Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
Dia milikku


__ADS_3

Bel pulang berdering. Semua murid berhamburan keluar kelas hendak pulang ke rumah. Ada yang sembari ngobrol, setengah berlari, maupun berlari kencang menuju ke parkiran.


Bella duduk dengan Hendi menunggu Kanaya. Mereka berencana ingin main ke rumahnya. Sekalian Bella juga ingin mengorek informasi tentang Kanaya yang membuatnya penasaran. Karena selama setahun setengah menjadi teman sebangku, gadis berkulit putih pucat itu tidak pernah menceritakan seluk beluk keluarganya. Hendi yang mengetahui rencana Bella pun turut serta. Lelaki yang jatuh cinta setengah mati kepada Kanaya itu ingin lebih kenal dan dekat dengan keluarganya. Terlepas dari keturunan bangsawan ataupun kalangan biasa, dia tidak ambil pusing. Dia siap dengan kenyataan yang akan di jemputnya didepan mata.


Kanaya melambai kedua temannya dan setengah berlari gegas menghampiri. Ditangannya mengepit sebuah buku yang belum sempat dimasukkannya ke dalam tas. Sementara tangan satunya memegang tas yang masih terbuka. Maklum dalam acara salin-menyalin,dia sangat lamban, meski hanya beberapa baris saja. Saat dekat, dia berhenti dan mengatur napasnya yang ngos-ngosan, dia juga memasukkan bukunya dengan tergesa hingga berjatuhan isi lainnya. Mereka berjongkok mengambil buku dan memberikannya kepada Kanaya.


" Terima kasih ya. Kalian memang my best friend forever, " ujar Kanaya. Bella tersenyum dan ikut berdiri. Sementara Hendi manyun, tidak terima dengan label dari Kanaya.


" Harusnya my beloved, " ujar Hendi. Kanaya dan Bella menoleh tajam ke arahnya yang disambut nyengiran oleh Hendi.


Mereka lalu berjalan bersama menuju ke luar sekolah. Disebuah mobil berwarna merah, mereka berhenti. Kanaya merogoh ponselnya ditas dan menghubungi seseorang. Sesekali dia merengek, menghiba. Hendi terus memperhatikan kemanjaan yang baru pertama kali ini ditunjukkan oleh Kanaya. Dia sangat gemas. Bella menyenggol bahunya, menyadarkan ketakjuban yang tanpa di sengaja ditunjukkannya.


Usai dengan acara meneleponnya, Kanaya masuk ke jok belakang mobil Hendi. Duduk bersisian dengan Bella yang terkantuk-kantuk.


" Sayang, duduk samping aku sini, " ujar Hendi dengan menepuk jok disampingnya yang tersisa sedikit tempat. Sementara yang mengemudi adalah sopir Hendi. Keinginan Hendi duduk berdekatan atau di pangkuannya. Kanaya menggeleng.


" Gimana nanti aku tahu rumahmu? jika kamu dibelakang? sini sama aku, " ujar Hendi. Kini dia menepuk pangkuannya.


" Hen, nanti aku beri arahan dari sini. Sama aja kan. gak usah bingung, " terang Kanaya. Dia ingin memejamkan mata sebentar sama dengan yang dilakukan oleh Bella. Tubuhnya sangat lelah. Lagian permintaan Hendi sangat memalukan.


" Tapi Kan,....? " seru Hendi tertahan. Kanaya melambaikan tangan agar dia tidak ngeyel dan meminta sopir Hendi segera melajukan mobil. Matanya juga terpejam dengan bersandar di jok. Hendi nyengir. Dia merasa kecewa untuk kedua gadis itu. Meski jengkel tapi dia tetap senang semobil dengan Kanaya. Sebenarnya acara ini dadakan dan Kanaya mau menuruti keikutsertaannya. Itu sungguh hal yang membahagiakannya. Terlepas kejutekannya yang selalu kalah dalam ketidaktegaannya.


Hendi terus menatap Kanaya dari spion. Dia bersyukur dalam hati gadis itu mau mengajaknya pulang. Meski harap-harap cemas jika yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Dia berusaha menenangkan diri.


Mobil terus melaju hingga sampai di persimpangan jalan. Hendi memanggil Kanaya yang pulas. Gadis itu menguap dan membuka mata. Sembari mengumpulkan nyawanya, tangan kanannya menunjukkan suatu arah. Dia juga membenarkan duduknya menatap depan. Hendi manggut-manggut. Hatinya bersorak karena sebentar lagi tiba. Dia akan bertemu dan melihat calon mertuanya?


