Mencintai Tuan Muda Ku

Mencintai Tuan Muda Ku
pulang telat


__ADS_3

Keesokan harinya, Kanaya segera melesat menghindari Rufi yang duduk menunggu diteras. Rufi bangkit dengan sekali melangkah, dia berhasil meraih pergelangan tangan gadis itu dan menarik agar berada disampingnya. Kanaya menunduk, menghindari kontak mata dengan Rufi. Rasa kecewa masih menyesakkan dadanya mengingat apa yang dilakukan oleh Rufi semalam di pesta.


" Kenapa kau meninggalkanku pulang semalam? " tanyanya. Kanaya merasa gugup karena terlalu dekat, tangannya berkeringat dingin. Rasa kecewanya semalam yang sebesar bumi musnah saat berdekatan seperti itu. Jantung Kanaya berdetak kencang. Lelaki yang digilainya itu membuatnya hampir pingsan.


" Aku lelah dan lagi.... " ujar Kanaya tertahan. Dia tidak sanggup melanjutkan kata selanjutnya karena terlalu berlebihan.


Aku cemburu. Aku membencimu karena menyukaimu!!!!


" Apa? " tanya Rufi. Kanaya memandang ke lain arah. Tiba-tiba Edwin lewat di depan mereka.


" Ehmmm... hm.... " dehemannya sangat keras agar kedua insan itu menghentikan acara saling memegang dan berdebat. Kanaya menepis cengkeraman Rufi. Dia mengambil sedikit jarak menjauh. Lalu menunduk, menyembunyikan rasa malunya kepada sang majikan besarnya.


" Kanaya bareng papa saja, " ajak Edwin agar tidak terlalu dekat dengan sang putra.


" Baik, tuan, " sahut Kanaya. Dia hampir berlari mengikuti langkah panjang Edwin menuju ke mobilnya. Rufi mendengkus kesal. Tangannya mengepal ke udara karena diganggu oleh Edwin. Niatnya menanyai Kanaya tidak jadi. Dia pun melangkah ke motor sportnya hendak pergi ke kampus.


Dikampus, Rufi disambut dengan banyak pasang mata indah yang memandang takjub akan kerupawanan wajahnya. Tubuhnya yang atletis menambahkannya sebagai daftar jajaran lelaki sempurna dimata kaum hawa.


Entah mengapa pagi itu dia merasa sangat lesu, tidak bergairah menyambut hari. Dia berjalan gontai menuju ke kelas tanpa menghiraukan para fans hawanya yang berulangkali bersiul dan berteriak memanggilnya, karena biasanya Rufi akan berhenti sekedar melempar lelucon atau menunjukkan senyuman manisnya. Ramah, adalah salah satu sifatnya yang menarik perhatian lainnya.


Hal itu mengundang tanya bagi Rafael, teman sebangkunya. Lelaki yang tidak lama jadi teman dekatnya.


" Kenapa kau terlihat lemah, letih, lesu, lunglai? lagi anemiakah? " tebaknya dengan terus menatap Rufi. Rufi menjawab dengan gelengan.


" Atau kau lagi datang bulan?? " tebaknya lagi.


Mendengar kata Rafael, Rufi teringat akan kejadian tempo hari yang membuat kharismanya runtuh saat Kanaya sedang mengalami hal itu. Dia menyikut lengan Rafael dan lelaki itu tertawa melihat perubahan ekspresi Rufi.


" Ampun, ampun.... " ujar Rafael dan tertawa lagi.


" Aku lelaki tulen, awas kau.....!!?! " teriak Rufi mengejar Rafael yang berlari keluar kelas.


Sementara nun jauh di tempat lain. Dikelas dua B, Kanaya termenung. Dia merasa tidak bersemangat. Senyum ceria dan ramah tamahnya hilang berganti wajah mendekati aura muram durja. Hendi, sang pengejar setia cintanya menghampiri dan duduk menghadap ke depannya dengan menopang dagu.


" Hai sayangkuh, apa yang terjadi denganmu? " tanyanya. Kanaya menatapnya sekilas, lalu nyengir.


" Aku tahu, kau pasti merindukanku bukan? setelah tiga purnama aku melewatkan datang ke sekolah? " tanyanya sembari menaikkan kedua alisnya yang tebal hitam. Tiga purnama dimaksudkan dengan tiga hari karena dia tidak masuk dengan alasan ijin keluar kota. Kanaya diam, tidak peduli dengan rayuan maut Hendi. Lelaki yang dijuluki ulat bulu itu hanya dianggapnya teman saja.


