Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
Pelukan hangat


__ADS_3

Kanaya segera keluar dari mobil. Setengah berlari menghampiri Rufi dan memeluknya. Saking cepatnya bahkan Rufi sampai terjatuh karena tidak bisa menahan beban tubuh kanaya yang melesat memeluknya erat. Mereka bergulingan. Rufi mendaratkan ciumannya ke kepala adik angkatnya itu. Mereka menggambarkan seakan tidak saling bertemu selama beberapa dekade. Mang Didin membuang muka melihat adegan di hadapannya yang penuh romansa antara majikannya dengan kanaya. Antara terharu dan riskan. Sopir yang telah mengabdi puluhan tahun itu sebenarnya sangat tidak nyaman karena mengetahui seperti apa perasaan kanaya terhadap Rufi. Gadis itu pernah keceplosan mengungkapkan rasa cintanya meski lirih saat dia tanpa sengaja lewat di belakangnya. Tetapi mang Didin berpura-pura tidak mengetahui dan bersikap acuh meski sangat ingin menegur kelancangan kanaya. Pria itu mengetahui jika Edwin pasti menentang dan akan mengusir gadis itu akan kebodohannya mencintai majikan mudanya. Karena dia hafal Edwin luar dalam. Dia terus berdoa didalam hati agar Edwin tidak segera muncul dan merusak adegan kedua sejoli terlarang itu.


" Kak, kemana saja? kenapa sulit dihubungi? aku khawatir dan...." ujar kanaya tertahan. Rasa rindu yang menyiksa musnah berganti haru. Airmatanya luruh karena bahagia. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena Edwin menatap tajam ke arahnya di ambang pintu sembari berkacak pinggang. Rasa tidak suka dirasakan oleh kanaya hingga membuat lututnya lemas. Tangannya mengisyaratkan agar kanaya menjauh dari sang anak lelakinya.


Merindukanmu, batin kanaya.


Kanaya segera bangkit dan membersihkan seragamnya yang terkena debu akibat bergulingan memeluk Rufi. Rufi masih terduduk dan menatapnya dengan tersenyum lebar. Rupanya dia tidak menyadari keberadaan sang papa yang menyaksikan pergumulan mereka dibelakangnya. Kanaya merasa malu yang tak terkira. Dia seolah telah melakukan kesalahan besar dan Edwin adalah sosok kunci yang tengah menangkap basah mereka. Hal yang sebenarnya biasa saja jika dilakukan oleh saudara kandung. Rufi mengangkat kedua alisnya, heran dengan tingkah kanaya. Karena seperti biasa gadis kecil itu akan terus memeluknya hingga Rufilah yang akan melepaskannya.


" Rufi cepat masuk dan mandi!? kau sangat kotor dan bau!? " ketus Edwin. Tangannya mengibas ke udara. Kedua netra Rufi membulat mendengar suara bariton sang papa. Dia menoleh, menatap pria berstatus papanya itu sudah nampak rapi hendak berangkat kerja. Dengan malas dia bangkit dan berdiri disamping kanaya yang wajahnya memerah karena malu.


Pria itu berusaha memisahkan kedekatan yang dibangun bertahun-tahun antara sang anak dengan kanaya. Kanaya yang menyadari hal itu beringsut melangkah menuju ke mobil. Namun saat dia hampir masuk, pergelangan tangannya berhasil ditarik oleh seseorang. Dan dia adalah Rufi. Kanaya keheranan. Terpaksa dia keluar dan berdiri bersisian dengan Rufi sembari mencuri pandang menatap Edwin.


Pria itu masih menampakkan aura garang. Tatapannya mengisyaratkan agar kanaya menjauh. Namun saat hal itu hendak dilakukannya, lagi-lagi Rufi menariknya agar menempel di lengannya.


" Rufi, apa yang kau lakukan? dia hendak sekolah. Cepat masuk ke mobil kana! " perintah Edwin geram. Rufi tersenyum tipis dan menahan langkah manut kanaya yang hendak masuk kembali ke mobil. Ditelinganya suara bariton Edwin sangat menakutkan pagi ini. Beruntung dia tidak pingsan. Dia ingin pagi buruk itu cepat berakhir. Tapi tingkah Rufi malah memperlambat dan semakin membuatnya kepalang basah. Didalam hati dia terus merutuki Rufi.


