Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
double date


__ADS_3

Rufi sudah usai dengan sarapannya, namun dia masih belum beranjak dari tempat duduknya. Kanaya juga sudah selesai dengan pekerjaannya. Saat melangkah keluar dari dapur, Rufi mengikutinya dari belakang.


" Kau mau kemana? " tanya Rufi tepat ditelinga Kanaya yang membuat gadis itu terkejut. Karena takut terbawa suasana, dia menjauhkan diri dari Rufi. Sangat seksi suara Rufi bagi Kanaya.


" Membantu ibu, kau mau turut serta? " tanya Kanaya. Dia melangkah menuju ke tempat cuci di belakang dapur.


"Juga biar aku saja yang nyuci biar ibuku segera masak, " terang Kanaya yang disambut dengan anggukan kepala Rufi.


" Mbak Dian apa gak masuk? " tanya Rufi. Karena biasanya pekerjaan itu dialah yang melakukannya. Kanaya menggeleng dan menerangkan jika wanita bertubuh gemuk itu sedang sakit.


Mereka terus melangkah hingga sampai ditempat yang telah penuh dengan beberapa keranjang pakaian kotor. Kanaya mencolek bahu ibunya dan mengisyaratkan agar dia yang melakukan hal itu. Bik Sumi mengangguk dan masuk kembali ke dapur untuk segera memasak.


Kanaya dengan telaten memilah pakaian yang berluntur, bernoda, maupun yang berwarna putih. Lalu dimasukkannya ke dalam masin cuci dan diisinya dengan air. Tidak lupa ditaburkannya juga deterjen.


Usai memasukkan deterjen, Kanaya mengedarkan pandang. Nampak Rufi duduk sembari menatapnya tanpa henti. Kanaya tersenyum, hatinya menghangat karena ditemani sesosok insan yang sangat dicintainya. Dia sangat bersemangat tanpa sadar, energinya berasa full bak dicharge padahal dia hanya sarapan dengan secangkir kopi susu.


Kak Rufi, aku sangat mencintaimu. Andai kau tahu isi hatiku yang terdalam.


Kanaya menunduk sejenak dan menatap kembali isi dalam mesin cuci masih dengan tersenyum. Mencoba memaklumi kesalahan hatinya mencintai dalam diam. Berusaha berdamai dengan kekhilafan yang telah tumbuh subur di relung hati. Meski kuncup cintanya menimbulkan luka karena tidak berani mengungkapkan tapi dia menikmati getar asmaranya sendiri tanpa harus memiliki. Entah egois atau pengecut? dia takut penolakan dari Rufi akan membuatnya patah hati.


Rufi memang sengaja menemani Kanaya karena dia tidak ada kerjaan lain. Dia membunuh kebosanannya sendiri. Meski Kanaya tidak banyak berbicara karena sibuk, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk menemaninya. Dia juga memainkan ponsel.


Hujan turun semakin deras kini disertai petir menyambar. Sesekali Kanaya menutup kedua telinganya karena gelegar suara petir. Rufi menatapnya sekilas dan kembali menekuri ponselnya dengan santai.


" Kak, matikan ponselmu. Ada petir, nanti bisa tersambar tuh ponsel, " tegur Kanaya. Rufi nyengir lalu meletakkan ponsel di atas meja. Dia kembali duduk dengan memeluk dirinya. Dingin menyergap, menelusup pori-pori kulit.


" Daripada ngelamun gak jelas, sini bantuin aku, " ujar Kanaya. Dengan malas Rufi beranjak dan melangkah mendekati Kanaya yang sibuk mengangkat keranjang pakaian yang hendak dijemur dibawah atap kaca. Rufi mengusir Kanaya dengan lambaian tangan dan mengangkat keranjang itu seorang diri. Lalu dia segera memasang satu persatu pakaian ke hanger dan di pasangkan ke jemuran yang terbuat dari aluminium. Sementara Kanaya menyelesaikan cucian lagi.


Tiba-tiba bik Sumi datang tergopoh-gopoh. Dengan suara yang tidak jelas dan isyarat tangan, dia memberitahukan bahwa ada seorang tamu untuk Rufi. Rufi bertanya siapa dia, bagaimana cirinya.


- Namanya Angel.


