Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
Pengacau


__ADS_3

Rufi menatap punggung kedua teman Kanaya sampai menghilang masuk ke dalam mobil. Mobil segera melaju, meninggalkan rumah Rufi nan mewah. Bella sempat melambaikan tangan kepada Kanaya. Hendi bahkan mengedipkan mata yang memancing amarah Rufi. Kanaya menanggapinya dengan senyuman dan sibuk kembali berkutat dengan acara menyirami tanamannya. Rufi bersidekap. Lalu tatapan lelaki berkumis tipis itu beralih kepada Kanaya yang masih sibuk. Dia melangkah mendekat dan mencekal siku Kanaya yang membuat gadis itu meringis. Alhasil dia pun menoleh sembari merintih kesakitan. Perlakuan Rufi sangat kasar.


" Aduh kak, sakit. Lepaskan, kau menyakitiku, " pinta kanaya sembari memohon. Dia tersadar jika Rufi akan melakukan hal yang sangat dibencinya beberapa menit ke depan.


" Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Hendi? " tanyanya. Kanaya mengernyit. Selalu berpikiran curiga? bahkan jika seandainya mempunyai hubungan khusus pun, Rufi tidak berhak melarangnya.


" Dia temanku kak, " jelas Kanaya. Tapi Rufi tidak semudah itu percaya dengan ucapannya hingga dia tetap mencekal siku gadis malang itu. Dia menampakkan raut marah dan tidak suka kepada Kanaya yang tengah kesakitan. Melihat perlakuan Rufi yang mengintimidasi dan berusaha menginterogasinya membuat Kanaya meletakkan alat penyiram dan berusaha melepas cekalan tangan Rufi. Dihempaskan nya berulang kali meski sangat sulit melepaskan tangan Rufi bak menempel erat. Mungkin juga kuku lelaki itu juga menggores kulit sikunya hingga menyebabkan nyeri. Namun Rufi tidak juga melepaskan tangannya. Dia sangat marah dan butuh penjelasan tentang Hendi. Dia tidak suka Kanaya dekat dengan lelaki mana pun. Tidak tahukah dia jika sangat mengkhawatirkannya?


" Bohong. Kalian pacaran kan? dia menatapmu begitu mesra, " ujar Rufi. Sungguh sangat memuakkan baginya mengingat pandangan Hendi yang terlihat sangat menggilai Kanaya. Menurut pandangannya Kanaya masih sangatlah kecil dalam hubungan lawan jenis. Dia belum pantas dan sangat mengkhawatirkan terjadi hal buruk menimpanya.


Kanaya menghempaskan siku agar tangan Rufi segera terlepas tapi tak juga berhasil. Kanaya mulai jengah. Sikap Rufi yang curiga berlebihan hampir mendekati lelaki posesif terhadapnya.


" Sudahlah kak, memang apa hubungannya denganmu jika aku berteman dengannya? " tanya Kanaya. Meski senang diperhatikan olehnya tapi sifatnya seperti cemburu terhadap kekasihnya. Kanaya tersentuh meski disisi lain dia terluka karena merasa dipermainkan oleh perasaannya dan sikap Rufi yang berlebihan terhadapnya. Kanaya menepis perasaannya sendiri, menghapus lukanya karena Rufi bersikap demikian lantaran khawatir bukan cemburu ataupun posesif. Kanaya masih sadar akan statusnya.


" Ehm... ehm. Ada apa, fi? " tanya Edwin. Rufi melepas cekalannya dan menoleh. Kanaya segera masuk ke dalam rumah setengah berlari. Dia sangat malu kepada Edwin yang menangkap basah mereka berdebat lagi tentang hal yang tidak penting karena menyangkut tentang dirinya. Rufi yang tidak berhasil mengorek informasi tentang Hendi, mendengkus kesal. Kehadiran sang papa membuatnya naik pitam, lagi?


" Pa, kenapa mengejutkan ku disaat yang tidak tepat? " tegur Rufi. Menurutnya Edwin selalu saja berhasil membuat Kanaya bebas dari tegurannya. Dia ingin sekali membuat gadis itu patuh agar tidak sembarangan dekat dengan lelaki lain. Dia takut Kanaya akan terluka atau tersakiti oleh makhluk bernama lelaki.


" Fi, ingat dia hanya adik angkatmu. Kalian tidak sedarah, jangan berlebihan. Dia sudah dewasa, jangan lupakan itu, " ujar Edwin lalu duduk di bangku kayu disamping Rufi yang sedang mengatur napasnya yang memburu karena emosi. Pria paruh baya itu menghisap rokoknya dengan santai dan menghembuskannya ke udara, lalu menatap anaknya.


