
Kanaya bangkit dan berdiri. Dia juga melangkah menuju ke pintu keluar. Hatinya panas karena cemburu menjalar sampai ke kepala yang dirasakannya mau meledak saja.
Bella berusaha memanggil dan mengejar langkah kanaya yang panjang-panjang. Gadis itu meninggalkan begitu saja sisa makanan yang masih berserakan di bangku. Kepergian temannya jauh lebih penting daripada urusan perutnya.
" Kanaya, tunggu aku?! " teriaknya memecah keramaian lalu lalang pengunjung.
Namun kanaya tidak mendengar teriakan yang cukup keras itu karena tenggelam oleh suara musik jazz yang mengalun dalam mall. Dia terus melangkah dengan gigi gemeletukan karena menahan amarahnya melihat kelakuan Rufi yang serasa memanasinya. Dia termakan cemburu yang dirasakannya sendiri. Dia terus merutuki kekecewaannya mengajak lelaki itu hingga membuatnya hampir kehilangan kesabaran. Hingga diluar mall, dia baru menyadari bahwa telah melupakan suatu hal. Dia pun berhenti mencoba mengingat, hingga....
" Bella, oh tidak?! Aku meninggalkannya? Aku harus kembali ke tempat tadi, oh sial!! " gerutunya.
Kanaya kembali masuk, namun tiba-tiba saja Bella sudah berada beberapa meter didepannya. Bella menegurnya saat dekat. Dia tidak habis pikir kenapa ditinggalkan begitu saja olehnya?
" He he aku lupa, " ujar Kanaya dengan nyengir. Tangannya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Cemburu dan marah membuat logikanya seakan berhenti.
Untuk menghentikan omelan Bella yang semakin tidak terkontrol, Kanaya menggenggam erat tangan sahabatnya itu dan mengajaknya ke suatu tempat guna meminta maaf. Dan mereka pun melangkah bersama semakin jauh meninggalkan mall dengan matahari yang semakin menyengat.
Malam hari usai menyantap makan malam, Kanaya membantu ibunya mencuci piring. Dia mencuci dengan bernyanyi ala lagu kesukaannya. Dia sangat gembira karena meski pulang terlambat sang ibu tidak menegurnya. Rufi juga tidak terlihat. Karena dialah lelaki terdepan yang akan menceramahinya hingga telinganya serasa dipenuhi oleh ribuan lebah yang bising.
Dia pasti masih bersama Angel. Dasar cewek gatel, semua diembatnya. Apa sih hebatnya gadis itu? Mata Rufi udah jeleng?!
Kanaya menggerutu dalam hati hingga tanpa sadar lelaki yang jadi topik pikirannya berdiri dibelakangnya dengan terus memperhatikannya melakukan pekerjaan. Dia tersenyum melihat kanaya yang kadang kala tubuhnya bergoyang menggosok piring. Gadis itu seakan tengah berjoged asoy geboy......
" Ehm....." Rufi berdehem agar gadis itu tersadar dengan kehadirannya. Benar saja Kanaya nampak tersentak dan menghentikan gerakan tangannya serta mempertajam pendengarannya. Namun hal itu tidaklah lama, kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
Rufi melangkah mendekat dan meletakkan kedua tangannya di meja antara kedua pinggang kanaya. Tubuhnya menempel punggung kanaya hingga gadis itu menghentikan apa yang dilakukannya lalu berusaha menoleh ke kanan karena hembusan lelaki itu dirasakannya disebelah itu. Lelaki itu nyengir.
" Apa?? " tanyanya dengan mimik yang menjebol iman Kanaya ditambah dengan aroma parfum maskulinnya yang creamy. Jantung gadis itu terpacu kencang membuatnya hampir menjatuhkan salah satu gelas mahal milik sang pemilik rumah. Beruntung Rufi sigap menangkap gelas yang hampir celaka itu. Kanaya berusaha meredam gejolak tubuhnya yang meningkat. Dia meminta maaf dan berusaha melepaskan diri dari kuncian tangan Rufi. Lalu mengambil jarak agak jauh dari lelaki itu agar bisa berpikir normal dan mengendalikan dirinya.
" Ada perlu apa? Aku sibuk!!! " ujarnya ketus. Kanaya tidak mengharapkan kehadiran lelaki rupawan itu untuk saat ini. Dia masih sangat kecewa dan marah. Kakaknya itu seperti tengah mempermainkan hatinya meski tidak pernah ada balasan tentang rasa yang pernah diutarakannya tempo hari.
