Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
anak perempuan


__ADS_3

Hujan turun deras disertai dengan gemuruh petir. Entah sampai kapan tetesan air itu masih setia memeluk bumi sejak siang. Suasana nampak gelap gulita karena terjadi pemadaman listrik. Mungkin ada saluran listrik yang terganggu hingga terpaksa terjadi pemadaman. Penerangan pun dengan lampu nirkabel dan senter.


Rufi terbangun dari tidur lelapnya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata dan mengusap air liur disudut bibirnya. Dia terbelalak melihat kegelapan yang menyergap disekelilingnya. Dadanya terasa sesak karena kesulitan bernapas sebab takut dengan gelap. Ingin berteriak memanggil papanya tapi percuma karena tempat tidur kedua orangtuanya berada dilantai dasar. Dia memberanikan diri menghadapi keadaan yang seakan mencekiknya itu. Tangannya terulur membuka laci mencari senter dengan meraba. Setelah benda itu didapatnya, dia berniat hendak keluar dari kamar mencari tahu suara tangisan yang telah mengganggunya bermimpi. Meski gemuruh petir terdengar cukup keras memekakkan telinga, namun dia masih bisa mendengar suara tangisan itu. Dia penasaran karena tidak memiliki adik atau saudara lainnya, karena memang anak tunggal keluarga Edwin Sastra. Dimana kedua orang tuanya sangat menyayangi dan mencurahkan segalanya kepadanya seorang. Sungguh tidak bisa dibayangkan jika dia benar-benar memiliki seorang saudara? pasti kasih sayang mereka akan terbagi. Itu tidak boleh terjadi. Rufi sudah terbiasa sendiri dan dia pun bahagia.


Perlahan Rufi menuruni anak tangga dengan penerangan cahaya senter dari tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang tembok disampingnya. Dia menyusuri ruang demi ruang hingga langkahnya terhenti di kaca pembatas antara ruang baca dengan kolam renang disamping rumahnya. Suara tangisan itu terdengar sangat jelas. Dan benar saja, detik berikutnya kedua matanya membulat melihat seorang anak perempuan tengan duduk menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia masih menangis. Seketika Rufi merinding dan rasa ketakutan mulai menyergapnya. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua dinihari. Anak perempuan itu masih menangis. Karena iba dan penasaran akan sosoknya, Rufi memberanikan diri untuk menghampirinya. Perlahan dia membuka pintu dan mendekatinya. Dia sudah tidak peduli meski seandainya sosok anak perempuan yang dijumpainya itu adalah makhluk tak kasat mata. Bukankah berteman dengannya juga tidak rugi?


Saat jarak mereka hanya sepersekian senti, Rufi terhenti. Dia mengatur detak jantungnya yang kencang mendahului detik jam. Dia menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan berulangkali. Karena mendengar langkah seseorang mendekatinya, anak perempuan itu menghentikan tangisnya dan menoleh. Dia terkejut melihat Rufi berdiri tidak jauh darinya, anak lelaki yang umurnya beberapa tahun di atasnya.


" Siapa kamu? kenapa menangis ditengah malam ini? " tanya Rufi. Dia bertanya meski sempat ketakutan. Bahkan jantungnya masih berdegup hebat meski sudah berusaha menenangkan diri. Dilihatnya anak perempuan itu dengan seksama, wajahnya sama sekali tidak pucat, berarti memang bukan memedi seperti dalam benaknya. Dia manusia, juga cantik meski penampilannya berantakan.


Anak perempuan itu berbaju putih dengan rambut terurai pendek, dia mengusap kedua matanya. Hidungnya juga mengeluarkan sedikit ingus yang membuatnya agak jijik. Mungkin disebabkan oleh tangisannya. Ketakutan Rufi mulai hilang dan berganti dengan senyuman samar.


" Namaku Kanaya, aku mencari ibuku, " terangnya dengan sesenggukan.


Ibu? Siapa yang dia maksud? Dirumah ini ada tiga wanita. Satu mamaku dan kedua lainnya adalah pembantu rumah tangga. Mungkinkah dia ada hubungannya dengan salah satu pembantu mama? pikir Rufi.