Di sebuah rumah berpagar rendah setengah terbuka, nampak seorang lelaki remaja yang tengah memarahi pria paruh baya yang memakai baju safari hitam. Pria baya itu menundukkan kepala. Kanaya menutup mulutnya tanpa sadar. Rupanya Rufi tengah memarahi mang Didin. Apalagi kalau jika bukan sumber masalahnya dari dirinya yang menolak pulang bersama pria itu.


Setelah mobil terparkir dan berhenti di bahu jalan, mereka gegas turun. Bella mengernyit, jika rumah yang akan didatangi sedang ada kekacauan. Kanaya diam untuk beberapa saat. Dia ragu karena melihat tuan muda majikannya sedang dalam keadaan marah. Rasa malu dan takut menyergapnya.


" Lain kali aja, ya? Kita jalan-jalan kemana yuk,? " ajaknya sembari menggandeng tangan Bella kembali ke dalam mobil. Dia tidak enak hati sembarangan mengajak teman ke rumah yang sebenarnya bukan rumah miliknya. Dia takut Rufi akan menolak dan mempermalukannya.


" Kenapa kita sudah sampai Kana, " ujar Hendi kecewa. Kanaya gusar.


Tiba-tiba seseorang menarik tangan Kanaya. Mereka semua terkejut dan menatap seksama lelaki itu.


" Ayo masuk, mau kemana lagi? " tanyanya dengan terus memegang erat tangannya. Itu adalah Rufi.


" Kemana-mana, " jawab Kanaya asal.


" Ini siapa kan? " tanya Hendi. Sebenarnya dia tidak suka dengan caranya memperlakukan Kanaya, sangat kasar. Andai dia tahu siapa dia yang sebenarnya, akan dia protes. Tapi dia berusaha menahan diri dan melihat kondisi.


Rufi menatap tajam Hendi dari ujung kepala hingga kaki. Rasa tidak suka ditunjukkan Rufi dengan jelas membuat Hendi ikut menatap tajam balik. Hingga keduanya terlihat saling tegang untuk beberapa menit.

__ADS_1


" Kenalkan di... dia.. " ujar Kanaya terpotong.


" Aku kakaknya, " sahut Rufi ngegas. Bella terkejut. Kanaya menjadi semakin tidak enak hati dengan kedua temannya. Dia baru tahu jika Kanaya mempunyai kakak lelaki yang sangat rupawan meski terlihat sangar. Dengan postur tinggi menjulang bak atlet basket. Bella diam-diam mengaguminya. Hendi yang mengetahui perubahan sikap Bella menepuk bahunya. Mengagumi lelaki galak itu? Hai sadar Bella?


Rufi menarik tangannya untuk segera masuk pelataran rumah meninggalkan kedua temannya yang masih terpaku disamping mobil mewah Hendi. Kanaya tertahan. Dia berusaha menjelaskan niatnya.


" Maaf kak. Aku mengajak mereka main kesini. Boleh tidak? " tanyanya. Rufi menoleh kepada Kanaya. Gadis itu memasang raut melas nan menyayat hati. Rufi yang tidak tahan dengan Kanaya, membuang muka ke sembarang arah.


" Aku janji kak, mereka tidak akan merusak rumahmu nan mewah bak istana ini kak, " terang Kanaya. Hendi dan Bella berpandangan dan mulai menyadari jika rumah ini bukan milik keluarga Kanaya. Bella menarik tangan Kanaya dan membisikkan sesuatu ke telinga Kanaya yang kemudian dijawab dengan berbisik pula. Rufi masih diam ditempat dengan netra tajam ke arah Hendi yang tidak hentinya mencuri pandang kepada Kanaya. Entah mengapa dia tidak suka sang adik terus jadi perhatian lelaki lain. Meski sebatas teman atau sahabat, dia tidak suka.


" Kau, ya kau. Lihat arah lain bisa!? " hardik Rufi yang mengejutkan Hendi. Dia langsung memalingkan muka ke sembarang. Dasar egois, tahu aja yang aku lakukan? pikir Hendi.


