
" Angel, kelakuanmu sangat buruk, " ujar Rufi. Nampak seseorang gadis bernama Angel tersenyum puas melihat Kanaya tengah kesakitan. Dia melotot menakuti Kanaya. Dan dengan samar menunjukkan bahwa Rufi adalah miliknya seorang, tanpa tersentuh siapa pun.
" Jadi karena dia, kau menjauh dariku, Fi? " tanya Angel dengan sorot mata tajam. Dia bersidekap dengan terus menatap Kanaya menilai penampilannya yang berantakan karena terjatuh akibat ulahnya.
" Ya, dia alasanku. Apa kau puas?! " bentak Rufi.
Kanaya mengambil kesimpulan jika mereka memiliki hubungan yang tidak biasa. Hatinya sedikit tersentil, pijakannya ke lantai tidak seimbang. Tapi dia berusaha tetap berdiri tegak menyembunyikan rasa tidak percayanya. Dia syok menghadapi kenyataan didepan mata, jika sang kakak telah memiliki tambatan hati lain yang harus dijaga. Sementara lainnya diam memperhatikan. Angel mendekati Rufi yang dadanya naik turun menahan emosi. Tangannya terulur memegang tangan lelaki itu, menatap penuh pengharapan. Kanaya jelas tahu arti dari tingkah laku gadis bermata sipit itu. Dia mundur melepas genggaman Rufi.
" Katakan padaku jika semua ini tidak benar. Kau tidak serius pacaran dengannya bukan? " tanyanya menghiba. Kanaya menyimak,berusaha mematahkan kesimpulannya, tapi semakin lama, dia semakin yakin jika dia tengah berada ditempat dan situasi yang salah. Perlahan seseorang menarik lengan Kanaya agar mundur. Terpaksa dia pun mundur agak menjauh dari Rufi dan Angel yang tengah bersitegang. Di tempat yang sepi dari lainnya, lelaki yang masih memegang pergelangan tangan Kanaya berhenti.
" Siapa kamu mengajakku kemari? " tanya Kanaya. Lelaki berkemeja pendek dengan rambut bergelombang.
" Aku Bhaskara, teman Rufi. Maaf, sebaiknya kita menjauh dari pertengkaran tak berujung diantara mereka, " terangnya menenangkan Kanaya.
Bhaskara menelisik Kanaya, penglihatannya mengingatkannya bahwa pernah menjumpainya disuatu tempat.
" Bukannya kamu Kanaya ya? " tanyanya. Dia ingat anak kecil yang digandeng papa Rufi mendaftar sekolah. Lalu anak perempuan yang selalu bersama Rufi saat SD itu terlupakan karena dia telah lulus dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tapi dia masih ingat karena Kanaya termasuk deretan perempuan cantik nan manis. Dan rupanya bertambah usia, kecantikannya pun semakin sempurna. Bhaskara terpesona.
" Iya, " jawab Kanaya.
" Aku temannya Rufi. Ternyata kau sudah dewasa dan... cantik, " pujinya. Kanaya tersenyum sembari terus menatap seksama Rufi dari kejauhan. Nampak mereka masih berselisih paham.
" Sebenarnya apa hubunganmu dengan Rufi? " tanyanya penuh selidik. Tidak ada jawaban, Kanaya masih memperhatikan sang kakak. Bhaskara mengikuti arah tatapan gadis cantik di sampingnya itu. Tepat ke arah Rufi dan Angel. Nampak kedua mata bulat nan indah itu juga berembun.
" Kan, Kanaya, kau dengar aku? " tanya Bhaskara. Kanaya terkejut, dia menoleh cepat.
" Apa yang kau katakan? aku tidak dengar, " ujarnya.
Apa yang sebenarnya mereka debatkan? apakah aku?? aku sangat penasaran sekali, gumamnya.
Bhaskara menangkap kesedihan dalam raut wajah cantik kanaya. Namun dia pura-pura tidak tahu apa pun.
" Apa kau kecewa datang ke pesta ulang tahunku? " tanyanya.
" Eh oh tidak. Maksudku tidak, aku senang. Jadi ini acaramu? maaf aku tidak tahu, " ujar Kanaya. Dia merasa sangat bodoh tidak tahu diajak ke acara siapa?
" Ini ulang tahunku dengan saudara kembarku. Tapi aku malu jadi aku berusaha bersembunyi dari pesta ini. Menurutku terlalu kekanakan dan feminin, aku tidak suka, " terang Bhaskara. Ruangan dengan nuansa merah muda, balon dan boneka besar dengan inisial mereka berdua yakni A dan B. Sungguh seperti anak taman kanak-kanak.