" Siapa nama ibumu? " tanya Rufi. Anak perempuan itu mulai tersenyum, dia juga sudah terlihat tenang. Cahaya rembulan saksi bisu menerangi percakapan mereka karena hujan mulai reda meski petir masih terdengar.


Namun belum sempat anak perempuan itu menjawab, bik Sumi setengah berlari dengan senter ditangan kanannya menerangi mereka. Rufi dan anak perempuan itu menutup matanya yang silau dengan lengan. Wanita yang memiliki keterbatasan dengan pendengaran dan bicaranya itu langsung memeluk anak perempuan yang masih duduk menghadap ke kolam renang. Dia juga mengusap wajah anak itu lalu menciumnya bertubi-tubi. Wanita itu adalah pembantu yang telah lama mengabdi pada keluarganya. Bahkan saat Rufi masih bayi, dia juga ikut merawatnya ketika Rianti sibuk bekerja.


- Terima kasih, ucapnya dengan menggunakan isyarat tangan serta anggukan kepala kepada Rufi. Rufi ikut mengangguk.


- Siapa dia? tanya Rufi. Karena keberadaan anak perempuan yang mengejutkannya itu sempat mengusik rasa keingintahuannya.


- Anakku, jawabnya. Dengan isyarat wanita itu menjelaskan hal ihwal anak perempuan itu. Dan lagi-lagi Rufi mengangguk paham. Dia sudah terbiasa dengan bahasa dari sang pembantu yang sudah dianggapnya sebagai ibu keduanya.


- Tadi aku meninggalkannya di kamar mandi. Saat aku kembali ke kamar, dia hilang. Aku berusaha mencarinya ke segala penjuru rumah. Syukurlah dia berada di sini bersamamu den Rufi, terangnya.


Selesai menjawab pertanyaan Rufi, wanita itu lekas membawa masuk anak perempuan itu menuju ke kamarnya paling sudut. Rufi mengikutinya sampai terpisah antara ruang pembantu dengan ruang keluarga, dia juga menuju ke kamarnya kembali di lantai dua. Dia lega dan hendak menjemput kembali mimpinya hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Pagi pun tiba, Rufi bangun dan segera mandi menyambut rutinitasnya lagi sebagai siswa kelas lima di sebuah sekolah dasar negeri. Dia sudah bersiap dengan tas di punggungnya. Dengan langkah ringan dia menuju ke ruang makan ikut sarapan bersama kedua orang tuanya. Tas diletakkannya di kursi. Saat duduk, dia terkejut ketika kedua manik matanya beradu pandang dengan seorang anak perempuan yang sudah memakai seragam seperti dia. Anak itu sibuk mengunyah makanan dengan lahap hingga pipinya nampak bulat berisi. Rambutnya berkucir dua dan tersenyum kepadanya. Rufi membalas senyuman itu dengan samar. Dia menatap aneh Kanaya karena kepala anak itu terus bergoyang ke kanan kiri. Anak itu benar-benar menikmati sarapan dengan bahagia yang tiada terkira. Disamping piring yang berisi sarapannya juga terdapat segelas susu seperti miliknya. Papanya nampak mengelus puncak kepala anak itu. Dan hal itu membuat Rufi heran.


Bukankah dia yang semalam menangis? pikir Rufi.


" Fi, kenalkan dia Kanaya anak bungsu bik Sumi. Nanti dia akan papa daftarkan di sekolahmu. Biar nanti bisa berangkat bersama-sama, " ujar tuan Edwin menjelaskan.


" Sekolah denganku, pa? " tanya Rufi ragu. Sungguh keberadaannya mulai mencuri perhatian kedua orang tuanya. Meski anak perempuan itu tidak mengerti.


" Iya, papa sudah berjanji dengan mendiang ayahnya akan menjaga dan merawatnya, " terangnya. Lalu papa bercerita tentang asal muasal kenapa anak itu berada dirumah dan ikut prihatin dengan kondisinya yang telah menjadi anak yatim.


