
Pertanyaan dari Kanaya membuat Rufi malu. Semakin lama, dia semakin kehilangan muka. Kanaya masih berkutat dengan kepanikannya. Rufi tidak menjelaskan detail hanya mengatakan jika Kanaya harus bertanya pada ibu atau mamanya saja. Tapi Kanaya tidak peduli, dia butuh Rufi menjelaskannya secara gamblang dan akurat. Sosoknya yang serba tahu dan dewasa benar-benar tidak bisa lepas dari Kanaya begitu saja. Juga karena lelaki itu pemecah segala problematikanya. Dari sejak kecil hingga memasuki usia remaja, lelaki itu selalu ada untuknya apapun yang terjadi.
" Kanaya, kau sedang mengalami fase menjadi seorang gadis sempurna, " terang Rufi. Kanaya mengernyit bingung. Bukankah dari dulu dia juga terlahir sebagai seorang gadis? ujaran dari Rufi terlalu umum. Dia butuh penjelasan yang rinci.
" Apa kak? yang jelas dong, " rengeknya manja. Dan sikapnya ini biasa dijadikannya sebagai cara agar Rufi menuruti segala kemauannya. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku pada suasana genting yang sedang dia hadapi sekarang. Rufi seakan menambah bingung saja. Kanaya pusing.
" Sudahlah lebih baik kau cari di mbah gugel biar paham. Aku mau keluar dulu, " ujar Rufi dan membuka pintu. Namun belum sampai pintu terbuka, Kanaya menarik kembali lelaki itu dan mendudukkannya kembali disisi ranjang. Dia mengeluarkan sebuah ****** ***** dan memberikannya kepada Rufi yang wajahnya telah memerah seperti kepiting rebus.
" Pasangkan kak, " ujar Kanaya. Rufi menutup wajahnya dengan jemarinya. Kanaya masih panik. Sungguh pengalaman pertamanya ini membuatnya hampir pingsan karena takut. Dan lagi-lagi Rufilah sosok ahli kunci perdana apa yang dialami oleh Kanaya. Dulu saat dadanya mulai terasa sakit karena perubahannya, Rufi juga tempatnya mengadu. Saat itu Rufi juga merasakan malu yang tidak terkira. Dia menolak, dengan memintanya mengadu kepada sang ibu dan mamanya tapi lagi-lagi dia enggan dan bersikeras harus dia yang menjelaskannya. Bagi Kanaya, Rufi adalah malaikat tak bersayapnya.
Beruntung Kanaya hanya mengadu saja tanpa menyingkap penutup atas tubuh dan menunjukkannya secara gamblang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana imajinasi liar Rufi saat itu? Walau bagaimanapun juga mereka bukan sedarah tapi Kanaya menganggap biasa saja. Rufi adalah kakaknya dan segalanya. Bahkan jika dia diharuskan memilih antara Rufi dan keindahan dunia, dia memberatkan lelaki itu.
Bagaimana ini, Kanaya benar-benar membuatku mati kutu. Kenapa hal memalukan ini terjadi lagi dalam hidupku? Mama cepat datang, bawa aku pergi dari ruangan mencekam ini, pikir Rufi. Dia menelan ludah teramat berat.
" Kau cari artikel tentang hal itu sendiri saja. Aku tidak paham, nih pakai ponselku jika kau sedang kehabisan data, " ujar Rufi dan berdiri setelah membanting ponselnya diatas kasur.
Tiba-tiba pintu terbuka, nampak Rianti heran melihat mereka sedang dalam keadaan tegang. Lebih heran lagi Kanaya memegang ****** ***** dan berusaha memberikannya kepada Rufi. Rianti terbelalak, benda itu terlihat sangat jelas didepan matanya. Wanita itu segera menepis benda pink berenda itu agar jauh dari pandangan sang anak lelakinya. Dia mulai berpikir bahwa telah terjadi hal serius diantara mereka didalam kamar. Sang anak juga lelaki normal lainnya. Bagaimana jika terjadi yang iya-iya???? tidak bisa dibiarkan.
