Mendadak Jadi Sosialita

Mendadak Jadi Sosialita
Prodeo pro bono


__ADS_3

Setibanya di kantor pak Lukman atasannya mengumpulkan semua bawahannya.


" Teman teman ini ada kasus yang cukup menarik yang jadi masalah adalah client ini zero money ."


" Ada yang mau mendampingi?." Tanya pak Lukman.


Tanpa ragu tyas menawarkan diri.


" Kamu yakin Tyas? Ini artinya kamu sebagai pengacara prodeo pro bono."


"Yakin pak." Jawab Tyas mantap.


Tyas sudah siap dengan segala resiko yang akan di tanggung nya karena dia mengajukan diri secara prodeo artinya tidak menerima bayaran satu sen pun dari client dan biaya operasional wara wiri nya keluar dari kantong pribadi.


Tapi Jiwa Ambisius Tyas mempunyai perspektif berbeda jika ia bisa memenangkan kasus ini tentunya kiprah nya sebagai lawyer akan semakin di perhitungkan.


Tyas mati matian mempelajari kasus ini dan ia tersenyum sumringah ia tahu pasal pasal mana yang akan di gunakan untuk bermanuver melawan jaksa penuntut hukum.


Siang ini dia menemui clientnya seorang pemuda berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai karyawan sebuah perusahaan yang di tuduh melakukan pelecehan terhadap sekretaris perusahaan .


Meskipun berjiwa ambisius yang cenderung menghalalkan segala cara tapi Tyas tetaplah manusia yang masih punya sisi kemanusian.


Sebelum menemui clientnya dia mampir di sebuah gerai fastfood untuk mengisi perutnya dan membungkus untuk di berikan pada client nya. terlebih lagi ia tahu bahwa client nya berasal dari golongan yang tidak mampu.


Setibanya di rumah tahanan dia mengisi administrasi untuk menemui client nya itu mereka duduk berhadapan.


" Hallo saya yang akan mendampingi kamu , mohon kerja samanya." Ujarnya seraya menjabat tangan client nya.


" Tapi saya tidak punya uang bu."Jawab clientnya lirih sambil tertunduk.


Jiwa kemanusian Tyas tersentuh melihat mahluk lemah di hadapannya.


" Saya sudah tahu semua, tidak usah khawatir, Sudah makan belum? ini makan dulu." Ujar Tyas


sambil menyodorkan makanan yang ia bungkuskan dari gerai fast food tadi.


Si pemuda menyambut kotak dari tangan Tyas dan menyantapnya detik itu juga beberapa saat mereka sudah terlibat pembicaraan serius.


Karena waktunya terbatas Tyas mempersingkat percakapannya. Tidak lupa ia meminta alamat keluarga si client.


Tyas menangis dalam hati melihat mahluk lemah di depannya itu akibat tuduhan yang tidak beralasan ia harus mendekam di tahanan.Sementara ia adalah tulang punggung keluarganya.


" Saya pergi dulu, kamu tidak usah banyak fikiran saya akan selesaikan semua.. Ingatlah untuk tetap berperilaku baik selama di sini mengerti?." Pesannya.


Pemuda itu menganguk setelah mengucapkan terimakasih pada Tyas.


Tyas mengarahkan mobilnya menuju sebuah perkampungan padat penduduk di bilangan jakarta pusat. Ia sempat beberapa kali tersesat karena memasuki gang gang sempit.


Kehadirannya di pemukiman itu menarik perhatian warga sekitar wajar saja, penampilan nya begitu kontras jika di bandingkan dengan penduduk sekitar.


Setelah bertanya sana sini akhirnya ia bisa menemukan rumah keluarga si client. Rumah kecil berlantai dua semi permanet di pinggiran kali Cideng yang berwarna hitam dan bau yang menyengat.


" Assalamualikum?." Seru Tyas dari depan pintu


Seorang wanita seumuran ibunya menyambutnya dengan wajah ramah.


" Cari siapa non?" Ujar perempuan tua itu terheran heran karena baru kali ini rumah nya kedatangan tamu yang dari wajah dan penampilan   kelihatan sangat mentereng.


Tyas segera memberi tahu bahwa ia pengacara anak lelaki si ibu setelah di persilahkan masuk mereka berbicara beberapa saat.

__ADS_1


" Di minum non, maaf ya beginilah keadaan kami ndak tertelan ya non hehe.?." Ucap perempuan tua itu merasa sungkan dengan suguhan yang ia hidangkan untuk Tyas.


"Tertelan kok bu , saya juga dari kampung." Hibur Tyas sembari mencomot singkong goreng dan menyeruput teh manis. meski jujur saja singkong goreng itu susah payah melewati tenggorokannya, namun karena tidak ingin melukai hati si ibu iya pura pura menikmatinya.


Karena hari menjelang sore Tyas berpamitan pada ibu si pemuda tidak lupa ia menyelipkan amplop coklat ke tangan si ibu.


"Apa ini non?." Ucap ibu si pemuda dengan tangan bergetar.


" Untuk ibu, selama Anto di tahanan, tolong bantu doa agar semua lancar." Ujar Tyas.


" Ya allah ya robbi terimakasih non." Si ibu menghambur memeluk Tyas dan berkali kali mengucap kan terima kasih dengan suara parau karena menangis.


" Saya pergi dulu ya bu, jangan banyak fikiran saya akan bantu anto semaksimal mungkin, Assalamualaikum." Pamit Tyas.


