
Kanaya duduk termenung menatap lurus kedua sejoli yang duduk di kursi taman tidak jauh darinya. Seorang gadis nampak sebaya dengannya sedang menutup wajah dengan kedua tangannya. Disampingnya seorang lelaki berseragam putih abu menunduk dengan sebuket mawar merah. Tidak ada percakapan diantara mereka. Entahlah saat Kanaya tiba dan memperhatikan, mereka sudah pada posisi saling diam.
Beberapa menit berlalu, Kanaya masih merasa heran melihat gadis itu melakukan hal sama dengan bahu yang kini berguncang. Sementara sang lelaki masih memegang bunga, lalu berdiri dan bertelepon. Sesekali dia menatap gadis itu.
Sayup-sayup terdengar tangisan. Mengertilah kanaya jika suara itu berasal darinya. Sang lelaki memegang sebelah bahunya, berbicara lalu meninggalkannya seorang diri. Usai kepergiannya, gadis itu kembali menangis. Karena penasaran, kanaya memberanikan diri untuk menghampirinya. Dengan sedikit ragu, dia mengambil tempat duduk di sebelah gadis berbando merah muda itu.
" Boleh aku disini? " tanya kanaya.
Mendengar suara lain di sebelahnya, gadis itu membuka tangannya dan menoleh. Nampak kedua matanya yang indah sembab dengan buliran air mata yang masih tumpah ruah. Dia menjawab dengan menganngguk.
" Boleh aku tahu apa yang membuatmu seperti ini? " tanya kanaya lirih. Sangat lirih hingga suaranya terbawa oleh semilir angin, saksi bisu pertemuan mereka di kursi taman itu. Namun suara itu jelas terdengar oleh gadis yang masih sesenggukan. Lama dia terdiam dan berusaha menenangkan diri. Ternyata emosinya yang tak tertahan berhasil memancing perhatian orang lain. Dan itu adalah Kanaya.
" Kalau kau ada masalah aku bisa membantu, ya meski mungkin sedikit atau apa yang bisa aku lakukan untukmu? " tawar kanaya. Gadis itu menoleh dan mengusap buliran air yang masih menggenang di kedua pelupuk matanya. Dia sedikit tersentuh mendengar tawaran kanaya yang ingin membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapinya.
" Apa kau punya teman? Sahabat dekat? " tanyanya. Kanaya mengangguk. Meski sedikit heran dengan pertanyaan yang dilontarkannya.
" Ya, ada, " jawab kanaya dengan tatapan ke langit biru. Pertanyaan itu mengingatkannya pada sosok Bella. Menit kemudian, kanaya tersenyum. Bella si usil yang suka menggoda Hendi. Oh iya apa kabarnya si Hendi??
" Dia pernah menyakitimu? Mempermainkanmu? Menjelekkanmu? " tanyanya lagi. Kanaya semakin tidak mengerti dengan arah pertanyaan gadis itu yang masih seputar dengan teman dekat. Kanaya mencoba mengingat, kini dengan tangan mengetuk-ketuk pelipis kanannya.
" Pernah, " jawab kanaya. Ya, Bella pernah tanpa sengaja mendorongnya hingga bibirnya hampir mencium lantai kelas. Namun karena kesigapan Hendi yang meraihnya, dia pun tertahan dengan memeluk pinggang lelaki gemuk itu.
" Lalu apa kau pernah jatuh cinta dengan seseorang? " tanya lagi. Kanaya berkerut, ingin segera berteriak menyebut Rufi. Namun diurungkannya karena hal itu sangat amat rahasia dan sensitif. Kanaya mengangguk.
" Ya, " jawab kanaya singkat. Gadis itu kembali meneteskan airmata. Kanaya terkejut dan berusaha menenangkan gadis disampingnya agar tidak kembali menangis.
" Aku jatuh cinta dengan lelaki yang membawa sebuket bunga mawar merah tadi. Tapi dia...... " ujarnya tertahan. Kanaya menyimak dengan seksama. Kalimatnya yang menggantung membuatnya makin penasaran.
" Dia mencintai sahabat dekatku dan mereka sudah setengah tahun menjalin kasih, " ujarnya.
" Hu..hu...hu....." tangisnya pecah.
Kanaya mulai mengerti, dengan ragu dia memberanikan diri mengusap punggung gadis malang itu.
