
" Saya antar kamu pulang ." Ujarnya pada Anto. Tyas segera menghidupkan mesin mobilnya namun Anto masih berdiri mematung di samping mobil, Tyas dapat memaklumi sikap Anto yang tampak canggung.
" To ayo masuk'." Serunya seraya membukakan pintu depan di samping nya. Namun Anto masih tampak ragu ragu untuk masuk kedalam.
"Bu saya naik bis saja , saya sudah banyak merepotkan ibu." Seloroh Anto sambil tertunduk malu.
" To ayo masuk tidak perlu segan sama saya kita ini sama sama manusia, tidak ada bedanya ayo cepat masuk." Bujuk nya dengan lembut.
Karena merasa tidak enak Anto akhirnya masuk kedalam dan duduk di samping Tyas selama dalam perjalanan menuju rumahnya Anto lebih banyak diam, hanya menjawab jika di tanya. Hal itu membuat Tyas semakin bersimpati padanya.
" Saya tahu apa yang kamu kuatirkan, tidak usah kuatir saya akan carikan kerja untuk kamu." Tyas dapat menebak apa yang menjadi beban Anto sekarang akibat kasus yang menimpanya tentu saja anto kehilangan pekerjaan.
" Saya tidak tahu lagi dengan apa saya membalas kebaikan ibu ." Ujar Anto dengan suara bergetar."
"To sesama manusia itu harus tolong menolong, sekarang saya diatas siapa tahu besok saya di bawah hanya Tuhan yang tahu.."
Tidak lama mereka sampai di pemukiman daerah Anto tinggal mereka berhenti depan sebuah rumah depan gang yang menuju rumah Anto.
Tampak sekumpulan ibu ibu sedang bercengkerama ada yang tampak sedang mencabut uban ada pula yang terlihat sedang mencari kutu di rambut anak nya.
Melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka ibu ibu itu sontak menghentikan kegiatan mereka sang gadis kecil yang tadi di cari kutu oleh emaknya nampak mengenali Anto saat Anto turun dari mobil.
" Oom Anto , mak itu Oom Anto." Tunjuk gadis kecil itu.
Emak emak itu pun melongok kearah yang di tunjuk gadis kecil itu.
" Lah elu tong? emak lu udah tahu belon loe pulang." celeluk salah satu dari mereka dengan logat campur campur.
Anto hanya menggeleng .
" Neng kasih tahu noh ke nek Rasem oom Anto pulang ." Ujar Seorang ibu menyuruh gadis kecil itu.
Gadis kecil itu langsung ngacir masuk kedalam gang menuju rumah Anto untuk memberi tahu keluarga Anto.
" Calon bini lu tong? Demplon bener, macam mana emak bapaknya buat bisa demplon begini anaknya." Celetuk seorang nenek sambil memandangi Tyas.
" Hussh Mak ntu bukan calon bininye Anto , ntu pengacaranye Anto.!" Seorang gadis muda menjawil tangan si nenek.
__ADS_1
" Oouh, lah emak kira calon bininye Anto" Si nenek tampak manggut manggut.
Mengetahui kalau itu pengacara nya Anto emak emak itu merapikan baju meraka dan minta foto denganTyas.
"Non boleh minta foto ya , buat setori whatsapp sama ntu di tarok di pesbuk."Seorang ibu sambil senyum senyum mengajukan permintaan ke Tyas.
" Boleh bu mari." Sambut Tyas.
" Non boleh Request tidak?."
" Apa itu ibu?." Tyas menyahut dengan lembut.
" Boleh tidak non pakai jubahnya sama dasi putih itu non biar kelihatan pengacara beneran gitu."
" Lah ..lah ngade ade aja lu Sarni!." Sergah ibu yang lebih tua.
"Yee kapan lagi kite bisa foto foto bareng pengacara kita pan orang kecil lu mau juga kan." Ujar seorang perempuan yang di panggil Sarni itu.
" Non kalau nanti saye gugat suami saye bisa bela saye dong non." Celetuk ibu Sarni.
" Yaelah mpok sri kagak bisa lihat orang seneng ,kan ngayal dulu aah elah." Sungut pok Sarni.
" Hhahhaha hhahhaha hahhaha hhahah. hhhaha hhahha hhhaha . Geng emak emak itu tertawa terpingkal pingkal mendengar perdebatan rekan mereka.
.
Perdebatan bu Sarni dan mpok sri yang kocak mengundang tawa rekan rekan lainnya tidak terkecuali Tyas.
