Mendadak Jadi Sosialita

Mendadak Jadi Sosialita
Di peras


__ADS_3

"Aku tahu semua   rahasia mu  kamu adalah dalang tunggal di balik kematian suami mu," Cetus Amy saat mereka kembali berhadapan,  hati Tyas ketar ketir  mendengar ucapan Amy namun ia tidak ingin lawannya tahu jika ia merasa terintimidasi.


" Jangan asal bicara kamu, apa kamu punya bukti yang valid?  kamu bisa aku tuntut!." Tantang Tyas, Amy tersenyum sinis mendengar gertakan Tyas ia tahu, Tyas sesungguhnya sedang merasa terancam.


"Hahhaahhah,  bukti? fine aku kasih buktinya !."


Amy  masuk kedalam  rumahnya  berapa saat ia sudah kembali dengan memakai sarung tangan dan di tangannya ada botol berisi cairan bening ,  Jantung Tyas berdegup dengan kencang  ketika melihat apa yang di pegang Amy.


" Kamu kenal kan dengan botol ini? ini yang mengantarkan suami mu ke alam baka." Ucap Amy sambil tersenyum menyeringai.


" Jaga mulut kamu! ." Meskipun ia merasa sakit hati atas pengkhiantan yang di lakukan mendiang suaminya namun entah mengapa hati nya terasa sakit mendengar kata kata Amy.


 Didalam hatinya ia merutuk mengapa ia begitu bodoh   sehingga begitu  teledor  dengan barang bukti yang bisa saja menyeretnya kepenjara.


 sejenak ia berusaha mengingat ingat sesuatu, akhirnya dia ingat kalau dia telah memerintahkan  artnya itu untuk membuang tas itu.


 Matanya  tampak beringas menatap kearah artnya itu, ia bertanya tanya dalam hati mengapa artnya masih menyimpan tas itu alih alih membuangnya seperti yang ia perintahkan


" Maaf bu saya tidak membuang nya karena tas itu  sangat bagus  jadi saya simpan, saya tidak tahu kalau ada botol itu." Celetuk Ayu menimbrung pembicaraan  diantara keduanya.


"Ayuuu! kamu benar benar ya."Seru Tyas menahan emosi sebelum Amy segera melindungi Ayu dengan badannya dari serangan Tyas.


" Sekarang Apa mau mu!." Ujar Tyas matanya tajam mengawasi Amy ia mencari celah supaya Amy lengah untuk merebut botol itu dari tangan nya Namun Amy sepertinya sudah memperhitungkan segala sesuatunya.


" 2 milyar barang bukti aku musnahkan sekarang juga di depan mu." Ucap Amy seenak udelnya.

__ADS_1


" Gila kamu!, itu bukan jumlah uang yang sedikit." Gerutu Tyas


" Kenapa uang Asuransi mendiang suami mu jumlahnya fantastis bukan? 2 milyar aku rasa bukan masalah buat kamu!."


Tyas tampak terdiam beberapa saat ,ya uang yang di sebutkan Amy memang terbilang sedikit jika di lihat dari seluruh aset peninggalan mendiang suaminya.


Yang membuatnya ragu adalah apakah Amy bisa di percaya? Ia takut setelah ia memberikan uang itu ia akan menjadi atm berjalan Amy.


"Gimana, pilih keluarkan 2 milyar atau kamu membusuk di penjara."Ujar Amy lagi.


"Ok fine   aku  transfer  uang mukanya  dan sebagian lagi cash, sekarang kita ke bank untuk tarik tunai." Sahut Tyas    namun  di benak nya sudah tersusun sebuah rencana  jahat.


Agar tidak terlihat ada yang terlihat janggal  ia rela mengeluarkan sejumlah uang sebagai pancingan , tidak lama ia mentransfer sejumlah uang ke rekening Amy sebagai uang muka.


Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak terlibat pembicaraan asyik dengan jalan pikiran masing masing.


Amy tampak menggenggam erat tas Tyas yang di dalam nya terdapat barang bukti kematian mendiang suamin nya itu, di dalam benak Amy sudah terbayang apa yang ia bisa lakukan dengan uang yang akan ia dapat.


