Mendadak Jadi Sosialita

Mendadak Jadi Sosialita
Bertengkar


__ADS_3

Tyas memutuskan untuk refreshing berjalan jalan mengitari mall yang biasa ia sambangi. Karena perutnya terasa keroncongan ia memutuskan singgah di sebuah resto jepang.


Saat tengah menunggu pesanannya datang ekor menangkap sesosok pria parlente keep on eye kearah nya.


" Hmm boleh juga tuch gadun." gumam Tyas sambil nyengir.


Tidak lama pesanan nya datang ia memesan semangkuk ramen dan juga sushi. Saat sedang asyik menyantap makananannya tiba tiba pelayan datang menghampiri meja seraya mengantarkan 1 porsi wagyu steak.


Ia sedikit keheranan karena tidak merasa memesan steak.


" Maaf saya tidak memesan steak dek."Ujarnya pada pelayan resto itu .


" Oouh ini hadiah dari bapak di meja seberang kak." Sahut pelayan muda itu seraya menunjuk kearah lelaki parlente yang sedari tadi memperhatikan dirinya.


Tyas mengikuti arah yang di tunjuk pelayan resto.


Lelaki parlente itu melambaikan tangan dan tersenyum kearah nya.


Tyas membalas dengan senyum dan mengangguk.Setelah menghabiskan seluruh pesanan di tambah steak hadiah dari lelaki yang duduk di sebrang ia duduk sebentar sebelum menuju cashier.


Saat di meja cashier untuk membayar Tyas di buat tercengang pesanannya sudah di bayar oleh lelaki parlente yang tadi duduk di sebrang meja.


Tyas bergegas keluar dari resto untuk menyusul lelaki yang belum beranjak jauh dari resto, Tyas mempercepat langkah nya agar tidak kehilangan jejak.


Akhirnya ia berhasil menyusul lelaki parlente itu kini ia berada tepat di belakangnya.


" Hallo." Seru Tyas.


Lelaki parelente itu menghentikan langkahnya dan tampak celingukan mencari asal suara, sesaat kemudian lelaki itu membalik kan badan dan tersenyum kearahnya.


"Hai." Sapanya.


" Hai, terima kasih atas traktirannya tadi, oh ya kita belum kenalan saya Alisha." Ujar Tyas seraya menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan.


" Alisha nama yang cantik secantik orangnya." lelaki parlente itu mengeluarkan gombalan basi sambil menjabat tangan Alisha.


" Saya Hideyaki." Timpalnya lagi dengan aksen jepang yang kental.


" Hideyaki Takaziwa?." Alisha menebak sekenanya.


' No no no.. Bukan itu Hideyaki Takaziwa hehehe." lelaki parelente itu terkekeh.


" Maaf maaf.' Sahut Tyas seraya menangkup kan kedua telapak tangannya.


" Tidak apa apa."


Melihat lawan bicaranya tampak kesulitan berkomunikasi dalam bahasa indonesia Tyas berinisiatif memberi tahu bahwa dia bisa berbicara dalam bahasa inggris.


"If you are not so fluent in Indonesian don't worry I can speak in proper english." Ucap Tyas.


Mendengar hal itu membuat lelaki parlente itu sumringah.


Ia mengajak nya Tyas duduk di sebuah caffe di dalam mall itu.


"Would you be willing if I invited you to sit down for chit chat at the café,?." Tawar nya dengan sopan.


" My pleasure." Sahut Tyas.


Ternyata Hideyaki adalah seorang expatriat baru tinggal di jakarta sekitar 6 bulan, ia bekerja sebagai konsultan di sebuah perusahaan manufaktur raksasa di jakarta.


Seperti yang sudah sudah Tyas selalu meluncurkan cerita cerita bohong tentang dirinya untuk menaikan valuenya di mata lawan bicaranya.