Rufi menggeleng dan bersidekap dengan terus menatap kanaya. Gadis itu nampak marah meski terselip semburat malu di rona wajahnya. Rufi tersenyum melihat kanaya yang bisa dibacanya tanpa bertanya. Pengungkapan di garasi itu memang nyata. Gadis itu benar-benar mempunyai rasa berbeda terhadapnya. Tapi kenapa dia saat ini seperti sedang marah?
" Kenapa kau menjauhiku? " tanya Rufi dengan menaikkan alis. Kanaya tersenyum getir.
Bisa-bisanya kamu bertanya seperti itu? Tentu agar aku tidak pingsan berdekatan denganmu. Dasar bodoh? Dan lagi apa yang kau butuhkan dariku? Sudah ada Angel juga!
Kanaya melangkah menuju ke tempatnya semula untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat terhenti. Dia harus segera menuntaskannya. Apalagi malam juga semakin larut. Dan lagi besok dia juga harus sekolah.
" Tidak, aku sedang sibuk jadi tolong jangan ganggu aku!! " terangnya.
Pasti kemarin dia cemburu melihatku bersama dengan Angel? Baru tahu aku, pikir Rufi.
" Kenapa kau marah padaku? Apa kau.....cemburu? " tanya Rufi. Dia mencoba menerka bahasa tubuh Kanaya.
" Tidak, cemburu dengan siapa? Biasa aja!! " jawab Kanaya ketus.
Tau dirilah, cemburu ma siapa. Dasar bodoh! Kau benar-benar menyebalkan!! Aku membencimu!!!!
__ADS_1
" A...n...g...e...l Angel??? " tanya Rufi.
Bodo.......
Tapi Kanaya hanya menjawabnya dalam hati. Sungguh dia masih sangat kesal pada lelaki itu.
Melihat Kanaya terdiam tapi cemberut, Rufi tambah gemas. Dia mencoba menggodanya lagi, dihampirinya kanaya. Kedua tangannya melingkar di perut gadis itu. Kanaya tersentak untuk kedua kalinya. Rufi berdiri tepat dibelakangnya.
Tangan kanannya menangkap tangan Kanaya dan meletakkan spon pencuci ditempatnya. Kanaya manut dengan berdebar. Lalu Rufi meletakkannya di dada sebelah kiri.
" Kau ingin merasakan ini? " tanya Rufi. Kanaya terdiam mencerna perkataan Rufi. Rufi mengangguk tanpa menjelaskan maksudnya. Kanaya pun mencoba menyelami sendiri dengan pikirannya yang semakin ruwet karena didekat Rufi, lagi?????
Detak jantung? pikir Kanaya.
Kanaya mencoba merasakan detak itu tanpa berbalik. Sementara Rufi terus menatap rambutnya lekat. Tidak ada yang istimewa, detak itu biasa saja. Normal beraturan.
" Apa aku boleh merasakan detak jantungmu? " tanya Rufi. Kanaya terkesiap. Dia menarik tangannya. Rufi berusaha membalik tubuh Kanaya agar menghadap padanya. Dan anehnya Kanaya hanya diam dan menurut saja? Setelah mereka berhadapan, Rufi tersenyum.
Dengan jarak yang begitu dekat, Rufi baru menyadari betapa cantiknya gadis itu. Meski dengan sapuan bedak yang tipis. Gadis itu telah beranjak dewasa dan menawan. Dan kini gadis itu seperti menyembunyikan rasa gugup dan malu dihadapannya. Alangkah lucu dan menggemaskannya???
Bagaimana boleh? Tidak boleh!!! Jantungku serasa mau copot dengan detak yang semakin cepat, pikir Kanaya.
Rufi mendekatkan wajah semakin dekat dengan Kanaya. Pikirannya yang biasa saja tiba-tiba dirasuki oleh sebuah gelora aneh. Ditambah dengan suasana yang mendukung, berdua saja dengan Kanaya. Dia hendak melakukan hal gila.
Cup......
Apa yang telah aku lakukan? Aku menciumnya? Gila!! ceracau Rufi dalam hati.
Kanaya pun terkejut, menatap sekilas Rufi lalu menghindar, pergi ke kamarnya meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai begitu saja. Apa yang dilakukan Rufi membuatnya malu.