" Kenapa pintu harus ditutup saat kalian berada dalam satu ruangan? Kanaya kenapa kau tidak juga berangkat sekolah? ini sudah siang, kau sudah terlambat. Rufi apa yang kau lakukan disini? " tanya Rianti. Tangannya mendorong bahu sang anak agar segera berdiri. Rufi bangkit dan berdiri agak jauh dari keduanya. Wajahnya masih menyiratkan rona malu yang luar biasa.
" Itu ma, " ujar Rufi tertahan. Dia riskan menerangkan hal khusus untuk kaum hawa itu. Kepalanya menoleh ke kanan kiri bingung harus memulai dari mana tentang kesulitan dan ketidak pahaman Kanaya.
" Kenapa? " tanya Rianti ikut khawatir. Sementara benda pink tadi masih ditangan kanan Kanaya. Sorot mata Rianti mengisyaratkan agar Kanaya menyimpan benda itu dibelakang punggungnya. Dia heran, kelakuan Kanaya masih seperti anak SD saja padahal anak itu sudah terlihat dewasa karena tubuhnya yang menjulang tinggi bak model. Mungkin efek kebanyakan dimanja oleh Rufi. Sehingga dia belum bisa memilah perbedaan diantara mereka.
__ADS_1
" Dia datang bulan untuk pertama kalinya. Bantu dia ma, aku keluar dulu, " ujar Rufi. Dia meraih ponselnya dan melesat lari menuju ke pintu. Rianti mulai paham. Rupanya sang anak tengah berjibaku dengan dilemanya, antara kasihan dengan Kanaya dan malu pada dirinya sendiri. Dia tersenyum simpul mengingat sang anak lelakinya. Tidak bisa dibayangkan betapa tadi pasti Rufi bingung setengah mati. Rianti juga menepis pikiran buruk yang sempat menggelayutinya.
" Sini biar mama bantu, jangan melibatkan Rufi. Bersikaplah dewasa, Kana. Kakakmu itu laki-laki, kau harus bisa memilah mana yang mau kau adukan dengan Rufi maupun tidak. Mana ****** ********? begini..........terus begini. Kau bisa sendiri kan? " terangnya. Wanita itu nampak cekatan dan lihai memasang benda sebagai penampung cairan khusus yang membuat panik sepasang muda-mudi tadi. Kanaya panik karena memang benar-benar tidak tahu, sementara Rufi karena riskan.
" Jangan sering-sering berdua didalam kamar dengan Rufi, Kana. Kalau bicara diluar saja, kau mengerti? " tanya Rianti akan kepolosan Kanaya. Anak itu mengangguk. Dia mencoba memahami maksud dari ibu keduanya itu meski tetap memanggilnya dengan sebutan nyonya. Melarangnya berdua dikamar, memang akan terjadi apa?? Rufi adalah kakakku.
Sesampainya di luar kamar Kanaya, Rufi menghembuskan napas lega. Ketakutan dan kebingungan Kanaya sempat membuatnya kehabisan oksigen karena ikut gugup. Padahal di buku sekolah juga sudah dijelaskan tentang reproduksi wanita. Mempelajari teori dengan menghadapi sendiri memang berbeda. Rufi melangkah menuju ke kamarnya. Dia berniat mencari universitas yang sesuai dengannya. Rencana awalnya mengantar sekolah adik angkatnya itu batal.
Rufi tersenyum saat menemukan salah satu universitas yang tidak terlalu jauh dari sekolah Kanaya melalui searching-annya. Dia berniat akan mendaftar ditempat itu. Sembari kuliah dia bisa memantau sang adik angkatnya. Juga tidak harus keluar kota seperti keinginan papanya. Menurutnya permintaan sang papa terlalu mengada-ada. Betapa kejamnya, toh anak kandung yang dimilikinya juga dia seorang saja?
Keesokan harinya, Kanaya tengah memegang pensil dengan buku di atas meja. Anak manis yang kemarin membuat Rufi malu itu tengah berada di teras samping. Siang itu dia nampak gembira karena memang pada dasarnya anak periang. Kanaya bernyanyi ala kadarnya tatkala Rufi melewatinya. Namun belum sampai jauh, Kanaya berhasil menarik lengan Rufi dan mendudukkannya di kursi untuk duduk disebelahnya. Rufi mendengkus kesal, niatnya menghindar tidak bisa. Dia risih jika anak itu masih membahas soal kaum hawa lagi?
