Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
terperangkap


__ADS_3

Rufi masih mengunci tubuh Kanaya dengan kedua tangannya yang terulur memegang pintu. Napasnya memburu. Tercium aroma maskulin parfum Rufi. Karena memang lelaki itu selalu wangi, dimanapun keberadaannya. Kanaya melihat dada bidangnya yang naik turun. Dia takut dan diam membiarkan Rufi dengan sikap overthinkingnya yang diluar akal.


Lelaki itu masih sama, tidak membiarkan Kanaya bebas bergerak. Dia selalu melihat gadis itu seorang anak kecil. Padahal semua orang dirumah bahkan di luar sekalipun juga tahu bahwa dia sudah dewasa meski umurnya masih empat belas tahun. Edwin tidak pernah melarangnya, hanya anaknya yang berlebihan. Rianti malah memintanya untuk mencoba pergi keluar sendiri agar terlatih mandiri. Naik motor atau angkutan umum sekalipun juga tidak masalah. Toh suatu saat dia juga akan meninggalkan kediaman mereka. Rufi yang tidak mau mengerti. Masih dengan pikiran buruknya.


" Kak, bisakah kau tidak berlebihan? beri aku keleluasaan bergerak sesuai inginku, " lirih Kanaya.


" Apa maksudmu? leluasa seperti apa yang kau inginkan? " tanyanya. Bahkan jika dia bisa akan diberinya tali dan diikatkannya di tangannya. Agar jika kanaya jauh dari jangkauannya bisa langsung tahu.


" Percayalah tadi aku hanya berada ditaman bersama Bella dan Hendi. Kami makan-makan sambil mm... " Kanaya mencari sebuah alasan.


" Mengerjakan tugas, ya ada tugas tadi. Jadi sekalian, " bohong Kanaya. Mengerjakan tugas? ya, tugas menghabiskan makanan yang telah dibeli dari bu kantin sembari ngobrol ngalor ngidul.


" Tugas apa? " tanya Rufi datar. Dia mulai tenang. Kecemasannya yang berlebihan redam.


" Tugas meneliti serangga, kak. Dan juga kau jangan selalu berpikiran buruk, itu bisa jadi suatu doamu yang berakibat buruk juga untukku, " terang Kanaya. Rufi masih menatap Kanaya dengan seksama.


" Kalau aku tidak boleh seperti itu kau harus memberitahuku jika pulang telat atau masih ingin main, " ujarnya.


Memberitahumu? yang ada kau melarangku.


" Mana ponselmu? " tanyanya.


" Ponsel? untuk apa? " tanya Kanaya tapi dia juga memberikannya kepada Rufi. Rufi segera menyalakan dan mengutak-atiknya bersama ponselnya, memasang penyadap diam-diam di ponsel kanaya.


Kanaya lega, lelaki berkumis tipis itu sudah tenang. Dia juga mendorong dada sang kakak agar menjauh darinya. Tapi tenaganya yang telah dikerahkan semua untuk mendorong lelaki itu hanya membuatnya mundur sedikit saja. Dia masih tertahan. Kanaya berusaha melepaskan diri mencari celah dan menjauh. Lalu duduk di kursi belajarnya.


" Dan juga bisakah kau tidak seenaknya keluar masuk ke kamarku? " tanya Kanaya. Dia merasa privasinya sedikit terganggu oleh tingkah lelaki itu yang tidak berubah. Padahal dia tidak pernah berbuat seperti itu dikamarnya dilantai dia. Selalu mengetuk terlebih dahulu memastikan sang empunya menjawab, mempersilakan. Bukan main nyelonong?


" Kenapa? kau tidak suka? bukankah dulu aku sering menemanimu tidur saat ibumu pulang kampung? " tanya Rufi. Kanaya mencoba mengingat, memang benar tapi itu dulu saat dia masih anak sekolah dasar. Sekarang dia sudah sekolah menengah pertama. Dan juga waktu itu Rufi bahkan tidur dengan memeluknya seperti guling. Kanaya tersenyum.


" Tapi kak, waktu itu.... " ujarnya terpotong karena Rufi meletakkan telunjuknya dibibir Kanaya agar diam. Lelaki itu juga duduk jongkok di depan Kanaya. Gadis itu terkesiap dan diam terpaku detik selanjutnya. Rufi menatap dalam netral Kanaya, hal yang sangat dia ingin hindari meski suka


Wajah lelaki itu sangat dekat dan jelas. Hembusan napasnya terasa di leher Kanaya.