" Kau tahu, papa tidak pernah memintamu terus melindunginya. Dia sudah dewasa dan biarlah menikmati masa pubertasnya dengan segala keindahannya. Entah dengan banyak berteman, menjelajah tempat baru atau mengenal lawan jenis? " terang Edwin.


" Pa, dia masih kecil. Aku tidak akan membiarkannya jatuh ke lelaki yang buruk, " tegas Rufi dan masuk meninggalkan Edwin yang masih sibuk berokok ria.


Usai kepergian anak lelakinya, Edwin menggelengkan kepala. Rufi masih saja keras kepala. Kekhawatiran dan kecurigaannya yang tidak beralasan membuatnya seperti orang yang telah jatuh cinta saja. Tidak boleh, Kanaya keturunan dari kalangan bawah yang tidak pantas disejajarkan dengannya.


" Apa kekhawatiran dan ketakutanmu karena mencintai anak itu? Rufi... Rufi???? buka mata dan pikiranmu, " ujar Edwin pada dirinya sendiri.


Rufi mencari Kanaya sampai ke kamarnya. Rupanya gadis itu tengah membersihkan kekacauan yang ditimbulkan oleh kedua temannya. Kulit kacang yang berserakan di sapunya dengan cekatan. Lalu gelas sisa minuman mereka juga dijadikan satu dalam wadah dan dibawanya keluar. Saat mencapai pintu, tatapan mereka pun beradu. Tangan Rufi menelentang sampai ke kayu pintu. Kanaya pun terhenti karena terhalangi.


" Kak, bisakah kau pergi dari kamarku. Aku sibuk, juga hendak membersihkan diri. Jangan menggangguku, " terang Kanaya. Kepalanya mulai pusing berperang dengan perasaan dan tingkah Rufi. Lelaki itu bak detektif yang akan mencecarnya dengan segala pertanyaan diluar logika. Sesekali dia menatap jam dinding dengan cemas karena hari mendekati sore. Dia harus segera membersihkan diri.


" Kau sudah lama berhubungan dengannya? berapa lama? setahun? dua tahun? " tanyanya.


" Siapa dia? bagaimana keluarganya? bagaimana wataknya? dan bla.... bla.... bla.... " cecarnya. Kanaya menghembuskan napas kasar.


Kanaya lalu menatapnya datar meski hatinya berdegup kencang dengan pikiran kacau balau, antara bahagia dan terluka. Rufi bak tengah menancapkan busur ke hatinya hingga berdarah atas kekhawatirannya. Kanaya tidak suka perhatiannya yang berlebihan. Ingin dia memeluk lelaki itu dan berkata; sayangku, aku mencintaimu. Percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu seorang dalam hidupku.

__ADS_1


Namun itu hanya sebatas angannya belaka. Rufi bertingkah seperti itu hanya berdasarkan perlakuan antara kakak dan adik, tidak lebih. Kanaya tahu dan paham itu meski disisi lain bersorak dengan hati remuk redam.


Rufi masih mencecarnya dengan pertanyaannya, sementara Kanaya meredam gejolak hatinya yang menggebu-gebu.


Sadar Kanaya, kau tidak boleh terbawa perasaan. Dia hanya mengkhawatirkanmu. Tingkahnya bukan cemburu, bukan!! Kau hanya adiknya. Dia sudah punya kekasih, Angel!!!


Tapi Kanaya, Rufi seperti seorang kekasih yang tengah cemburu buta. Dia mencintaimu Kanaya. Lihat matanya dengan seksama. Dia marah karena hal itu. Dan itu berarti, dia mencintaimu. Kau tahu, dia mencintaimu!! Perasaanmu bertahun-tahun berbalas Kanaya. Peluk dia, cium dia Kanaya.


Semakin lama Kanaya semakin pusing berperang dengan dirinya sendiri. Dia mundur, diletakkannya nampan dan wadah berisi sampah dan melangkah maju, bersidekap menatap Rufi yang masih mengomel karena dia tidak kunjung menjawab semua pertanyaan konyolnya.


" Apa kau tidak capek selalu overthinking kepadaku?? " tanya Kanaya. Netranya berkaca-kaca menatap sosok Rufi yang sangat dicintainya dalam hati. Lelaki rupawan nan sempurna itu hanya menggeleng. Kanaya yang tidak puas dengan jawaban Rufi yang hanya gelengan itu muak. Lalu dengan cepat kedua tangannya mendorong dada bidang Rufi mundur dan menjauh dari pintu kamarnya.


