Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
menutupi rasa cinta


__ADS_3

Rufi ikut duduk didepan Kanaya yang terus menatapnya tanpa berkedip. Rufi menatap sekilas gadis itu dan berdiri lagi menghampiri sang penjual yang berdiri dibelakang meja yang telah berderet aneka hidangan. Rufi melambaikan tangan agar Kanaya mengikuti langkah dan memintanya memilih menu apa yang akan disantapnya. Kanaya menunjuk bebarapa hidangan lalu duduk kembali. Sementara Rufi masih sibuk memilih untuk dirinya.


Kanaya masih asyik menatap sang kakak dari tempatnya duduk. Tubuh tinggi dengan kulit putih bersih. Rambut dengan belahan samping, hitam lurus rapi. Dan aroma tubuhnya yang menyengat sekaligus memabukkannya. Saat lelaki itu mendekat dengan nampan, Kanaya menundukkan pandangan menghindari kontak mata dengan Rufi. Usai meletakkan hidangan di meja, Rufi segera menyantap makanannya.


" Cepat makanlah nanti keburu dingin, " ujar Rufi dengan mulut penuh. Kanaya mengangguk.


Sementara diluar hujan turun dengan deras. Padahal sudah beberapa hari panas terik membakar kulit, menandakan bahwa musim kemarau telah tiba. Ternyata belum, musim penghujan masih setia merengkuh bumi.


Kanaya merasa kurang pada penampilannya hari ini didepan lelaki yang dipujanya itu. Padahal dia sudah maksimal saat berdandan tadi. Tanpa sadar dia berusaha merapikan semua detail pada seragam sekolahnya yang basah. Merasa kurang percaya diri. Jantungnya berdegup kencang. Dia menangkup kedua wajahnya dan memalingkan muka ke samping.


" Aku berdua dengan kak Rufi? ini tidak bisa kupercaya, aku pasti tengah bermimpi, " lirihnya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya. Padahal selama ini dia selalu bersama sejak kecil. Pagi ini dia merasa sangat senang dan hatinya turut berbunga-bunga. Dia merasa tengah melakukan kencan di pagi mendung ini. Apalagi juga tidak banyak pengunjung yang datang, menambah suasana makin syahdu. Alunan lagu cinta dari radio sang pemilik kedai membuat Kanaya makin terbawa suasana. Saat Rufi menatapnya, Kanaya salah tingkah. Dia menutupi kecanggungannya dengan terus-menerus menunduk, sesekali menatap ke lain arah. Tangannya juga bergetar sampai salah menangkap sendok. Rufi bisa membaca dengan jelas bahwa sang adik sedang tidak baik-baik saja. Dia tertegun sembari terus mencuri pandang.


" Ada apa? " tanya Rufi. Kanaya terkejut, dia menggeleng dengan cepat. Tiba-tiba tangan kanan Rufi terulur ke wajahnya, gadis itu diam terpaku. Sentuhan Rufi bagai aliran listrik ribuan volt. Dengan gerakan perlahan, Rufi mengusap sudut bibir Kanaya. Gadis itu kaku karena malu. Sorot matanya menatap Rufi dalam senyap, memindai setiap pori-pori wajah lelaki itu dan masuk menelusup membentuk sebuah memori indah didalam sudut hatinya.


Oh Tuhan, sadarkan aku dari kekhilafan ini. Aku menyukaimu, kak. Apa yang harus aku lakukan dengan tingkah manisnya padaku???? aku bisa gila!!!!!!!


Kanaya menepis tangan lelaki itu dan menunduk. Dia berusaha menetralkan degup jantungnya yang seakan mau lompat dari tempatnya. Rufi benar-benar membuatnya gugup.


Oh Tuhan, aku harus bagaimana?????


" Ada apa? " tanya Rufi. Lagi-lagi Kanaya menggeleng. Lelaki belasan tahun yang disebutnya kak' sangat memabukkan dan menghangatkan hatinya saat ini. Suasana canggung romantis ala kadarnya ini membuatnya ingin berlama-lama di kedai makanan sederhana ini.


" Apa kau tidak suka dengan makanannya? aku bisa mengambilkan yang kau mau. Katakan mau diganti apa lauknya? " tanya Rufi. Kanaya tersadar. Dia menatap ke piringnya yang masih terdapat banyak makanan. Dia melupakan kegiatan awalnya selain bahagia menikmati kebersamaannya dengan Rufi.