Betapa sempurnanya kau diciptakan meski hanya untuk kulihat tanpa terjangkau? siapa yang akan memiliki hati dan dirimu kelak? jika boleh aku meminta, semoga esok kau kumiliki, kakak.


" Dulu atau sekarang tidak ada bedanya. Kamarmu sama juga dengan kamarku. Lagipula bukanlah ini rumahku? jadi aku berhak memiliki semua ruangan yang ada dirumah ini, " terangnya lalu berdiri. Dengan pongah dia menyugar rambutnya, menatap ke langit-langit kamar.


Oh Tuhan, aku lupa jika disini aku numpang. Aku salah memang jika meminta sedikit privasi? atau aku yang terlalu egois?


" Bukan begitu kak, tolong mengertilah, " ujar Kanaya. Dia tidak suka lelaki itu main masuk tanpa meminta ijin darinya. Tapi kenapa tidak mengerti juga?


" Pengertianku seluas samudera, apa masih kurang? " tanya Rufi.

__ADS_1


Apanya??? Samuderanya aja kali yang luas, banget.


Tiba-tiba Rufi mendekat, menunduk dan mencium kening Kanaya. Gadis itu seakan berhenti bernapas, dia tergemap. Jemarinya mengusap-usap kepala Kanaya dan membuat rambutnya berantakan. Hal terakhir kali dilakukan saat Kanaya masih kelas enam sekolah dasar.


" Jangan selalu membuat kakak khawatir. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, " ujarnya.


Dulu pernah Kanaya terjatuh saat main ayunan bersama Rufi. Kanaya menangis dan lututnya sedikit tergores, Rufi berulang kali meminta maaf dan menghiburnya dengan membelikan aneka permen dan es krim. Kanaya yang melihat semua pembelian Rufi penuh warna langsung diam dan kembali tertawa. Benar-benar penuh penjagaan tuan mudanya itu mengalahkan sang ibunya sendiri.


" Berjanjilah, " ujarnya sembari mengulurkan jari kelingkingnya agar Kanaya menautkannya. Kanaya mengernyit, seperti anak kecil saja? Tapi dia pun menautkannya dan disambut senyuman manis Rufi yang melelehkan hati Kanaya. Beberapa detik kemudian mereka melepas tautan dan Rufi melangkah keluar dari kamar.


" Cepat mandi, besok Ku antarkan kau ke sekolah pagi sekali. Habis mandi lekas makan dan tidur, " ujarnya.


Usai kakaknya keluar dan menutup pintu, dengan jemarinya yang sedikit bergetar, kanaya menyentuh bekas ciuman dari kakaknya. Rasa hangat menjalar ke wajahnya. Kedua tangannya mengusap pipi. Dan merapikan rambutnya yang tidak lurus karena berantakan. Tapi dia suka Rufi khawatir meski awalnya penuh amarah. Semarah apa pun, lelaki itu tidak akan menyakitinya terlalu parah. Dia lelaki yang lembut dan penuh penyayang.


Dia menciumku?? Mimpi apa aku? Apa lebih baik aku sering membuatnya khawatir saja ya? Biar dicium terus Hi... Hi... Hi. Kenapa perlakuanmu manis sekali seperti permen karet?? Kak Rufi, aku jadi kecanduan padamu. Kau bak heroin yang ingin selalu ku hisap meski membuat tubuhku keracunan. Bahkan mungkin membuatku terluka sangat dalam.


Kanaya memeluk dirinya sembari membayangkan lelaki itu. Dia serasa melambung ke puncak awan. Namun kebahagiaan semu didapatnya sesaat karena seseorang membuka pintu dengan keras. Ibunya masuk dan memintanya segera mandi karena hampir malam. Kanaya membuang lamunannya dan dengan malas pergi ke kamar mandi.


Dini hari, tanpa disadari Rufi tersenyum samar, senang melihat Kanaya masih tertidur lelap di atas kasurnya. Entah mengapa sebelum memulai aktifitasnya hari ini, dia ingin menyempatkan dulu menatap Kanaya meski sedang tertidur. Karena memang masih dini hari. Lampu ruangan lain juga masih padam, karena belum ada yang bangun.