Sebenarnya Rufi tidak suka Kanaya mengajak temannya main ke rumah tanpa mengabarinya terlebih dahulu tapi apalah daya. Dengan berat hati dia pun mengangguk dan masuk ke rumah diikuti oleh ketiga anak putih hijau itu. Bella menggandeng erat Kanaya, dia agak sungkan dan takut. Sementara Hendi melangkah santai dibelakang mereka. Baginya Rufi tidak ada apa-apanya dibandingkan dia.


Pelataran rumah sangat asri dengan banyaknya berbagai pot bunga maupun dedaunan besar yang menjulang. Disudut pagar juga ada pohon yang rendang dengan bangku di sampingnya. Rufi mempercepat langkah masuk ke dalam rumah, sementara Kanaya melambatkan langkah dan berhenti di teras.


" Ada apa? "tanya Hendi. Rasa penasaran membuncah di dadanya. Rumah mewah dengan kakak lelaki yang menyebalkan, juga Kanaya yang tidak pernah sombong pamer kepada semua temannya.


" Sebenarnya ini bukan rumahku. Maaf ya, rumahku di kampung jauh sana, " terangnya dengan tangan menunjuk ke selatan. Bella dan Hendi mengangguk. Ibu Kanaya menghampiri dan meminta Kanaya mengajak kedua temannya dikamar saja. Bella terkejut bukan kepalang melihat wanita yang dipanggil ibu oleh Kanaya. Wanita yang bisu dan berpakaian sangat sederhana. Mengertilah Hendi jika Kanaya adalah seorang anak pembantu di rumah itu. Rasa ilfeel mulai menyergap hati dan membuatnya kacau. Antara mempertahankan cinta atau menyudahinya sampai disini. Hendi mulai salah tingkah karena keterkejutannya menghadapi kenyataan didepan matanya. Kanaya tersenyum melihat Hendi yang terlihat murung.


" Kau ingin pulang? " tanya Kanaya santai. Suka atau tidak sukanya Hendi tidak masalah baginya. Menurutnya juga malah lebih baik jika lelaki itu segera melupakan dan menjauhinya saja. Terlalu sering dia menyakiti lelaki gendut nan royal itu. Tapi Hendi menggelengkan kepala, meski hati dan pikirannya sedang berperang.


" Kanaya terus yang tadi benaran kakakmu? ganteng banget! " seru Bella. Nampak rasa tidak masalah dalam raut wajahnya. Berteman dengan Kanaya adalah anugerah terbesar dihidupnya. Karena dialah yang selama ini menyadarkan jika hidup tidak serumit dipikirannya saat menghadapi kegalauan. Hidup adalah perjuangan untuk sabar dan terus berusaha meski kadang usaha terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi berusaha jauh lebih baik daripada berdiam diri mengeluh dan meratapi nasib.


" Kita ke kamarku saja, " ajak Kanaya. Bella manut dan menggandeng tangan Kanaya masuk ke rumah. Hendi turut meski ragu. Bayangkan masuk ke kamar Kanaya? Apa kata teman-temannya jika tahu???


Rumah besar bercat putih dengan gaya Scandinavian itu nampak lengang. Mereka terus melangkah melewati ruang tamu, keluarga, baca menuju ke sebuah ruangan yang agak ke belakang. Tibalah di depan tiga ruangan kecil. Kanaya membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Tiba-tiba seseorang mencekal tangan Hendi dan menariknya keluar dari ruangan yang bercat serba coklat itu.


" Kenapa kau ikut masuk? lebih baik kau duduk disini sama aku!? " ketus Rufi kepada Hendi yang terkejut. Lagi-lagi kau? dasar pengacau?!!!! umpat Hendi dalam hati.


" Apa katamu? " tanya Rufi. Hendi terkejut Rufi seolah bisa mengetahui umpatannya dalam hati. Dasar cenayang!!?


" Apa lagi? " tanya Rufi galak.


" Tidak kak, tidak apa-apa, " jawab Hendi gelagapan.


" Sini temani aku saja. Kau lelaki jangan membiasakan diri masuk ke kamar cewek. Paham? " tanya Rufi yang dijawab anggukan kepala oleh Hendi.


Bagaimana aku bisa tahu siapa sebenarnya Kanaya? menyebalkan sekali. Dasar pengacau tua!!! umpatnya lagi.


Sementara Kanaya yang mendengarkan ucapan Rufi mendengkus kesal.


" Jangan mengejek orang, kau sendiri juga sama, " ujarnya.

