
Setelah resmi menjadi siswa baru disekolah Rufi, Kanaya selalu berangkat bersamanya. Sementara Edwin terkadang naik mobil sendiri jika harus ada pekerjaan di luar kota. Kanaya senang akhirnya dia bisa bersekolah di tempat yang sama dengan Rufi, dia merasa aman. Meski cueknya Rufi terhadapnya minta ampun, tapi dia tidak ambil pusing. Toh setiap pagi dan pulang selalu bersama, baik Rufi maupun dirinya selalu bergantian saling menunggu jika salah satu di antara mereka belum berada di dalam mobil saat pulang.
Siang itu hujan turun, Kanaya berlari menyusuri koridor menuju ke kelas. Seragamnya sedikit basah terkena cipratan dari sepatunya sendiri. Alhasil dia nampak kotor. Sesampainya di kelas, semua teman menatapnya. Diantara mereka bahkan menunjuk ke arahnya dan tertawa diikuti lainnya. Kanaya merasa risih. Dia melihat keadaan dirinya. Tidak ada yang terlupakan, dasi, sabuk, topi bahkan selalu berada di kepalanya meski tidak diluar kelas. Entahlah dia sangat suka memakai topi. Dan hasil akhirnya dia menemukan bercak kotor di seragam sebelah belakang dan sampingnya. Diusap-usapkannya dengan punggung tangannya. Noda itu tidak hilang hanya memudar saja. Diusapkannya lagi semakin kencang tapi masih sama. Teman-teman lainnya mulai menertawakan tingkahnya yang mulai frustasi. Kanaya merasa malu. Seakan-akan dirinya yang terlahir miskin sangat terlihat menonjol diantara lainnya. Dia menyembunyikan wajahnya dilipatan kedua tangannya diatas meja.
" Sudah biarkan saja mereka. Semakin kau merasa malu mereka semakin menjadi-jadi, " terang Wina teman sebangkunya.
" Dasar orang misqin, kamu emang gak cocok sekolah disini, " ujar Ditya, anak paling kaya dan super bossy. Memang hampir semua tahu siapa Kanaya. Meski mereka baru duduk di kelas satu sekolah dasar tapi sifatnya melebihi usia mereka yang sebenarnya.
Kanaya diam dan masih betah menyembunyikan wajahnya. Sungguh betapa kecerobohannya kali ini menjatuhkan harga dirinya sendiri dihadapan teman-teman elitnya. Dia merutuki dirinya.
Braaakkkkk......
Semua terdiam karena terkejut. Mereka menatap pintu yang terbanting ke dinding cukup keras. Mereka melihat Rufi dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. Anak itu terlihat sangat marah. Dia berjalan menghampiri Ditya.
" Siapa yang kau maksud dengan kata-katamu barusan? " tanya Rufi.
Ditya nampak gemetar, dia menunduk menghindari tatapan tajam Rufi. Niat mencemooh Kanaya eh Rufi datang membela. Anak yang terkenal tampan se-SD itu datang membanting pintu?
" Tidak ada kak, " jawabnya. Semua teman segengnya pun tidak ada yang menjawab maupun membelanya. Mereka semua takut dengan sang kakak kelas.
" Kalian semua dengar ya, Kanaya adalah adikku. Siapa pun yang menghinanya maka hadapi aku, " tegas Rufi. Dia sangat marah sampai giginya gemelutakan. Ditya menunduk memukul bibirnya.
"Atau mau ku adukan ke kepala sekolah biar ngeluarin kamu karena bertindak membully Kanaya? " ancamnya.
Ditya menelan ludah dengan berat. Jangan sampai dikeluarkan dari sekolah elit ini. Papa, mamaku bisa marah, pikirnya.
" Ingat kalian semua, dia adalah adikku, " belanya sekali lagi.
Kanaya mengangkat wajahnya menoleh ke sampingnya melihat raut wajah merah padam Rufi. Dia tertegun,
Kenapa kau membelaku? kupikir kau tidak peduli denganku?