" Kau memang mencintaiku. Cobalah merubah irama detak ini. Itu berarti aku telah jatuh cinta kepadamu, " lirih Rufi sepeninggal kanaya. Dia menyentuh bibirnya dengan jemarinya sembari tersenyum.
" Apa yang telah aku lakukan padanya barusan?? " tanya Rufi. Dia menyentuh bibirnya lagi dan memandang ke segala penjuru.
" Apa aku telah jatuh cinta kepadanya atau hanya penasaran sajakah? " tanyanya pada diri sendiri.
" Lebih baik aku tidur! " gerutunya.
Didalam kamar, Kanaya mengunci pintu. Memandang pantulan wajahnya dicermin. Mengusap bibirnya yang telah tercuri dengan jemari. Meski hanya ciuman biasa, dia sangat bahagia.
" Ini adalah ciuman pertamaku, kak Rufi yang mendapatkannya. Apakah itu berarti dia juga mencintaiku?? Oh Tuhan terima kasih, dia membalas perasaanku? " ujar kanaya.
Malam itu dia berbaring dengan hati penuh sukacita. Ciuman pertama yang tak terduga. Ciuman yang tak biasa dilakukan oleh Rufi kepadanya. Karena lelaki itu biasa melakukannya di kening.
Kanaya menepuk-nepuk pipinya. Memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Memeluk dirinya dimalam yang sunyi. Tapi rasa hatinya yang membuncah karena bahagia sulit untuknya terpejam. Netranya menatap langit kamar yang gelap karena lampu telah dipadamkan. Ingatannya mengulang kembali peristiwa didapur tadi.
Oh apakah ini mimpi? Apakah kak Rufi mencintaiku? Lalu apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya besok? Dan jika tuan dan nyonya sampai tahu, bagaimana kalau kami saling mencintai? Apakah mereka akan membenci dan mengusirku? Bagaimana dengan ibuku? Aahhhh.....aku jadi gila.
__ADS_1
Kanaya menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Kini pertanyaan yang menggema dipikirannya membuatnya menjadi putus asa. Karena dia tahu kedua orang tua angkatnya alias tuan dan nyonya besar pasti akan mencarikan pendamping yang sederajat dengan mereka. Dan Rufi yang terlahir menjadi anak tunggal mewarisi semua kekayaan mereka esok tentulah tidak akan sembrono menerimanya karena berasal dari kalangan bawah. Terbukti semua teman perempuannya dari kalangan atas. Dialah yang tanpa sengaja masuk dikehidupan Rufi. Apalagi statusnya sebagai anak pembantu. Meskipun menjadi anak angkat tidak semudah merubah asal usulnya.
Tanpa sadar Kanaya pun tertidur menelan semua pertanyaan yang tiada jawabannya itu.
.......
Pagi pun datang, Kanaya tersentak saat sang ibu membangunkannya dengan berteriak. Suaranya yang tak jelas jujur membuatnya malu. Kanaya takut jika semua orang dirumah gedongan itu mendengarnya. Kanaya meletakkan jari telunjuknya dibibir, mengisyaratkan agar ibunya diam.
" Ya bu, aku bangun. Sudah jangan berteriak, pliss.... " bisik kanaya. Sang ibu mengerti lalu meninggalkannya guna meneruskan pekerjaannya kembali.
Dengan malas kanaya bangkit. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk tapi apalah daya, dia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang pelajar yakni bergegas ke sekolah menuntut ilmu.
Tidak lama kemudian dia sudah siap dan segera berangkat. Dihampirinya nyonya Edwin yang menarik kursi hendak duduk. Wanita itu menoleh lalu merogoh saku bajunya. Mengangsurkan beberapa lembar uang kepada Kanaya untuk beberapa hari ke depan. Kanaya menerima dengan tersenyum dan mengangguk, ucapan terima kasih pun meluncur dari bibirnya.
" Kau tidak ikut gabung sarapan dulu? " tanya Edwin. Kanaya menoleh dan menggeleng. Tidak seperti biasanya pria itu mau menegurnya terlebih dahulu. Karena biasanya dia hanya berwajah datar nan masam.
" Tidak tuan, saya bawa beberapa lembar roti saja, " jawab Kanaya. Tangannya meraih wadah roti yang tidak jauh darinya, mengoleskan selai dan memasukkannya ke kotak makan.