Perlahan Rufi membuka pintu dan masuk mendekati Kanaya tanpa bersuara. Ditatapnya lekat-lekat wajah ayu nan lelap itu.


Kau tahu aku sayang sama kamu. Tuhan sangat baik menghadirkanmu menjadi adikku. Kau sangat imut.


Tiba-tiba kanaya bergerak dan melebarkan kedua tangannya ke udara. Lalu menguap dengan mata masih tertutup. Rufi tersenyum melihat air liur yang membasahi dagu gadis itu. Meski sangat jorok tapi wajah ayunya tidak membosankan untuk dinikmatinya. Perlahan dia membaringkan tubuh disamping kanaya, menatap langit-langit kamar yang terlihat gelap. Penerangan hanya dari lampu meja.


" Apa-apaan kau, kanaya. Aku bisa jatuh dan terluka, " ujar Rufi. Tapi kanaya terus melakukan hal itu sampai Rufi terjatuh. Dia bangkit dan menyalakan lampu.


" Tega sekali kau membuatku jatuh kanaya? " tanya Rufi. Dia berdiri berkacak pinggang.


" Kenapa kau masuk ke kamarku lagi? " tanya kanaya berkacak pinggang juga. Kepalanya terasa sedikit pusing karena terkejut. Dia sangat tidak suka melihat Rufi masih suka nyelonong ke kamarnya. Apalagi mengetahui diri aslinya saat tidur? No make up, no cantik.


" Aku berhak dong. Kan sudah kubilang, jika kamar ini juga kamarku, " ujarnya santai. Lalu beringsut pelan duduk disisi pembaringan.


" Tapi aku tidak menyetujuinya, jadi sekarang aku berhak mengusirmu, " ujarnya lalu menarik tangan Rufi untuk berdiri dan mendorongnya agar keluar dari kamar. Tapi Rufi menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Dia bersikeras masih ingin didalam ruangan itu.


" Kak, keluarlah. Aku masih ngantuk. Lagian kenapa kau ikut tidur disampingku? tidur di kamarmu sendiri sana. Kasurmu lapang dan kamarmu juga rapi, " ujar kanaya kesal. Mendengar pujian Kanaya tentang kamarnya, hidungnya kembang kempis, bangga.


" Sesukakulah, lagian ini juga dirumahku, " ujarnya.


Karena kesal dan malas berdebat, kanaya mengalah. Dia mengambil bantal dan selimut lalu tidur dilantai. Rufi menatapnya gusar. Overthinkingnya mulai menyala. Tidur dilantai tanpa alas? Bagaimana jika nanti sakit? Masuk angin. Dan gejalanya muntah, sakit perut, demam?


" Jangan tidur dilantai. Nanti kamu sakit gimana? cepat di kasur saja, " perintahnya. Namun kanaya tidak menghiraukannya sama sekali. Dia mulai memejamkan mata, menghabiskan waktu tidurnya yang masih tersisa setengah jam. Sungguh kelakuan Rufi telah menghabiskan waktu tidurnya yang lelap dan hangat.

__ADS_1


Karena tidak dihiraukan, Rufi menghampiri dan menggendong gadis itu ala bridal style. Kanaya menggeliat karena terkejut akan tingkah Rufi. Dia malu tapi tidak bisa berbuat apa pun. Perlahan Rufi membaringkan kanaya di kasur. Lalu dia pun ikut berbaring disamping kanaya lagi? Kanaya melotot tapi Rufi hanya tersenyum.


" Jangan suka memelototi orang, nanti kena azab matamu keluar dari tempatnya gimana? " tanya Rufi menakuti. Karena keracunan menonton film azab di sebuah stasiun televisi. Kanaya langsung merubah tatapannya meski sulit dipercaya omongannya.


" Ya sudah terserah kau saja. Nanti kalau aku ketiduran, bangunkan aku kak, " ujarnya lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Rufi yang masih tersenyum.


" Jangan kebanyakan senyum, nanti lekas tua, " ujar kanaya. Rufi semakin tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya.


" Emang senyum bisa membuat tua? Bukannya awet muda ya? " tanya Rufi mencoba meralat ucapan sang adik perempuannya.


" Tau ah, " ujar kanaya sembari mengibaskan tangan ke udara lalu tertidur. Ajaib, hanya hitungan detik, dia kembali pulas. Perlahan Rufi merentangkan tangan menjangkau tubuh kanaya. Dia menjadikan gadis itu guling bernyawa dan memejamkan mata.