" Maaf, aku tidak bermaksud. Emm.... " ujar Kanaya bingung. Dia merasa sangat bersalah.
__ADS_1
" Aku mempunyai teman sangat dekat sampai aku menyebutnya sebagai sahabat. Dengannya aku berbagi keluh kesahku hingga saat aku jatuh cinta dengan lelaki tadi, " ceritanya. Dia menyeka airmatanya yang menetes di wajah cantiknya dengan kasar.
" Aku terpesona saat pertama kali bertemu dengannya saat aku mendapat musibah, " lanjutnya. Kanaya menyimak dengan seksama. Dia ikut merasakan letupan kebahagiaan gadis itu. Dia teringat saat jumpa pertama dengan Rufi. Entah tanpa sengaja, dia membandingkan dirinya.
" Aku tertabrak hingga kakiku retak. Dia menolong membawaku ke rumah sakit, menemani ku setiap hari, sampai kini aku bisa berjalan lagi, meski dengan tongkat penyangga, " tambahnya. Kanaya mengikuti arah telunjuk gadis itu. Memang ada alat bantu yang diceritakannya.
" Aku masuk sekolah lagi setelah sembuh. Dan betapa terkejutnya saat mendapatinya juga satu sekolah denganku. Dia masih bersikap baik hingga aku menyadari jika aku sangat mencintainya karena kebaikan hatinya. Tapi aku tidak berani mengutarakan rasa yang kupendam. Aku hanya menceritakannya kepada sahabatku. Dan ternyata selama ini mereka telah lama menjalin hubungan istimewa. Kau tahu rasanya? Disini....." ujarnya. Tangannya memegang sebelah dadanya.
" Sakit, sakit sekali, " ujarnya parau. Kanaya merasa iba, dia tak mengalihkan perhatiannya selain gadis itu. Dia mulai sesenggukan lagi.
Mencintai seseorang dalam diam, berharap suatu saat sang pujaan akan membalas perasaannya. Sangat mustahil. Tindakanlah yang menentukan keberhasilan seseorang dalam meraih cita-cita. Hingga sahabatnya yang berhasil mendapatkan cinta lelaki itu. Kini hati gadis itu telah patah dan terkhianati oleh sahabatnya.
...............
Jika kau mencintai seseorang, jangan menunggunya menyadari atau mengetahui hal itu sendiri, kecuali dia memiliki kepekaan tinggi. Lebih baik ungkapkan entah dengan perilaku atau tutur kata. Dia akan memperhatikanmu dan lambat laun dia bisa beradaptasi dan mencintaimu secara perlahan. Tapi jika dia menolak, kau bisa membunuh rasa cintamu dengan cepat tanpa penasaran akan akhirnya. Mencintai dalam diam sama halnya dengan menusukkan jarum satu persatu hingga suatu saat akan sakit jika tersadar. Apa kau mau memelihara kesakitanmu tanpa kepastian?
Sore itu, Kanaya sengaja duduk di teras. Dia bermaksud menunggu kepulangan Rufi. Ada saja kesibukan yang dilakukannya untuk membuang rasa jenuh menunggu' . Mulai dari menyapu, menyiram, memindahkan bunga dari pot yang pecah sampai melap kursi teras.
Tidak lama kemudian terdengar deru motor berhenti didepan gerbang. Mang Didin segera membukanya. Nampak Rufi masih mengenakan helm memajukan motornya menuju garasi dengan kedua langkah kakinya yang panjang. Wajahnya yang rupawan bak bersinar kala kanaya mencuri pandang. Tapi Rufi tidak menyadari keberadaan sang adik yang duduk di teras dengan pandangan terus mengarah kepadanya. Mungkin karena efek kelelahan setelah hampir seharian di kampus.
Rufi sampai di garasi, dia menghentikan langkah paling pojok lalu turun setelah memastikan motor terparkir sempurna. Karena gelap, dia meraba letak tombol lampu di dekat pintu yang mengarah ke dapur. Begitu lampu menyala, alangkah terkejutnya. Kanaya berdiri menatapnya serius di ambang pintu. Jemari-jemarinya bergerak melingkar membentuk bulatan acak di depan dada.
" Kau mengejutkanku, " ujar Rufi. Usai mengacak puncak kepala sang adik, dia melewati Kanaya yang sedikit menggigit bibir. Kalimat yang akan meluncur sangat menekan dirinya.