" Kau tidak suka, sama kalau begitu ha... ha.... ha,, " ujar Kanaya dan tertawa terbahak-bahak. Setetes airmata luruh di pipinya melihat adegan kedua pasangan yang bersitegang tadi kemudian berpelukan. Yang lain bertepuk tangan turut bahagia. Bhaskara jadi mengerti.
" Kau cemburu? " tanya Bhaskara.
" Cemburu? tidak, aku hanya ingin pulang saja, " jawab Kanaya.
" Mereka sering seperti itu. Aku sendiri saja muak melihat tingkah mereka, " terang Bhaskara. Kanaya menoleh dan menunggu penjelasan lebih lanjutnya. Ternyata banyak hal tersembunyi yang dia tidak tahu dari Rufi, lelaki yang dikiranya hanya ada untuknya seorang saja. Dan menjadi miliknya utuh.
" Angel itu saudara kembarku. Mereka berpacaran sejak SMU tapi beberapa bulan belakangan ini, Rufi seperti tengah menjauh. Aku sendiri tidak tahu alasannya karena aku bukan lelaki kepo, nona. Dan mereka menyembunyikan hubungan didepan teman-teman lainnya hingga menganggap jika Rufi seorang jomblo, " tambahnya dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Pacaran? berkasih-kasihan? saling mesra dan aku tidak tahu? sejak SMU?????? aku hanya seorang pengagum rahasianya saja. Gadis itu sangat sempurna. Dan hal yang menyakitkan, mereka adalah pasangan yang serasi.
Kanaya merasakan dadanya semakin sesak. Embun disudut matanya luruh tidak tertahankan lagi. Dia menangis menunduk. Bhaskara tahu, dia panik berusaha menenangkannya.
" Kenapa kau menangis? oh Tuhan apa yang harus aku lakukan? tenanglah, apakah aku menyakitimu? Kanaya apa yang bisa kubantu? " tanyanya khawatir. Dia mulai gelisah. Kanaya berbisik di telinga Bhaskara dan memintanya untuk mengantarkan pulang. Bhaskara mengangguk. Segera lelaki itu menggandeng Kanaya keluar dari pesta lewat tempat yang sepi.
Diluar pesta, Kanaya menangis terisak-isak. Gemuruh hatinya membuncah karena kecewa. Mekar indah yang membuatnya sempat melambung bahagia menghunjam ke dasar bumi. Hatinya sakit tiada terkira. Bhaskara menenangkan didalam mobil.
" Apa kau menyukai Rufi? bukankah dia kakak angkatmu? " tanya Bhaskara mencoba mengingatkan.
" Karena dia kakak angkatku, aku benci dia!!!!! " teriak Kanaya sembari memukul-mukul dadanya sendiri. Jika lelaki itu bukan kakak angkatnya, dia bisa leluasa menjangkau tanpa berpikir panjang lagi. Bahkan memilikinya juga tidak sebegitu rumitnya.
Aku benci dia, aku benci hidupku!!!!!
Sementara di pesta, Rufi mencari keberadaan Kanaya yang menghilang begitu saja. Dia menyesal karena mengacuhkannya. Angel merangkul mesra mengikuti langkah Rufi. Gadis itu senang bisa bersama dengan Rufi.
Rufi sangat Risih, berulangkali dia berusaha melepas rangkulan Angel. Hingga di sudut ruangan Rufi berhasil melepas kedua tangan yang menggelayutinya.
" Dari dulu aku tidak pernah mencintaimu. Kenapa kau tidak mengerti? aku memelukmu hanya karena menghormatimu sebagai nona rumah, " terang Rufi. Dia menyesalkan tindakannya sempat berpelukan mesra didepan Kanaya yang terus memperhatikannya dari jauh. Hatinya sedikit sakit melihat Kanaya yang sendu.
" Tapi Rufi cintaku padamu tidak pernah padam. Dan kita juga sempat pacaran dulu, " terang Angel manja.
" Pacaran? sadarlah, ngel. Kita hanya sebatas teman, " ujar Rufi.
" Bukankah pacarmu saat itu Desta? " tanya Rufi penuh selidik. Angel mundur hingga menabrak dinding. Dia mulai gelisah karena keburukannya berhasil dikuliti Rufi satu persatu. Memang apa yang dikatakan Rufi benar adanya.
