
"Hentikan semua ini!" seru seorang kakek yang berjalan menggunakan tongkat sedang melangkah ke arah david dan antoni. Dia adalah Robert Alexander, seorang pengusaha terkenal di eropa. Meskipun di usia nya yang sudah tak muda lagi, namun jiwa pembisnis nya masih terpancar jelas. Bersamaan dengan itu segerombolan pria berbadan kekar dengan memakai setelan serba hitam datang dan langsung membubarkan semua tamu yang berkerumun dan meminta mereka agar secepat nya meninggalkan tempat itu, mereka juga meminta pada para tamu yang sudah merekam kejadian itu agar segera menghapus nya jika mereka masih ingin hidup mereka baik baik saja. Mereka yang mendapat ancaman itu pun langsung menghapus vidio yang sempat di rekam nya, setelah itu mereka segera meninggalkan tempat itu dengan terburu buru. Kini di ruangan itu cuma ada antoni,david,nissa dan juga kakek robert. Antoni dan david yang mengenali siapa pemilik suara itu langsung menghentikan pertikaian mereka. David terdiam, tangan nya mengepal kuat dan nafas nya masih naik turun, david sangat mengenali suara itu, suara yang amat dia benci. Dengan masih menahan emosi david berdiri dan langsung mengajak nissa untuk meninggalkan tempat itu tanpa ingin menoleh pada sosok yang tengah menatap nya lekat.
"Tunggu!" seru kakek robert. Langkah david dan nissa seketika terhenti kala mendengar seruan itu. Kakek robert sejenak menatap antoni kemudian perlahan berjalan mendekati david setelah mendapat anggukan dari antoni.
Kini kakek robert telah berdiri berhadapan dengan david, jantung kedua nya bergemuruh kala sepasang mata mereka bertemu. Sekali lagi kakek robert menatap lekat wajah pria yang ada di depan nya itu, mata nya, hidung nya, dan semua yang ada pada pria di depan nya itu sangat dia kenali, wajah itu adalah wajah seorang bocah yang dulu tak pernah dia perhatikan, wajah yang sangat mirip dengan putra bungsu nya. Dengan mata yang sudah berkaca kaca kakek robert memeluk pria di depan nya itu.
"Cucu ku, David Alexander, maafkan kakek nak, maafkan kakek" kata kakek robert dengan suara yang bergetar.
Dua bulir air mata haru meluncur dari pelupuk mata antoni kala melihat pemandangan haru yang ada di depan nya. Tubuh david seketika membeku kala sosok renta di depan nya memeluk nya erat, pelukan yang dulu sangat dia dambakan, pelukan hangat seorang kakek pada cucu nya, namun semua itu tak pernah dia dapatkan karna sang kakek terus saja mengacuhkan nya, sampai suatu ketika dia harus pergi dan membuat nya tak menginginkan lagi pelukan itu, bahkan sejak kepergian nya david hanya membawa sejuta luka dan kebencian pada sang kakek.
David tak menolak atau pun membalas pelukan itu, fikiran nya masih berkelana pada kejadian di masa lalu. Sempat ada rasa rindu dan keinginan untuk membalas pelukan sosok yang tengah memeluk nya itu, namun ego nya kembali menyadarkan nya agar tak terbawa suasana.
__ADS_1
"Maaf, seperti nya anda salah orang, saya David Bima Saputra bukan David Alexander cucu anda" ucap david setelah melepaskan pelukan yang hampir saja membuat nya luluh. Setelah berkata demikian david segera meninggalkan tempat itu bersama nissa.
"Kakek ingin kita berkumpul lagi seperti dulu lagi nak, kakek sangat merindukan kalian" ucap kakek robert lirih. Sebenar nya hati kakek robert terasa mencelos saat cucu nya sudah tak mengakui nya sebagai seorang kakek, bahkan sekarang cucu nya itu sudah tak mau memakai nama Alexander dalam nama nya. Namun sosok renta itu sadar bahwa kesalahan nya di masa lalu memang sangat lah fatal, wajar jika anak,menantu serta cucu nya belum bisa memaafkan nya.
Kini david sudah berada di dalam mobil bersama nissa. Sejenak dia memejamkan mata sambil menyandarkan tubuh nya di kursi kemudi. Fikiran nya kembali ke kejadian beberapa menit yang lalu, david dapat melihat raut kecewa dari mata sang kakek kala dia melepaskan pelukan nya, bahkan dia juga melihat dua bulir air mata yang jatuh dari mata biru yang sudah tak sebening dulu itu saat dia menyebutkan nama nya yang sudah dia rubah sejak sepuluh tahun lalu. Ada rasa sakit saat dia berkata bahwa diri nya bukan lah cucu nya, apalagi setelah dia mendengar ucapan terakhir dari sang kakek bahwa dia sangat merindukan nya. David bingung harus bagaimana, kepala nya pening karna memikirkan semua kejadian di malam itu.
"Dav?" ucap nissa memecahkan keheningan, nissa sudah tak bisa lagi menahan rasa keingin tahuan nya tentang apa hubungan david dengan antoni dan sosok robert alexander dan kini nissa memberanikan diri untuk menanyakan nya saat itu juga.
David yang mendengar nama nya di panggil langsung tersadar dari fikiran nya yang berkecamuk, dan hampir saja dia melupakan keberadaan gadis yang duduk di samping nya itu.
__ADS_1
"Hah iya nis? ahh maaf yah, ok kita pulang sekarang" ucap david.
Namun saat tangan nya hendak memutar kunci mobil nissa tiba tiba menghentikan nya dan meraih tangan david lalu menggenggam kedua tangan david.
"Dav, aku tau kamu lagi banyak fikiran, kamu bisa kok cerita sama aku biar fikiran kamu lebih tenang" ucap nissa sambil menatap manik mata david yang juga tengah menatap nya. Namun david diam, dia menunduk menghindari tatapan nissa yang seolah meminta penjelasan tentang kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Kamu gak percaya sama aku?" ucap nissa kala david tak menyahuti perkataan nya. David mengangkat pandangan nya, melihat gadis di depan nya itu yang menatap nya penuh kasih.
"Baik lah" ucap david sambil mengangguk sesaat setelah menghembuskan nafas nya kasar.
*TBC*
__ADS_1