
Puas menonton di bioskop, Angel bergelayut manja di lengan Rufi mengajak ke suatu tempat lagi. Jemarinya menepuk pipi Rufi dengan tatapan manja yang terkesan dibuat-buat. Desta yang melihat pemandangan itu membuang muka sembari berdecih. Terlihat lelaki itu sangat kecewa dan kesal, karena perlakuan sang kekasih diluar dugaannya. Pun demikian dengan Kanaya, ingin sekali dalam hatinya menarik gadis cantik menyebalkan itu dan mendorongnya jauh agar tidak menyentuh lelaki pujaannya.
Rufi seperti tahu perubahan sikap Desta maupun Kanaya, dia segera menepis kasar tangan Angel. Tapi gadis itu masih saja berusaha menarik simpati Rufi. Dia seakan memang sengaja memancing emosi Desta. Jika tentang Kanaya dia tidak peduli sama sekali. Kanaya hanya orang luar yang beruntung masuk ke lingkaran pertemanan rumit mereka.
" Angel, jangan seperti ini. Des, lihat tingkah kekasihmu ini, " ujar Rufi. Desta memandang sekilas, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka. Merasa diabaikan oleh Angel. Rufi panik dan berusaha menghentikan niatnya. Tapi meski berulangkali memanggil, kekasih Angel itu tidak bergeming. Dia terus melangkah dan menggerutu tidak jelas. Sesekali tangannya mengepal ke udara. Sementara Kanaya menatap iba lelaki malang itu. Niatnya bersenang-senang malah mendapat kekecewaan yang luar biasa.
Dasar cewek genit!! umpat Kanaya.
Usai melepaskan diri dari cengkeraman Angel, Rufi merangkul Kanaya. Dia meyakinkan bahwa perbuatan Angel sangat kekanakan dan memalukan. Dan perlakuan Rufi dibalas Kanaya dengan merangkul mesra Rufi. Sesekali dia jadi mengerlingkan mata ke arah Angel dengan tatapan mencemooh.
Sukurin!! Rufi milikku. Kau hanya temannya. Ingat dan catat baik-baik di keningmu. Aku yang pantas dirangkulnya bukan kamu! Sono pergi sama Desta!!!
" Tenanglah aku hanya bercanda, siapa suruh membuatku marah? " tanya Angel. Gadis itu bersidekap. Netranya menatap ke lain arah menghindari tatapan Kanaya yang tajam kepadanya. Dia merasa jika Kanaya mempunyai maksud lain dengan berbuat seperti itu. Apalagi sempat terlihat olehnya jika Kanaya cemberut saat dia merangkul mesra Rufi.
Teringat saat didalam bioskop, Desta terus menatap Kanaya dan mengabaikannya. Dia kesal dan cemburu. Pamornya kalah saing dengan adik Rufi yang menurutnya gendut dan dekil itu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana sekelas dia yang selalu melakukan perawatan tubuh dan berpenampilan all out bisa tersaingi? Oleh karena itu, dia membalas perlakuan sang kekasih dengan cara seperti itu meski dia tahu Rufi akan menolaknya di depan Kanaya. Dia tahu betul, Rufi hanya menganggapnya teman belaka.
" Ke mall yuk, belanja, " ajaknya menghiba. Rufi mengangguk dan melangkah dengan menggandeng tangan Angel. Sementara lainnya merangkul pundak Kanaya. Sungguh posisi Rufi seperti tengah berkencan dengan dua gadis sekaligus saja. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian para kawula muda yang masih berada di gedung bioskop aestetik itu. Bahkan diantara mereka juga memotret siluet Rufi diam-diam dengan ponsel. Lelaki rupawan memang beda.
Mobil melaju menerobos gerimis yang mulai reda. Kali ini Rufilah yang mengemudikan mobil. Angel duduk disampingnya dengan sibuk memainkan ponsel, Kanaya duduk di jok belakang tanpa banyak berkata. Sebenarnya dia ingin segera pulang karena kepikiran sang ibu. Entah sekarang apa yang dilakukannya dirumah Edwin tanpa seorang pun yang menemaninya. Karena Edwin dan istri, baru akan pulang keesokan harinya. Dia merasa kasihan dan menyesal telah meninggalkannya demi menuruti ajakan Rufi yang membuatnya termakan cemburu.