Angel Riana dan Desta adalah teman satu sekolah dengan Rufi. Mereka selalu bersama di mana dan kapanpun berada. Mereka juga bersahabat karib. Angel dan Desta terlibat asmara yang juga diketahui oleh Rufi. Tapi Rufi tidak banyak berkomentar, dia turut senang. Namun hubungan mereka ditentang oleh orangtua Angel yang kaya raya. Hingga Angel lebih sering menghabiskan waktu dengan Rufi yang hanya menganggapnya sahabat. Angel memperlakukan Rufi mesra agar orangtuanya tidak memindahkan dari sekolah dan memisahkannya dari Desta. Mereka masih berhubungan dengan sembunyi-sembunyi. Tapi Desta yang miskin membuat Angel ingin memutuskan hubungan.
Karena seringnya melihat Angel dan Rufi mesra, Desta menjadi kecewa dan meminta Rufi agar menjauh dari Angel. Hingga beberapa bulan mendekati ujian akhir, Rufi berhasil menjauhi mereka berdua. Pesta ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah berpisah. Meski tak nampak batang hidung Desta ditempat meriah itu.
Sementara ditempat lain, Bhaskara mengantar Kanaya sampai didepan gerbang rumah Rufi. Namun Kanaya belum beranjak dan masih terisak-isak mengeluarkan rasa kecewanya.
" Kak, sesakit inikah rasanya jatuh cinta? " tanya Kanaya.
Bhaskara menghembuskan napas perlahan. Dia juga tidak begitu paham karena belum benar-benar merasakan jatuh cinta. Baginya mencintai dirinya sendiri jauh lebih penting daripada seorang perempuan. Dia mengelus pundak Kanaya yang sedikit terbuka.
" Mencintai tidak sesederhana seperti diucapkan. Cinta bisa menyakitkan, bisa juga membahagiakan. Tergantung cara kita menyikapinya. Kau pasti bisa mengerti suatu saat nanti, " terang Bhaskara. Jemarinya mengusap airmata Kanaya yang membasahi pipinya. Dia juga bingung untuk menjelaskannya.
" Kau cantik, jangan buang airmatamu untuk lelaki seperti dia, " ujarnya. Kanaya berusaha tersenyum mendengar kata penghibur dari Bhaskara. Tangan Kanaya terulur untuk membuka pintu mobil. Namun saat pintu hampir terbuka, Bhaskara menghentikan dan menutup kembali. Kedua tangannya merapikan tampilan rambut Kanaya, menatap dalam manik mata gadis itu yang sembab. Sungguh menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya.
" Kau sangat cantik, " ujarnya. Kanaya terdiam menenangkan diri. Entah karena dorongan apa perlahan namun pasti, Bhaskara mendekati Kanaya mengikis jarak diantara mereka. Dia bermaksud mendaratkan bibirnya ke pipi Kanaya karena terbawa suasana dan rasa takjubnya terhadap kecantikan Kanaya. Namun belum sempat keinginannya terpenuhi, seseorang mengetuk pintu mobil. Kanaya terkejut, dia segera tersadar. Segera menoleh. Alangkah terkejutnya melihat jelas Rufi.
Kanaya membuka pintu dan segera ditarik oleh lelaki yang tidak lain adalah Rufi. Lelaki itu nampak marah. Napasnya memburu dengan mata nyalang ke arah Bhaskara.
" Cepat masuk ke rumah, Kana, " ujar Rufi emosi. Namun Kanaya masih membeku ditempatnya. Dia takut melihat kemarahan dimata Rufi. Benar saja tiba-tiba sang kakak melepaskan bogem mentah ke arah Bhaskara yang tidak siap menghindar. Hingga lelaki bertubuh gemuk itu pun terhuyung jatuh. Kanaya menjerit histeris. Dia tidak menyangka sang kakak bertindak anarkis.
" Kak, apa yang kau lakukan? " tanya Kanaya panik.
__ADS_1
" Kurang ajar, mau kau apakan adikku? " tanya Rufi.
Rupanya dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Bhaskara. Kanaya berlari menahan tindakan brutal Rufi selanjutnya. Gadis itu memeluknya dari samping hingga Rufi tertahan.
" Sudah hentikan, kak. Aku mohon, dia tidak berbuat apa pun kepadaku. Aku yang menyuruhnya mengantarkanku pulang, " terang Kanaya. Dia begitu terkejut lelaki itu telah pulang mengikutinya.
