Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
Merindukan


__ADS_3

Sita anggraini, nama wanita muda bermata sipit itu. Dia membelai kepala sang putra dan melempar senyuman ke arah Kanaya dan Rufi. Dengan sedikit menganggukkan kepala, dia juga melambai agar kedua sejoli yang berbicara dengan Adrian datang kepadanya. Rufi menggandeng lengan Kanaya dan menghampirinya,


" Tante, " sapa Rufi. Dia mencoba mengingat sosok wanita muda itu. Meski tak juga ingat siapa dia karena sifatnya yang tidak peduli dengan orang yang tidak disukainya.


" Kau Rufi ya, anaknya Rianti? "tanyanya. Rufi mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang cenderung dipaksakan. Dia memang selalu menjaga jarak dari orang baru.


" Dan kau pasti Kanaya? sudah besar ya? " tanyanya lagi. Tanpa banyak waktu mereka mengobrol satu dengan lainnya. Sementara rumah mulai sesak karena tamu yang berdatangan.


.............


Sudah hampir menjelang petang, seseorang yang ditunggu balasan via whatapps tidak juga membalas. Beribu pesan telah dikirimkan kanaya. Dengan gelisah, gadis itu masih menunggu sembari menatap pintu dapur jika Rufi datang. Namun sampai beberapa jam tidak juga nampak lelaki itu. Dia pun bangkit dan menuju ke lantai dua.


Setelah menginjakkan kaki dilantai dua dan tepat berada didepan kamar Rufi, Kanaya bimbang. Dia bingung harus mengetuk atau tidak. Selang beberapa menit berlalu, dia hanya mematung dengan pandangan kosong ke handle pintu. Namun suara dari pikirannya akhirnya membuat tangannya mengepal dan mengetuk pintu. Tidak ada sahutan. Kanaya mulai gelisah. Dia benci membuat hati dan pikirannya semakin penasaran. Timbul dalam pikirannya untuk membuka pintu. Namun hatinya berdebat lagi. Gila, seorang gadis rendahan seperti dia hendak membuka pintu dan masuk ke kamar majikan mudanya yang rupawan itu? tidak, jangan sampai terjadi.


" Kau mencari Rufi? " tanya seseorang dari belakang Kanaya. Dia menoleh. Dengan tersipu, dia mengangguk dan mencoba tersenyum. Rianti mengernyit. Tidak tahukah jika Rufi tidak ada? aneh atau pura-pura tidak tahu?


" Maaf nyonya, yang saya lakukan memang tidak benar tapi saya benar-benar mencari kak Rufi. Karena sejak siang saya tidak melihatnya. Tidak ada maksud lainnya, " terang kanaya lirih. Sungguh ironis, dia malu mengungkapkan rasa cemas berselimut rindunya kepada Rianti.


" Kenapa kau mencari Rufi? kau tidak tahu jika dia keluar kota? " tanyanya. Kanaya terkejut. Tidak seperti biasanya Rufi pergi tanpa pamit dengannya. Dengan sedikit malu, dia menggeleng lemah. Antusiasnya berubah jadi kecewa mendalam.


" Ini juga sudah malam, cepat tidur. Mungkin besok sudah pulang, " ujar Rianti. Rasa iba memancar dari wajahnya yang keibuan.


" Mungkin nyonya? " tanya kanaya meminta kepastian. Rianti mengangguk dan menjelaskan karena Rufi tidak mengatakan secara pasti kapan akan pulang sebelum tugasnya selesai. Berangkat pun juga sangat mendadak. kanaya berusaha maklum dan berbalik menuju ke lantai dasar, meninggalkan Rianti dengan sejuta rasa yang sulit diartikan. Sementara Rianti menatap punggung sang anak angkat sampai hilang dari pandangannya.


Didalam kamar, kanaya merebahkan tubuh. Netranya menatap ke langit-langit kamar. Dia menghembuskan napas perlahan, melepaskan rindu yang menyiksa hatinya. Diraihnya ponsel diatas nakas dan mencoba untuk menelepon. Tak juga diangkat. Ponsel dalam keadaan mati. Karena kesal dilemparkannya ponsel tak bersalah itu ke meja. Lalu memiringkan tubuh ke kanan. Memejamkan mata, tapi sulit. Netranya terbuka lagi, miring ke kiri. Sama. Kanaya bangkit dan duduk. Dikuceknya kedua matanya dengan kasar. Dia juga merutuki kebodohan Rufi yang melalaikan pamit kepadanya.