Rufi melesat meninggalkan ruang cuci, membiarkan pakaian yang seharusnya dijemurnya begitu saja. Sementara Kanaya merasa dadanya sesak seperti terhimpit, sakit, lalu menjalar ke mata menimbulkan panas. Untuk beberapa saat dia terpaku.


Angel, kekasih kak Rufi. Si nona cantik adik Bhaskara?


Mesin masih berputar berpacu dengan suara gemericik hujan diluar. Tapi Kanaya seakan tidak mendengar suara apa pun. Hening.... dan....hampa. Tangannya bergetar dengan jantung yang berdegup kencang. Dia juga merasakan matanya mulai panas yang ingin mengeluarkan tetesan airmata. Tubuhnya terasa limbung tidak bertenaga sama sekali. Tanpa disadarinya kaki jenjangnya melangkah terhuyung menuju ke tamu. Memastikan kedua insan yang mematahkan hatinya sedang melakukan apa?

__ADS_1


Terdengar suara tawa saat tiba di ruang keluarga, Kanaya menghentikan langkah. Dia berdiri dibalik tembok pembatas dengan ruang tamu. Rasa keingintahuannya sangat tinggi, dia hendak mencuri dengar apa yang tengah mereka bicara dan lakukan. Namun karena suara petir menenggelamkan suara kedua insan yang membuatnya cemburu, Kanaya berusaha mengintip dengan membuka sedikit tirai. Alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan erotis yang tersaji di depan matanya, sampai tanpa sadar menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Rufi dan Angel tengah bersenda gurau. Duduk mereka berdekatan sampai kedua kaki Angel diatas paha Rufi. Roknya yang mini menyingkap memperlihatkan kulit paha sampai kakinya yang mulus tak bernoda. Tangan kanan gadis itu merangkul leher Rufi. Sementara Rufi diam dengan netra yang menatap lurus ke depan. Tangannya tidak menyentuh atau meraba kaki Angel tapi sungguh pemandangan itu membuat Kanaya termakan api cemburu. Setetes airmata jatuh membasahi pipinya. Karena tidak kuasa melihat lebih lama, dia pun berbalik masuk ke belakang. Tangannya yang memegang tirai ditariknya dengan kuat hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Rufi menoleh dan melepaskan kaki Angel diatas pahanya. Dia sontak bangkit. Hal itu membuat Angel bertanya,


" Ada apa? " tanyanya. Tapi tiada jawaban dari Rufi. Angel mengikuti langkah Rufi dari belakang dengan heran.


Rufi melangkah menuju ke pintu pembatas dan melihat bayangan Kanaya masuk ke pintu belakang. Rufi mengernyit tidak paham.


Apa dia mengintipku? pikirnya.


Angel memeluknya kembali saat Rufi mendekat, tapi lelaki itu segera melepas kedua tangan gadis yang dianggapnya sahabat itu.


" Ayolah, Fi bantu aku ya. Aku janji akan menuruti semua permintaanmu, " ujar Angel. Gadis itu mengerlingkan mata manja. Bibirnya yang seksi membentuk huruf o hendak mencium Rufi. Tapi Rufi bukanlah lelaki gampangan. Dia mendaratkan telapak tangannya ke bibir Angel. Alhasil gadis itu mencium tangan Rufi yang bau deterjen.


" Fi, jahat banget sih. Dan lagi bau tanganmu juga deterjen. Pihh.... pihh.... " teriak Angel. Gadis itu mengusap kasar bibirnya. Dia takut deterjen itu akan membuat bibir seksinya alergi.


" Lagian siapa suruh cium aku? sono cium Desta mu, ntar ketahuan aku bisa dihajarnya, " ujar Rufi. Tingkah Angel sangat melewati batas karena lama menjalin hubungan persahabatan.


Sebenarnya kedatangan Angel ingin meminta pertolongan Rufi agar mau menemaninya kencan dengan Desta di sebuah tempat. Dia berusaha meyakinkan Rufi dengan bergelayut manja agar lelaki itu bersedia membantu. Angel juga menunjukkan sesosok pria berkacamata hitam suruhan papanya tengah mengawasinya dari seberang jalan didalam mobil. Dia takut pertemuannya dengan Desta ketahuan oleh sang papa.


Rufi pun mengangguk karena kasihan. Dan juga risih dengan cara Angel yang terus menempelkan anggota tubuhnya kepadanya. Dia masuk ke kamar untuk bersiap.