" Biar aku antarkan saja, pa, " ujar Rufi dan menarik kanaya agar mengikutinya. Terpaksa kanaya mengekor Rufi melangkah masuk garasi. Kanaya sempat mengangguk takzim kepada Edwin sebelum akhirnya menghilang.


" Tapi, Fi. Hei kalian mau kemana? " tanya Edwin. Pria itu kecewa sang anak telah mengabaikannya. Bahkan santai memegang tangan Kanaya didepan matanya. Hal yang sering dia protes agar Rufi tidak melakukannya. Tidak mau membuang waktu percuma, Edwin masuk ke dalam kendaraan dan menitahkan sang sopir agar segera melajukan mobil. Didalam hati dia berjanji akan menegur sang anak disaat yang tepat, jika perlu melibatkan kanaya. Agar gadis itu mengerti posisinya.


Setelah mobil keluar dari halaman rumah, Edwin menatap kaca luar dengan gusar. Sesekali dia menghela napas dan alisnya berkerut menandakan tengah berpikir keras. Mang Didin menatapnya dari balik spion. Dia mulai menyangkut pautkan dengan adegan antara kanaya dengan Rufi. Napasnya sempat tertahan saat Edwin muncul dan memergoki mereka.


" Ada apa tuan? " tanya mang Didin dengan ragu. Edwin menoleh, melepas tangannya yang menopang dagu. Dia terkejut karena sang sopir bisa membaca sedikit kegelisahannya.


" Menurutmu apakah kanaya mempunyai perasaaan lain terhadap putraku? " tanya Edwin. Pria itu memang tidak pandai menyimpan rahasianya kepada mang Didin. Tapi dia tahu jika sang sopir ahli menyimpan segala rahasianya. Dia harus mencari tahu sendiri kecurigaannya terhadap kanaya.


Mang Didin terdiam, apa yang di pikirkannya ternyata benar halnya. Kanaya telah membuat Edwin gelisah. Gadis itu sebenarnya sangatlah cantik dan serasi jika berpasangan dengan Rufi. Tapi apa mau dikata karena status keluarganya yang tidak beradalah yang membuatnya nampak tidak seimbang.

__ADS_1


" Em...gimana ya tuan? Perasaan apa maksudnya? " tanya mang Didin pura-pura tidak paham arah pembicaraan majikannya. Dia berusaha menutupi apa yang diketahuinya dari kanaya. Walau bagaimanapun pria itu menyayangi gadis yatim itu. Tidak pernah dia berbuat aneh-aneh dirumah terkecuali perasaannya saja. Lain itu dia sosok yang manis dan periang. Mengingatkannya akan anak perempuannya yang terpisah karena dibawa sang istri ke luar pulau setelah rumah tangganya hancur disebabkan adanya orang ketiga. Hingga kini sulit dihubungi karena sang istri memutus hubungan antara anak dengan ayah. Betapa dia sangat merindukan putri kecilnya yang kini mungkin sebaya dengan kanaya. Pasti dia cantik dan merindukan dirinya sama dengan apa yang dirasakannya.


" Tuan berlebihan, menurutku kanaya hanya menganggap den Rufi sebagai kakaknya, " ujar mang Didin. Dia berusaha melindungi kanaya. Biarlah waktu yang mengungkap semuanya.


" Dan lagi menyayangi anak yatim pahalanya besar, tuan. Lebih baik tuan tidak berlebihan mencurigainya, " tegur mang Didin perlahan.


Mang Didin menutup mulutnya karena telah berani menegur sang majikan. Tapi ternyata Edwin tidak marah, dia mengangguk.


" Kau benar juga. Mungkin aku yang berlebihan. Gadis itu juga tidak mungkin mempunyai perasaan lain. Bukankah mereka bersama sejak kecil? Mereka hanya adik kakak saja. Lebih baik aku buang kecurigaanku, " ujar Edwin.


Didalam garasi, Rufi menepuk jok motor agar kanaya duduk. Kanaya pun mengikuti arahannya. Sungguh lelaki itu sangat memikat hatinya. Usai kanaya duduk Rufi merentangkan kedua tangannya. Namun karena terabaikan oleh kanaya, Rufi segera memeluk kanaya. Menempel erat tubuh kanaya, menyalurkan rasa rindunya yang meluap. Tangan kanannya membenamkan kepala kanaya ke dadanya, seolah menunjukkan gelora rindu yang begitu besar.