Rasa rindu berpendar dihatinya. Kepalanya mulai merasakan pening karena tidak melihat Rufi seharian. Rasa kantuknya telah hilang berganti dengan kesal. Kanaya duduk menunduk. Tangannya mencoba meraih lagi benda pipih tadi yang sempat dilemparkannya. Diteleponnya lagi, masih sama.


" Ahh....kemana sih kamu!!! brengsek!!! " umpatnya.


Dadanya naik turun menahan emosi yang tumpah ruah. Dia menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Tangannya ikut naik turun mengaba-aba dadanya. kanaya berjalan menuju ke jendela.


Dibukanya tirai penutup jendela berlapis kacanya, hanya nampak kegelapan saja. Dia mulai merasakan kesedihan di hatinya. Rasa rindu kini berusaha mencekik lehernya. Tanpa terasa setetes airmatanya luruh, semakin lama semakin deras membasahi kaos oblongnya.


Kak Rufi, kau dimana? aku merindukanmu. Apa yang tengah kau lakukan di luar sana? kenapa tidak pamit padaku? begitu pentingkah hingga melupakanku? apa artinya diriku bagimu? kejam sekali kau padaku?


Kanaya menghapus buliran bening dikedua pipinya. Hatinya sangat sakit, sakit tak berdarah. Dia menutup kembali tirai dan melangkah ke sisi pembaringan. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Kanaya melangkah dengan gontai dan membuka pintu, sang ibu berdiri dengan nampan dihadapannya berisi semangkuk bubur dan sepiring makan malam. Sang ibu yang melihat kanaya menangis bertanya. Diletakkannya nampan di meja dan mengguncang kedua bahu sang anak.

__ADS_1


- Apa yang terjadi? kenapa kau menangis? ada Apa? katakan pada ibu,


Kanaya menggeleng lemah. Bagaimana mungkin dia bisa menceritakan tentang kegalauan hatinya jika dia tengah tersiksa karena merindukan Rufi? Hal yang sangat memalukan dan riskan. Bisa heboh ibunya dan memarahi kelakuannya yang telah jatuh hati pada sang majikan mudanya. Dan bagaimana juga jika sang ibu sampai melapor pada Edwin? bisa-bisa dia diusir dari rumah megahnya karena pria tua itu tidak begitu suka jika dia dekat atau menempel pada Rufi. Apalagi sampai berani mencintainya? Kanaya tahu perubahan sikap pria itu kepadanya saat Rufi didekat atau membelanya. Ya pria itu meski mengangkatnya sebagai anak bukan berarti mau jika suatu saat dia menjadi menantunya. Pria itu pasti memilih gadis yang sederajat dengannya.


Kanaya menelan ludah dengan berat. Dia sadar posisinya meski rasa cintanya telah menghancurkannya perlahan. Kanaya menatap wajah sayu sang ibu.


" Aku merindukan ayah, bu. Besok kita ziarah ke kuburnya ya? " tanya kanaya.


" Ehghh...." ujar sang ibu dengan isyarat tangan. Wajahnya mulai menunjukkan kelegaan karena anaknya telah mengutarakan kesedihannya. Diusapnya dengan lembut punggung sang anak dan memintanya segera makan. Namun saat bangkit, langkahnya tertahan karena kanaya memegang erat pergelangannya.


" Tidur disini saja, bu. Temani Aku, " pinta kanaya. Wanita itu lalu duduk sembari memperhatikan anaknya memasukkan makanan demi suap ke mulutnya.


Bayangan Angel berkelebatan di pikirannya. Gadis seksi yang hobi mengenakan rok mini itu tengah tersenyum kepadanya dengan menarik Rufi menjauhinya. Sementara Rufi tidak menoleh sama sekali, mendengar panggilan Kanaya tanpa henti. Rufi seolah bebal atau tuli.


Angel tersenyum puas dan melambaikan tangan kepada kanaya yang duduk tersungkur dengan tangan terulur menjangkau Rufi. Namun sia-sia belaka. Rufi tidak menghiraukannya sama sekali. Lelaki rupawan itu seperti lupa dengan sosok kanaya yang mengisi hari-harinya.


" Tidak.....!!!!! " teriak Kanaya.