" Aku juga merindukanmu, sayang, " ujarnya dengan merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Kanaya. Seseorang menarik salah satu tangannya dan meletakkannya ke puncak kepalanya. Hendi menoleh,


" Hai ulat bulu, harusnya yang kau peluk, cinta itu aku. Bukan dia, " ujar Dinar. Gadis itu tahu jika Kanaya menampik dirinya sejak dulu. Hendi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kuat Dinar. Dinar yang cinta mati dengannya tidak melepaskan tangannya begitu saja hingga terjadi aksi tarik-menarik ekstrim. Dinar mengambil kesempatan memegang tangan lembut Hendi dan Hendi yang terlanjur malu karena ketulusannya tidak terbalas oleh Kanaya. Semua siswa yang melihat turut bersorak dan berteriak-teriak menyebut mereka sebagai pasangan kekasih baru. Kanaya yang sejak semalam pikirannya stres luntur karena menjadi terhibur ikut tertawa menyaksikan tingkah kekanakan mereka.


Saat itu Hendi senang melihat gadis yang dicintainya sudah tersenyum. Entah mengapa dia merasa jika ada sesuatu yang mengganjal di hati Kanaya. Detik selanjutnya dia berusaha mengakhiri lelucon yang dibuat oleh Dinar, gadis pesolek yang selalu mati-matian mencari perhatiannya.

__ADS_1


" Lepaskan tanganku, nanti sepulang sekolah aku akan mengajakmu ke suatu tempat, " ajaknya. Dinar diam dan nampak berpikir. Wajahnya yang kemerahan karena berlebihan memakai blush on itu mengerling genit kepada Hendi.


" Baiklah sayangku, " ujarnya lalu melepas gengaman tangannya dan pergi menuju ke bangkunya paling belakang. Melihat mereka usai semua kompak berteriak u dan kembali ke bangkunya karena bel masuk telah berdering.


Hendi pun duduk dengan tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun ke arah Kanaya yang sudah sibuk mengeluarkan buku menyambut pelajaran biologi.


Sampai kapan kau menolakku, Kanaya?????


Pelajaran berlangsung sampai tiba jam istirahat. Hendi menghampiri Kanaya lagi saat mengetahui jika Dinar telah meninggalkan kelas menuju ke kantin bersama geng centilnya. Selamat, pikirnya. Karena gadis centil gendut itu akan mengganggunya sampai jam istirahat usai.


" Sayang, ke kantin yukz, " ajaknya dengan wajah ceria. Kanaya menatapnya sebal. Lelaki yang selalu ditolaknya itu sangat bermuka tebal sekali? tidak berhentinya mendekati meski sudah ditolak berulang kali atas pernyataan cintanya.


" Sayang kenapa wajahmu selalu jutek dengan pangeranmu ini? apa salah paduka? " tanyanya merajuk. Wajah Kanaya berubah lagi, dia tersenyum melihat tampang melankolis dramatis dari Hendi. Wajah yang tampak sangat garang itu tidak cocok dengan raut seperti itu. Rasa tidak teganya langsung menyembul keluar dari singgasana hatinya.


" Baiklah tapi kau traktir ya? " tanya Kanaya. Tanpa berkata seperti itu pun Hendi rela menyerahkan seluruh isi dompetnya kepada Kanaya bahkan seluruh isi tubuhnya sekalipun, dia akan sangat amat rela.


" Kanaya, bukankah kau tadi mengajakku? " tanya Bella, teman sebangku Kanaya. Dia bangkit berusaha mengusir Hendi.


" Kita bisa bertiga kan? " tanya Kanaya lembut. Hendi kecewa, niatnya pergi berdua agar Kanaya memperhatikannya terganggu karena orang ketiga yakni Bella Anggita.


" Ya sudah aku traktir kamu juga, " ujar Hendi dan disambut dengan kerlingan tidak percaya dari Bella. Hendi mentraktirnya? siapa yang akan berani menolak? karena dia termasuk anak orang kaya raya pemilik sebuah pulau. Yang tentunya dompetnya sangat amat tebal.