Nyaman sekali didekatnya?


Keduanya tertidur dengan mimpi masing-masing.


..........


Kanaya masih asyik menyalin tulisan dari papan ke buku tulis, saat Hendi menghampirinya. Lelaki itu juga tersenyum meski tidak dilihat oleh kanaya. Karena gemas, dia menutup pandangannya ke papan. Kanaya menggoyangkan kepala agar bisa melihat papan. Tapi Hendi masih berusaha menghalangi dengan tubuhnya. Dia ingin diperhatikan oleh gadis pujaannya itu. Hingga akhirnya mau tidak mau, kanaya menatapnya dengan geram.


" Jangan ganggu aku, " ujarnya. Dibantingnya pena ke buku.


Dia ingin cepat menyelesaikan salinannya dan segera ke kantin. Perutnya sudah berontak berulang kali. Tapi Hendi datang dan mengganggunya.


" Biar aku bawa bukumu dan kusalinkan dirumah, " tawarnya. Kanaya menatap heran. Lelaki ini ada saja perbuatannya agar kanaya memperhatikannya. Tapi saat ini dia tidak mau diganggu olehnya.


" Ogah, " jawabnya. Lalu kembali menyalin dari papan ke bukunya. Terpaksa Hendi duduk di sebelah kanaya sembari terus menatapnya tanpa berkedip.


Mata yang indah, hidung mancung, dan bibir merah muda nan menggodanya. Rambut hitam dikucir ekor kuda. Tiba-tiba kanaya menoleh ke arahnya.


" Jangan menatapku, " ujarnya garang. Hendi terkesiap. Meski begitu, dia suka karena pada akhirnya kanaya mau sedikit memperhatikannya. Cantik seperti bidadari, gumamnya.


" Jangan suka membunuh imajinasi orang. Apa kau tahu orang hebat lahir dengan banyaknya imajinasi pula, " terangnya.


" Oh ya? " tanya kanaya sembari merapikan alat tulis dan memasukkannya ke dalam tas. Karena acara salin-menyalinnya telah rampung. Dia mengedikkan bahu.


" Aduh.... Aauuuu....!! " teriak Hendi.


Seseorang menjewer telinganya. Siapa lagi kalau bukan Bella. Dia marah karena Hendi menduduki kursi kebesarannya. Kursi yang sangat bersih karena sering dilap dengan cairan antiseptik yang wangi. Bella sangat cinta kebersihan. Dia takut jika lelaki gendut nan menyebalkan itu mengotorinya dengan permen karet, misalnya. Atau sebangsa kotoran lainnya yang menempel di pantatnya yang super bahenol.


" Pergi dari tempat dudukku, " usirnya. Hendi bangkit dengan mengacungkan jari tengahnya ke arah Bella. Dan Bella menyambutnya dengan mata melotot. Kanaya tertawa. Walau kasihan tapi juga lucu. Bella yang membenci Hendi dan Hendi yang masih saja mendekatinya. Mereka berdua bak kucing dan tikus.


" Kejamnya, kau malah senang melihatku teraniaya? " tanya Hendi kepada kanaya. Padahal berulang kali Kanaya dikerjai oleh temannya se-geng vespanya' , dia selalu mati-matian membela sepenuh jiwa raganya. Dia memegang telinganya yang merah karena jeweran Bella. Lalu bangkit didepan bangku Kanaya. Meski malu setengah mati tapi melihat senyuman Kanaya, aneh rasa sakitnya hilang. Kanaya bak obatnya, super duper ajaib.

__ADS_1


" Salah sendiri. Lagian kenapa duduk disitu? " tanya Kanaya. Lalu bangkit hendak keluar kelas menuju ke kantin. Hendi turut dengan mengekor di kedua gadis jangkung itu. Biarlah meski hanya jadi obat nyamuk diantara kedua gadis jutek itu. Dia rela dan pasrah lillahi ta'ala.


Di kantin mereka segera duduk berjubel dengan lainnya. Semua kaum hawa yang ingin dekat dengan anak pulau itu memandang Kanaya dan Bella penuh iri. Meski gendut tapi anak itu kaya raya, tidak habis tujuh turunan hartanya jika bisa dekat dan menjadi kekasihnya.


__ADS_2