
Setelah keluar dari ruang sidang Tyas kembali menyemangati clientnya itu
" Tetap semangat yakin kamu bisa bebas." Ujar nya sambil menepuk bahu client nya.
" Terima kasih bu." Ujar clientnya sambil sedikit membungkuk.
Tyas segera mengarah kan mobilnya menuju sebuah Spa, ingin memanjakan tubuhnya setelah berjibaku dengan pekerjaannya yang menguras tenaga dan fikiran.
Ia begitu menikmati pijatan pijatan yang di berikan oleh sang therapist .
Tiga jam sudah ia habis kan waktu di dalam Spa kini tubuh dan fikiran nya terasa lebih fresh.
Secara kebetulan Agen propertynya menghubungi dirinya sesaat setelah keluar dari tempat spa itu.
"Ya hallo selamat sore pak?."Sapa Tyas.
" Sore bu Alisha kapan ibu ada waktu untuk serah terima kunci?." Sahut Agent property kepercayaannya.
"Baik pak dalam dua hari ini saya bisa datang."
Tyas girang bukan alang kepalang akhirnya aset yang di impi impikan jadi nyata.
Segera menghubungi travel langganannya untuk memesan tiket untuk besok.
Tiket sudah ia dapatkan tinggal berangkat.
Malam ini Tyas di serang imsonia jam dinding telah menunjukan pukul 1.30 dini hari tapi mata nya tetap tidak mau terpejam karena euforia yang melanda hatinya.
Ia merasa begitu bahagia dan tidak menyangka ia bisa membeli aset yang cukup mewah di pulau dewata dengan hasil keringat nya sendiri meskipun jalan nya tidak sepenuhnya lurus.
Pukul 4.50 dia kembali terjaga setelah minum air putih dia bergegas membersihkan tubuhnya guyuran air di pagi buta itu terasa menyegarkan seluruh sel sel dalam tubuhya.
Setelah mengeringkan rambut dan memblownya ia segera memoles wajahnya dengan sapuan make up tipis.
Dia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai satu dia berpapasan dengan pembantu keluarga Prasodjo yang dari awal kedatangan nya sudah menunjukan rasa tidak suka terhadap dirinya secara terang terang an.
Tidak ada sepatah kata pun terucap dari mulut perempuan berusia senja itu saat berpapasan malah melengos.
Namun telinga Tyas mendengar perempuan itu kembali bergumam.
" Murahan."
Tyas menghentikan langkahnya dan berbalik arah,menghampiri pembantu keluarga Prasodjo itu dengan perasaan kesal.
" Ngomong apa tadi, jangan buat kesabaran saya habis ya Mbok, saya ini pengacara saya bisa tuntut mbok ."
Ancam Tyas seraya memperlihat kan kartu anggota di organisasi khusus advokat itu.
" Jangan merasa paling suci, kita semua pendosa hanya jalan nya yang berbeda!." Dengus Tyas.
Mbok Marni meskipun sudah berusia lanjut namun tubuh nya bugar dan matanya masih sangat jeli.
Sekilas ia membaca kartu anggota milik Tyas Nyali Mbok Marni tampak ciut.
__ADS_1
Perempuan paruh senja itu beringsut dari hadapan Tyas dengan menunduk entah apa yang ada di pikirannya. Entah apa yang menyebabkan Mbok Marni tidak menyukainya. Tyas tidak habis fikir.
Jauh didalam hati Tyas sebenarnya tidak tega dan bukan levelnya untuk beradu mulut dengan perempuan yang usia nya jauh lebih tua, tapi semakin diri nya diam Mbok Marni merasa di atas angin.
Karena tidak mau membuang buang waktu ia segera menuju keluar rumah untuk mengejar waktu ke bandara.
Pesawat yang akan membawanya terbang ke pulau dewata, itu telah tiba di bandara penumpang di persilahkan masuk .
Tyas berjalan menuju dalam kabin pesawat senyum senantuasa terkembang di wajah ayunya.
Hampir dua jam ia berada di udara akhirnya tiba juga di bandara pulau dewata pak Made agen propertinya sudah menunggu di depan pintu kedatangan.
" Selamat datang di balai bu Alisha." Sambut pak Made.
" Terimakasih bli." Mereka segera menuju lokasi untuk mengechek ulang barang kali ada yang membuat Tyas kurang sreg mengingat Tyas membelinya secara cash.
"Baik bli saya suka saya akan lunasi hari ini juga." Ujar Tyas.
Senyum sumringah terlihat jelas di wajah Bli Made ia dengan sukarela mengantar Tyas ke berbagai destinasi di bali tanpa imbalan.
Karena Komisi yang akan dia dapat dari penjualan property yang di beli Tyas sangat besar.
Tyas yang sudah sering mengunjungi bali sewaktu kecil tampak kagum dengan kemajuan di pulau yang mendapat julukan pulau dewata itu.
Ya karena sebagai orang jawa timur Tyas tinggal menyeberang dari pelabuhan jika ingin ke bali.