Mereka bertiga berjalan menuju ke kantin dengan sesekali Hendi berusaha merangkul Kanaya yang selalu ditepis oleh Bella. Dia tidak mau jadi obat nyamuk karena dia juga tahu isi hati Hendi. Kanaya saja yang bodoh menolak cinta Hendi. Padahal lelaki manis itu tipikal orang dermawan dan tidak sombong meski lebaynya kepada Kanaya minta ampun. Bella tidak suka tapi juga tidak menampik aura baiknya. Bagaimana tidak baik, meski Kanaya menolak tapi dia tetap memperlakukannya dengan tulus.


" Sudah kubilang jangan sama Hendi, kau yang ngotot. Apa kau bisa menghabiskan semuanya dalam sekejap mata? " tanya Bella dengan bisikan. Kanaya terhenyak, dia menyesal tapi sudah terlanjur. Hendi sangat berlebihan. Dia berusaha tenang dan meminta Hendi duduk.


" Sudah, cukup Hendi. Ini sudah terlalu banyak, bagaimana aku menghabiskannya? " tanya Kanaya. Hendi mengedikkan kedua bahunya. Dia amat senang bersama Kanaya hingga melupakan batas kewajaran.


" Sekarang mari kita makan semuanya, " ajak Kanaya dan melanjutkan hidangan pertamanya yang belum habis. Bella menatap kesal Kanaya yang tidak tegas menegur Hendi. Temannya itu seolah masih memberi harapan kepada Hendi yang masih sangat menggilainya.


" Kau mau apa lagi? aku akan membawakanmu dengan segera, sayangkuh? " tanya Hendi. Kanaya menggeleng dan tersenyum manis dimata Hendi. Bella yang mengetahui kebahagian semu Hendi memalingkan muka.


" Biasa aja kali...... " ujar Bella menyindir Hendi. Lelaki itu nyengir kuda. Sindiran seperti itu tidak ada gunanya, toh Kanaya mau bersamanya sebagai teman sudah cukup membuatnya bahagia.


Tanpa banyak menit kemudian, mereka berdebat saling sindir. Kanaya sibuk makan ini, itu. Jika bisa dia ingin menghabiskan semuanya agar stresnya hilang. Dan kembali bersemangat menjalani hari tanpa terus memikirkan Rufi yang telah tanpa sengaja menyakiti hatinya.


Tapi ternyata kenyataan tidak semudah keinginan, dia kekenyangan sebelum menyelesaikan misinya. Dengan penuh penyesalan, dia menatap sayu Hendi. Berusaha meminta maaf agar lelaki baik bin dermawan itu maklum.


" Maaf, Hendi. Aku tidak bisa menghabiskan semuanya, " ujarnya. Hendi tersenyum.


" It's oke. Yang masih utuh bisa dibungkus untuk kau bawa pulang sayangkuh, " ujarnya tulus. Kanaya mengangguk. Bagi Hendi semua tingkah Kanaya sangat manis. Tidak Hentinya dia berdecak dalam hati, mengagumi sosok gadis itu. Selain cantik juga imut dan menggemaskan. Ingin sekali dia mencubit pipi putih pucatnya itu.


" Kalian masuk dulu bel sudah berdering, aku akan meminta bu kantin membungkusnya, " ujar Hendi. Bella segera menggandeng Kanaya untuk menuju ke kelas tapi Kanaya tertahan. Dia masih menunggu Hendi, kalau berangkat bareng pulang pun juga harus sama. Hendi menjadi baper', dia senyum-senyum bahagia. Bella hanya menatapnya kesal karena Kanaya seolah masih memberi harapan kosong untuk anak bos pulau itu.

__ADS_1


Sorenya, Rufi mondar-mandir di ruang tamu. Dia gelisah karena Kanaya tidak juga nampak batang hidungnya. Gadis itu belum pulang dari sekolah. Tahu dia tidak cepat pulang, Rufi pasti menyusulnya segera. Dia juga memarahi mang Didin habis-habisan.


" Kemana kamu Kanaya? " tanyanya gusar. Tidak hentinya dia juga melakukan panggilan telepon tapi tidak juga diangkat oleh Kanaya. Rufi semakin gelisah, pikirannya mulai takut berlebihan.


Kemana dia? apakah dia bersama temannya? atau seorang diri? dimana dia? ditempat amankah? atau disarang pen.....? ah tidak. Dia pasti baik-baik saja. Aku yakin, Tuhan lindungi dimanapun dia berada, amin.


Karena lelah, dia memutuskan duduk bersandar dan terus menatap ke pintu. Jikalau yang ditunggu datang, minimal rasa cemasnya hilang. Hingga setengah jam lebih belum juga muncul, akhirnya dia mempunyai rencana lain. Dia bangkit dan masuk ke suatu ruang dirumahnya.


