Mendadak Jadi Sosialita

Mendadak Jadi Sosialita
Damai


__ADS_3

Melihat keadaan Tyas yang  tampak kepayahan bernafas  timbul rasa kuatir di hati Harsha.


" Are you ok?."Ujarnya sambil berjongkok di depan Tyas yang bersimpuh di lantai.


Tyas hanya mengangguk dan mencoba berdiri dengan sigap Harsha membantu Tyas memapahnya duduk di sofa.


Tyas menatap wajah abang angkatnya itu dan menggeleng gelengkan kepala setelah mendengar pertengkaran antara ayah dan abang angkatnya tadi.


Mata nya terbelalak melihat keadaan kamar pecahan beling dan ceceran darah  menghiasi kamar abang angkatnya.  kondisi abang angkat nya itu tampak sangat kacau ada luka


lebam membiru di sudut bibirnya dan tangan nya tampak berlumuran darah.


Meskipun sempat merasa marah karena selalu di jadikan pelampiasan nafsu birahi abang


angkatnya  namun melihat kondisi  Harsha saat ini Tyas merasa sedikit


iba. Ia melirik  tissue yang teronggok di


sudut meja ia bangkit berdiri meraih tissue itu dan mendekati abang angkat nya.


" Sini tangannya ." Ujar Tyas seraya menarik tangan kanan Harsha, di bersihkannya


luka itu dengan hati hati. Tanpa berkata kata dia melangkah keluar dari kamar


untuk mengambil kotak p3k dan segera bergegas kembali kekamar abang angkatnya.


Dengan penuh kehati hatian ia meneteskan iodine dan segera membebat telapak tangan abang angkatnya


itu. kemudian dengan gerakan yang cekatan dia membungkus beberapa buah  es


batu dengan tissue   ia menempelkan nya di sudut bibir abang


angkatnya.


"Awwwww!." Harsha terpekik saat dinginnya es batu itu bersentuhan langsung dengan


luka di sudut bibirnya.


"Sakit  ya?."TanyaTyas polos


Harsha terperangah mendapat perlakuan seperti itu dari Tyas, dia mencekal tangan Tyas dan menatap nanar ke wajah adik angkat nya.


Ada rasa bersalah telah memperlakukan adik angkatnya sebagai pelampiasan nafsu birahinya selama


ini.


" Kenapa kamu lakukan semua ini?"Tanya nya dengan nada yang tidak mengerti.


" Kenapa? Tidak boleh?." Sahut Tyas datar. sambil membereskan kotak p3k .


" Bukan , kamu  tidak sakit hati setelah apa yang aku lakukan sama kamu?."


" Tidak , karena memang kenyataannya aku sampah!." Sahut Tyas namun tak ayal butiran


air mata menggenang di pelupuk matanya.


Degh! Harsha sama sekali tidak menyangka dengan jawaban Tyas rasa bersalah rasa bersalah kian mendera hatinya.


Di rengkuhnya adik angkatnya dalam pelukannya di kecupnya kening Tyas.


" Maafkan aku, aku salah menilai kamu mulai sekarang aku akan menjaga kamu, panggil aku


mas." Bisik nya di telinga Tyas.


Harsha melepaskan pelukannya dan menatap wajah adik angkatnya dia melihat butiran bening sudah menetes di sudut mata Tyas di usap nya dengan perlahan.


“ Kamu mau kan memaafkan mas?.” Tanya  nya sambal memegangi pipi Tyas.

__ADS_1


Tyas hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Aku ke kamar ku dulu." Ujar Tyas seraya beranjak keluar dari kamar Harsha.


Sesampainya di dalam kamar segera di bersihkannya make up yang melekat pada wajahnya, dan menukar


baju dengan piyama memastikan telah mengunci pintu sebelum mengaplikasikan


night skincare routine.


Namun ia terperangah melihat sosok yang ada di cermin  di hadapan nya ia merasa tidak mengenali dirinya sendiri, "Benarkah ini Hayuningtyas Wardhani anak dari bapak  sudjiwo dari   sebuah dusun  kecil di provinsi jawa timur?."Tanya nya pada diri sendiri.


Untuk beberapa saat dia masih termangu memandangi  pantulan  dirinya didalam cermin semakin ia  memandangi  wajah dalam cermin itu dia semakin bergidik ngeri.


Ambisinya benar benar merubah segala nya, di dalam bathinnya terjadi perdebatan hebat antara rasa ingin mengakhiri segalanya di titik ini dan rasa ingin tetap melanjutkan hingga ambisinya terwujud.


" Sampai kapan aku menjalani kehidupan yang penuh kepalsuan ini?." ia kembali bergumam di dalam hati.


Senin paginya kantor heboh ,client yang ia bela mengakhiri hidupnya dari dalam jeruji besi dengan cara mengiris urat nadinya.


Tyas tidak habis fikir dari mana client nya mendapat kan silet yang ia pergunakan untuk mengiris


urat nadinya.


"Tyas apa ada hal lain yang di keluhkan client , pekan lalu?."Ujar pak Lukman atasannya


mengintrogasinya pasca tragedi yang menimpa salah satu client nya.