" Ada apa? aku sibuk, " ujar Rufi ketus. Padahal dia sendiri iseng mencaritahu apa yang tengah anak itu lakukan di siang ini. Ternyata Kanaya tahu kehadirannya. Alhasil, anak itu meminta ditemaninya.
Kanaya tidak menjawab, malah mengerjap-ngerjapkan mata, badannya condong hampir menyentuh kaos Rufi. Dia mengikis jarak menatap dalam kedua manik mata Rufi. Senyum mengembang di bibirnya. Betapa dia sangat menyayangi lelaki berumur sembilan belas tahun itu. Detik jam seperti kehilangan maknanya jika dia tidak melihat Rufi sebentar saja. Hatinya terasa nyaman dan damai berdekatan untuk kesekian kalinya meski berulang kali dalam sehari. Dia tidak bosan sama sekali. Entah mulai sejak kapan dan rasa itu sangat kuat menancap bak akar beringin ke tanah. Perlahan jemari Kanaya menyentuh punggung tangan lelaki yang mulai ditumbuhi kumis diantara hidung dan bibirnya. Dia masih terpaku akan pesona Rufi. Wajahnya sangat rupawan meski sikapnya seperti pengawal pribadi yang menyebalkan, senang mengikuti setiap langkahnya. Juga seperti seorang hakim yang mencecarnya dengan banyak pertanyaan saat dia terpergok pergi tanpa mengikutsertakannya. Ibarat tikus didepan kucing yang siap menerkam kala lelaki itu menegurnya.
Oh tidak, ya Tuhan jangan tentang hal tadi. Mama tolong aku, anak ini mengunciku dalam pandangannya. Aku bukan orang tepat yang kau mintai penjelasan. Seharusnya kau mencari sesama kaum perempuan? gumam Rufi dalam hati. Kepalanya mundur berusaha menjauh dari pindaian Kanaya. Saking terlalu dekatnya hingga hembusan napas anak itu mengenai leher Rufi. Detak jantungnya berdegup kencang mendapat perlakuan mengejutkan dari Kanaya. Tapi Kanaya seolah bebal. Rufi adalah kakaknya dan dia bebas melakukan apa saja terhadapnya.
" Menjauhlah dariku, Kana. Aku bisa jatuh, " ujar Rufi.
Kanaya menggeleng kuat-kuat. Dia melepas genggaman tangannya dan mundur. Lalu mulai mencoretkan pensil di kertas. Dia menulis sebuah daftar. Namun Rufi tidak banyak bertanya. Dia mengatur posisi duduknya yang hampir oleng karena tingkah Kanaya.
" Temani aku disini jika kakak tidak sibuk, " ujarnya dan menoleh lagi dengan senyuman khasnya, cantik. Rufi yang gemas hampir saja mendekatkan bibirnya untuk mencium?? Rufi terkejut akan niatnya lalu beringsut agak menjauh dari Kanaya. Gadis itu bak magnet yang menarik dirinya berulang kali sampai dia hampir jatuh dalam kekhilafan nyata. Rufi mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Dia meraih ponsel disaku celananya dan mulai memainkan game.
__ADS_1
" Aku senang berdekatan denganmu seperti ini, " ujar Kanaya lirih. Tapi Rufi bisa mendengarnya. Dia terhenyak.
" Apa? " tanya Rufi dan menjauhkan ponsel, mengamati mimik Kanaya. Kanaya menoleh dan menggeleng.
" Tidak apa-apa," ujarnya. Setelah Rufi terlihat sibuk kembali, dia menekuri buku dan larut dalam khayalan tentang rencana akhir pekannya bersama sang kakak yang biasa ditulis dahulu. Dan acara itu biasa mereka lakukan bersama setiap akhir bulan. Entah di gunung, pantai maupun tempat lainnya untuk sekedar healing, melepas kepenatan pikiran.
Kak Rufi, aku menyukaimu. Bukan, bukan seperti itu. Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu? Ya, cinta. Kenapa lelaki itu harus kamu? maaf kak, aku tidak bisa menahan rasa suka ku yang kian hari bertambah subur ini. Maafkan aku. Apa kau juga memiliki rasa yang sama denganku? oh tidak, kenapa denganku?