" Jangan pergi kak!! jangan tinggalkan Aku...." ujar kanaya menghiba. Namun tidak ada sahutan, Rufi terus melangkah bersama dengan Angel. Kanaya panik berusaha bangkit tapi kedua kakinya seakan dirantai oleh sesuatu yang kasat mata. Kanaya merangkak sembari terus memanggil Rufi meski tetap saja lelaki itu tidak menghiraukannya. Tangan gadis itu juga terulur meraih tangan Rufi yang semakin lama semakin menjauh dan hilang dalam kabut.


" Ternyata mimpi, " ujarnya. Dilemparkannya selimut lalu dia bangkit untuk segera membersihkan diri.


Diruang makan telah nampak Edwin bersama istrinya. Mereka sarapan diselingi obrolan ringan dan senda gurau. Kanaya mendekat, meraih sebuah buah dan meminum susu yang tersaji ditempat duduknya. Dia terus menunduk menghindari tatapan heran dan tanya kedua majikan besarnya. Namun nahas, Rianti tahu mata bengkaknya akibat teracuni oleh rasa rindunya terhadap Rufi.


" Kanaya, ada Apa? kau menangis semalam? " tanyanya. Mau tidak mau kanaya menatap wajah Rianti, hingga terlihat jelas wajah sedihnya meski telah dikaburkan dengan sedikit make up. Edwin turut memperhatikan anak angkatnya itu.


" Saya hanya....sedikit merindukan ayah, " jawab kanaya dengan ragu. Yang pasti dia telah berbohong. Akarnya adalah Rufi. Lelaki itu menghilang tanpa kabar. Dan itu menyesakkan hatinya.


Maafkan aku, ayah. Aku membawamu dalam masalahku. Kau tahu, Aku merindukan Rufi.


Edwin dan Rianti terus memperhatikan kanaya yang salah tingkah karena tidak pandai mengkamuflase suatu hal. Dia menggigit bibir dan memainkan jemarinya. Suasana tegang dirasakannya karena hujaman tatapan ketidak percayaan Edwin menembus relung hatinya. Pria itu seolah mengulitinya, membaca kebohongannya.


" Kau merindukan ayahmu? benarkah itu?? " tanyanya memastikan. Pria itu masih santai dengan menghabiskan makanan di piringnya. Sementara Kanaya mulai berkeringat dingin. Ujung lidahnya hendak meluruskan dengan menjawab merindukan Rufi. Namun sebelum kata-kata memalukan itu terlontar darinya, Rianti memotong pertanyaan sang suami yang cenderung menyelidikinya.


" Sudahlah pa, hentikan pertanyaanmu. Baiklah kana, lalu apa yang kau inginkan? kau ingin mengunjungi makamnya? " tanya Rianti bijak.


Bagai disiram air es, ketegangan yang sempat dirasakan oleh kanaya mencair, lebur. Dengan cepat dia mengangguk agar segera pergi, berangkat sekolah meninggalkan Edwin yang dirasuki jiwa curiga tingkat dewa.

__ADS_1


" Pulang sekolah kau bisa mengunjungi dan berziarah ke makamnya, Kana. Kau bisa mengajak mang Didin turut mengantarkanmu, " jelas Rianti.


" Oh ya, semalam kau bicara dengan siapa didepan kamar Rufi? " tanya Edwin sembari melirik tajam ke arah kanaya yang tersentak. Gadis itu menunduk dalam, menghitung angka dalam hati.


" Semalam? didepan kamar Rufi? " tanya Rianti mencoba mengingat. Netranya berpendar menatap langit-langit. Rupanya wanita muda itu hilang ingatan dalam sesaat. Kanaya merasa gugup.


" Kanaya, pa. Dia nyari Rufi, " terang Rianti. Sekejap Edwin langsung menatap tajam kanaya yang tetap pada posisinya, menunduk dan mematung. Pria itu menghembuskan napas kasar. Kemaklumannya kepada anak perempuan yang diangkatnya sebagai anaknya kini berubah menjadi kesal. Dia merasa jika gadis itu mempunyai niat tersembunyi kepada sang putra semata wayangnya. Apalagi kedekatan mereka yang tanpa batas kewajaran atau hanya perasaannya sajakah??


" Ada apa kau mencari Rufi menjelang larut? " cecarnya.