Sementara bik Sum hanya mengangguk dan mengucapkan Terima kasih kepada sang majikan yang berbaik hati membantunya. Dimana beberapa hari yang lalu suami yang amat dikasihinya telah berpulang. Dia sedih dan bingung menghadapi hidup tanpa suaminya. Anak sulungnya telah berumah tangga dan tinggal di luar kota bersama keluarga barunya, seseorang yang diharapkan bisa membantu adiknya menolak. Beruntung sang majikan bersedia membantu menyekolahkan Kanaya.


Mereka pun melanjutkan sarapan kembali. Rianti, mama Rufi tersenyum. Wanita itu turut senang bahkan bersedia mengangkat Kanaya sebagai anaknya. Dan keputusan kedua orang tuanya tanpa melalui bahkan persetujuan darinya membuatnya mengernyit, mengangkat anak?? yang benar saja? pikir Rufi.


Selesai sarapan, Rufi, Kanaya dan Edwin masuk ke dalam mobil diantar oleh mang Didin. Rufi sibuk menatap gadgetnya bermain game sembari menghabiskan waktu, sementara Kanaya asyik menatap luar dari kaca jendela mobil.


" Rufi jangan banyak main gadget, " tegur Edwin. Pria itu tidak suka melihat sang anak yang ketagihan bermain game. Rufi mendongak melihat sang papa dan segera menyimpan benda pipih itu ke dalam tasnya. Dia lupa jika masih berada di mobil bersama pria yang jarang tersenyum itu. Rufi nyengir menatap dari kaca spion. Sementara Edwin menggeleng-gelengkan kepala melihat sang anak tidak juga jera bermain gadget meski dihukum berulang kali. Karena bosan, Rufi pun ikut-ikutan melakukan hal yang sama dengan Kanaya. Berusaha menikmati kesibukan kota meski dia tidak suka.


Usai mobil terparkir sempurna, mereka turun memasuki sekolah. Rufi sudah berlari menghampiri teman-temannya. Edwin menggenggam erat tangan Kanaya menuju ke ruang guru hendak mendaftarkan anak angkatnya itu.


" Siapa bersama dengan papamu? " tanya Gilang.


" Oh itu, dia Kanaya, " jelas Rufi. Benar-benar anak itu mencuri perhatian orang terdekatku, gumamnya.


" Dia mau daftar sekolah disini? cantik juga, " ujar Bhaskara.


" Dia masih mau kelas satu. Kamu suka sama anak ingusan itu? " tanya Rufi.


" Kita semua juga ingusan, ha... ha... ha... , " tawa Gilang. Mereka pun terbahak-bahak.

__ADS_1


Rufi langsung meninju pipi Gilang agar berhenti membicarakan Kanaya dan bergegas mengajak naik ke lantai dua tempat kelas lima berada.


Diruang guru Edwin disambut hangat oleh beberapa guru yang telah hadir. Seorang guru menghampiri dan menanyakan tujuan pria berjas kelabu itu datang ke sekolahan. Edwin menjelaskan dengan rinci sembari kedua manik matanya melihat ke arah Kanaya yang duduk di sampingnya. Sang guru pun paham dan mulai menjelaskan tata cara pendaftaran untuk Kanaya. Anak itu baru akan mengenyam pendidikan kelas satu sekolah dasar.


..............


Rufi sedang bermain gadget saat kakinya tiba-tiba ditendang oleh seseorang. Dia meringis dan menatap tajam siapa yang telah menendang kakinya. Nampak Kanaya berlarian dengan menggendong boneka kelinci putihnya. Dia tidak menyadarai telah menendang Rufi.


" Kanaya, kenapa kau menendang kakiku? " tanya Rufi kesal. Kanaya terkejut dan menghentikan lariannya. Dia mendekati Rufi. Dari kejauhan anak itu terlihat memprihatinkan dengan tubuh kurus berkulit putih pucat tapi saat dekat anak itu memang cantik seperti yang dikatakan oleh Bhaskara. Rufi sempat terkesima hingga melupakan kakinya yang sakit tapi itu tidak berlangsung lama.


" Aku tidak sengaja. Lagian kakak kenapa kakinya ditengah jalan? " tanyanya polos, sebutan kakak digunakannya untuk memanggil Rufi. Rufi menjadi kesal. Dia berdiri berkacak pinggang.


