Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
perubahan sikap


__ADS_3

Usai puas memandang Rufi yang terlelap, perlahan Kanaya keluar dari kamar menuju ke kamar sang ibu. Dia tak berniat membangunkan lelaki itu untuk membeli martabak. Lagian jam telah menunjukkan hampir tengah malam.


Dibukanya pintu kamar sang ibu perlahan. Kanaya mengintip sebentar dan melihat ibunya terlelap. Dia pun mengambil tempat disebelah wanita itu dan memejamkan mata menjemput mimpi sampai pagi tiba.


Keesokan paginya, bik Sumi terkejut saat didapati Rufi berkacak pinggang diambang pintu kamar. Wanita itu menanyakan apa tujuan sang majikan mudanya. Dan dijawab olehnya mencari keberadaan kanaya. Bik Sumi menunjuk ke dalam lalu pamit hendak melakukan rutinitasnya.


Rufi bergegas masuk dan melihat seseorang yang dicarinya semalaman tengah tergolek berbalut selimut. Dia masih memejamkan mata. Rufi mencolek bahu gadis itu. Dia menggeliat dan menepisnya. Rufi melakukannya lagi dan masih mendapat balasan yang sama hingga dia mendekatkan bibir ke telinga gadis itu.


" Kau mau bangun atau aku akan menciummu? " tanyanya lembut.


Kanaya tersentak mendengar bisikan berbalut hembusan napas lelaki yang dipujanya itu. Dia segera bangun dan menatap majikan mudanya tersenyum penuh kemenangan tidak jauh darinya. Dikuceknya kedua matanya dengan debaran yang tiba-tiba menyerang jantungnya. Sungguh Rufi membuatnya senam jantung karena gugup.


Kanaya salah tingkah karena Rufi terus memperhatikannya disaat penampilannya sangat berantakan. Rambut yang tergerai, air liur yang masih jelas menghiasi pipi, piyama yang terlipat karena tertindih saat tidur serta bau badan yang tidak sedap. Kanaya merapikan apa kadarnya.


" Kenapa kau tidak membangunkanku semalam? Malah meninggalkanku tidur dikamarmu?? " tanya Rufi. Dia terbangun saat pukul dua dinihari dan terkejut karena sang empunya tidak melakukan hal seperti yang dimintanya. Gadis itu malah meninggalkannya dan tertidur dikamarnya.


Kanaya mengerjapkan mata karena terlupa. Sungguh dia lupa hal itu. Dia mencoba mengingat hingga kemudian....


" Maaf kak, semalam kau terlihat sangat lelap. Jadi aku...." terangnya tapi tergantung karena Rufi menekan kedua bahunya dan menatap tajam kedua matanya.


" Lain kali jangan diulang. Jika aku memintamu kau harus menaatinya, kau paham? " tanyanya. Karena dia sangat ingin gadis itu mengulang kata yang didengarnya di garasi tempo hari.


Rufi menatap dalam kedua mata kanaya. Hal itu membuat kanaya malu dan menoleh ke lain arah. Jarak mereka terkikis karena Rufi terus mendekat perlahan. Karena canggung, kanaya meloloskan diri dengan menerobos bawah lengan Rufi. Sebelum keluar dari kamar, dia menoleh dan tersenyum.


" Antarkan aku ke sekolah, kak, " pinta kanaya lalu membuka pintu menuju ke kamar mandi luar.


Setelah kepergian kanaya, Rufi bangkit dan keluar hendak bersiap-siap.


Diperjalanan mereka terdiam. Kanaya terus memindai kepala sang kakak yang tertutup sebagian oleh helm. Kedua tangannya memegang erat pinggang lelaki itu. Ingin sekali dia memeluk lelaki itu dari belakang, menyalurkan rasa cintanya yang bergemuruh. Tapi dengan sekuat tenaga pula ditahannya hasratnya. Hingga dilampiaskannya dengan menggigit bawah bibir. Sungguh berjuang karena memendam rasa sangat tidak nyaman.


Sampailah mereka di tempat tujuan. Rufi berhenti, menatap kanaya yang kesulitan melepaskan helm. Tangan kanan Rufi terulur menekan alat ke kanan agar benda pelindung itu terlepas. Lagi-lagi jarak mereka terkikis hingga membuat kanaya berhenti bernapas.


Oh Tuhan, aku mencintaimu kak. Aku benar-benar menggilaimu......