" Eits... Kanaya apa-apaan ini? " tanyanya saat terdorong sampai beberapa meter jauh dari pintu. Sesampainya agak jauh, Kanaya menarik kedua tangannya tapi tiba-tiba saja Rufi menarik pergelangan tangan kanannya hingga mereka terjatuh bersamaan ke lantai karena Kanaya tertarik dengan cukup keras. Kanaya jatuh tepat diatas tubuh Rufi. Mereka sangat dekat tanpa jarak. Keduanya berpandangan sampai beberapa menit.


Kenapa Tuhan menciptakanmu dengan sangat sempurna? kau sangat rupawan dengan segala pesonamu. Kak Rufi, aku mencintaimu.


Hingga Kanaya tersadar lalu menarik dirinya untuk bangkit. Dia merapikan rambut dan pakaiannya.


" Maaf kak, aku tidak sengaja, " ujar Kanaya tersipu. Baru pertama kalinya dalam hidup dia berada diatas tubuh kakaknya yang sangat digilainya dan hal itu amat memalukannya. Rufi bangkit perlahan. Dia memeriksa kedua sikunya, memastikan tidak ada luka karena terbentur lantai.


" Kau sangat berat, " ujar Rufi membuat Kanaya tersinggung.


" Memang kau gendut, apa aku salah? " tanya Rufi balik. Kanaya semakin tersinggung, dia segera berdiri dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Rufi berdiri dan terkejut dengan tingkah Kanaya yang tiba-tiba saja marah.


" Dasar cewek aneh. Kok jadi dia yang marah? memang dia gendut. Harusnya yang marahkan aku? sial, jadi tidak bisa menegurnya lagi jangan sembarangan dekat dengan lelaki, " umpatnya lalu melangkah meninggalkan kamar Kanaya.


Didalam kamar, Kanaya mematut diri dicermin. Menatap tubuhnya yang proporsional, indah bak gitar Spanyol. Tapi Rufi menyebutnya gendut?? oh Tidak!!!!


..........


Pagi itu rumah sepi, semua pergi karena menghadiri sebuah acara. Kanaya melangkah riang, mencari ibunya di belakang. Dia berniat membantu apa yang sedang ibunya kerjakan sembari mengisi waktu liburnya.


- Sini, kau bisa membantu mengupas bawang putih ini. Seru ibunya saat melihat Kanaya menghampirinya di dapur. Rupanya sang ibu hendak memasak seperti biasa meski sang empunya rumah tidak ada. Tetapi porsi kecil, mungkin untuk mereka berdua saja. Kanaya segera melakukan apa yang diminta sang ibu.


" Kanaya, buatkan aku omelette. Cepat!!? " teriak Rufi dari pintu dapur. Kanaya menoleh dan meletakkan bawangnya, dia hendak bangkit namun dicegah oleh ibunya. Sang ibu segera menghampiri dan menawarkan diri agar dia yang memasak untuknya saja. Tapi Rufi menolak, dia bersikeras ingin Kanaya. Lelaki itu ingin mengerjai Kanaya yang kemarin sempat mengejutkannya akibat ulahnya membanting pintu.


" Bik Sum ambil pakaian kotorku di kamar. Biar Kanaya yang membuatkannya, aku juga ingin mencicipi hasil masakannya, " terang Rufi. Bik Sum mengangguk lalu bergegas menuju ke lantai dua, tempat kamar Rufi berada.

__ADS_1


Selepas kepergian sang ibu, Kanaya bangkit. Dia membuka lemari pemdingin untuk mencari telur beserta bahan pelengkap lainnya. Rufi duduk sembari terus menatapnya.


Setelah semua bahan dikumpulkannya, Kanaya mengupas dan mengirisnya tipis-tipis. Lalu dicampurnya dengan telur, diaduknya. Rufi sangat suka omelette telur pedas. Di gorengnya dengan api kecil. Kanaya memasak tanpa banyak bersuara. Dia masih tersinggung dengan ucapan Rufi yang menyebutnya gendut.


Rufi menyadari sikap dingin Kanaya. Dia mulai membuka suara dan menceritakan hal-hal aneh yang terjadi di kampusnya. Tapi Kanaya tidak meresponnya sama sekali membuatnya tidak hilang akal.


Omelette pun jadi. Segera diletakkannya di piring bersih dan disajikan didepan Rufi yang bertopang dagu. Tiba-tiba sebuah ide gila muncul dalam benak Rufi.