Bhaskara bangkit menghampiri Rufi. Kanaya mundur menarik lengan kakaknya agar jauh dari jangkauan Bhaskara. Namun Bhaskara berhasil menarik kerah Rufi dan meninju wajahnya. Rufi tersungkur, mengusap darah disudut bibirnya. Dia pun mendekati Bhaskara yang tangannya bersiap menyambut perlawanan dari Rufi. Baku hantam pun tak terelakkan. Kanaya yang menjadi saksi mencari cara agar kedua lelaki itu menghentikan aksi tidak terpuji mereka.
" Sudah hentikan! aku akan teriak agar orang sekomplek keluar semua, " ancam Kanaya. Rufi dan Bhaskara berhenti.
" Jangan sentuh adikku, " ancam Rufi.
" Kau lelaki yang suka mempermainkan perempuan, " ujar Bhaskara. Rufi tidak mengerti dengan maksud perkataan Bhaskara.
" Lihatlah Kanaya, dia gadis polos dan cantik jangan menyakitinya sesuka hatimu. Biarkan dia bersamaku, " ujar Bhaskara.
" Sudah hentikan, ayo kak kita masuk. Dan kau kak Bhaskara, cepat pulang, " usir Kanaya. Dia tidak suka dengan ujaran Bhaskara yang terlalu berlebihan.
Bhaskara manut, dia pun masuk ke mobil silvernya dan segera menyalakan mesin. Bergegas menuju ke rumah melanjutkan pesta kelahirannya. Kanaya menatap Rufi tanpa menolongnya berdiri, dan melangkah melewatinya memasuki halaman rumah.
" Kanaya, uhuk... uhuk... tunggu aku. Kenapa kau uhuk... uhuk... tidak menolongku?? Kanaya,,,!!!! " teriak Rufi. Dia berusaha bangkit karena hampir babak belur. Tapi Kanaya tidak menoleh sedikit pun. Dia masih sakit hati melihat lelaki itu. Cinta yang lama dipendamnya, menyakitinya sangat dalam bak pedang panas yang dihunuskan ke hatinya, perih.
Rufi berhasil bangkit. Dengan gontai, dia berhasil memasuki halaman rumah. Saat membuka pintu utama sang papa telah duduk menanti kedatangannya. Rufi menatap sekilas,
" Tunggu, duduklah dulu, " ajak Edwin.
Rufi duduk agak jauh dari sang papa yang tengah menghisap rokok. Dia memegang pipinya yang bengkak. Punggungnya disandarkannya ke sofa. Kenyamanan pun didapatkannya. Betapa sakit seluruh tubuhnya karena babak belur.
" Aku tahu apa yang terjadi diluar tadi. Dan ini semua karena Kanaya lagi??? " tanya Edwin. Rufi mendengkus kesal. Pernyataan papanya benar lagi?
" Jangan terlalu pedulikan Kanaya. Dia sudah dewasa, " terang Edwin mengingatkan sang putra yang masih sangat peduli dengan Kanaya.
" Pa, dia baru kelas dua SMP. Dewasa darimana? " tanya Rufi balik. Menurut pandangan Rufi kata dewasa pantas untuk orang yang telah menyelesaikan strata satu. Kanaya masih jauh dari kata itu.
" Lepaskan dia, mulailah memikirkan tentang masa depanmu, " terang Edwin. Menurutnya Rufi sangat berlebihan dengan keamanan Kanaya. Padahal anak itu sudah bisa menjaga diri sendiri.
Kata-kata itu lagi? aku tidak akan melepaskan Kanaya begitu saja.
" Pa, aku sudah memikirkan masa depanku dengan melanjutkan kuliah seperti kemauan papa tapi bukan keluar kota. Terlalu ekstrim, " ujar Rufi. Tidak bisa dibayangkannya menanti jarum jam berdetak tanpa melihat sosok Kanaya. Dan hari-hari yang dilaluinya pasti akan membosankan. Karena Kanaya adalah semangat hidupnya tanpa disadarinya.
" Pasti karena Kanaya lagi? oh Rufi sadarlah dia adikmu, " terang Edwin. Pria paruh baya itu takut Rufi tergila-gila dengan anak angkatnya itu.
Rufi tidak habis pikir, dia bangkit jika membahas tentang Kanaya. Meski kepeduliannya tinggi pada Kanaya tapi dia tahu batasan mutlak itu, hanya saja untuk melepaskan pengamanannya terhadap Kanaya masih sangat sulit.
" Ya sudah, tapi kau harus janji untuk belajar yang giat saat kuliah mulai berlangsung, " ujar Edwin.
" Jangan meninggalkan kampus demi Kanaya. Berjanjilah, papa tidak mau tahu, " tambahnya.
__ADS_1