
Kanaya mengetuk pintu kamar Rufi yang masih tertutup rapat. Dia heran karena tidak biasanya Sang kakak belum bangun dan turun dari peraduannya untuk sarapan. Karena lelaki itu sangat rajin dalam hal santap pagi. Tidak seperti biasanya??
" Kak, kau sudah bangun? lekas turun, nyonya memintamu segera bergabung diruang makan, " ujarnya. Tidak ada sahutan. Kanaya mengetuk pintu lebih keras. Namun tetap sama. Telinganya dia dekatkan ke daun pintu untuk mencuri dengar didalam hingga beberapa menit lamanya, dan hasilnya tetap nihil.
" Gimana Kan, lekas suruh turun kakakmu!? " teriak Rianti dari bawah tangga. Nada tidak sabaran terucap jelas dibalik teriakannya. Kanaya bergidik takut dan tidak enak.
" Ya, nyonya!? " sahut Kanaya. Dia mencari cara.
Dengan ragu Kanaya memutar handle pintu dan membukanya, tidak dikunci? Kosong. Tempat tidur sudah rapi tapi sang empunya tidak terlihat. Kanaya memberanikan masuk dan duduk disisi pembaringan sembari menyapu segala ruang mencari sosok Rufi. Dia takjub memandang ruangan kamar Rufi yang bersih. Ada laci dengan banyak buku di sudut ruang, lukisan abstrak, tulisan penyemangat, dan hei seperti ada potret dirinya dalam bentuk lukisan. Kanaya mendekati lukisan itu.
" Ini seperti aku? " tanya Kanaya pada diri sendiri. Jemarinya meraba potret dirinya. Disudut bawah lukisan terdapat tanda tangan dengan nama Rufi Sastra.
Apakah dia yang melukis sendiri? aku tidak tahu kalau dia pandai melukis. Kenapa aku tidak paham keahliannya selama bertahun-tahun? Kenapa melukis aku? jangan-jangan dia memiliki rasa yang sama denganku? tidak mungkin? pikirnya. Dia menepis jauh pikiran ' baper ' nya.
Tidak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kanaya paham jika yang dicarinya tengah membersihkan diri.
Mungkin sedang mandi? aku akan menunggunya, pikir Kanaya.
Lama, Kanaya mulai gelisah juga karena dia harus cepat berangkat ke sekolah. Dia beranjak dan keluar.
" Kanaya, ada apa? " tanya seseorang dari belakang Kanaya yang tidak lain adalah Rufi. Gadis cantik itu menoleh, nampak sang kakak hanya terlilit handuk dari bawah pusat sampai ke lutut dengan rambut yang basah. Dadanya yang berotot nampak seksi dimata Kanaya. Dia menelan salivanya menikmati pemandangan tubuh atletis sang kakak sekaligus tuan mudanya itu.
Rufi yang mendapat tatapan takjub dari Kanaya, tersenyum simpul. Dia melangkah mendekati Kanaya yang masih tidak berkedip. Jempol dan jari tengahnya diketukkannya hingga terdengar bunyi cetik ' didepan wajah Kanaya. Gadis itu tersadar. Dia pun tersipu malu karena tidak melewatkan momen lelaki yang dipujinya dalam hati itu bertelanjang dada.
" Ada masalah apa sampai kau mencariku disini? " tanya Rufi. Karena sangat langka Kanaya mau masuk ke dalam kamarnya. Dia enggan, paling banter gadis itu hanya memanggilnya dari luar selama belasan tahun. Hanya Rufi yang selalu senang masuk ke kamarnya saat mencari dirinya. Kanaya menjawab jika lelaki itu harus segera bergabung diruang makan. Tuan Edwin mencarinya dan ingin mengajaknya membahas suatu hal. Rufi paham, apalagi kalau bukan tentang membahas kampus luar kota lagi? Rufi tetap menolaknya. Dengan terus menghindari bertemu wajah dengan sang papa.
" Bilang sama mama dan papa, aku turun agak siang tidak perlu menungguku, " terang Rufi. Dia malas bertemu dengan papanya yang masih dengan kemauannya. Betapa Rufi enggan dan takut jauh dari Kanaya. Diluar rumah agak lama saja dia tidak betah untuk meninggalkan Kanaya. Jika Kanaya adalah benda, pasti sudah ditempelkannya disaku bajunya kemanapun dia pergi. Terus melihat, memperhatikan, dan memastikan keamanannya.