Selang beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah mall. Mereka segera turun setelah mobil terparkir. Lagi-lagi Angel merangkul mesra lengan Rufi, dan itu membuat Kanaya terpancing emosi. Hampir dia lampiaskan dengan menegur keras Angel tapi menit kemudian dia tersadar, jika perbuatannya nanti justru akan memalukan dirinya sendiri. Sungguh ingin sekali dia mendorong gadis itu agar menjauh dari Rufi. Atau kalau bisa sekalipun akan dilarangnya dengan tegas untuk tidak mendekati Rufi. Namun sayang itu hanya angan-angan belaka yang tidak bisa terlaksana. Kanaya menarik napas lemah. Sungguh dilema. Dan dia benci berada dalam situasi rumitnya.
Mall nampak lengang karena sepi pengunjung. Rufi melepas rangkulan Angel dan berjalan disamping Kanaya. Hati Kanaya bersorak penuh kemenangan. Ternyata lelaki rupawan itu lebih memilih berjalan di sampingnya daripada Angel yang cetar membahana. Mereka lalu mengekor dibelakang Angel yang berlenggang dengan centil merasa bak ratu agung yang dikawal. Di gerai produk ternama yang menjual baju, tas dan aneka asesoris wanita, mereka memutuskan untuk masuk. Para pengunjung harus antri satu persatu dengan menunjukkan kartu member ekslusif dan diberi batas waktu hingga beberapa menit untuk sekedar melihat maupun berbelanja.
Ini kali pertama bagi Kanaya akan masuk ke gerai yang menjual barang limited edition dengan harga fantastis. Netranya sempat berbinar karena para pelanggan seperti benar-benar terlayani secara privat. Sementara yang lain harus menunggu diluar sebelum tiba giliran.
Tiba giliran, Angel segera menarik tangan Rufi untuk masuk. Rufi menarik tangan Kanaya juga. Usai menunjukkan kartu member, Angel masuk menuju barang yang dicarinya. Kanaya yang sempat tertolak karena bukan pelanggan, akhirnya bisa melenggang bebas karena sedikit bantuan halus Rufi.
Barang tertata dengan rapi meski tidak terlalu banyak. beberapa pramuniaga mengikuti dan menawarkan produk dengan kelebihannya. Mereka sangat lihai dengan tutur katanya yang komunikatif.
__ADS_1
Berulang kali Kanaya menelan ludah saat melihat banderol di setiap barang. Sederhana tapi harga tak sesederhana penampilannya. Membuat isi dompet pemberian dari Edwin selama sebulan menjerit karena tidak kuasa. Itu sama dengan jatahnya tiga bulan jika menginginkan sebuah barang yang paling murah. Kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya. Hingga pramuniaga yang menjelaskan produk sampai berbusa hanya mengatakan: jika berminat panggil saya di ujung etalase. Karena merasa diabaikan saat menjelaskan tanpa keinginan kanaya untuk meminang salah satu barang.
Kanaya menatap tidak percaya lagi saat melihat Angel membawa banyak barang, baik blouse, tas sampai high heels. Dapat dibayangkan betapa ningratnya gadis itu dibandingkan dia yang sedikit naik level. Dengan senyum renyah, dia menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Rufi menepuk pundak Kanaya dan memintanya mengambil barang yang diminatinya. Kanaya menggeleng perlahan. Rasanya dia tidak sanggup meski tangannya berontak ingin mengambil sebuah setelan berwarna pink yang sempat menyilaukan matanya.
" Ambillah biar aku yang membayarnya. Sudah lama sekali aku belum mentraktirmu, bukan? " tawar Rufi. Kanaya menatap Rufi memastikan jika dia tidak berbohong. Rufi mengambil dompetnya di saku celananya. Tangannya menepuk dompet tebal berwarna cokelatnya.
" Cepat sebelum aku berubah pikiran karena kelambananmu dalam berpikir, " tegasnya. Kanaya mengangguk dan melesat ke bagian pakaian wanita. Tangan dan netranya mencari setelan incarannya dari awal. Menempelkan di cermin besar lalu menghampiri Rufi yang berdiri bersama Angel yang sudah menenteng belanjaannya.