__ADS_1


Tidak terasa waktu beranjak petang Tyas merasa sedikit lelah setelah seharian mengitari mall, terlebih lagi semalam hanya tidur beberapa jam.


"Nice to get acquainted with you, I hope to have a chance to meet again."Ucap Hideyaki sesaat sebelum mereka berpisah.


" Sure," Sahut Tyas singkat seraya menjabat tangan Hideyaki.


Setibanya di rumah Tyas berpapasan dengan ibu angkatnya yang tampak terburu buru masuk kedalam mobil.


Sepertinya hendak keluar rumah, melihat raut muka ibu angkatnya yang masam Tyas tidak punya keberanian untuk bertanya ia menundukan pandangan.


Tyas masuk kedalam rumah rumah tampak dalam keadaan kacau balau banyak pecahan kristal di ruang tamu tampaknya Ibu angkatnya itu habis mengamuk dengan menghancurkan koleksi kristalnya.


Mbok Marni di bantu Asih tengah membereskan serpihan serpihan kaca di ruang tamu itu Tyas segera menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.


Belum sempat ia membuka pintu kamarnya sepasang tangan kekar berbulu halus mendekap nya dari belakang dan menyeret masuk kedalam kamar.


Harsha memaksa nya masuk ke kamarnya bau alkohol yang menyengat menguar dari mulut Harsha matanya tampak sayu dan memerah.


"Ayo sayang aku lagi Horny berat ."Harsha tampak menceracau sambil menghujani ciuman. tangannya bergerilya dengan liar di balik kemeja yang Tyas kenakan tangan kekar itu  meremas bukit kekar Tyas dengan lembut.


 deru nafasnya semakin memburu di dorong nya tubuh Tyas keatas  ranjang.


Dengan ganasnya ia ******* bubir Tyas membuat gadis itu megap megap.Tyas mendorong tubuh Harsya hingga abang angkat nya itu terjengkang  jatuh dari rajang.


Plaaak .Plaaak..!


Tyas menampar wajah harsya berkali kali


"Kenapa, apa papa lebih jago dari aku?." Ujar Harsha seraya mengusap pipinya bekas tamparan Tyas.


Harsha bangkit dan kembali merangsek kearah Tyas. Kali ini Tyas tidak bisa berkutik tenaganya kalah kuat dengan Abang angkatnya itu.


Harsha mencumbuinya dengan nafsu yang menggebu gebu deru nafasnya di samping telinga Tyas tak urung membangkitkan gairah Tyas.


Setelah sama sama mencapai ******* kedua insan berlainan jenis itu saling berpandangan .


"Gimana aku aku tidak kalah dari papa kan?." Ujar Harsha tersenyum sinis.


Tyas tidak menanggapi ocehan abang angkatnya itu namun bergegas kekamar mandi kemudian mengenakan pakaiannya kembali.


"Itu kenapa di bawah seperti habis terkena bom nuklir."Celetuk Tyas seraya merapikan pakaian nya


"Biasa badut badut itu habis bertengkar dan saling bertahan dengan alibinya."Timpal Harsha seraya menyulut rokok kemudian duduk di sofa di sudut kamarnya.


Ia memutar musik didalam kamarnya yang berurukuran cukup luas


Tyas berjalan kearah pintu belum sempat ia meraih gagang puntu Harsha telah menghalanginya dengan badan kekarnya dan menariknya dalam pelukan.


" Mau kemana disini saja temani aku, aku janji tidak akan mengulangi lagi."Ujarnya.


" Gila kamu kamu bapak di rumah." Bisik Tyas.


" Kenapa kalau papa itu ada di rumah?."


"Lepas kan! atau aku teriak."Ancam Tyas


" Silahkan teriak biar papa tahu kalau kita habis having fun."Timpal Harsha cuek.


Tyas lagi lagi tidak punya pilihan selain menuruti permintaan abang angkatnya ini.


Saat mereka tengah berdebat kecil tiba tiba terdengar langkah kaki menaiki anak tangga , langkah itu kian mendekat dan berhenti di depan kamar Harsha.