" Tapi kak, nanti aku bisa kena marah tuan dan nyonya, " terang Kanaya gusar. Penolakan Rufi membuatnya takut menemui Edwin dan Rianti.
" Ya sudah nanti aku cepat turun. Kau cepat keluar gih, aku mau pakai baju dulu, " ujar Rufi. Dia membalikkan tubuh Kanaya dan mendorong bahu gadis itu dengan kedua tangannya agar keluar dari kamarnya. Saat Kanaya diluar, Rufi menutup kembali pintu.
Setelah keluar dari kamar kakaknya, Kanaya pun segera turun dan memberitahukannya kepada Rianti. Dia agak kecewa. Rencananya ingin menanyakan suatu hal yang penting untuk sang anak batal. Wanita muda itu juga terlihat kesal sama halnya dengan sang suami yang mana gadis itu tidak berhasil membawa serta Rufi ke ruang makan.
" Seharusnya kau turun bersamanya, " ujar Edwin emosi melihat Kanaya yang hanya turun sendirian. Kanaya merasa tidak enak. Jemarinya yang hampir menyentuh gagang sendok diurungkannya.
" Maaf tuan, tadi kak Rufi janji akan segera turun dan bergabung disini, " terangnya sembari menundukkan kepala.
" Tidak mungkin, dia membohongimu. Dia tidak mau menemui kami, " tegasnya.
__ADS_1
Kanaya merasa semakin tidak nyaman, selain karena dia juga mempunyai ketakutan tersendiri terhadap pria yang membiayai sekolah dan hidupnya selama ini. Selain jarang tersenyum, juga wajahnya yang mempunyai aura jahat bak Dursasana dalam cerita wayang. Kanaya segera bangkit, memundurkan kursi dan berlari menuju ke kamar Rufi kembali. Dia berniat menyeret lelaki itu, memastikannya segera turun dan duduk di tempatnya disamping Edwin, sang tuan rumah.
Namun dia kecewa, pintu masih tertutup dan tanda-tanda lelaki itu keluar memang belum pasti. Kanaya misuh-misuh dalam hati karena percaya dengan janji palsunya. Diketuknya pintu secara membabi buta agar Rufi lekas membuka dan menampakkan batang hidungnya. Karena saking kerasnya hingga dia hampir terjatuh ke depan saat pintu terbuka. Dengan sigap, Rufi menahan tubuh Kanaya yang tepat menghantam dada bidangnya. Aroma parfum lelaki rupawan itu menyengat hidungnya. Kanaya menunduk tepat dilipatan siku sang kakak. Dia menegakkan tubuhnya dan mundur.
" Maaf kak, aku tidak sengaja, " ujarnya. Rufi mengangguk.
" Ya, tidak apa-apa. Kenapa kau datang lagi? " tanya Rufi heran. Kini dia sudah rapi, memakai kemeja biru dengan celana jins. Tidak ketinggalan tas punggungnya. Dia menyugar rambutnya.
" Ayo turun, semua menunggumu, " ujar Kanaya dan menyeret lengannya. Rufi menahan diri. Karena kesulitan dengan upayanya, Kanaya menatap Rufi kesal. Dia harus merubah strategi agar lelaki itu mau menurutinya.
" Kau tidak mau turun? aku bisa kena marah, " ujar Kanaya memelas agar Rufi mengasihinya.
Rufi menarik lengannya dari kuncian tangan Kanaya, lalu melipat didepan dadanya. Matanya masih menelisik tingkah Kanaya. Gadis itu gusar tapi sangat lucu versi kacamata ' Rufi.
" Tidak, aku tidak akan turun dan menemui mereka. Disini saja bersamamu, " ujarnya sembari tersenyum. Kanaya mulai kehilangan kesabaran. Dia juga lapar karena belum ada sesuap makanan pun yang sempat masuk ke mulutnya. Selera makannya mendadak hilang mendapat intimidasi dari Edwin.
" Terserah kau saja. Lebih baik aku segera berangkat sekolah tanpa sarapan dan dengan mengendarai motor, " ujar Kanaya melesat meninggalkan Rufi yang lamban mengambil keputusan. Rufi kelabakan jika Kanaya harus berangkat sendiri. Bukankah itu berbahaya? dia juga belum memiliki SIM. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?