" Banyak kemajuan ya bli dulu sewaktu saya usia masih 15 tahun saya sering ke sini tinggal nyebrang belum semaju ini.
" Ooouh ibu Alisha orang jawa timur?." Ujar Bli Made dengan logat khas bali
Malam nya Tyas mengunjungi sebuah club malam di daerah nusa dua untuk merefresh fikiran nya.
Saat tengah Asyik menikmati suasana club Harsha kembali menghubunginya .
Menanyakan keberadaan nya
" Di mana dek?." Tanya Harsha.
Tyas terpaksa berbohong ia tidak ingin satu orang pun yang tahu jika ia sedang berada di bali apalagi memberi tahu soal asetnya yang baru saja ia lunasi.
" Di club mas ada teman yang ulang tahun." Tyas berbohong tentang keberadaan nya benar ia ada di club tapi lokasi nya bukan di jakarta.
Ia sedikit merasa heran dengan perubahan sikap Harsha abang angkat nya itu belakangan ini yang tampak begitu care terhadap dirinya.
" Jangan sampai mabuk, jaga diri.. bye" Tutup Harsha
" What the hell." Gumam Tyas.
Keesokan hari nya setelah menyelesaikan urusan nya dengan urusan pembelian rumah di pulau dewata ini telah selesai sore hari nya Tyas kembali terbang ke jakarta.
Karena besok akan ada agenda sidang client nya.
Tepat pukul 18.00 Ia sudah tiba di depan rumah orang tua angkatnya.
__ADS_1
Rumah dalam keadaan sepi penghuni nya sibuk dengan urusan masing masing, Tyas naik ke lantai atas di mana kamar nya berada di lantai itu.
Euforia nya belum padam dia kembali jejingkrakan di dalam kamar
" Yes yes step by step i' ll make my dream come true!." Pekiknya dalam hati.
Ia menghapus make up nya sembari bersenandung kecil suasana hatinya benar benar sedang di liputi rasa bahagia.
Sesaat kemudia dia telah berendam di dalam bath up tidak ada rasa lelah sama sekali meskipun telah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Pagi hari nya seperti biasa ia menjalani rutinitas nya sebagai pengacara kebetulan hari ini sidang . Agenda sidang kali ini adalah sidang putusan . sidang sedikit molor karena pihak nya mengajukan eksepsi pekan lalu.
" Jangan grogi santai saja ok." Pesan Tyas pada client nya sebelum sidang di buka.
Client nya mengangguk.
suasan ruang persidangan tampak begitu tegang majelis hakim , panitera para penasehat hukum dan semua yang terlibat dalam persidangan telah menempati posisi nya masing masing.
Hakim ketua segera membuka sidang itu dengan mengetukan palu.
TOK TOK TOK!
"Dengan ini saya menyatakan sidang di buka untuk umum. selama sidang berlangsung mohon untuk bersikap tenang dan menghormati sidang!."Hakim ketua mengeluarkan woro woro. Dan pembacaan Amar putusan pun di mulai.
" Dengan ini menyatakan bahwa Anto Febrianto anak dari suwito tidak terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan pihak penuntut umum." Belum selesai hakim membacakan amar putusan client nya sudah menyerukan takbir dan bersimpuh.
" Allahakbar!" Seru client sambil bersimpuh di depan majelis hakim. Tyas menghampiri client nya dan memintanya kembali ke posisinya
Client langsung menghambur kearah atas tidak henti hentinya mengucap kan terima kasih.
" Sudah ini berkat doa ibu mu." Hibur Tyas.
segerembolan waratawan telah menunggu Tyas mereka tampak antusias untuk mewawancarai Tyas.
" Kak ..kak boleh minta waktunya sebentar?."Cegat seorang wartawan seraya mengarah kan recorder dan camera kearah Tyas.
" Boleh silahkan jika ada yang ingin di tanyakan." Jawab Tyas dengan sangat ramah.
" Menurut informasi yang kami dengar kakak membela dengan jalur prodeo benar begitu?."
" Baik, informasi yang teman teman wartawan dengar itu benar saya menempuh jalur prodeo semata mata karena demi kemanusian, di mata hukum semua kita punya kedudukan dan hak yang sama." Jawab Tyas.
" Bagaimana pendapat anda dengan idiom yang berkembang di masyarakat kalau hukum di negeri kita tajam ke bawah tumpul keatas.." Tyas tersentak kaget sama sekali tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang menohok tepat di ulu hatinya.
" Kalau untuk hal itu mohon maaf saya no comment ya teman teman." Timpal nya seraya menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya sambil tersenyum.
" Kakak boleh ambil fotonya ya ."
"Silahkan, mau gaya seperti apa? mau begini begini atau sambil kayang?." Canda Tyas untuk menghibur rekan rekan wartawan yang tampak lelah karena mengikuti sidang .
" Wah wah ternyata punya selera humor juga ya." Celetuk salah satu dari mereka yang di sambut tawa riuh rekan rekannya.
"Hahahha hahhahaah hahahhahaha"
__ADS_1
Ia pun segera pamit undur diri dari rekan rekan wartawan dan bergegas menuju mobil nya.