Sementara Kanaya masih menyelesaikan pekerjaan menjemurnya. Hatinya yang hancur diabaikannya dengan kesibukan. Dia berusaha melupakan pemandangan menyulut nafsu tadi diruang tamu. Meski pikiran buruk menyerangnya dengan terus membisikkan bahwa telah terjadi sesuatu antara kedua insan tadi di sofa, berciuman atau sampai ke tingkat lebih parah??


Tidak!! Rufi Sastra bukan lelaki murahan. Dia lelaki baikku, pangeran berkuda ku. Ya, tidak terjadi apapun. Mereka hanya bersenda gurau saja.


Kanaya menggelengkan kepala lalu memukulnya dengan telapak tangannya. Mencubit lengannya kuat, sakit. Dia meringis. Bayangan pengkhianatan Rufi membuat hatinya hancur berkeping-keping.


" Kau sudah selesai? " tanya suara bariton sedikit serak yang amat seksi di telinganya. Kanaya menoleh, semburat malu menyergapnya. Amarah di hatinya seketika musnah. Rufi menatapnya tajam. Kini dia berpakaian casual seperti hendak pergi. Aroma parfum maskulin menyengat indera penciumannya.


" Kau mau kemana kak? " tanya Kanaya kecewa. Rufi terlihat sangat tampan, meski berulang kali dalam sehari bersua Kanaya tidak merasa bosan.


Dia mau kencan dengan Angel? jangan pergi kak, plis. Dirumah aja sama aku???? Biarkan pelakor itu pergi sendiri.


" Cepat mandi dan ganti baju, ikut aku, " ujar Rufi. Tangannya menarik tangan Kanaya agar menjauh dari keranjang cucian yang belum dijemur.


" Tapi kak, belum selesai, " ujar Kanaya. Netranya mengisyaratkan bahwa pekerjaannya belum selesai.

__ADS_1


Rufi heran saat melihat mata Kanaya sedikit membengkak. Telunjuknya mengarahkan pada mata Kanaya. Gadis itu menggeleng dan menjelaskan jika dia kelilipan deterjen karena tidak hati-hati. Kalau sampai dia tahu usai menangisinya, betapa malunya?


" Sudah cepat sana mandi dulu. Biar aku yang kerjakan, " ujar Rufi membantu. Dia mendorong punggung Kanaya agar pergi bersiap. Dengan berat hati Kanaya mengikuti permintaan Rufi. Dia senang karena mengikutsertakannya.


Selang beberapa menit kemudian, Kanaya telah rapi dan wangi. Dengan memakai gaun berwarna navy yang menjuntai sampai betis. Stileto yang dikenakannya pun serasi dengan atasannya. Wajahnya berpoles make up tipis natural. Rufi nampak puas dan mengagumi Kanaya. Gadis itu juga berkhayal pergi ke suatu tempat romantis dengan gemericik tetesan hujan. Hanya mereka berdua ditemani dua cangkir cokelat panas dan kue karakter bergambar mereka berdua.


Namun ternyata salah, saat diruang tamu Kanaya menatap ragu Angel yang memonyongkan bibir karena kecewa. Niatnya jalan mengajak Rufi eh malah lelaki itu mengajak lainnya?


" Fi, gimana sih? aku tuh ngajak kamu bukan dia?! " protes Angel. Niatnya mengklamufase suruhan papanya sepertinya gagal karena ulah Rufi. Bagaimana jika pria itu curiga jika Rufi bukanlah kekasihnya? Pasti akan mengadu kepada papanya.


" Angel sayang, dia adikku. Jadi aku tidak mau meninggalkannya seorang diri dirumah, " terang Rufi. Dia sekalian mengajak Kanaya jalan-jalan keluar rumah agar gadis itu bisa menghibur hati.


" Katanya kamu mau nuruti apapun kemauanku? ya ngajak adikku inilah, kemauanku. Aku tidak mau yang lainnya, " terang Rufi tegas. Lagi-lagi Kanaya tersentuh. Sungguh sangat manis perlakuan Rufi padanya. Ingin di cubitnya pipi Rufi itu. Ah seandainya saja.


" Jangan khawatir, kau aman kok bisa tetap jalan sama Desta, " ujar Rufi menambahkan. Kanaya menoleh mencerna maksud perkataan Rufi. Desta? siapa lagi?


Angel jalan sama Desta? berarti kak Rufi bukan pacarnya dong? Yes.. yes!!