" Sudah kau coba? " tanya Rufi.
" Belum tapi ini sudah muat kok, " jawab Kanaya. Tidak perlu mencoba karena menurutnya setelan itu besar dan pasti muat dengan tubuhnya. Lagian dia tidak mau membuat orang lain menunggunya.
" Coba dululah! dasar anak kecil, " ujar Angel ketus. Selain lamban, Kanaya juga bodoh menurut Angel. Tangannya mengibas dan menunjukkan bilik ganti disudut gerai.
Kanaya manut dan masuk ke bilik untuk mencobanya. Setelan itu sangat pas dan serasi dengan kulitnya yang pucat. Dia berputar-putar dengan tersenyum.
Usai mencoba dengan hati bahagia, dia menghampiri Rufi dan menyerahkan setelan pilihannya. Itu sudah cukup. Rufi sangat baik hati dan dermawan sekali?
" Apa aku boleh ambil lagi, kak? " tanya Kanaya. Namun saat hendak menuju ke sebuah rak, Angel menegurnya. Dan itu membuat hati Kanaya seketika mendidih.
" Waktu kita sudah habis, lain kali saja. Cepat bayar, Fi, !? " sungut Angel. Baginya Kanaya sangat lamban bak siput. Kanaya pun berbalik dan berdiri dibelakang Rufi. Angel sangat menyebalkan.
Sebenarnya Kanaya enggan keluar dari gerai tapi karena waktu sudah habis, akhirnya dia mengalah. mengertilah dia jika pakaian yang dikenakan oleh Rufi dan Angel bukan main-main harganya. Meski terlihat biasa. Jauh berbeda dengan dirinya. Dia biasa membeli pakaian yang biasa dimana saja asal terjangkau dan nyaman dikenakan. Tanpa repot-repot memikirkan merk atau keluaran terbatas.
Usai membayar, mereka keluar dari mall dan melanjutkan lagi jalan-jalan mereka meski waktu mulai senja.
..........
Karena kelelahan, tanpa disadarinya Kanaya tertidur didapur. Dikanan kirinya terdapat banyak bumbu dapur yang masih harus dikupas dan dihaluskan diblender. Karena nanti malam akan diadakan arisan keluarga yang tentunya masak besar. Sementara sang ibu dan Rianti pergi ke pasar membeli barang yang masih kurang.
__ADS_1
Rufi tertegun melihatnya di pintu. Tanpa pikir panjang, dia menghampirinya. Bermaksud menggendong dan memindahkannya dikamarnya. Saat berada di gendongan Rufi, Kanaya bergerak. Netranya sempat terbuka dan di pejamkannya lagi. Rufi tersenyum geli melihatnya. Baginya Kanaya masih saja dianggapnya sebagai anak kecil yang masih sangat membutuhkan keberadaannya.
Dengan hati-hati dibaringkannya diatas pembaringan. Tangannya mengurai rambut yang menutupi area mata gadis itu. Kemudian dia duduk dan menatapnya sekilas sebelum meninggalkannya. Namun saat hendak menutup pintu terdengar suara Kanaya yang membuat langkahnya terhenti.
" Kak Rufi, jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku, " ujarnya dengan mata terpejam. Rufi mendekat dan mengelus puncak kepala Kanaya. Mengertilah dia jika gadis itu tengah mengigau. Kebiasaan yang belum juga hilang darinya.
" Tidurlah, aku tidak akan meninggalkanmu, " ujarnya. Kanaya bergerak seperti mengerti kata Rufi. Lalu Rufi pun memutuskan ikut tertidur disamping Kanaya. Menemani gadis cantik itu dengan melakukan hal yang sama.
Tidak perlu menunggu waktu lama, terdengar dengkuran halus Rufi yang menandakan bahwa dia telah terlelap, menjemput mimpi bersama Kanaya. Memang saat itu siang cerah tanpa mendung yang menghiasi langit. Dan waktu yang tepat untuk melepas penat dengan beristirahat.