" Awas Kanaya, ada ular di kakimu!!!? " teriaknya. Kanaya terkejut bukan kepalang. Bayangkan saja, ular? siapa yang tidak mengenal dan tahu binatang yang berbahaya itu? Kanaya berlari memeluk Rufi.


" Kak, aku takut. Usir dia, cepat. Aku takut kak, " pinta Kanaya. Kepalanya dibenamkan ke dada Rufi. Tangannya memeluk erat lelaki itu. Tapi Rufi diam dan meledaklah tawanya. Kanaya pun tersadar jika lelaki itu hanya mengerjainya. Dilepaskan pelukannya dan menjauh darinya.


" Kau gila. Itu tidak lucu, " protes Kanaya. Tapi Rufi masih saja tertawa. Dia senang karena berhasil membuat Kanaya menganggapnya lagi. Kanaya kembali melakukan pekerjaannya mengupas bawang yang sempat terbengkalai karena ulah Rufi. Namun saat mulai mengupas, Lagi-lagi Rufi mengganggunya lagi?


" Eh belum selesai nona, mana nasinya? minumnya? aku mau cokelat panas seperti punyanya mpok Salmah di ujung sana. Harus sama rasa dan tingkat panasnya, " terangnya. Kanaya menatap Rufi sebal.


Seperti punyanya mpok Salmah? warung janda muda itu bukanya masih dua jam lagi. Bagaimana caranya dia menyamainya? dan lagi bertanya juga harus menunggunya buka karena rumahnya beda kompleks. Kanaya menggebrak meja. Rufi tersenyum melihat Kanaya yang mulai terserang emosi tingkat dewa.


" Kalau kau tidak bisa membuatnya kau harus ku hukum, " ujar Rufi. Dan lagi-lagi Kanaya mengangkat kedua alisnya. Hei sejak kapan Rufi bersikap bossy seperti itu? bukan kebiasaannya. Pasti dia salah minum obat. Atau sedang terkena penyakit nyidam???


" Aku tidak mau menurutimu. Kau tidak waras, " ujar Kanaya ketus.


" Baiklah, aku akan menghukummu dengan caraku, " ujarnya. Rufi menarik Kanaya hingga terduduk di pangkuannya.


Kanaya pun terduduk menghadapi Rufi. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Mereka sangat dekat. Kanaya menelan saliva berat menatap Rufi yang tersenyum sangat manis pagi itu kepadanya. Kanaya memalingkan wajah, rona merah terlukis diwajahnya.


Kak Rufi, aku bisa gila menghadapi semua tingkahmu.


Rufi yang melihat Kanaya malu setengah mati tersenyum puas. Dia senang karena adiknya sudah tidak marah lagi kepadanya. Hingga timbul lagi keisengannya lagi.


" Diamlah, kau sangat berat. Aku bisa penyet nanti, " ujar Rufi. Kanaya bangkit dan duduk memungut bawang yang terjatuh. Rufi tersenyum berhasil mempermainkan adiknya nan cantik itu.


Dasar kampr*t. Maluku bukan kepalang malah menghempaskanku lagi dengan mengataiku gendut. Dasar idi*t, tapi kenapa kau menyihirku dengan senyumanmu?? oh Tuhan, sadarkan aku. Hilangkan dia dari ingatanku.


Rufi melanjutkan sarapannya dengan terus menatap Kanaya. Entahlah rasanya sangat bahagia ditemani Kanaya pagi itu. Karena akhir-akhir ini, dia jarang sarapan bersama kedua orangtua dan dirinya. Dia seperti menghindar dan hanya membawa beberapa lembar roti saja untuk dilahapnya di dalam mobil saat berangkat. Kanaya membuatnya bersemangat meski keadaan diluar tidak sama dengan dirinya. Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Hawa dingin pun terasa membekukan tubuh.


" Cepat buatkan cokelat panasnya, " perintah Rufi. Kanaya tidak menggubrisnya. Rufi menjadi gemas. Dia mendekati Kanaya dan menyolek bahunya. Kanaya menepisnya kasar. Sentuhan Rufi membuatnya seperti tersengat aliran listrik. Dia suka tapi menyembunyikannya. Sungguh membagongkan?

__ADS_1


" Buatkan sebisamu saja, " perintahnya. Dengan malas Kanaya beranjak dan membuatkan apa yang dimintanya. Dia juga membuat segelas kopi susu untuk dirinya.


__ADS_2