Perlakuan Rufi berhasil menghipnotis kanaya. Gadis itu diam meski jantungnya berdebar-debar. Rasa aneh menjalar menggelitik beberapa bagian tubuhnya. Kanaya merasa nyaman hingga melupakan apa yang akan dia lakukan, yakni sekolah. Rufi membuatnya candu setengah mati. Mereka berpelukan hingga berpuluh menit lamanya.


Usai puas memeluk, Rufi menangkup wajah kanaya agar memandang kedua matanya. Binar rindu dan putus asa terpancar disana. Kanaya diam menikmati indahnya rupa sang kakak yang dianugerahkan oleh sang maha kuasa. Dia tidak sanggup melayangkan seribu bahasa protes yang akan dia lontarkan jika Rufi pulang. Semua kalimat yang ditatanya hilang tanpa jejak sedikitpun di memorinya. Yang ada hanyalah bahasa cinta.


" Aku sangat merindukanmu, Kanaya. Maaf aku tidak sempat memberimu kabar. Dan lagi ponselku mati karena kehabisan daya, " terangnya dengan wajah memilukan. Melihat hal itu kanaya tidak sampai hati. Dia mengangguk memaklumi meski kedua matanya sembab karena menahan marah sebab rindu yang tiada terkira.


Kanaya berulang kali mengangguk dan terus menatap bibir tipis nan menggoda sang kakak. Dia berandai jika sebentar lagi lelaki itu akan mendaratkan benda kenyal itu ke bibirnya. Didukung dengan suasana yang syahdu dan jarak mereka pun juga sangat dekat. Kedua mata kanaya terpejam menanti kebenaran dari praduganya. Tapi ternyata itu hanya angan kosong belaka. Rufi melepas tangkupannya dan melangkah masuk melalui pintu pembatas antara garasi dengan ruang makan.


" Sebentar aku letakkan tasku dulu. Lalu aku antar kau ke sekolah, " ujarnya sembari melambaikan tangan meski kanaya tidak melihatnya.


Kanaya tersadar, dia membuka mata. Menatap kecewa Rufi yang tidak menciumnya seperti dalam pikirannya. Ditepuknya pipi dan meracau karena kesal.


Apa yang aku khayalkan? Melihatnya saja aku sudah bahagia. Oh Kanaya hentikan keinginanmu yang aneh??? Kau harus ingat siapa Rufi dan lihatlah dirimu!


Tidak beberapa lama kemudian, mereka berboncengan menuju ke sekolah kanaya. Kanaya memegang erat pinggang Rufi. Bersama dengan Rufi membuatnya melupakan segalanya. Jika saja Rianti tidak mengingatkannya bergegas ke sekolah, pasti dia hanya duduk termangu di atas jok motor yang berada di garasi sembari melamun.

__ADS_1


Beberapa menit sampailah ke gerbang sekolah, benar saja bel masuk berdentang. Kanaya berlari menerobos pagar yang hendak ditutup oleh satpam dan melambaikan tangan kepada Rufi.


Dikelas, Bella menyambutnya dengan menunjuk matanya yang aneh. Kanaya meraba dan tersenyum mengingat kekonyolannya merindukan Rufi. Dia menangis sepanjang malam tanpa sepengetahuan ibunya dan tidur pukul dua dini hari. Tubuhnya sangat lemas dengan kepala sedikit pening. Begitu melihat Rufi dia langsung bahagia.


Di kursi paling belakang, Hendi menatap punggung kanaya. Dia sangat merindukan gadis itu. Sebenarnya semalaman dia telah mengirim beribu pesan kepada gadis itu. Namun tidak ada satupun yang dibalasnya. Mencoba telepon juga tidak pernah kanaya mau menerima. Tapi itu tidak membuat Hendi putus asa. Saat jam istirahat dia akan menanyakan sikap acuh gadis itu saat dia seorang diri. Karena bila bersama Bella, gadis itu hanya menambahnya semakin malu dan pusing. Dia akan menggodanya sembari mencubit lengannya yang gemoy. Dan pastinya sangatlah sakit. Bella sangat senang melakukan hal itu jika dia berusaha mendekati kanaya. Dan seperti yang sudah-sudah Hendi akan mengurungkan niatnya lalu pergi meninggalkannya dengan kecewa.