" Sudah, cepat lepas dan segera masuk. Kedua temanmu sudah menunggu, " ujar Rufi menggiring kembali kanaya ke dunia nyata yang penuh ketidak pastian.


Kanaya melepaskan helm dan menyerahkannya pada Rufi. Dia berlari menghampiri Bella dan Hendi yang terus melolot karena kanaya tidak menyahuti teriakan mereka di pinggir gerbang sekolah.


" Nanti aku pulang sendiri?! " teriak kanaya dan melambaikan tangan ke arah Rufi.


Rufi mendengkus kesal mendengar teriakan kanaya. Jika demikian, gadis itu pasti akan pergi bersama kedua temannya. Apalagi mengingat Hendi yang sepertinya menaruh hati padanya. Dan hal itu sangat tidak disukainya. Betapa dia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu. Hingga dia pun memutuskan.....


" Halo, Her...hari ini aku bolos!! " ujarnya di sambungan telepon selulernya.


Setelah memutuskan panggilan melalui telepon selulernya, Rufi memarkirkan motornya di depan warung. Lalu dia masuk untuk minum kopi sembari menunggu kepulangan gadis itu. Padahal kepulangannya masih lama.


Kanaya berjalan bersama kedua temannya diselingi canda tawa receh. Namun Hendi tidak menampakkan aura bersahabat. Dia diam dan menatap ke lain arah. Pagi itu sangat menyesakkan dadanya melihat kanaya yang terpergok menatap kagum Rufi. Dia cemburu. Meski dia seorang lelaki tetapi tatapan kanaya bisa dibacanya dari kejauhan. Ya, gadis yang dicintainya mengagumi orang lain. Dia menyesalkan hal itu. Patutlah mengapa gadis itu selalu menolaknya. Ternyata lelaki itulah pilihan hatinya. Lelaki yang seatap dengannya dan disebutnya sebagai kakak.


Pelajaran berlangsung seperti biasa hingga berakhir pada pukul sepuluh pagi. Para guru akan mengadakan rapat dan dipulangkan lebih awal. Sebenarnya hal itu sudah diumumkan jauh hari tapi murid tetap masuk untuk mengisi daftar hadir.

__ADS_1


Saat semua berdiri dan berhasil mendekati pintu , Hendi meraih pergelangan tangan kanaya. Gadis itu terpaksa menoleh dan tertarik masuk ke kelas kembali. Hendi berhenti di bangku paling belakang. Kanaya menatap kesal.


" Aku ingin bertanya suatu hal padamu. Duduklah dulu, " pinta Hendi. Kanaya duduk dan menatap gusar pintu karena Bella sudah menunggunya untuk pergi ke suatu tempat sepulang sekolah.


" Aku mencintaimu kanaya, sangat. Aku menyayangimu lebih dari segalanya. Terimalah cintaku, " ujar Hendi. Untuk kesekian kalinya dia masih berusaha memenangkan cinta kanaya.


Kanaya tersentak. Dia tidak menyangka lelaki yang berkali-kali ditolaknya itu masih berusaha mendapatkan hatinya?


" Hen, maaf. Sudah kubilang kita berteman saja. Aku tidak bisa, " terangnya. Dia berusaha melepas genggaman erat tangan Hendi dan tersenyum lebar.


Setelah berhasil melepas genggaman tangan Hendi, Kanaya lalu bangkit. Namun belum sampai dia berhasil melangkah keluar, Hendi memanggil dan berhasil menghentikan langkahnya.


" Apa karena Rufi kau menolakku? " tanyanya parau. Kanaya menelan saliva berat. Kanaya tidak menjawab, baginya itu adalah rahasianya yang tidak perlu lelaki gendut itu tahu.


" Apa kekuranganku kanaya? " tanya Hendi.


" Aku bisa memberikanmu cinta yang tidak bisa Rufi berikan untukmu. Lelaki itu bahkan tidak menganggapmu ada, " ujar Hendi berapi-api karena cemburu mengingat sikap kanaya pagi tadi. Dia berusaha agar kanaya membenci rivalnya itu. Dan dia juga paham jika rasa yang ditunjukkan oleh kanaya bertepuk sebelah tangan. Dia masih berusaha meski mungkin kekecewaan lagi yang didapatkannya.