Meski sejujurnya di dalam hati Amy sudah di hinggapi perasaan tidak enak mengingat ia tidak mengenali jalan jalan yang di lalui, namun ia memilih untuk tetap tenang dan berdoa semoga Tyas tidak berbuat aneh aneh.


Amy tampak terkejut ketika   menyadari bahwa mereka telah berhenti di  dekat sebuah lahan kosong  yang menyerupai savana  dengan rumput ilalang setinggi lutut  orang dewasa  di kelilingi  tebing yang curam    dan sekitarnya tampak sunyi sepi .


Tyas terlebih dulu turun  dan berteriak teriak  seperti orang tidak waras berputar putar sambil merentangkan tangan, tidak lma Amy pun menyusul turun.


"Kenapa kita berhenti disini bukan kah kita mau ke bank?."  Tanya Amy dengan perasaaan tidak mnegerti mengapa tyas  membawanya ke tempat ini.

__ADS_1


" Sebentar  aku perlu udara segar untuk merefresh otak ku, tidak usah takut aku biasa kesini untuk healing " Sahut Tyas berusaha sesantai mungkin  ia pura pura merentangkan tangan   membiarkan hembusan angin menerpa rambut panjang nya kemudian memejamkan  matanya seolah olah sedang menikmati susana alam sekitar.


Melihat   tingkah Tyas akhirnya Amy merasa tenang, ia yakin bahwa Tyas memang sedang butuh  merefresh fikirannya ia  pun mengikuti apa yang di lakukan Tyas dengan polosnya.


'Woow  i"am so amaze ." Teriaknya , diam diam Tyas  melirik kearah nya   dan menyeringai, " Dasar bodoh!." Desis Tyas,  perlahan Tyas menggeser tubuh nya ia meraih sebuah batu karang  runcing berurukan cukup besar.


 Tanpa  menunggu waktu sekuat tenaga ia


hantamkan batu itu ke belakang kepala Amy.


Praaak!


Suara batu yang beradu dengan tulang tengkorak kepala  Amy terasa  mengerikan darah segar mengucur deras dari kepala bagian belakang Amy,   tubuhnya terlihat limbung  ia terlihat kesakitan sambil memegang kepala bagian belakang.


" Arrr gggh!." Erang Amy kesakitan   Tyas langsung mendorong tubuh Amy kedasar jurang yang terjal yang di tumbuhi  semak  belukar dan pohon pohon yang tinggi. yang Tyas yakin tidak pernah di jamah oleh manusia  sebelum nya.


Tyas memandangi tubuh Amy ynag terguling guling menuruni tebing terjal itu hingga akhirnya tidak terlihat lagi. "Sudah ku bilang, jangan pernah bermain main dengan aku!." desis Tyas sambil menyeringai ia segera membuka mobil teringat dengan tas  yang berisi cairan beracun  yang bisa membawanya kepenjara itu. ia meraih tas itu dan melemparkannya  kebawah menyusul jasad Amy.


Setelah semua di rasa aman ia masuk  mobilnya   hendak meninggalkan tempat itu,  sejenak ia duduk terdiam menyandarkan kepalanya kebelakang tatatpannya kosong, hidup nya benar benar terasa hampa.


 Tyas sadar betul apa yang telah mengantarkannya di titik ini , ambisi !ya ambisi nya membuat ia menjadi manusia yang menghalalkan segala cara.


"Aapa yang sudah aku lakukan?arghhhhhhh!." Ucapnya dengan tangan dan suara yang gemetar ia   buru buru menurun kan hand rem dan  perlahan ia memundurkan mobilnya hendak memutar namun karena grogi , kakinya refleks menginjak pedal gas dalam dalam.


Alhasil mobil melaju kearah jurang dengan tidak terkendali akhirnya  mobil itu terguling guling   bebarapa kali sebelum  menghantam kedasar jurang dan akhirnya menimbulkan ledakan yang cukup keras.

__ADS_1


__ADS_2