__ADS_1


"Harshaaaa!" Tanpa di duga Ayah angkatnya sudah berada di depan kamar abang angkatnya.


" Mampus gimana ini?." Bisik Tyas


" Shhht."


Harsha membekap mulut Tyas dan mengeraskan suara musik di kamarnya pura pura tidak mendengar panggilan papanya.


"Harshaaaaa Buka pintu nya sebentar atau papa dobrak!." Teriak papa nya lagi. Harsha meminta Tyas masuk kedalam lemari bajunya sebelum ia membuka kan pintu.


Dengan pura pura sempoyongan Harsha membuka pintu .


"Apa sich berisik sekali pa?."


" Mabuk lagi kamu? Anak tidak berguna!."


Plaaak.!!


Sebuah tamparan keras mendarat telak di Pipi Harsha. Karena kerasnya tamparan yang di layangkan papanya tak urung darah segar meleleh dari sudut bibir Harsha.


Harsha mengusap darah dari sudut bibirnya dan tersenyum sinis.


Saat papanya hendak melayangkan tamparan ke dua kalinya dengan sigap Harsha mencekalnya.


"Stop papa!." Teriak Harsha seraya menyentak kan tangan papanya membuat lelaki itu terhuyung.


" Anak tidak berguna papa bilang? apa papa sudah menjadi contoh yang baik buat aku dan Andrew?!!."


" Ya kamu anak tidak berguna! Papa sudah mendapat laporan dari pihak universitas bahwa kamu sudah drop out 3 bulan yang lalu!."


" Bisa bisanya kamu pretend masih menjadi mahasiswa !."


" Papa ,mama , aku .. Kita sama sama manusia tidak berguna!." Pekik Harsha dengan histeris.


"Kurang ajar kamu! jauh jauh papa sekolah kan kamu keluar negeri ini hasilnya?!."


"What you expect hah!!." Tantang Harsha mata nya berkilat kilat karena ledakan amarah yang ia pendam selama ini.


" What you expect?!! dari tumpukan sampah apa yang bisa di harapkan?!." Harsha semakin tidak terkontrol kata katanya begitu menusuk.


" Kurang ajar kamu, kamu sama kan kami dengan sampah?!."


" That's true!!." Ujar Harsha mendorong papanya menjauh dari kamarnya.


Dengan sekuat tenaga di bantingnya pintu kamar itu hingga menimbulkan suara berdebum yang memekak kan telinga. Kemudian terdengar suara kunci yang di putar.


Bughhh!!.


Harsya meninju dinding kamarnya dengan keras.


" Ba******!!!!!." Harsha berteriak histeris belum puas melampiaskan ledakan emosinya Harsha melemparkan gelas yang ada di mejanya.


Praaaaaaank! Suara Pecahan kaca yang beradu dengan lantai semakin membuat suasana mencekam tanpa di duga Harsha berjongkok memungut pecahan gelas yang berserakan di lantai  dia menggegam pecahan gelas dalam tangannya  rahang nya mengatup keras   nafasnya tersengal sengal karena ledakan amarah dalam jiwanya.


Darah segar mengucur dari sela sela jemari tangan kekar itu Harsha tampak menikmati  pemandangan  dari setiap tetes darah yang keluar dari telapak tangannya.


Di sisi lain Tyas tampak gemetar mendengar pertengkaran antara ayah dan abang angkatnya itu.


Sesaat kemudian  Harsha sepertinya tersadar bahwa adik angkatnya masih berada di dalam  lemari pakaianya, takut terjadi hal hal ynag tidak diingin kan ia segera beranjak dari sofa dan membuka lemari.


"keluar." Harsha membantu Tyas keluar dari dalam lemari.

__ADS_1


Tyas menggelosor di lantai nafasnya tersengal sengal karena didalam lemari minim oxigen.


__ADS_2