Kanaya berbalik dan melangkah mendekati Hendi yang masih berdiri ditempatnya. Tatapannya tajam mencari jawaban samar dari raut kanaya yang datar.


" Semua yang kau katakan memang benar. Tapi aku tidak berharap apa pun darinya, " ujar kanaya.


" It's bullshit!!! " umpat Hendi.


Lelaki itu berdiri melewati Kanaya dan berjalan keluar kelas dengan wajah merah padam karena marah. Kanaya memang mencintai orang lain, dia telah kalah.


Kanaya dan Bella melangkah riang hendak pergi bermain bersama. Sesekali mereka melontarkan usulan ditempat yang sesuai untuk menghabiskan waktu sampai jam biasa pulang sekolah. Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan kanaya. Refleks dia pun menyentuh dada bidang sang pelaku.


" Kak Rufi? " tanyanya heran.


Deg....jantungnya berdegup. Lelaki ini sudah berada di halaman sekolahnya? Apakah berarti dia tidak pulang dan bolos lagi untuk dirinya?


" Apa? " tanyanya balik dengan melotot. Kanaya menunduk.


Keduanya lalu berpandangan dan berbisik. Rencana mereka pasti gagal karena keberadaan lelaki ini. Beberapa menit kemudian, sudah dapat dipastikan dia akan mengeluarkan kata mutiara untuk Kanaya dan Bella agar tidak merayap kemana-mana usai pulang sekolah dan bla bla lainnya serta berujung pelarangan untuk kanaya. Padahal jelas mereka menghabiskan waktu ke mall, taman, itu saja.


Mereka terdiam menunggu reaksi Rufi selanjutnya yang sudah dihapal luar kepala. Namun alangkah terkejutnya.


" Aku ikut kalian, " ujar Rufi dengan suara lembut. Ini pertama kalinya dia berujar seperti itu. Kanaya dan Bella berpandangan. Lalu....


" Apa???? " tanya mereka berdua bersamaan. Sungguh bukan kebiasaan lelaki itu.


" Kalian gak dengar kataku? Kalian mau kemana? Tunggu aku titip motorku dulu, " ujar Rufi dan berlari ke suatu tempat.


Bella menyikut lengan Kanaya memastikan sekali lagi membenarkan maksud Rufi. Kanaya sendiri hanya mengangkat kedua bahu. Subgguh bukan dirinya pagi ini. Lelaki yang selalu pergi ke tempat berkelas, higienis dan mewah itu mau pergi bersamanya?


" Ayo, kita mau kemana nih? " tanya Rufi.


" Aku siap jadi pengawal pribadi kalian, tuan puteri, " tambahnya.

__ADS_1


Kanaya merasa malu. Apalagi Rufi juga merangkul Kanaya didepan Bella yang disambut dengan pelototan jengkel dari temannya itu. Kanaya tersenyum kecut meski hatinya serasa dipenuhi semerbak bunga karena senang tak terkira. Rufi memeluknya???


Setelah sepakat pergi ke suatu mall, beriringan mereka melangkah menyusuri trotoar. Kanaya asyik bercanda dengan Bella, sementara Rufi diam.


Sebenarnya Rufi ingin sekali mengajak Kanaya bersamanya dan meminta Bella untuk pulang. Tapi melihat antusiasme Kanaya bersama temannya itu dibuangnya jauh niat terselubungnya.


Di mall, mereka terus melangkah tanpa menghiraukan pertanyaan Rufi yang mengingatkannya hendak membeli apa? Karena hampir satu jam hanya muter tidak jelas. Dalam motto hidup Rufi, jika masuk ke suatu toko itu berarti membeli. Entah barang itu penting atau tidak.


Kesal karena diabaikan, Rufi diam tapi tetap mengikuti dengan mendengkus kesal. Kakinya serasa pegal karena kedua gadis yang dikawalnya itu hanya melangkah tanpa tujuan yang jelas. Mereka seolah melupakan Rufi.


Di suatu bangku mereka duduk, menatap lalu lalang pengunjung. Bella terlihat berbisik saat menatap orang yang menarik perhatiannya entah karena rupa atau cara berpakaiannya yang aneh. Rufi menatap dengan tidak percaya atas apa yang mereka lakukan. Duduk saja? Dia pergi sebentar untuk membeli es krim dan kue.