Usai menebarkan ancaman, Rufi keluar dari ruangan. Dia juga berpapasan dengan wali kelas itu. Tapi dia tidak menyapa seperti kebanyakan siswa lainnya, karena dia sedang bad mood. Bu Niken nama wali itu hanya menggelengkan kepala menghadapi Rufi yang sombong sejak dulu. Dia termasuk daftar hitam jajaran murid sombong nan angkuh dalam agendanya. Tapi wanita muda itu tidak pernah menegurnya, cukup dengan tatapan matanya mengikuti langkah kaki Rufi.
Usai kepergian Rufi, Ditya langsung menghampiri Kanaya. Dia mengulurkan tangan dan meminta maaf. Kejadian tadi benar-benar membuatnya agak ragu untuk menjahili Kanaya lagi. Ancaman Rufi memang tidak main-main. Ya dia takut. Karena siswa kelas lima itu termasuk ahli dalam hal karate. Terbukti dia pernah menang dalam kompetisi karate se-SD tingkat propinsi beberapa tahun lalu.
Sejak saat itu diam-diam Rufi selalu memantau Kanaya. Mulai dari memastikannya masuk ke kelas tanpa ada yang menghinanya lagi. Mengikuti langkahnya saat jam istirahat sampai saat Kanaya ijin ke kamar mandi pun dia tahu. Matanya seakan menjadi cctv otomatis. Dia berniat harus melindungi anak pucat itu dimanapun keberadaannya. Bukankah dia telah menjadi adik angkatnya meski dia tidak begitu menyukainya? tapi mungkin kini rasa itu telah berubah seiring berjalannya waktu. Hingga sampai hapal suara derap langkah kecil Kanaya.
Tanpa terasa setahun telah lewat, kini Rufi sudah naik ke kelas enam dan Kanaya kelas dua. meski kini Rufi mulai sibuk dengan banyaknya les tapi dia tetap selalu mengawasi Kanaya. Hingga mungkin dia sendiri kelelahan.
" Kak, nanti pulang sekolah kakak pulang saja duluan sama mang Didin. Jangan tunggu aku, " terang Kanaya. Dia tersenyum dengan matanya yang menyipit karena tekanan dari pipinya. Rufi mengernyit.
" Kau mau kemana? " tanyanya.
" Aku mau main ke rumah Wina dan Veni, " terangnya lagi. Rufi menoleh. Entah kenapa dia tidak suka anak itu pergi jauh dari jangkauannya.
" Aku ikut, " ujar Rufi.
__ADS_1
Kanaya menganga, kakak angkatnya ini sangat aneh. Menawarkan diri ikut main dengan anak perempuan. Memang mau main boneka? masak-masakan? jadi pengantin-pengantinan?
" Jangan ikut kak. Aku janji cepat pulang kok, " rengek Kanaya. Tangannya menarik lengan Rufi agar membolehkannya bermain tanpa harus turut serta. Dia juga memasang wajah imut berharap rayuannya berhasil dan sang kakaknya yang menyebalkannya itu akan melepaskan pantauannya barang dua jam saja?
Rufi masih belum menjawab rengekan Kanaya. Dia memalingkan muka mencari alasan yang tepat untuk melarangnya pergi ke rumah temannya. Sungguh mencari alasan yang dibuat-buat sangat susah.
" Mama pasti marah jika kamu tidak pulang dan meminta ijin dulu padanya, " terang Rufi.
Kanaya cemberut, dia duduk menghadap depan dengan tangan terlipat di pangkauannya. Memang dia belum meminta ijin pada wanita yang berbaik hati mengangkatnya sebagai anak juga pada ibunya,pasti wanita yang telah melahirkannya itu akan mondar-mandir tidak jelas diruangan kamarnya. Apakah dia akan menjadi anak durhaka untuk kedua wanita itu?
Rufi tersenyum penuh kemenangan, rencananya melarang Kanaya dengan halus berhasil. Ternyata kelemahan anak itu terletak pada mama dan ibunya. Dia masih menatap perubahan Kanaya yang drastis. Anak itu diam lalu memainkan ujung roknya. Dia terlihat kecewa tapi juga tidak bisa berbuat banyak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Rufi. Dia setuju meski berat hati. Bermain ke rumah Wina sudah jauh-jauh hari direncanakannya tapi sayang dia belum meminta ijin.