" Waalaikum salam semoga allah ganti berlipat lipat kali non."


" Aamiin ya Allah."Tyas mengenakan kacamata hitamnya dan berjalan keluar gang menuju mobilnya.


Saat tengah konsentrasi menyetir Tyas merasakan getaran dari smartphone nya. Tyas memberhentikan mobilnya di bahu jalan untuk menerima panggilan dari smarphone nya.


Seakan tidak percaya bahwa abang angkatnya menelfon dirinya.


" Hallo." Sapanya.


" Dimana dek kok belum pulang?." Ujar Harsha abang angkatnya .


Tyas seolah tidak percaya dengan apa yang di dengar nya Harsha memanggil nya dek? .


" Di jalan mau pulang mas." Sahut Tyas sedikit canggung memanggil Harsha dengan sebutan abang.


" Oouhh hati hati kamu di jalan." Timpal Harsha sebelum menutup telfon.


Tyas tersenyum kecut ada apa ni mahluk tiba tiba begitu perhatian terhadap dirinya.


Tok.. tok ..tok!


Terdengar ketukan dari arah pintu kamarnya


" Siapa?." Sahut nya.


" Mas dek." Sahut Harsha dari luar kamar


Tyas mendengus kesal kenapa sich itu mahluk menggangu dirinya.


Tyas bangkit dari kursi berjalan ke arah pintu.


" Kenapa mas ?". Tanya nya.


" Mas ingin ngobrol." Ujar Harsha sambil menerobos masuk sebelum Tyas mempersilahkan nya.


Harsya meraih buku yang sedang di baca Tyas


"Kamu lagi tangani kasus?" Tanya Harsha.


" Ya tuduhan pelecehan seksual."


Harsha meskipun sudah drop out tapi otak nya cukup cerdas terlebih lagi ia mengambil gelar master hukum di stanford.


Harsha mengajari Tyas pasal pasal mana yang bisa menjadi jurus andalan nya nanti di persidangan.

__ADS_1


mereka berdiskusi seru hingga tanpa terasa waktu beranjak menjelang dini hari.


" Makasih ya mas." Ujar Tyas


Harsha hanya menganguk dan keluar kamar dari Tyas.


Keesokan paginya tyas bangun dengan hati yang gembira   meskipun hari ini ada agenda sidang.


Tyas begitu percaya diri bahwa ia bisa membebaskan client nya dari segala dakwaan  setelah mengumpulkan bukti bukti yang valid.


Ia melangkah memasuki ruang sidang dengan  dengan  senyum senantiasa terkembang di wajahnya.


 Semua menyimak jalannya persidangan dengan  seksama.Hakim ketua mulai bertanya menanyai saksi yang di hadirkan.


" Saudari saksi apakah saudari melihat dengan jelas adegan saat saudara Anto melakukan pelecehan terhadap saudari penggugat?".


" Tidak yang Mulia hanya saja saat itu saya berpapasan dengan saudari penggugat dalam keadaan menangis dan pakaian yang di kenakan berantakan."


" Begitu..baik jadi saudari tidak melihat secara langsung ya."


" Tidak yang Mulia."


Kemudian Hakim bertanya pada si penggugat kronologi kejadian pelecehan yang ia layang kan pada client nya.


Jawaban si penggugat yang tidak konsisten membuat Tyas geram.


Tyas memohon izin pada Hakim untuk mengajukan pertanyaan pada si penggugat.


" Saudari penggugat seperti yang saudari katakan bahwa ini adalah kejadian untuk yang ke tiga kalinya bukan begitu?."


" Betul."


" Yang jadi pertanyaan saya mengapa justru baru di kejadian yang ketiga kali nya saudari baru melapor? kejadian pertama dan kedua apa saudari menikmati?."


Mendengar pertanyaan Tyas ruang sidang menjadi riuh oleh sorakan hadirin yang hadir siang itu.


" Huuu ... Huuu ..Huuu."


Hakim nampak gusar dengan sorakan pengunjung


" Harap tenang ! Harap tenang! harap diingat ini ruang sidang bukan pasar!."


Seketika ruang sidang kembali hening.


" Keberatan yang mulia pertanyaan saudari penasihat hukum tergugat tidak substansial dan cenderung meleceh kan client saya!." Protes penasehat hukum penggugat.


"Keberatan di tolak!, penasihat hukum silahkan lanjutkan." Tegas hakim ketua.


" Saudari,  apa alasan   mendasar   hingga saudari  merasa lecehkan maaf apakah ada bagian bagian tertentu dari tubuh saudari yang di sentuh?."


"  Keberatan Yang Mulia, pertanyaan kuasa hukum tergugat sudah melenceng ini tugas penyidik bukan tugas seorang penasehat hukum!."


Ketua majelis sejenak terlihat berdiskusi dengan anggota sebelum  menerima keberatan dari kuasa hukum penggugat.


"Keberatan di terima, saudara penasehat hukum tergugat mohon untuk mengajukan pertanyaan yang sesuai konteksnya."


" Baik yang mulia." sahut Tyas yang disambut lirikan maut dari penasehat hukum pengugat.


Sidang akhirnya di tutup dan akan di lanjutkan pekan depan . karena  tim Tyas mengajukan eksepsi.

__ADS_1


Saat melewati depan si penggugat dan penasehat hukum nya Tyas menjulurkan lidah nya.


Tingkah konyol Tyas mengundang tawa sejumlah wartawan yang meliput siang itu.


__ADS_2