Tyas segera ingat permintaan bu Sarni ia di landa dilema memakai toga Bef dan dan simare di luar sidang itu tidak di benarkan. Tapi melihat wajah wajah mereka Tyas tidak tega.
" Ya sudah ibu ibu tidak apa apa sebentar ya." Tyas masuk kedalam mobil untuk memakai atribut nya sebagai pengacara seperti di dalam ruang sidang meski dengan hati yang ketar ketir.
Ia takut jika foto dironya yang memaki toga lengkap dengan simare dan bef di luar sidang itu akan menimbulkan masalah nantinya.
Ibu ibu itu tampak tidak bisa menyembunyikan rasa takjub nya melihat wibawa Tyas dibalik toga pengacara lengkap dengan atribut nya. Mereka segera ambil posisi berfoto foto di depan mobil Tyas.
" To bengong aje loch fotoin kita napa." Seru mereka ." Anto tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan genk emak emak rempong ini.
__ADS_1
Saat mereka sedang berfoto foto mak Rasyem ibunya Anto dan kakak perempuan Anto berdiri di depan gang sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan tetangga nya.
" Sini mak Rasem foto foto kita, biar sodara di kampung tahu kita foto sama pengacara." Celetuk mereka .
Mak Rasem dan kakaknya Anto dengan malu malu akhirnya mau juga di foto Tyas melirik Jam tangannya ia pun berpamitan pulang tidak lupa ia mencium tangan ibunya Anto dan seorang nenek yang tadi ikut berfoto foto.
" Maaf semua saya pergi dulu ya sampai bertemu lagi." Ujar Tyas sambil menangkup kan telapak tangannya dan masuk kedalam mobilnya .
Anto dan para tetangganya mengiringi kepergianTyas dengan lambaian tangan hingga mobil Tyas menghilang dari pandangan mata mereka.
Ada rasa haru yang membuncah di hati Tyas melihat kepolosan tingkah mereka dan kehangatan sikap mereka yang tidak di buat buat seketika jadi teringat dengan suasana di kampung dan rindu pada ibunya.
Tyas mengarah kan laju mobilnya memasuki sebuah perkampungan kumuh di ujung timur jakarta. Tanpa seorang pun yang tahu di balik sikap Ambisius Tyas dia punya empathy yang begitu besar pada mereka yang kurang beruntung.
Di dalam bagasi mobilnya sudah tersimpan aneka rupa camilan dan bahan makanan untuk di bagi bagikan pada mereka yang mengais rezeki di tengah lautan sampah.
Mereka sudah hafal dengan kedatangan Tyas bahkan deru suara mesin mobilnya saja begitu familiar di telinga mereka.
Mereka menyambut Tyas di depan gang mereka membantu Tyas mengeluarkan barang barang dari bagasi dan dua orang pemuda menjaga mobil Tyas selama perempuan muda itu membagi bagikan sembako dan kue kue.
"Assalamualaikum semua, gimana kabar kalian semua sehat?!." seru Tyas sambil menebarkan senyum.
" Waalaikum salam sehat neng." Jawab mereka serempak mereka sudah berhenti dari kegiatannya memilah milah sampah.
" Ini ada rezeki untuk kalian silahkan di ambil." Ujar Tyas tanpa perlu di komandoi mereka dengan tertib. mengambil jatah mereka masing masing tidak lupa Tyas ia sudah memegang segepok amplok putih berisi uang untuk di bagi bagikan pada mereka.
Setelah semuua mendapat jatah nya Tyas pun memutuskan untuk beranjak dari tempat itu, ada kegembiraan tersendiri melihat senyum di wajah mereka saat itu.
" Saya pulang dulu ya, sehat sehat ya kalian tetap semangat!" Ujar tyas sembari mengepalkan telapak tangannya memberikan semanggat pada mereka.
" Hati hati di jalan non, murah rezekinya panjang umur nya orang baik semangat!." Ucap mereka tak urung ketulusan hati mereka mendoakannya membuat air mata menggenang di pelupuk mata Tyas.
Sesampai nya di depan gang yang menghadap kejalan raya Tyas menghampiri kedua pemuda yang menjaga mobilnya.
" Ini untuk kalian terima kasih ya, tetap semangat ." Ujar Tyas menepuk bahu keduanya tanpa merasa risih dengan penampilan mereka yang kotor dan kumal.
" Hati hati kak , terima kasih banyak." Balas mereka sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1