Sudah kebiasaan Kanaya jika marah. Dia akan berangkat sendiri tanpa mang Didin yang harus melaporkannya kepada Rufi saat telah sampai ditempat tujuan. Rufi mengejar gadis itu hingga saat melewati ruang makan, papanya menegur berusaha menghentikan larinya. Dia terpaksa berhenti tanpa berbalik.
" Rufi berhenti, papa mau bicara, ! " teriak Edwin. Rufi diam, tanpa menoleh. Hanya beberapa menit saja lalu kembali mengejar Kanaya yang telah hampir sampai gerbang rumah dengan mengendarai matic. Kanaya jauh lebih penting daripada perdebatan yang akan papanya lakukan dengannya. Apa lagi kalau bukan keluar kota? Rufi ogah.
" Kanaya......!! " teriaknya. Dia berlari masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh darinya untuk segera mengejar Kanaya. Dia harus bisa menahan gadis itu bertindak sembrono mengendarai motor sendiri. Kekhawatirannya benar-benar memuncak dipuncak Everest. Edwin menggedor pintu mobil menahan sang anak agar berhenti dan berbicara dulu padanya. Tapi Rufi tidak peduli. Dia memajukan mobil perlahan keluar dari halaman rumah.
" Rufi, benar-benar kamu ya! tidak menghargai orang tua, " gerutunya jengkel. Dia masuk kembali ke rumah.
Sementara itu Rufi mengendarai mobil dengan pandangan terus ke depan, mencari sosok Kanaya. Gadis itu terlihat beberapa meter darinya. Setelah mendahului beberapa kendaraan, Dia mempercepat laju kendaraan berusaha mendahului gadis itu. Dan dia membuktikan kelihaiannya, dalam beberapa menit dia berada beberapa langkah di depan Kanaya yang terpaksa menghentikan motor. Kanaya terpaksa menghentikan laju motor dan menatapnya kesal. Rufi turun, menghampirinya dengan tersenyum. Beruntung saat itu jalan tidak begitu ramai.
" Ayo aku antar, " ujar Rufi menggenggam erat pergelangan tangan Kanaya yang masih memegang erat setir, menariknya turun dari motor. Tapi gadis itu tidak melepas pegangan tangannya.
" Kak, kau gila. Berangkat denganmu? bagaimana motor ini? aku bisa digantung sama mamamu, " ujarnya. Karena memang kendaraan berwarna putih itu kepunyaan Rianti, sang nyonya. Rufi menatap motor sekilas.
" Sudah biarkan saja motor itu, " tegasnya. Kanaya berusaha menepis tangan Rufi dan mendorong dada bidangnya. Aroma parfum Rufi masih menusuk hidung Kanaya.
Kenapa kau harus sewangi dan seganteng ini? Oh Tuhan, aku bisa gila karena belenggu cinta ku padamu. Rufi kenapa aku mencintaimu?
" Hai kalau pacaran, minggir. Jangan di jalan!? " teriak seorang pengendara. Karena lakon mereka sama seperti di televisi yang tengah beradegan bertengkar ditengah jalan. Eits tapi ini bukan drama melainkan kenyataan. Mereka menoleh. Terpaksa Kanaya turun dengan tangan kanan masih terpegang dan berusaha memarkirkan motor di bahu jalan. Dia merasa malu menjadi tontonan sebagian pengendara.
" Kekonyolanmu membuatku malu, " ujar Kanaya.
__ADS_1
" Aku tidak peduli dengan mereka tapi kamu, " ujar Rufi. Rasa hangat menyiram kalbu Kanaya dan membuatnya menatap dalam manik mata sang kakaknya yang khawatir. Menit kemudian Kanaya memalingkan muka, menghindari kontak matanya yang lain arti terhadap Rufi. Dia takut sang kakak bisa membaca sinar matanya. Jantungnya berdesir.
Sebenarnya Kanaya tahu apa yang terjadi antara Rufi dengan Edwin. Dia tidak mau jadi bahan pelampiasan sebab Edwin ikut menyeretnya meski samar. Dia dijadikan penyebab Rufi menolak permintaan papanya untuk mandiri. Kanaya jengah. Gadis itu sama sekali tidak pernah memintanya membangkang pada kedua orang tuanya.