__ADS_1


" Kau bicara dengan siapa? " tanya Bella.


" Tidak, tidak apa-apa" jawab Kanaya.


Bella duduk di kursi yang menghadap ke cermin dengan meja yang nampak sederhana bercat putih. Di sampingnya ada lemari dengan berbagai kotak diatasnya.


" Kamarmu bagus dan rapi, " pujinya. Netranya mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


" Apa benar tadi yang terlihat seperti pembantu itu ibumu? " tanya Bella. Kanaya mengiyakan dan mulai menceritakan tentang dirinya yang sebenarnya yang tidak diketahui oleh temannya disekolah. Bukan malu lebih ke menjaga hal privasi.


" Dan setelah tahu kau tidak mau jadi temanku lagi ya? " tanya Kanaya minder. Dia menunduk dalam. Bella memeluknya erat.


" Kau bodoh jika punya pikiran seperti itu. Aku hanya terkejut saja jika kau punya kakak angkat seganteng dan sesempurna itu, " bisiknya takut terdengar oleh orangnya karena masih sibuk berjaga di depan bersama Hendi. Hati kanaya tersentil mendengar pengakuan Bella.


" Apa kau suka? " tanya. Bella menatap ke langit-langit kamar Kanaya dan mengedipkan mata berulang-ulang.


" Gimana ya? gimana enaknya? ha ha ha..... " ujar Bella sembari tertawa. Kanaya mencolek bahu Bella agar menghentikan tawanya. Baginya Rufi bukanlah lelucon garing, dia tidak suka. Bella pun menghentikan tawa dan menatap Kanaya lekat-lekat.


" Sepertinya dia suka padamu, Kan. Aku lihat dia terus memperhatikanmu dan tidak suka melihat Hendi, " terangnya dengan berbisik. Kanaya tersipu, dia mengangguk.


" Dia cemburu melihatmu bersama Hendi, " tambahnya.


Kak Rufi menyukaiku? benarkah?


Tiba-tiba Bella kembali tertawa dan menepuk punggung Kanaya berulang kali hingga Kanaya terguncang-guncang.


" Wah seperti drama yang kulihat, kukejar adikku ku hempaskan pacarnya, " tambahnya lagi. Kanaya mengedikkan bahu dan minum es jeruk yang disajikan ibunya dinampan untuk mereka. Lelucon garing?


Mengertilah Kanaya jika Bella hanya sekedar menebak. Gadis itu masih tertawa melihat ekspresi Kanaya hingga dia hampir menangis.


Sementara diluar kamar, Rufi terus mengamati Hendi. Tidak dibiarkannya menoleh melihat Kanaya dan Bella didalam kamar dengan pintu terbuka. Lelaki berseragam putih hijau itu harus menatapnya atau tembok didepannya. Meski kesal tapi Hendi tidak berani menolak. Padahal rasa keingin tahuannya terhadap Kanaya sangat besar. Hingga dia berpikir akan bertanya saja pada lelaki tua di sampingnya yang mengganggunya ini.


" Kak, apa benar kau kakaknya Kanaya? " tanyanya.


" Eehhmmmm.... ya. Kenapa emangnya? kau tidak percaya??? " tanyanya.


" Kok tidak mirip? " tanya Hendi.


" Memanglah tidak mirip. Aku kan cowok, Kanaya cewek. Gimana sih kamu? kalau mirip ya kembar lah!? " ujarnya ngegas. Lagi-lagi Hendi terkejut. Sungguh lelaki tua ini sangat hobi berkata lantang. Beruntung dia tidak punya riwayat penyakit jantung dan berat lainnya. Bila-bila dia anfal???


" Itu kak, maksudku kalau saudara kan ada kemiripannya dikitlah. Misal mata, hidung sampai jenongnya? " ujar Hendi. Rufi menangkup wajah Hendi dan mengharapkan ke arahnya hingga lelaki itu terkejut setengah mati atas perlakuan anehnya.


" Lihat aku dengan teliti, ni... ini. Semuanya sama dengan Kanaya. Aku kakaknya, kau pikir aku nipu kamu hah?!!! " teriaknya lagi?

__ADS_1


Hendi menggeleng kuat-kuat dengan wajah yang masih dipegang oleh Rufi erat. Dia berupaya melepaskan pegangan tangan Rufi dari wajahnya. Sungguh menjijikkan kelakuan Rufi padanya.


__ADS_2