" Nih untuk kalian, " ujarnya dengan mengangsurkan kedua benda itu. Bella tersipu mendapat perhatian kecil dari Rufi. Dia terlupa jika memang perutnya minta diisi. Kanaya yang kesal menyikut lengan temannya dan disambut cekikikan ala mak lampir keseleo dari Bella.


" Terima kasih kak. Kau sangat baik hati dan tidak sombong, " ujarnya. Rufi mengernyit mendengar ujaran Bella yang aneh. Tapi dia tak mau ambil pusing dan ikut menikmati es krim ditangannya yang hampir mencair. Sesekali dia juga melakukan hal yang sama dengan kedua gadis ingusan itu.


" Lihat kanaya, lelaki itu cakep. Kelihatannya dia juga seumuran dengan kita, " tunjuk Bella dengan mulut penuh es krim. Kanaya mengikuti telunjuk Bella di sudut mall yang agak sepi. Dia mengangguk karena asyik menikmati es krim. Rufi menatap sekilas.


" Cih, cakepan aku juga kemana-mana, " ujar Rufi.


Kedua gadis itu menatap Rufi dengan cemberut. Memang benar sih. Lalu memperhatikan lagi pengunjung lainnya karena kalah pamor dengan Rufi.


Dari kejauhan seorang gadis yang nampak menyilaukan mata dengan gaun bling bling dipadu padankan stilletonya yang juga tak kalah mewahnya melangkah menuju ke arah mereka. Kanaya menatap dengan seksama lalu menoleh ke arah Rufi yang memasang wajah ceria. Seolah sadar jika gadis itu akan menghampirinya, dia merapikan tempat disebelahnya yang kosong. Mungkin dengan tujuan gadis itu akan mengambil tempat duduk disebelahnya dan ikut bergabung.


Kanaya menelan ludah berat, benar saja gadis itu menghampiri mereka. Rambutnya diusap lalu disembunyikan dibelakang daun telinganya lalu tersenyum manis.


" Hai kalian, hai Rufi. Wah bisa kebetulan sekali. Aku gabung ya? " tanyanya langsung mendaratkan pantatnya disamping Rufi yang terus melebarkan senyuman.


" Sama siapa kamu, ngel? " tanya Rufi.


Karena mendapat sambutan hangat dari Rufi, gadis itu langsung bercerita panjang kali lebar. Bahwa dia datang bersama Desta dan lelaki itu pulang sendiri karena berselisih pendapat seperti biasa.


Bella manggut-manggut mendengar penuturan memprihatinkan dari Angel. Dia menaruh simpati karena Angel juga memasang raut menyedihkan. Kanaya memalingkan wajah karena cemburu melihat keakraban dan kemesraan kedua insan itu yang ditampakkan oleh Angel. Gadis itu juga merayu bahkan menyentuh membersihkan bekas es krim yang tertinggal di dagu Rufi.


" Dia pacar kakak ya? " tanya Bella yang semakin membuat kanaya cemburu. Angel mengangguk mantap.


" Pacarnya itu Desta bukan kak Rufi!! " jawab kanaya ketus. Rufi menatap datar Kanaya dan kembali memperhatikan Angel.


Angel tersenyum manja. Dia merangkul leher Rufi dan menempelkan tubuhnya yang membuat Kanaya kalap. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Jika saja getaran telepon disakunya tidak menyadarkannya, pasti dia akan melabrak Angel yang tindakannya semakin meresahkan. Rufi tidak boleh terpikat oleh gadis itu. Rufi adalah miliknya!!!!


Usai membalas pesan dari seseorang di ponselnya, Kanaya kembali memperhatikan Angel yang kini bersiap berdiri. Dia juga menata rambut, merapikan penampilannya. Dan yang membuat Kanaya hampir tak bisa menguasai amarah saat Rufi bangkit dan bersiap melangkah bersama Angel.


" Kau mau kemana kak? " tanya Kanaya. Rufi terhenti dan menoleh.


" Kesitu, " jawabnya menunjuk ke sebuah gerai.


" Jangan pergi, kak!? " tahan kanaya.


Namun kedua sejoli itu telah melangkah menerobos lalu lalang pengunjung. Kanaya menarik tangannya yang terulur. Bella menatap heran kelakuan kanaya tapi hanya sekilas lalu sibuk melahap kue yang hampir terjatuh karena kecerobohan Angel yang sempat menyenggolnya.

__ADS_1


__ADS_2