" Pulanglah dan temui papamu, " ujar Kanaya. Rufi menggeleng. Tekadnya sudah bulat, dia akan tetap kuliah ditempat terdekat. Karena juga sudah mendaftar di kampus tujuannya.
" Kenapa pulang? jam segini juga papa sudah dijalan. Kau juga tahu papa ku sangat on time, " terang Rufi.
" Ayo ku antar saja. Aku takut terjadi hal buruk padamu tanpa pengawasan mang Didin dan aku, " tegasnya.
" Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri, " terang Kanaya ketus. Kanaya melihat jam di pergelangan tangannya. Dia terkejut, sudah jam delapan lebih.
" Oh aku sudah terlambat. Aku harus cepat berangkat, " ujarnya dan menepis tangan Rufi kasar. Namun cengkeraman tangan lelaki itu sangat kuat melekat hingga dia kesulitan. Lain kali lebih baik dia melewatkan sarapan dan bergegas berangkat saja. Banyak drama membuatnya terlambat.
" Tidak usah masuk, gimana kalau kita jalan-jalan? " tanya Rufi berusaha meredakan amarah Kanaya. Gadis itu menatapnya dengan tidak percaya. Jalan-jalan?
" Aku akan menitipkan mobilku disekitar sini. Lalu kita naik motor saja, " terangnya tersenyum simpul. Dia melepas cengkeraman tangannya dan mencabut kunci yang terpasang di motor lalu tanpa rasa berdosa, dia melangkah masuk ke mobil dan memarkirkan motornya ditempat yang aman. Setelah itu, lelaki itu melangkah menghampiri Kanaya lagi. Dia naik di jok depan dan memasukkan kunci. Kanaya menatapnya pasrah dan ikut naik dibelakang Rufi.
Bolos lagi??? pikirnya.
Rufi tersenyum, salah satu tangannya menarik tangan Kanaya agar memegang pinggangnya. Kanaya manut dengan ragu. Motor segera melaju.
Rufi mengendarai motor dengan pelan. Dia menikmati perjalanan bersama Kanaya di iringi nyanyian ala bisanya. Namun sayang dia harus mencari jalan tikus karena tidak mengenakan helm.
" Kita mau kemana? " tanya Kanaya di samping telinga Rufi.
" Kemana saja, asal tidak ke rumah, " jawab Rufi. Rufi melaju tanpa memiliki tujuan. Dia bingung tapi tidak menghentikan motor. Angin semilir menerpa mereka. Langit mulai tertutup oleh mendung. Sinar matahari yang hangat mulai terasa dingin. Kanaya menikmati perjalanan itu. Memang sudah lama sekali mereka pergi keluar rumah dengan mengendarai motor. Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi, gerimis turun membasahi mereka. Rufi panik, dia berusaha mencari tempat untuk berteduh.
" Kak, cepat. Nanti kita kehujanan, " ujar Kanaya resah. Dia mengeratkan pegangannya di pinggang Rufi dan membenamkan kepalanya di punggung sang kakak. Rufi merasa geli. Apalagi dada gadis itu sedikit menekan punggungnya. Dia menggeliat ke depan hingga motor agak oleng ke samping.
" Kak, hati-hati. Aku takut, " ujar Kanaya. Rufi berkonsentrasi lagi dan berusaha membiasakan diri dengan gerakan Kanaya yang diluar dugaannya.
Di sebuah kedai makanan, dia menghentikan motor. Lalu meminta Kanaya agar ikut masuk bersamanya.
" Sembari berteduh, lebih baik kita makan, " terang Rufi. Kanaya mengangguk. Dia juga kelaparan karena telah melewatkan sarapan.
Kanaya duduk sembari mengibas-ngibaskan rok panjangnya yang sedikit basah terkena air hujan. Sementara Rufi menyugarkan rambutnya sesekali mengusap wajahnya yang basah. Kanaya terkesima menatapnya dalam diam.
Mata yang tajam dengan bulu mata yang panjang, alis tipis yang hampir menyatu ditengahnya, bibirnya merah agak tua masih orisinil karena tidak pernah mencium rokok. Sungguh wajahnya sangat rupawan dan menggoda. Maha karya sempurna seorang kakaknya ini. Kanaya menelan Saliva berat.
__ADS_1