Alangkah bodohnya aku? dengan bersamanya saja membuatku kenyang seketika?


" Eh... oh... aku suka kak. I.. iya... aku akan menghabiskannya, tunggu jangan tinggalkan aku. Kau tidak boleh meninggalkanku disini seorang diri kak, " rajuk Kanaya karena melihat Rufi sudah selesai dengan santap paginya.


" Kau ini, siapa yang akan meninggalkanmu? aku masih disini, menunggumu, " ujarnya. Ucapan Rufi menerobos ke telinga Kanaya dan menjadi arti lain.


Benarkah? kau akan menungguku sampai dewasa? Baiklah kak, aku akan berusaha cepat dewasa dan terus bersamamu. Kau tidak boleh meninggalkanku. Kau janji.


Hujan masih turun deras. Semilir angin berhembus menjadikan keadaan semakin dingin. Tanpa sadar, Kanaya meletakkan sendok dan memeluk dirinya. Berusaha menghangatkan diri dari pakaian yang sedikit basah. Rufi menyadari setiap gerakan adik angkatnya tanpa luput sedikit pun.


" Maaf, " ujar Rufi.


" Untuk apa kak? kau tidak melakukan suatu kesalahan. Kenapa harus meminta maaf?? " tanya Kanaya.


Bahkan jika salahmu padaku seluas dunia, aku tetap memaafkanmu kak Rufi.


" Karena aku, kau jadi tidak masuk sekolah dan berakhir kedinginan disini, " sesal Rufi. Kanaya terkejut, kedua tangannya terbuka ke depan wajahnya dan digerakkannya ke kanan kiri. Senyum tidak enak hati tercetak diwajahnya.


" Tidak, itu bukan salahmu. Aku juga mau turut dengan ajakanmu kok. Jangan berkata seperti itu, " ujar Kanaya.


" Lagian jika ada pekerjaan rumah atau pelajaran hari ini yang tidak aku mengerti, aku bisa tanya kawanku, " terang Kanaya.


Rufi bangkit meraih kunci. Kanaya mulai merasa jika lelaki itu akan melakukan sesuatu tanpa dirinya. Tangan Kanaya terulur memegang pergelangan tangan Rufi menatap menghiba.

__ADS_1


" Kau mau kemana? aku ikut, jangan tinggalkan aku kak, " rengek Kanaya. Rufi menunduk melepas genggaman tangan Kanaya. Dia menatap disekeliling dan luar kedai.


" Aku pergi dulu, tunggulah disini. Aku cepat kembali, oke, " ujarnya sembari melangkah meninggalkan Kanaya yang tertegun.


" Tapi kak, kak Rufi tunggu, " ujar Kanaya dengan tangan terulur ke udara. Karena tidak dapat menjangkau Rufi yang tetap pergi, dia menarik kembali tangannya. Lelaki itu keluar kedai dan menghampiri motor, melaju menerobos hujan menuju jalan raya.


Apa yang akan dilakukannya? kenapa aku ditinggalkannya seorang diri? apakah dia punya janji dengan orang lain? atau memang sengaja agar aku pulang sendiri? Kak Rufi kenapa kau melakukan hal yang tidak aku suka dari dulu. Kak Rufi tunggu aku!!! teriak Kanaya dalam hati.


Kanaya bangkit hendak mengejar Rufi yang sudah melesat jauh meninggalkan kedai. Airmatanya hampir luruh menatap kepergian lelaki yang dipujanya itu. Akhirnya dia duduk kembali sembari menunggu Rufi datang dan menjemputnya.


Satu menit, dua menit, lima menit hingga setengah jam belum ada tanda kedatangan lelaki rupawan itu. Kanaya mulai gelisah. Sementara hujan mulai reda meski mendung enggan menjauh.


" Mbak ada lagi yang perlu dipesan? " tanya sang penjual. Kanaya menggeleng.


" Tidak, aku sedang menunggu kakakku yang sedang pergi sebentar, " jawab Kanaya. Penjual pun pergi setelah mendengar penjelasan darinya. Kanaya mulai ketakutan berada ditempat asing, sendiri tanpa Rufi. Meski tubuhnya tinggi tapi mentalnya begitu rapuh dan gampang terserang rasa takut. Dia berusaha membunuh ketakutannya. Berulangkali dia melakukan panggilan kepada Rufi, namun tidak juga diangkat oleh sang empunya. Setitik airmata luruh disudut matanya. Segera diusapnya karena malu terlihat orang lain.