" Kau tidak tahu pukul berapa semalam saat kau didepan kamar Rufi? " tanyanya. Karena pria berstatus orang tua Rufi itu tengah melangkah menuju ke ruang baca. Terdengar sayup suara sang istri hingga membuatnya melongok ke lantai dua. Karena terhalang oleh pembatas hanya nampak punggung sang istri, akhirnya dia pun meneruskan niat awalnya dan menanyakan hal itu saat sarapan.


Kanaya menunduk, jantungnya berdebar kencang karena malu dan takut. Pertanyaan Edwin seolah menuduhnya hendak berbuat hal mencurigakan.


" Jawab kana? kau tidak tuli kan? " cecarnya kini dengan sedikit menggeram karena kanaya tetap diam membisu menutupi ketakutannya. Benar pria itu tidak menyukainya berdekatan dengan Rufi. Ada amarah yang ditahannya karena ada sosok Rianti yang menyuapkan sendok ke mulutnya dengan berdehem berulang kali. Wanita itu tidak mau ada kekacauan saat menyantap makanan.


" Saya.....hanya....mencarinya saja tuan, " jawab kanaya terbata-bata. Kanaya nampak terkejut karena edwin menegurnya. Bahkan tangannya sempat gemetar karena takut.


" Pa, bisakah kau bersikap lembut kepada Kanaya? lagian dia mau ngapain juga? " tanya Rianti sedikit tersinggung. Baginya kanaya anak yang manis dan polos. Dia meyakini jika sang suami hanya termakan oleh banyaknya prasangka yang tidak mendasar dan berlebihan. Kanaya adalah anak perempuan angkatnya dan tidak pernah merendahkannya atau bersikap kasar kecuali jika dia melakukan sebuah kesalahan yang jelas-jelas fatal.


" Kana, cepat berangkat gih, " ujar Rianti dengan mengisyaratkan kepala. Edwin yang masih penasaran dengan kelakuan kanaya hanya mendengkus kesal. Nyalinya menciut karena sang istri terlihat mulai marah. Dia diam meski netranya masih menunjukkan sisa amarah kepada Kanaya. Dia hanya takut jika gadis itu mencoba menggoda Rufi di kamarnya.


" Baik nyonya, terima kasih, " ujar kanaya. Kanaya mengangkat kepala dan mengangguk berulang dengan mata berbinar. Sorot ungkapan terima kasih dan syukur karena terbebas dari edwin. Dia melesat seperti angin ribut karena tanpa sengaja menabrak benda yang dilewatinya. Melihat kecerobohannya, Rianti tersenyum. Sementara Edwin makin membenarkan prasangkanya jika gadis itu memang ada niat lain, entah apa?


Usai kepergian Kanaya, Rianti meletakkan sendok dan menatap sang suami. Pria yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, memberinya segenap cinta dan segalanya. Meski mulai menua tidak pernah pria itu menyakitinya dengan ucapan kasar maupun bermain api dengan wanita lain. Edwin sangat lembut dan penyayang.


" Jangan mencurigai kanaya, aku tidak suka. Sikapmu seperti Rufi saja? " tanya Rianti mengingatkan. Edwin tersedak mendengar pertanyaan istrinya. Segera diraihnya segelas air putih agar meredakan tersedaknya.


" Jangan menyamakanku dengan Rufi, bedalah. " bantahnya. Rianti bangkit dan mengusap punggung sang suami. Berusaha meredakan tersedaknya.


Sementara diluar, Kanaya mengatur irama detak jantungnya yang hampir meloncat karena takut dengan Edwin. Sungguh pria itu seperti hendak menerkam andai tahu kebohongannya dan berani mencintai putranya. Kanaya tahu hal itu. Tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa yang kian subur di singgasana hatinya. Mang Didin menatap sekilas lalu mulai menyalakan mesin.


Tatapan kanaya terkunci saat beradu pandang dengan lelaki rupawan yang berdiri tegak didepan mobil. Lelaki dengan model rambut semrawut, kemeja yang tergulung di salah satu lengan, dan tas punggung yang telah jatuh di tanah.


Kanaya mengusap kedua matanya, menyadarkan jika pemandangan tak biasa itu hanya halusinasinya saja akibat berlebihan membayangkan sosok lelaki rupawan nan mempesonanya sejak ingusan. Tapi lelaki itu tetap tegak sembari merentangkan kedua tangannya hendak menjemput pelukan hangat darinya.


" Non, itu den Rufi manggil-manggil dari tadi. Cepat turun dan samperin gih, " ujar mang Didin menyadarkan ketidak percayaannya.

__ADS_1


__ADS_2