" Fi, bangun. Kenapa kau tidur disini? " tanya seorang wanita yang amat dikenal Rufi. Tangannya mengguncang-guncangkan dadanya. Rufi terbangun, dia mengerjapkan kedua matanya, berusaha mengumpulkan sebagian nyawanya. Lalu merenggangkan tubuh. Setelah sadar, dia mengedarkan pandang mencari sosok adiknya. Sudah tidak ada, hanya kasur yang nampak tidak rapi lagi spreinya. Rianti menggelengkan kepala melihat tingkah anak semata wayangnya yang belum juga menjawab pertanyaannya. Jam di dinding menunjukkan angka setengah dua siang.
" Kau mencari Kanaya? dia membantu ibunya didapur. Lain kali jangan tidur dikamar Kanaya, mama tidak suka, " terang Rianti ketus. Padahal sudah berulangkali dia melarang anaknya pergi ke kamar Kanaya dan sampai tertidur. Tapi masih juga tidak diturutinya. Entahlah anaknya seperti tidak tahu batasan antara dia dengan Kanaya yang telah dewasa.
" Cepat bangun dan pergi ke kamarmu sendiri, " perintah Rianti. Rufi mengangguk dan bangkit. Wanita itu lalu pergi menuju ke dapur untuk membantu bik Sumi memasak guna menjamu tamu arisan nanti malam. Arisan yang diadakan tiap sebulan sekali. Kali ini giliran Rianti karena bulan kemarin dia yang menang undian. Harus di jamu dengan sebaik dan sesempurna mungkin.
Malam pun tiba, makanan dan minuman telah tersaji di meja panjang di sudut ruang. Rianti dan Edwin bersiap menyambut tamu anggota arisan. Meski arisan itu hanya untuk keluarga saja tapi banyak juga anggota lainnya yang berasal dari luar kota karena pindah dan menetap disana. Hingga waktu molor dari jadwal yang diperkirakan.
Kanaya masih menata beberapa camilan dimeja. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dia pun menoleh dan mengernyitkan kening karena tidak mengenali siapa sang pelaku.
" Kau Kanaya? wah sudah besar sekali, gimana kabarmu? " tanya lelaki berkacamata minus itu. Kanaya hampir tertawa melihatnya karena penampilannya sangat lucu dan aneh. Dia tinggi dengan rambut lurus cepak berbentuk mangkuk terbalik. Memakai kemeja panjang dengan dipadu padankan celana pendek selutut. Tidak lupa dia juga mengenakan rompi. Kanaya menyambut uluran tangan lelaki itu dan tersenyum geli. Penampilan lelaki itu seperti anak taman kanak-kanak versi dewasa.
" Siapa ya? aku lupa, " ujar Kanaya. Dia berusaha mengingat. Tapi sampai beberapa menit juga dia tidak ingat siapa namanya. Lelaki itu tersenyum menunjukkan lesung pipitnya. Dan itu terlihat lucu lagi bagi Kanaya.
" Aku Adrian, anak tante Sita yang dulu dijodohkan denganmu, " terangnya. Kanaya baru teringat, dia menepuk keningnya.
Anak lelaki yang pernah datang bersama ibunya suatu ketika, dimana dia sedang bermain dengan Rufi diteras. Dia menangis dan langsung terdiam saat Kanaya datang menghampiri dengan membawakan sebuah lollipop. Lalu mereka pun bermain bersama tiap sore sebelum akhirnya tante Sita pindah keluar kota. Tapi untuk hal dijodohkan dia sama sekali tidak ingat.
" Lepaskan tanganmu, " ujar Rufi dan melepas kasar tangan Adrian dari Kanaya. Ditariknya Kanaya agar berada disampingnya. Dia tidak suka seperti biasanya.
__ADS_1
" Oh kau kak Rufi ya? " tanyanya. Rufi acuh. Dia ingin lelaki itu segera pergi dan tidak bersikap sok kenal sok dekat dengan Kanaya.
" Adrian sayang, apa yang sedang kau lakukan? cepat kemari, " panggil seseorang. Mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Nampak seorang wanita muda melambai ke arah Adrian yang disambut dengan langkah menghampiri. Kanaya menatap tidak berkedip. Wanita yang mungkin adalah ibunya Adrian sangat cantik dan elegan.