" Double date gitu? Rufi kau sinting, " ujar Angel. Dia tidak terlalu suka karena Rufi mengalihkan perhatiannya selain dirinya seorang. Karena menurutnya yang menjadi ratu diantara kedua lelaki itu nantinya adalah dia.


" Lalu apa kau menjadikanku seorang obat nyamuk saja? Aku hanya minta dia ikut kita. Jika kau menolak, aku tidak mau membantumu, " tanya Rufi. Dia menggenggam tangan Kanaya erat. Seolah menunjukkan betapa gadis itu sangat berharga di depan Angel. Dengan terpaksa Angel pun menuruti kemauan Rufi. Juga dia sudah telat dari jam bertemu.


Mereka memakai payung menuju ke mobil Angel. Dengan marah, dia membanting pintu mobil. Sementara Rufi dan Kanaya duduk di jok belakang. Rufi terus menggenggam erat tangan Kanaya. Tatapan sinar matanya teduh menatap ke arah Kanaya. Angel yang melihat perlakuan Rufi mendengkus kesal. Niat hati ingin mendapatkan hati lelaki itu sepertinya sia-sia belaka. Dia ingin meninggalkan Desta suatu hari nanti dan menjadikan Rufi sebagai kekasihnya. Karena kehidupan Desta yang tidak kunjung membaik. Kedua orangtuanya jadi sangat menentang hubungannya. Dan entah sampai kapan Angel sanggup bertahan, rasanya keadaan yang tidak mendukung ini membuatnya sangat frustasi.


Angel menyalakan mesin dan segera melakukan mobil perlahan keluar dari halaman rumah Rufi. Dia mengendarai dengan kecepatan normal, sementara dibelakang sebuah mobil hitam terus mengikutinya dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


" Fi, seharusnya kau duduk di sampingku atau kau yang mengemudi. Kalau seperti ini aku seperti sopirmu saja? " tanya Angel dengan kesal. Rufi menatapnya sekilas lalu terlihat sibuk kembali.


Sementara Kanaya berdebar tidak karuan karena Rufi terus menatap, mengelus puncak kepala, dan menenangkannya agar nyaman pergi bersama Angel. Lelaki itu seperti tahu kegundahan hati Kanaya.


Tiba disebuah bioskop, mobil berhenti. Angel keluar disusul Rufi dan Kanaya. Si penguntit Angel berhenti tidak jauh dari mereka. Tapi tidak keluar dari kendaraan. Angel yang merasa diawasi menggandeng lengan Rufi. Rufi menepisnya tapi Angel berbisik agar dia tidak melepaskannya. Dengan terpaksa Rufi manut. Kanaya hanya bisa menatapnya dengan kecewa.


Bertiga mereka memasuki gedung bioskop. Angel melangkah menuju ke tiket sembari netranya mengedar ke segala penjuru. Dia mencari sesosok kekasihnya, Desta. Dan benar saja, seseorang lelaki berdagu lebar dengan tahu lalat di kiri bawah datang. Seulas senyum disertai sapaan hangat menyertainya. Rufi memeluknya sebentar, lalu menepuk punggung temannya itu. Angel menatap intens dengan membawa beberapa lembar tiket untuk mereka.


" Gimana kabarmu? " tanya Rufi. Desta menjawab dan terlibatlah mereka dengan perbincangan yang hangat. Angel lalu beralih ke tempat yang menjual popcorn. Gadis itu pun membelinya seorang diri karena tidak menghiraukan keberadaan Kanaya yang mengganggu suasananya hatinya. Kanaya diam mematung disisi Rufi. Dia merasa terabaikan meski itu tidaklah lama. Rufi kembali menggandengnya dan memperkenalkannya. Keduanya saling berjabat tangan. Angel menatapnya dari kejauhan. Kanaya berhasil menarik perhatian Desta dan Rufi yang selama ini dialah sang ratunya. Angel kesal dan cemburu.


" Benarkah dia adikmu? dia sangat cantik, " bisik Desta ditelinga Rufi. Rufi mengangguk karena melihat Angel telah datang dengan cemilan yang dibelinya. Mereka pun masuk ke ruang yang akan memutarkan filmnya. Kanaya menggenggam erat tangan Rufi. Ini kali pertama baginya menonton di bioskop.

__ADS_1


__ADS_2