Setelah kepergian Rufi, Kanaya mengendap-ngendap pulang. Dia membuka pintu, dan melesat menuju ke kamarnya. Diruang TV dia berpapasan dengan ibunya.


- Kau baru pulang? tanyanya. Kanaya tersenyum dan mengangguk. Namun saat ibunya mencoba menanyakan kenapa pulang terlambat, Kanaya langsung berlari masuk kamar.


Saat pintu terbuka, dia terkejut. Jantungnya hampir copot. Netranya melihat sosok lelaki yang bernama Rufi tengah duduk dengan kaki diatas paha tengah menatapnya tajam.


Alamak, mati aku. Kenapa lelaki ini sembarangan masuk ke kamarku sih??


Kanaya meletakkan tas di kursi tanpa berkata dan keluar lagi hendak membersihkan diri.


" Tunggu, kenapa baru pulang? " tanya Rufi penuh selidik. Kanaya yang kepalang basah hanya nyengir. Dia malas sebenarnya jika lelaki itu selalu curiga atas apa yang dilakukannya diluar. Toh dia juga masih melakukan hal yang wajar saja. Rufi seolah takut jika dia terjebak dalam circle pertemanan buruk.


" Aku main ke rumah Hendi, " jawabnya.


Rufi terkejut mendengar nama lelaki yang disebut adik angkatnya. Dia bangkit dan menghampiri Kanaya yang berada di belakang pintu dengan tangan memegang handle. Namun pintu yang sempat terbuka menutup kembali karena Rufi mendorong handle dengan memegang tangan Kanaya.


Rufi tepat berada di belakang, memutar tubuh Kanaya menghadap kepadanya dan mengunci tatapan mata Kanaya. Betapa gadis itu gugup mendapat perlakuan mengejutkan dari lelaki itu. Dia memalingkan wajah ke samping.


" Siapa Hendi? apa saja yang kau lakukan dengannya? " selidik Rufi. Dia tidak suka mendengar nama lelaki lain berhubungan dengan Kanaya. Meski hanya sebagai teman. Baginya Kanaya masih terlalu kecil berhubungan dengan lain jenis.


Kanaya tergemap, dia gelagapan mendengar cecaran Rufi. Dia gugup dan merasa kesulitan bernapas. Aroma parfum maskulin sang kakak menusuk hidungnya yang tepat didepannya. Kanaya hanya berani menatap jakun lelaki itu. Dia tidak mengangkat wajah menatap Rufi yang tengah emosi jiwa. Kanaya takut meski juga terpesona dalam sesaat.


Jika aku bisa menciummu? aku pasti bisa tidur nyenyak malam ini dan memimpikan berdansa denganmu!


Kanaya terdiam, masih berusaha menetralkan detak jantungnya. Betapa dia sangat lemah iman jika berada di dekat lelaki ini. Rufi membuatnya hilang akal. Dia terus menyadarkan dirinya yang hampir mabuk karena cinta.


Jangan berbuat diluar batas Kanaya, kau harus sadar siapa dirimu dimatanya. Hanya seorang anak pembantu yang naik level sedikit menjadi adiknya. Buka matamu, Kanaya!!!!!


" Jawab Kanaya Sheila Wardhana!! " bentak Rufi. Kanaya terkejut. Sikap sang kakak yang sangat tidak disukainya yang menandakan bahwa lelaki itu memang benar-benar marah karena kelakuannya pergi tanpa pamit dan mengikut sertakannya dimanapun itu. Sangat merepotkan.


" Dia temanku, " jawabnya cepat. Bentakan Rufi meluluhlantakkan hatinya yang terpesona. Kini lelaki itu nampak seperti monster, menakutkan meski kerupawanannya masih menonjol di ruangan gelap itu. Ya mereka bergelap-gelapan karena belum menyalakan lampu. Tangan Kanaya berusaha menyalakan lampu dengan meraba dinding mencari alatnya.


" Lalu ngapain kalian berduaan? " tanya Rufi. Kanaya menelan saliva berat. Sungguh pertanyaan Rufi bak seorang bapak yang menginterogasi sang putrinya yang tengah ketahuan kencan'.


" Aku gak berdua kok, ada Bella juga, " terang Kanaya masih menunduk.

__ADS_1


__ADS_2