Kak, cepat kembali. Aku takut. Kau jahat sekali meninggalkanku.


Setelah menunggu lelaki itu sangat lama, akhirnya Rufi datang dengan senyuman mengembang dibibirnya. Pakaiannya sudah ganti dan meraih tangan Kanaya mengajak pergi.


Kanaya sangat gembira. Airmatanya yang hampir menggenangi wajahnya batal. Rufi datang bak pangeran berkuda yang siap mengajaknya menjemput kebahagiaan ke jagad raya.


" Ayo kita pergi dari sini. Sebentar aku bayar dulu makanan kita, " terang Rufi.


Hati Kanaya membuncah. Ketakutan karena ketidak pedulian Rufi dalam pikiran kalutnya, musnah. Ternyata sang kakak masih bersamanya, menggenggam erat namanya. Terlebih saat lelaki itu menyodorkan sebuah kantong dengan merk tertentu. Kanaya menatap heran.


Ternyata selama hampir dua jam tadi dia berbelanja tanpa aku??? Alangkah kejamnya.


" Mobil? lalu motor kau kemanakan?? " tanya Kanaya risau. Dia mencari keberadaan matic di parkiran. Tapi tidak ada.


" Tenanglah, aku sudah menitipkannya ditempat yang aman sekalian tadi membelikanmu pakaian untuk ganti. Maaf ya, karena aku, kau jadi kedinginan. Aku juga membawakanmu minyak angin agar kau tidak masuk angin setelah kehujanan tadi, " ujarnya panjang kali lebar. Kanaya tersentuh. Sungguh perhatian Rufi membuatnya terharu dan semakin menggilainya dari waktu ke waktu.


..........


Kanaya sibuk membantu sang ibu menjemur pakaian tatkala seorang yang dikenalnya mencolek lengannya. Dia menoleh.


" Ada apa? " tanyanya sembari kedua tangan masih memegang sebuah selimut bergambar bunga tulip. Rufi mendekatkan wajahnya di samping wajah Kanaya. Gadis itu berdegup kencang,


Apa kau mau menciumku? Aku akan menutup mataku.


Ternyata pikirannya salah, Rufi membisikkan sesuatu kepadanya dan Kanaya hanya merespon dengan datar. Sesuatu yang lama diimpikannya hanya ilusi. Lelaki itu menganggapnya adik, tidak lebih. Hanya dia yang terlalu berlebihan menanggapinya dengan segala imajinasinya.


" Tidak, aku tidak mau ikut. Aku sibuk sekali, " ujar Kanaya lesu. Dia merentangkan selimut agar lebar dan menjemurnya di tali yang terentang cukup panjang. Ditali itu juga sudah terdapat banyak jemuran yang telah dia selesaikan. Tiba-tiba Rufi hilang, Kanaya mencari sosoknya dengan mengedarkan pandangan ke halaman belakang. Rupanya Rufi tengah sibuk berbicara dengan ibunya menggunakan isyarat.


Tidak lama kemudian, Kanaya mendengar lengkingan dari sang ibu yang memanggilnya. Dia berlari menghampiri ibunya yang masih bersama dengan Rufi.


" Ya, bu. Ada apa? " tanya Kanaya.

__ADS_1


Sang ibu menjelaskan bahwa dia harus turut serta ajakan dari Rufi. Karena sang majikan mudanya itu memang butuh didampinginya malam nanti di sebuah acara. Kanaya membelalakkan mata. Rupanya penolakan darinya tidak mengundurkan niat lelaki itu untuk tetap mengajaknya membuat seseorang sakit hati. Sang ibu sangat mendukung Rufi terlebih tidak enak hati menolak permintaannya yang menurut wanita paruh baya itu sebenarnya sangat sederhana, yakni menemaninya pergi ke pesta ulang tahun temannya. Setelah memastikan Kanaya menuruti permintaan Rufi, bik Sumi meninggalkan mereka. Kanaya memukul lengan Rufi, lelaki itu meringis penuh kemenangan.


" Kenapa kau membawaku dalam masalahmu, " rengeknya manja.


Sebenarnya Rufi mengajak Kanaya turut serta karena ingin menjadikan Kanaya sebagai pasangan kekasih pura-puranya dihadapan semua teman-temannya. Dia ingin membuktikan jika dia tidak jomblo akut.