" Tidak ada pak so far so god, mungkin client mendapat tekanan secara psikis dari keluarga nya akibat kasus yang menimpa nya."


Pak Lukman hanya manggut manggut mendengar jawaban Tyas. Namun  dalam hatinya Tyas juga


bertanya tanya mengapa client nya nekad bunuh diri.


Padahal hari ini ada agenda pembacaan eksepsi client nya tyas memijit mijit pelipisnya yang tiba


tiba berdenyut.


Tyas tersenyum itu berarti pundi pundinya semakin tebal ia segera membalas pesan dari customer


nya.


" Sip segera saya beri kabar."


Selesai ia membalas pesan dari customernya panggilan masuk dari Mr Hideyaki yang mengundang nya


dinner nanti malam selepas jam kantor.


"Ok gladly and thanks for the invitation .. Mr Hideyaki see you."


" See you..Bye."Timpal Mr Hideyaki mengakhiri percakapan mereka.


Setelah jam kantor Tyas langsung memacu mobilnya menuju mall untuk membeli gaun baru dan mampir ke


salon langganan nya ia ingin Mr Hideyaki terkesan padanya malam ini.


Dia memutuskan untuk langsung menuju tempat resto yang telah di setujui Mr hideyaki telah


menunggunya di sana.


"Hallo."Sapa Tyas begitu ia sampai di meja yang telah di pesan Mr Hideyaki lelaki itu


tampak melongo melihat penampilan Tyas malam itu.


"Woow gergous." Puji Mr Hideyaki terang terangan.


Di sela sela menyantap makan malam itu mereka berbincang serius Tampaknya Mr Hideyaki sudah

__ADS_1


jatuh cinta pada Tyas sejak pandangan pertama.


Sudah menjadi kebiasaan Tyas berbohong dan memanipulasi siapapun. Pada Mr Hideyaki ia


bercerita bahwa ia harus membayar pengobatan ibunya yang tengah berjuang


melawan kanker darah.


Karena merasa Kasihan Mr Hideyaki mentransfer sebesar 20 juta dengan cuma cuma.


"No need, I feel bad you invited me for dinner but instead heard my sad story."Ujar


Tyas sambil mengelap air mata palsunya.


"It's okay,hearing your story I so remembered my mother,"Sahut Mr Hideyaki seraya menggengam telapak tangan Tyas.


Karena hari sudah larut akhirnya mereka berpisah.


Dalam perjalanan pulang Tyas tertawa cekikikan karena mendapat20 juta hanya dengan menemani


makan.


"Ini yang namanya kerja cerdas!." Tyas masih cekikikan mentertawakan kebodohan Mr


Hideyaki dan merasa bangga dengan otak liciknya.


Sampai di rumah sudah larut malam akhirnya Tyas memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di luar .Dengan hati hati ia memutar anak kunci pintu utama  dan menutup nya dengan perlahan  dengan setengah berjingkat  Tyas menaiki tangga menuju kamarnya.


Namun baru saja menjajaki tiga anak tangga dia mendengar seseorang berdehem


"Ehhhm."Sontak Tyas menoleh kearah asal suara.


Ayah angkatnya berdiri di depan kamarnya yang berada di lantai bawah.


" Selarut ini baru pulang? darimana saja kamu?."


" Eerhh i..ni a..da undangan dari teman kantor." Ucap Tyas berbohong. Ayah angkatnya beranjak menuju dapur bersih untuk mengambil air minum kemudian beranjak masuk kamarnya lagi.


Tyas segera melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.Tyas segera masuk kamar dan tidak lupa mengunci pintu kamarnya .


Tidak lama ia sudah terlelap dalam buaian mimpi yang tidak berujung.


Pagi harinya saat hendak berangkat ke kantor ia mendapati pemandangan yang tidak biasa kedua orang tua angkatnya tengah berada di meja makan tengah menikmati sarapan di pagi yang


cerah itu.


" Selamat pagi." Ucap Tyas pada keduanya.


" Pagi Tyas.. sini sarapan dulu." Sahut Amira Prasodjo dengan ramah seperti biasanya.


"Maaf bu saya terburu buru harus menemui client ." Sahut Tyas padahal yang sebenarnya


dia merasa kikuk jika harus duduk satu meja dengan ayah angkat nya mengingat


apa yang telah mereka lakukan beberap waktu yang silam.


" Oouh ya sudah jika begitu."


Tyas melangkah kearah meja makan untuk berpamitan dicium nya pipi Amira Prasodjo ibu angkatnya


itu.


Tepat saat itu ayah angkatnya menatap kearahnya dan mengerlingkan sebelah mata nya.


Ada rasa canggung  saat Tyas hendak mencium punggung tangan ayah angkatnya tapi dia terpaksa lakukan


demi sempurna nya sandiwara yang sedang mereka peran kan.

__ADS_1


" Saya pergi dulu pak.. bu." Ujar Tyas seraya beranjak dari sana.


Kedua orang tua angkat nya menganggukan kepala seraya tersenyum tipis.


__ADS_2