" Bukannya minta maaf tapi malah menyalahkan aku? " bentak Rufi sembari melotot. Kanaya ketakutan,dia terdiam. Anak perempuan itu memeluk erat bonekanya. Namun karena merasa terintimidasi oleh tatapan marah Rufi,perlahan dia merasakan panas di kedua pelupuk matanya. Tanpa menunggu menit kemudian, dia menitikkan airmata mendapat bentakan dari Rufi. Betapa dia tidak suka mendapat perlakuan seperti itu yang tidak pernah kedua orang tuanya lakukan kepadanya. Bapak dan ibunya memperlakukannya dengan lemah lembut.


" Minta maaf kok malah nangis?? " tanya Rufi. Benar-benar tingkah Kanaya membuatnya tidak habis pikir, dibentak sedikit saja sudah melow dramatis. Bagaimana jika dia membalas balik dengan menendang kakinya yang kecil itu?


Kanaya menangis,semakin lama semakin keras hingga membuat bik Sumi dan Rianti yang berada didapur setengah berlari mendatangi mereka. Bahkan Rianti tanpa sengaja membawa pisau dan apel yang hendak dikupasnya karena terkejut.


" Ada apa? apa yang terjadi? " tanya Rianti. Lalu wanita itu meletakkan kedua benda yang terbawa tadi di atas meja. Tanpa perlu bertanya, wanita itu langsung menatap ke arah Rufi.


" Dia menendang kakiku, ma. Dia tidak mau minta maaf tapi malah nangis, " terang Rufi. Bik Sumi menghampiri Kanaya dan menenangkannya dengan mengusap punggung sang anak. Bik Sumi mengatupkan kedua jemarinya dengan mengucapkan kata maaf kepada Rufi yang berwajah datar. Rianti bertanya kepada Kanaya dan anak perempuan itu menjawab dengan sesenggukan jika Rufi telah membentaknya.


" Rufi, jangan kasar kepada Kanaya. Dia masih kecil, harusnya kau bisa mengucapkannya dengan perlahan, " tegur Rianti. Wanita muda yang selalu nampak lembut kepada Rufi itu kini nampak berbeda. Rufi terkesiap dengan teguran itu dan wajah yang selalu teduh itu melukiskan rona kesal seperti Rufi telah melakukan sebuah kesalahan besar nan fatal. Rufi sedikit jengah.


Sungguh ribet sekali jika dia jadi adikku beneran? gumam Rufi dan pergi meninggalkan tiga perempuan itu. Kedamaiannya sebagai anak tunggal dan pusat perhatian mulai tergeser oleh keberadaan anak itu. Dia menghembuskan napas kasar.


Oh Tuhan, semua sudah berubah, pikir Rufi.


Rufi melangkah menuju ke kamarnya. Dia kecewa sang mama tidak menegur Kanaya. Sebab dia merasa anak perempuan itu lebih pantas mendapatkannya, bukannya dia. Dia memainkan gadgetnya lagi hingga tertidur.

__ADS_1


Semenjak Kanaya datang dan tinggal dirumah itu, dia membawa banyak perubahan untuk Rufi. Mulai dari berkurangnya perhatian dari kedua orang tuanya sampai hal lainnya harus sama seperti dirinya. Edwin dan Rianti benar-benar memperlakukan Kanaya seperti anaknya sendiri meski Kanaya enggan memanggil mereka dengan sebutan mama papa. Anak itu malu melakukannya karena baginya mereka berdua adalah majikan dari ibunya yang berarti dia pun harus hormat dan patuh.


Meski kecewa dan marah lambat laun Rufi berusaha menerima anak perempuan itu menjadi adik angkatnya. Dia nampak tidak peduli dari luar dengan menampakkan wajah datar nan dingin tapi sebenarnya dia sangat peduli. Rufi menunjukkannya dengan tingkah laku bukan lisannya. Kanaya menyadari hal itu dan juga mulai mengatur kecerobohannya yang tanpa sengaja membuat Rufi tersinggung dan marah. Dia harus bersikap manis agar Rufi menyukainya. Karena dari sekian banyak orang hanya dialah yang tidak terlalu suka dengan keberadaannya.


__ADS_2