagi." Rama ikut bicara, nada suaranya terdengar lirih dan memelas penuh permohonan.
Dimas tersenyum simpul. "Saya bukan orang yang murah hati hingga akan membiarkan kalian berkeliaran di sini. Kalau bukan karena memenuhi janjiku pada putrimu, saat ini kalian pasti sudah ada di penjara!" seru Dimas sembari menggebrak meja.
Rama bergantian melihat aku dan Dimas. Jangankan dia, aku juga tidak menduga kalau Dimas akan membawa hal di luar pekerjaan di dalam masalah ini.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu terkejut mengapa aku bisa berkata demikian? Rama, kau bukan seorang yang bertanggung jawab, lalu untuk apa aku mempertahankan kamu dan wanita itu di sini?"
"Jadi, apa Pak Dimas sudah tahu semuanya? Maksud saya--
"Ya, tapi itu bukan urusanku. Jadi, jangan melimpahkan kesalahanmu pada orang lain. Belajarlah menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab. Sepertinya urusan ini sudah selesai. Kalian boleh angkut semua barang kalian dan pergi dari sini." Dimas bukan hanya memungkas ucapan Rama, tapi juga mengusirnya tanpa memberikan kesempatan kedua.
__ADS_1