" Mang Didin, ayo lekas pulang. Mama dari tadi terus menelepon ku, " bohong Rufi. Dia juga memainkan sandiwara dengan sibuk menelepon dan mengirim pesan melalui gawainya. Kanaya ikut khawatir karena kepulangan mereka terlambat hampir satu jam dari biasanya. Mang Didin segera menyalakan mesin mobil, melaju perlahan ke jalan raya menuju ke rumah sang majikan. Pria itu manut.
Mobil melaju, Rufi terus memperhatikan Kanaya diam-diam. Betapa anak perempuan yang menyebalkannya saat awal kehadirannya kini membuatnya seperti seorang kakak dadakan. Dia ingin terus bersama dan melindunginya. Sifatnya yang malas dan seenak hatinya seolah luntur dengan sendirinya. Kini dia berusaha menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan telaten. Kanaya benar-benar merubahnya. Rufi harus berterima kasih dengannya.
" Kenapa kakak terus memperhatikanku? kita sudah sampai dirumah kak, " ujar Kanaya dan membuat Rufi tersadar. Lamunannya tentang Kanaya menguap terhembus kesadarannya.
" Eh sudah sampai? " tanyanya. Dia segera beringsut menuju ke pintu mobil.
Kanaya tersenyum manis, muncul ide untuk menjahilinya.
" Kakak ngelamunin apa sih? " tanyanya gemas. Anak itu melingkar manja dilengan Rufi yang mengacak-acak rambutnya. Lalu mereka keluar dari mobil bersama masuk ke rumah.
.............
Dan perdebatan itu akan berakhir jika Kanaya mengurungkan niat kepergiannya untuk sekedar healing maupun bermain dengan teman-temannya. Anak itu akan masuk ke kamar dan menguncinya seharian penuh tanpa makan sebagai bentuk protesnya terhadap Rufi. Dan ibunya lah yang akan kebingungan setengah mati dengan terus mengetuk pintu tanpa henti. Dan Rianti akan ceramah panjang kali lebar menyadarkan Rufi yang bersikap demikian. Hanya Edwin yang menanggapi perdebatan mereka secara biasa.
Saat Kanaya memasuki sekolah menengah pertama, Rufi setia mengantarkannya dengan mang Didin. Padahal letak sekolahnya berbeda jalur. Tapi itu tidak menyurutkan niatnya. Dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika Kanaya tiba disekolah tanpa kurang suatu apapun.
Setahun kemudian Rufi telah lulus dari bangku sekolah menengah atas saatnya dia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yakni masuk ke universitas.
Keputusan sang papa memintanya untuk kuliah diluar kota membuat Rufi naik pitam. Dia menolak mentah-mentah.
" Papa ingin kau belajar mandiri dan bisa lebih bertanggung jawab terhadap dirimu. Kau juga bisa belajar mengenal dunia baru, " terang Edwin.
Sebenarnya Edwin ingin Rufi bisa mengenal orang-orang, lingkungan dan suasana baru. Agar ke depannya dia bisa siap terjun mengelola usaha sang papa. Pria itu takut sifat Rufi yang seenaknya akan mempengaruhinya saat dia memasuki usia kerja. Juga sang istrinya yang masih sangat memanjakannya dengan segala fasilitas hidup.
" Pa, aku tidak akan keluar kota dan mengikuti kemauan papa. Aku tetap disini dan mencari universitas terdekat, " tegas Rufi dan meninggalkan perdebatan pagi itu.
Keluar kota untuk waktu yang lama? bagaimana dengan Kanaya? apakah dia bisa hidup aman tanpa pengawasanku? jika dia berada diluar rumah dan bertemu dengan orang jahat, apakah dia bisa menghindarinya? Hidup tanpa Kanaya bisa membuatku gila karena ketakutan akan keselamatan jiwanya, pikir Rufi.
Dia merebahkan diri di kasur dan melakukan video call dengan nama Si imut, yakni nama Kanaya yang disimpannya dalam kontak ponsel Rufi. Sekali, dua kali hingga ke empat kalinya gadis cantik itu tidak menjawabnya.
Heh... kemana kamu? ayo angkat, atau aku akan mendatangi kamarmu, umpatnya.
Kali kelima gadis itu mau menjawabnya, nampaklah dia tengah menyisir rambut menghadap ke cermin.