Sorenya, Kanaya telah siap dengan gaun pesta yang sangat indah dan mewah. Gaun yang memang sudah disiapkan oleh Rufi untuknya jauh-jauh hari. Gaun putih berenda dengan panjang selutut. Rambutnya terurai dihias dengan pita bunga. Dia sangat cantik membuat Rufi berdecak kagum. Kanaya tersipu malu. Berulang kali dia mematut diri di depan cermin menatap pantulan dirinya yang berubah bak bidadari.


" Kau sangat cantik. Mari kita berangkat, " ajak Rufi. Sementara dia mengenakan setelan putih.


Segera mereka berangkat. Saat melewati ruang tamu, Edwin menegur sang putra. Kanaya ikut berhenti tapi karena merasa tidak enak hati, dia pun keluar terlebih dahulu menunggu Rufi dihalaman depan.


" Kau mau kemana dengan Kanaya? " tanya Edwin.


" Aku ada urusan sebentar pa, " jawabnya.


" Pulang nanti temui papa diruang baca, kita perlu bicara tentang masa depanmu, " terangnya.


" Pa, aku sudah mendaftar dikampus itu. Jangan memintaku kuliah diluar kota. Maaf pa, aku tidak bisa mengikuti kemauan papa, " terang Rufi dan melangkahkan kaki menuju ke pintu utama.


" Apa semua ini ada hubungannya dengan Kanaya? " tanya Edwin. Langkah Rufi terhenti. Memang benar dugaan dari sang papa, dia tidak berani menyangkal.


" Rufi, apa kau sadar dia adikmu, " ujar Edwin tegas.


" Ya, pa. dia memang adikku, papa mikir apa? " tanyanya heran.


Edwin mulai berpikir jika sang anak mempunyai pandangan lain terhadap Kanaya selain dari hubungan yang sudah dijelaskan sejak kecil diantara mereka. Hanya sebatas saudara angkat tidak lebih.


" Sudahlah pa, kita bahas lain waktu. aku sudah sangat terlambat, " ujar Rufi. Melihat Rufi yang tergesa-gesa Edwin pasrah menatap punggung sang anak sampai menghilang dibalik pintu utama.


Rufi pun berangkat dengan Kanaya. Gerimis tipis mengiringi kepergian mereka menuju tempat pesta. Rufi mencuri pandang Kanaya melalui spion. Gadis itu nampak cantik dan sangat berbeda. Dia dewasa melebihi usia sebenarnya. Rufi tersenyum mengingat betapa dulu Kanaya sangat cengeng dan penakut tanpa dirinya. Selalu merengek menangis jika Rufi tidak bisa menuruti kemauannya.


Di sebuah tempat, Rufi berhenti dan memarkirkan mobilnya. Dia diam dibalik kemudi untuk beberapa saat lamanya hingga memutuskan untuk turun dan segera masuk bergabung dengan teman-temannya.


" Mari kita turun tuan putri, " ajak Rufi. Tangannya terulur meraih tangan Kanaya. Gadis itu tersipu, rona malu menjalar di wajahnya. Dia pun turun dan mengikuti langkah Rufi yang berusaha melangkah disampingnya.


Saat memasuki aula, ruangan itu telah disulap sedemikian indahnya. Bunga dan balon beraneka memenuhi sudut ruangan berikut kue raksasanya. Seseorang menepuk bahu Rufi dan membuatnya menoleh.


" Siapa ini, Fi? kekasihmu ya?? " tanyanya. Rufi tersenyum lebar. Dia mengangguk bangga. Yang lain turut memperhatikan Kanaya dari atas sampai bawah.


Kanaya menjadi salah tingkah. Dia mendekatkan diri disamping Rufi karena tidak nyaman akan banyaknya mata yang seakan menilai dirinya.


" Cantik Fi, ternyata label jomblo yang melekat padamu hanya isapan jempol, " ujar teman Rufi.


" hehehe..... dia memang kekasihku, " terang Rufi. Tangannya mendekap bahu Kanaya mengikis jarak diantara mereka. Sangat dekat dan erat. Kanaya bahagia mendapat pengakuan Rufi didepan semua temannya. Dia merasa sampai ke atas awan. Hatinya bermekaran.


Tiba-tiba seseorang mendorong Kanaya hingga terjatuh ke lantai. Gadis itu meringis sembari memegang dadanya karena keras menyentuh lantai. Rufi segera berjongkok untuk membantunya.

__ADS_1


" Apa-apaan kamu, Angel? kamu benar-benar keterlaluan!? " marah Rufi. Ternyata seseorang yang melakukannya itu bernama Angel.


__ADS_2