" Aku antar kau, " ujar Rufi memecah keheningan yang tercipta. Kanaya menatap lelaki itu tanpa berkedip. Satu kalimat biasa itu membuatnya mendadak tremor. Hampir saja kotak makan yang dimasukkannya ke dalam tas terjatuh. Beruntung dia bisa menguasai diri. Edwin menatapnya dan menggelengkan kepala.
" Maaf, " ujar Kanaya.
Tanpa menunggu Rufi yang bersedia mengantarkannya, dia mempercepat langkah menghindarinya. Sungguh kejadian semalam masih membuatnya auto pingsan jika bertemu dan bertatap mata. Kini hatinya diserang beribu detakan dalam sepersekian detik.
Namun langkahnya yang cepat berhasil disusul oleh Rufi. Tiba-tiba saja lelaki itu menyambar tangannya saat memegang matic yang hendak dikeluarkannya dari garasi. Dengan malu, Kanaya menoleh hingga bertemulah mata mereka. Wajah nan eksotis nan rupawan. Jakun yang menonjol menambahnya sangat tampan. Kanaya menelan salivanya dengan berat karena mengagumi kesempurnaan majikan mudanya.
" Sudah puas??? " tanya Rufi karena Kanaya memalingkan wajah ke lain arah. Kanaya menatap lagi pura-pura tidak mengerti ucapan Rufi.
" Apa? " tanya kanaya dengan wajah lugu yang dibuat-buat. Sangat sulit memasang wajah penipu????
Rufi tersenyum, tanpa banyak berkata pun dia sudah bisa membaca sorot mata Kanaya. Gadis itu memang berulang kali menatapnya saat bersama. Dan anehnya dia kini senang karena telah mengetahui arti sesungguhnya. Bodohnya dulu dia tidak pernah memperhatikannya sama sekali. Gadis itu benar-benar menyukainya, entah cinta monyet atau pura-pura??? Kecurigaan papanya benar adanya.
Tapi entah kenapa dia senang gadis itu menyukainya dalam diam. Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri dalam dirinya. Itu berarti gadis itu juga menyimpan alasan kenapa bisa memiliki rasa berbeda kepadanya. Tulus ataukah mengejar hartanya?
Rufi telah duduk di belakang setir matic. Diapun memberi aba agar Kanaya gegas mendaratkan pantat ke jok. Dengan lamban Kanaya pun duduk dan memegang pinggang Rufi dengan bergetar. Malu membuatnya tremor dadakan lagi?
Sepanjang perjalanan tidak ada suara selain bisingnya matic. Baik Rufi dan Kanaya diam dengan pikiran masing-masing. Hingga sampailah didepan gerbang sekolah. Kanaya turun, gegas melangkah meninggalkan Rufi yang juga tidak banyak bicara. Namun tatapan mata mereka seolah mengungkapkan semua.
Rufi terus menatap punggung kanaya dengan ransel birunya hingga menghilang dibalik tembok. Dia pun menyalakan matic hendak pergi ke kampus.
" Kana, kau diantar Rufi? " tanya Hendi mengejutkan Kanaya yang baru saja meletakkan tas ranselnya. Gadis itu mengangguk dan mengulum senyum.
" Kana, kau harus ingat siapa dia? " ujar Hendi mengingatkannya. Kini dia mulai takut jika Kanaya akan semakin jauh dari harapannya jika Rufi tahu perasaannya. Apa tidak mungkin Rufi juga akan membalas perasaannya karena sering bertemu dan itu selama dua puluh empat jam nonstop???
Kanaya menggeleng perlahan. Dia masih ingat dengan benar. Siapa dia? darimana asal usulnya?
" Tolong Hendi jangan bahas soal itu. Kau tahu kita sekolah sekarang, bahas lainnya saja, " terang Kanaya. Dia tidak mau mengulang pertanyaan yang tiada jawabannya seperti semalam. Terpenting saat ini dia mencintai lelaki itu tulus. Entah terbalas atau tidak sangatlah tidak penting. Karena pasti bebannya berat. Dan dia pusing memikirkan akhir dari romansa imajinasinya yang telah dibuatnya sendiri. Meski sesal itu tiada guna, kenapa harus Rufi? Berulangkali membodohkan diri sendiri tapi cintanya tetap berpihak pada Rufi.
__ADS_1
" Pikirkan ulang Kana, karena kau pasti akan menyesal. Aku tidak mau itu terjadi. Kumohon bersamaku lebih baik, " ujar Hendi menghiba.