__ADS_1
" Ya kak, ada apa? aku sedang bersiap, " ujarnya tanpa menunjukkan wajahnya ke layar ponsel.
" Bukannya katamu hari ini libur? " tanya Rufi.
" Kapan aku mengatakannya?? " tanya Kanaya.
" Oke aku akan mengantarkanmu sampai ke sekolah. Tunggu aku dalam waktu lima menit, " ujar Rufi dan segera menyambar jaket dibelakang pintu.
Tidak lama kemudian, Rufi sudah berdiri didepan kamar Kanaya yang masih tertutup. Sembari menunggu, dia menyisir rambutnya dengan jemarinya. Rianti yang mengetahui putra tunggalnya berada didepan kamar Kanaya menatap heran. Wanita itu menyentuh bahu Rufi dan menanyakan apa yang tengah dia lakukan?
" Aku akan mengantarkan Kanaya ke sekolah, " terang Rufi. Rianti mengerti dan meninggalkannya.
Rufi sangat bersemangat, dia mengetuk pintu agar Kanaya cepat keluar.
" Ya, sebentar lagi, " sahutnya dari dalam. Kanaya pun keluar dan langsung memamerkan deretan giginya yang rapi.
Rufi terkesima, dia hampir tidak berkedip menatap Kanaya yang semakin cantik saja seiring bertambahnya usia. Dia tinggi semampai, rambutnya panjang dikuncir ekor kuda, dadanya kian menonjol berisi, hanya kulitnya yang tidak berubah, yakni masih pucat.
Tiba-tiba sesuatu yang berwarna merah terlihat di rok belakang Kanaya. Anak itu berhenti dan menatap bagian yang ditunjuk olehnya. Dia terkejut dan masuk kembali ke kamarnya.
Tak lama kemudian, dia kembali keluar dan menarik pergelangan tangan Rufi agar turut masuk. Rufi terpaksa mengikutinya.
" Ada apa? " tanya Rufi. .
Kanaya bercerita tentang ****** ******** yang telah bercak darah. Dia nampak ketakutan dan bingung.
" Aku tidak tahu kak, perutku juga sakit. Apa yang sebenarnya terjadi? aku tidak terjatuh tapi kenapa bagian itu ku mengeluarkan darah? " tanyanya panik.
Rufi mulai terlihat panik, dia keluar hendak mencari mamanya dan menceritakan apa yang sedang dialami oleh Kanaya. Tapi anak perempuan itu menghalanginya.
" Aku malu kak, " rengeknya.
" Bagaimana ini kak? mana ibuku juga sedang pulang kampung, " ujarnya.
Rufi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia harus mencari tahu apa yang telah terjadi pada Kanaya dengan bertanya pada dirinya sendiri. Hingga menit kemudian dia tersadar jika Kanaya sedang datang bulan. Wajahnya pias karena malu. Kanaya yang mengetahui perubahan Rufi mengguncang-guncangkan lengan kakak angkatnya itu.
" Kak, sebenarnya aku kenapa? " tanyanya lagi khawatir.
Rufi keluar setelah meminta agar Kanaya bersikap tenang dan melarangnya untuk datang ke sekolah. Dia segera melesat menuju ke toko sebelah rumahnya dan membeli pembalut wanita untuk Kanaya.
" Terima kasih bu, kembaliannya untuk ibu saja, " ujarnya dan langsung pulang karena malu membeli barang itu. Bu Sinta, sang pemilik toko menatapnya heran.
Sesampainya dirumah, Rufi berlari menuju ke kamar Kanaya. Saking kencangnya, kresek hitam yang berisi pembalut itu hampir terjatuh. Hal itu mengundang tanda tanya untuk Rianti, sang mama pun ikut mengejar Rufi. Sementara Edwin menatap datar sekilas tingkah polah anak semata wayangnya itu dan melangkah menuju ke pintu utama hendak berangkat ke tempatnya bekerja.
Didalam kamar Kanaya, Rufi mengeluarkan pembalut itu dan meminta anak itu memasangnya sendiri di ****** ********. Kanaya mengernyit karena bingung.
" Sebenarnya aku kenapa kak? aku tidak mengerti? " tanyanya polos.
__ADS_1