Kanaya meraba kedua matanya dan kembali menekuri materi pelajaran yang akan dibahas oleh sang guru. Kini dia bahagia karena Rufi sang penambah semangatnya telah pulang.


.......


Sementara itu disuatu tempat, seorang gadis tengah mengaduk latte sesekali menatap gusar pintu masuk kafe. Dia juga terus menatap arloji di pergelangan tangan kirinya. Namun seseorang yang ditunggunya juga belum menunjukkan batang hidungnya. Diteguknya latte hingga tandas, tak tersisa. Dia meraih ponsel dan melakukan panggilan.


" Kenapa kau tak datang? Aku sudah setengah jam lebih menunggumu, " tanyanya.


Selang menit kemudian, seorang lelaki datang tergopoh-gopoh. Dimundurkannya kursi dan duduk menghadap gadis yang tak lain bernama Angel itu.


" Maaf Yang, motorku mogok ditengah jalan. Lagian juga hujan deras tadi, " terangnya sembari menyugar rambutnya yang basah. Diseka juga wajahnya dengan sapu tangan. Angel terkesima menatap intens wajah kekasihnya yang terlihat semakin seksi dengan buliran menetes. Tapi itu tidak lama. Dia kembali serius.


" Lebih baik kita putus, " ujarnya.


Bagai disambar petir, Desta menghentikan apa yang tengah dilakukannya. Dia menatap tajam dan memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang terganggu. Namun gadis itu mengangguk kecil. Keputusan yang sebenarnya dia juga ragu dan tidak yakin. Tapi keputusan itu harus diambil karena kedua orang tuanya masih menolak mentah Desta. Angel menghela napas, jemarinya meraih punggung tangan Desta dengan sinar mata sayu.


" Kita akhiri saja hubungan ini. Aku tidak bisa jadi anak pembangkang, " lirihnya. Teringat pembicaraannya kemarin siang bersama sang papa bahwa pria itu mencapnya sebagai pembangkang dan anak durhaka. Dan akan memutus hubungan antara anak dengan papa jika masih bersama Desta. Betapa dia sangat membenci lelaki yang penuh kegigihan itu hanya karena memandang status. Pria itu bahkan tidak mau menyebut namanya. Angel hanya menunduk, pikirannya tertekan. Cinta yang begitu besar tidaklah cukup jika tanpa restu orang tuanya. Padahal berbagai cara telah diupayakannya untuk memenangkan hati pria paruh baya itu. Agar menyukai dan menerima Desta sebagai kekasihnya. Sang mama meski tidak menyukainya tapi tidak pernah bersikap seperti suaminya. Masih memberi kebebasan mutlak untuk Angel. Hanya saja Angel harus bersungguh-sungguh dan tidak ada penyesalan di akhir.


" Aku tidak mau kita putus. Aku sudah berjanji padamu, kau harus menungguku sampai aku menjadi orang sukses dan akan menikahimu, " ujar Desta berapi-api. Lelaki itu bahkan kuliah sembari bekerja untuk membiayainya disamping juga mengandalkan beasiswa. Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu.


" Des, kita akhiri saja, " ujar Angel lalu berdiri. Dia melangkah meninggalkan tempat duduknya tanpa menoleh kepada Desta yang masih berharap mempertahankan hubungan.

__ADS_1


" Ngel, tunggu!! " panggil Desta dan berlari mengejar gadis cantik itu.


Bagi Desta, Angel adalah cinta pertama dan terakhirnya. Tidak ada yang bisa menggeser namanya meski gadis itu berusaha memutuskan hubungan dengannya dan menyakitinya berulang kali. Kedekatan yang disengajanya dengan Rufi hanyalah sandiwara. Dia paham betul bahwa gadis itu sangatlah mencintainya. Hanya karena tekanan kedua orang tuanyalah yang membuatnya gamang. Sang ibu juga sangat menyukai kepribadiannya yang tidak sombong meski terlahir dari keluarga kaya. 0


__ADS_2