" Aku...aku...menyukai....." ujarnya tertahan. Rasa gugup yang masih disertai kencangnya detak jantung membuat kalimatnya tertinggal di tenggorokan. Rufi menghentikan langkah tanpa berbalik. Dia penasaran dengan kalimat yang keluar dari sang adik. Karena dia tahu sang adik mencari atau menghampirinya pasti ada yang ingin disampaikannya. Entah itu masalah kecil sampai serius sekalipun.
" Menyukaimu kak......" ujarnya lirih. Plong, hatinya sangat lega. Dia seperti memuntahkan batu besar yang menancap erat dalam dirinya.
Alhasil kalimat itu membuat Rufi tersentak sampai kakinya berat untuk melangkah. Dia terdiam seperti terhipnotis. Kata sederhana yang kini mulai diartikan banyak makna olehnya. Dia menelan saliva berat.
" Aku menyukaimu kak. Atau....atau....bu....bukan.....bukan seperti itu. Emmm....lebih tepatnya....aku....aku....mencintaimu....." terangnya dengan gugup. Kanaya mulai berkeringat dingin mengungkapkan hal itu. Kedua kakinya bahkan bersiap merosot karena lemah menginjak bumi. Kalimat sederhana namun membuat dirinya bagai tak beraga. Tubuhnya yang padat berisi terasa bak kapas yang siap tertiup angin detik ini, sangat ringan.
Rufi tidak sanggup mengucap kata. Dia gamang mendengar pengakuan Kanaya yang mencintainya. Anak perempuan yang dulu sempat dibencinya karena telah mencuri perhatian kedua orang tuanya yang kini menyandang gelar sebagai adiknya. Detik ini mempunyai rasa lain terhadapnya? Rasa yang dirasakan dan diyakini oleh Edwin. Rasa yang jelas ditentang oleh sang papa. Terdengar sayup-sayup Rianti memanggil namanya. Tanpa pikir panjang, Rufi bergegas menghampiri wanita yang telah melahirkannya ke dunia tanpa bersuara. Meninggalkan kanaya yang masih berdiri mematung menghadap garasi yang penuh dengan kendaraan yang kini menyala terang lampunya.
Kanaya mengatur dadanya yang sesak. Entah karena bahagia atau sedih? Tapi detak jantungnya kini mulai normal. Dia harus memberanikan diri menoleh menatap diri sang kakak dibelakangnya. Menghadapi resiko yang akan dihadapinya antara penerimaan atau penolakan atas pengakuan jujur hatinya terdalam. Dia harus melakukannya agar jika terjadi penolakan, dia bisa berusaha melupakan Rufi sang cinta pertamanya.
__ADS_1
Namun saat menoleh, betapa kecewanya. Rufi sudah tidak ada. Kakinya merosot ke lantai. Sebelah tangannya memegang erat pintu, sementara lainnya menutup mulut menyadari tingkah diluar akalnya, menyatakan cinta alias menembak sang kakak rupawannya?
Oh apa yang telah aku perbuat? Aku menyatakan cinta? Apa tadi kak Rufi sempat mendengarnya? Atau dari tadi aku berbicara dengan sunyi? Bodohnya aku?
Kanaya memukul bibirnya dan merutuki kebodohannya yang telah menyatakan cinta? Sesuatu yang sangat tabu dan tidak pantas dilakukannya sebagai seorang perempuan. Tapi dia merasa sedikit lega. Ternyata keberaniannya sangat tinggi.
Malam pun menjemput. Rianti menyeret Kanaya yang sedang sibuk membuat pekerjaan rumah dikamar, agar mau makan malam bersama. Hingga gadis jangkung itu kini duduk berhadapan dengan Rufi yang membuatnya gugup setengah mati. Peluh membasahi pelipisnya dan kedua kelopak matanya panas dengan suara yang berat tertahan kegugupan. Dia merasa malu tak terkira saat beradu pandang dengan Rufi. Lelaki itu mengangkat kedua alisnya dan membuatnya semakin hilang diri. Bahkan saking malunya, tangannya bergetar memegang sendok. Pengungkapan yang dipikirnya akan membuatnya waras malah membuatnya semakin kacau saat bertemu Rufi.
Tidak kanaya! Kau tidak boleh gugup. Rufi tidak mendengar pengakuan cintamu. Kau harus tenang.
