
36
"Laper banget, ya, kamu? Makannya buru-buru gitu." Citra bertanya saat aku melanjutkan makanku. Aku tersadar kalau makanan di piringku hampir tandas. Bahkan, aku ingin mencicipinya lagi. Makanan ini mengingatkan aku pada Rima. Ah, aku semakin penasaran saja apa lagi sudah hampir satu tahun aku tidak bertemu dengan Rima. Apa mungkin Rima salah satu koki di sini?
"Aku ke toilet sebentar." Itu hanya alasanku saja. Aku mencari kesempatan untuk mencari informasi. Barang kali aku bisa menemukan jawaban dari orang-orang yang ada di sini.
Meninggalkan Citra yang masih duduk di tempatnya. Aku diam-diam bertanya pada pelayan resto. Namun, tidak ada yang mengenal Rima di tempat ini. Mereka hanya mengatakan jika tempat ini adalah milik nyonya Dimas.
__ADS_1
Terbesit nama Dimas dan satu wajah pria itu. Dimas yang telah memecat aku dan Citra. Dimas yang sudah membantu Rima mengurus perceraian kami. Mungkinkah Dimas itu juga owner di tempat ini? Tapi, bukankah istri Dimas sudah lama meninggal? Lalu siapa yang dimaksud nyonya Dimas itu? Atau mungkinkah yang dimaksud nyonya Dimas adalah Rima?
Ah, mengapa aku selalu menambah pusing kepalaku? Dan ntah mengapa aku tidak pernah benar-benar bisa berhenti memikirkan Rima. Pada akhirnya aku kembali ke tempat duduk semula. Namun, langkahku terhenti saat melihat Citra bicara dengan seorang wanita.
Wanita berambut panjang itu berdiri memunggungiku, sementra Citra berdiri di depannya. Aku seperti mengenali postur tubuh itu. Tinggi badannya persis seperti Rima. Jantungku hampir luruh saat aku samar-samar mendengar percakapan mereka. Suara itu mirip sekali dengan suara Rima, tidak... aku yakin wanita itu memang Rima.
"Jadi, kamu udah nggak kerja di perusahaan itu lagi?" Wajah Citra tampak angkuh ketika bertanya dengan Rima. Bahkan, wanita itu tertawa seperti sengaja mengejek Rima. "Aku sudah yakin kamu tidak mungkin bisa bertahan di sana. Secara, kamu itu udik dan nggak bisa apapun. Anggap saja itu karma yang kamu dapatkan karena sudah membuat aku dan calon suamiku dipecat dari perusahaan itu. Apa sekarang kamu udah jadi pengangguran? Aku sarankan kamu jangan datang ke resto ini, sebab aku takut kamu nggak mampu membayar tagihan makanan yang masuk ke dalam perutmu. Jadi, lebih baik kamu pergi dan cari saja makanan yang lebih murah di luaran sana!"
__ADS_1
Sepertinya Citra sengaja bicara dengan nada keras agar semua orang mendengar ucapanya. Benar, saja beberapa orang melihat kearahnya dan Rima. Aku tidak tahu mengapa Citra sangat ingin mempermalukan Rima.
"Rima... kenapa masih diam aja? Kamu tau jalan keluarnya 'kan?" Citra menunjuk pintu seolah mengusir Rima. Tapi, Rima masih bergeming tanpa kata. Tidak membela diri, juga tidak pergi.
Aku tidak bisa lagi berdiam diri melihat kelakuan Citra yang sudah semakin semena-mena. Sikapnya semakin tidak bisa dikontrol hingga ia berbuat sesuka hati. Aku mendekati kedua wanita itu dan Citra adalah orang pertama yang menyadari kehadiranku.
"Mas, coba lihat siapa yang ada di sini." Citra merangkul lenganku seolah menegaskan kalau aku ini adalah miliknya. Aku terdiam menatap Rima yang tampak semakin cantik saja. Mata dan wajah mantan istriku itu lebih cerah dari terakhir kali aku menatapnya.
__ADS_1