Kanaya menggeleng kuat-kuat lagi. Jemarinya juga menepuk-nepuk pipinya agar tersadar dari sihir pesona Rufi.
Mereka menghabiskan waktu dengan saling diam disinari matahari yang mulai menuju ke barat. Kanaya masih menulis sembari menikmati rasa dihatinya. Getar-getar indah yang mengalun membentuk harmoni damai. Getar yang membuat semangatnya nan membara. Sementara Rufi masih berkutat dengan ponselnya. Lelaki itu tidak mengerti rasa yang meletup dihati sang adik. Kanaya juga tidak ingin Rufi tahu, cukup dia yang rasa dan pahami. Meski menyukai diam-diam sangat menyiksa sudut hatinya. Biarlah, mengucap juga tidaklah penting. Kanaya tahu kedudukannya di mata Rufi. Tapi tidak apa. Selama dia belum menyelesaikan sekolahnya, dia masih bisa bersama lelaki yang disebutnya kakak itu, untuk sekedar melihatnya, menggandengnya, itu sudah lebih dari cukup. Cinta tidaklah harus memiliki.
Tiba-tiba bik Sumi datang, wanita itu memanggil Kanaya dengan suara nyaring meski tidak jelas, hanya lengkingan. Di kedua tangannya tertenteng kresek merah besar. Kanaya menoleh dan bangkit untuk menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu. Senyumannya berubah menjadi tawa riang. Dia senang melihat isi dalam bawaan sang ibu. Rambutan dan aneka buah lainnya dari kampung. Wanita itu memanennya dari pohonnya sendiri karena saat ini tengah musim buah. Ditariknya kresek merah rambutan itu dan dibawanya menuju dekat Rufi.
" Ayo kak, kita makan buah ini sama-sama, " ujarnya tulus. Rufi yang memperhatikan kehangatan ibu dan anak itu dari tempat duduknya pun bangkit dan jongkok mengambil buah merah nan manis itu disudut ruang. Rufi mengupas kulit dan memakan buahnya langsung di iringi tatapan Kanaya.
" Apa? " tanya Rufi.
" Manis ya? " tanya Kanaya.
" Hemmmm......." jawab Rufi dan asyik menyantap buah ranum yang menyegarkan tenggorokannya. Mereka menikmati buah itu bersama. Seperti yang biasa mereka lakukan. Hanya kali ini sangat istimewa bagi Kanaya, karena dia makan tanpa memalingkan sedikit pun perhatiannya dari Rufi. Hingga terasa seperti menyelam sambil minum air.
- Kalian suka? tanya bik Sumi. Lalu dengan antusias, wanita itu menceritakan pengalamannya mengunjungi rumah dan nyekar di kuburan sang suami dengan isyarat. Tawa menyelingi sela ceritanya. Kanaya ikut tertawa berusaha memahami cerita ibunya yang kadang kesulitan mengisyaratkannya. Sungguh ibunya yang penuh dengan kekurangan telah menjadi panutannya agar tetap semangat menjalani hari yang terkadang membuatnya menyerah. Ibunya yang terkadang dianggap orang gila oleh orang lain karena tidak bisa bicara dan mendengar. Wanita itu bahkan pernah dipukul akibat kesalahpahaman yang terjadi antara dia dengan seorang wanita. Wanita itu memaki-maki bik Sumi karena tanpa sengaja menyenggolnya dipasar. Dan terjadilah insiden pemukulan itu. Beruntung seorang pria melerai dan membantu bik Sumi.
__ADS_1
Kompak mereka menjawab iya dan sibuk memakan lagi. Bik Sumi lalu meninggalkan mereka bergegas mencari majikan wanitanya. Dia ingin memberitahukan jika telah kembali dari kampung, siap bekerja lagi setelah beberapa hari meminta ijin. Bik Sumi pulang kampung karena salah satu saudaranya mengadakan suatu hajatan. Tapi tidak mengajak Kanaya karena dia sekolah.
Rianti langsung tersenyum sumringah menerima oleh-oleh dari pembantu rumah tangganya. Dia segera memanggil Rufi yang telah terlebih dahulu makan buah rambutan. Saat mendengar suara sahutan sang anak diteras bersama Kanaya, dia pun mengangguk.