" Kanaya, apa kau tidak lapar? " tanya Rianti melihat Kanaya terus menunduk menatap sendok tanpa bermaksud menggunakan alat itu sesuai fungsinya. Kanaya hanya diam karena pertanyaan Rianti tertelan kecanggungannya semeja dengan Rufi.
" Kanaya!! " panggil Rianti dengan keras. Alhasil gadis itu menoleh cepat karena terkejut.
" Ya...ya....nyonya, " jawabnya terbata. Dia berdiri dan menganggukkan kepala takzim dengan badan sedikit membungkuk seperti memberi hormat. Edwin tersenyum samar melihat kanaya bertingkah tanpa sadar. Rufi menyadari perubahan itu.
Rianti menarik pergelangan tangan kanaya agar duduk kembali dan berusaha menyadarkan tingkahnya yang diluar kendali. Kanaya tersadar. Saat menatap Rufi yang menunduk dan tersenyum, tahulah dia bahwa tingkahnya lucu dan aneh. Kanaya kembali duduk. Kini dia merasa malu setengah mati karena kekonyolan yang dibuatnya.
" Cepat makan dan segera tidur. Pasti kau kelelahan hingga seperti itu, " ujar Edwin. Kanaya mengangguk.
Usai menghabiskan santapan malamnya, kanaya pamit untuk segera tidur. Setengah berlari menuju ke kamarnya. Dia tidak menyadari jika Rufi mengikutinya. Saat pintu hendak ditutupnya, tangan besar Rufi menahannya. Kedua mata kanaya membulat.
" Ada apa kak? " tanya kanaya. Malu menyerangnya lagi. Rufi melangkah memasuki ruangan serba pink milik sang adik. Dan duduk di tepi pembaringan. Kanaya melangkah dengan menyeret kakinya yang terasa berat. Dia sangat canggung menghadapi Rufi setelah mengungkapkan kejujuran perasaannya. Tiba-tiba amnesia menyerangnya. Dia lupa hendak meneruskan pekerjaan rumahnya dari sekolah. Dia tertegun menatap bukunya yang terbuka dengan buku penunjang diatasnya yang sama halnya.
Kanaya duduk diam mencoba memahami apa yang ingin dia lakukan dengan buku sekolahnya. Jemarinya meraba buku dan satunya memegang pensil. Rufi benar-benar membuatnya melupakan segala hal dalam sekejap mata.
Sebenarnya apa yang mau aku lakukan? Oh Tuhan kembalikan ingatanku. Kenapa semua buku terbuka dengan alat tulis berserakan? Tuhan tolong aku......
Mengetahui sang adik tengah berkutat menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Rufi membaringkan tubuhnya. Menghela napas kasar dan menatap langit kamar Kanaya. Situasi ini sangat dibencinya. Kanaya mendiamkannya.
" Ternyata kau sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah? Baiklah selesaikan dulu. Aku mau tidur sebentar saja. Kalau sudah selesai, bangunkan aku. Nanti kita naik motor beli martabak, " ajak Rufi tanpa diiyakan oleh Kanaya.
Anehnya ajakan biasa itu seperti kencan bagi Kanaya. Jantungnya kembali berdetak kencang dan berhasil membungkamnya lagi?
Kanaya masih bingung dengan semua barang di meja belajarnya hingga dia memutuskan untuk bertanya kepada Bella melalui telepon seluler miliknya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dengkuran halus terdengar dari sang kakak. Ternyata lelaki itu nampak kelelahan. Menyadari Rufi terlelap, Kanaya berhasil menguasai diri. Kini pekerjaan rumahnya telah selesai meski sempat terlupa. Diberanikannya mendekati sosok sempurna yang terbaring di ranjangnya yang kecil. Kanaya terduduk dilantai memuaskan netranya menikmati kerupawanan sang kakak. Dadanya yang bidang tertutup karena kedua tangan kekar sang kakak yang memeluk diri. Tangan Kanaya terulur ingin mengusap wajah innocent Rufi yang memikatnya sangat kuat. Namun tertahan saat telah mendekati beberapa inci dekatnya. Ditariknya lagi jemari dan dibenamkan ke dadanya. Keberaniannya kalah oleh rasa malunya. Dahi yang tidak begitu lebar, mata sedikit cekung, hidung bangir dengan rahang tegas. Perfeckli.