
Tanpa di sadari Tyas telah jatuh hati pada ayah angkatnya itu tidak ada satu pun malam yang di lalui tanpa mereka bergelut panas.
Tapi bangkai bagaimana pun rapi di tutupi akan tercium juga malam itu adalah malam naas bagi Tyas dan ayah angkatnya.
Karena terlarut dalam permainan panas akibatnya mereka kesiangan dan celakanya Mbok Marni memergoki Lambang Prasodjo keluar dari kamar Tyas.
" Ngapain Mbok pagi pagi disini?." Suara bariton ayah angkatnya terdengar gusar karena begitu membuka pintu kamar Tyas Pembantunya memergokinya.
" Kan sudah biasa pak pagi pagi saya bersihkan rumah ini." Sahut Mbok Marni lirih.
" Jangan bilang apa apa sama Nyonya saat beliau pulang awas nanti kamu." Ancam Ayah angkatnya pada Mbok Marni.
Tyas mendengarkan percakapan mereka dari balik puntu kamarnya ia di landa rasa cemas yang hebat.
Bagaimana kalau kelakuan bejatnya di laporkan pada ibu angkatnya oleh Mbok Marni?. Terlebih lagi perempuan berusia seja sudah menunjukan permusuhan sejak awal dia datang kerumah ini.
Tok . Tok..Tok!
Mbok Marni sudah berdiri di depan pintu dengan wajah jijik.
" Dasar murahan." Gumam Mbok Marni seraya mulai membuka gorden di kamar Tyas, namun suara gumaman nya itu terdengar jelas lebih tepat di sebut umpatan daripada sekedar bergumam . Tidak terima dengan apa yang di katakan Mbok Marni ia menghampiri perempuan ynag sebaya dengan ibunya di kampung.
" Ngomong apa mbok? Coba sekali lagi ulangi." Tantang Tyas berdiri di belakang Mbok Marni.
Mbok Marni membalikan badan dengan sorot mata tajam.
" Kenapa memang kamu murahan, tega teganya berkhianat pada orang yang menganggap kamu anak!." Cecar Mbok Marni
" Kenapa ? apa salah saya sama Mbok? Sejak awal Mbok sudah tidak suka sama saya." Tanya Tyas
Mbok Marni tidak menggubris pertanyaan Tyas ia memilih menyibukan diri membersihkan ruangan kamar Tyas.
" Mbok saya bertanya apa salah saya sama Mbok? Cemburu sama saya?."
Sayang perempuan berusia senja itu tetap memilih bungkam hingga selesai membersihkan kamar Tyas.
Tyas menghela nafas dalam dalam untuk meredakan emosinya karena tidak mendapat tanggapan dari perempuan berusia senja itu.
Setelah peristiwa pagi buta ituTyas selalu di landa rasa gelisah sekaligus rasa bersalah, gelisah karena takut suatu saat permainan kotornya akan sampai di telinga Amira Prasodjo ibu angkat nya.
Dan rasa bersalah pada perempuan yang telah begitu baik terhadapnya tapi apa mau di kata semua telah terjadi.
Tring! Ada notifikasi pesan masuk di smartphonenya.
__ADS_1
"Sweet heart , ibu hari ini pulang, pandai pandailah berakting." Pesan itu datang dari Ayah angkatnya sekaligus pemberi kehangatan setiap malam nya.
" Ok i will." Balasnya singkat dan langsung menghapus pesan dari ayah angkatnya itu.
Seperti pesan ayah angkatnya mereka berakting seperti tidak terjadi apa apa diantara mereka selama Amira Prasodjo berada di luar negeri, mereka menjemputnya malam itu di bandara.
Dari kejauhan tampak perempuan anggun itu menuju ke arah mereka , namun ia tidak sendiri ada lelaki tinggi besar berhidung bangir yang berjalan di samping Amira.
" Hallo honey." Ucap ayah angkatnya seraya memeluk istrinya seolah olah hatinya di liputi kerinduan , Tyas melihat adegan itu dengan rasa mual ya di depannya tengah berlangsung adegan yang penuh dengan kemunafikan diantara sepasang suami istri.
Setelah keluarga yang penuh kemunafikan itu saling berbasa basi Tyas melangkah maju memeluk ibu angkatnya itu.
" Ibu bagaimana liburannya?." Ucapnya berbasa basi.
" Fun, sayang sich kamu tidak bisa ikut." Sahut Amira prasodjo seraya melepas pelukannya.
" Who is she." Harsha anak lelaki keluarga mereka merasa aneh ada orang asing di tengah tengah keluarga mereka.
" Oh iya lupa ini Tyas adik angkat kamu dia seorang pengacara loh ." Sahut Amira Prasodjo sambil tersenyum.
Harsha Prasodjo mengamati Tyas dari ujung rambut sampai ujung kaki sebelum kemudia menyodorkan tangannya pada Tyas.
" Hallo young sister, Harsha." Ujar anak sulung keluarga Prasodjo itu seraya mengukurkan tangan kearah Tyas.
"Tyas." Sahutnya sambil tersenyum manis.
Hari hari selanjutnya Tyas sudah tampak akrab dengan abang angkatnya itu mereka sering berdiskusi tentang banyak hal apalagi mereka berlatar belakang disiplin ilmu yang sama.
"Tyas.. Sabtu sore ikut saya arisan bisa kan?." Ujar Amira Prasodjo saat mereka temgah menikmati makan malam.
" Bisa bu." Sahut Tyas
" Kok manggilnya ibu sich mama dong." Timpal Harsha sambil melirik kearah Tyas.
"Maaf mas lidah saya kaku maklum wong ndeso." Sahut Tyas sambil mesem.
Seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya sabtu sore itu Tyas dan Amira Prasodjo sudah berdandan cantik siap menghadiri Arisan di rumah kolega Amira.
Amira Prasodjo meminta Tyas menuju ke sebuah kompleks perumahan elit tidak lama mereka telah sampai di depan sebuah rumah bergaya classic ber cat putih bersih.
Rumah itu tampak asri dengan beraneka tanaman bunga di halaman depannya Amira memencet bell seorang Art tampak tergopoh gopoh membuka kan pagar untuk mereka.
" Hello jeng." Sapa perempuan yang tampak lebih muda dari Amira Prasodjo mereka saling cipika cipiki dan berbasa basi sebentar.
__ADS_1
" Eh iya kenalin anak angkat gw, Tyas dia pengacara loch." Ujar Amira sambil menggandeng Tyas.
" Oh ya?." Sahut si tuan rumah sambil tersenyum ke arah Tyas.
Mereka beriringan masuk kedalam ,jantung serasa berhenti berdetak tatkala melihatĀ dengan tanpa beban Amira Prasodjo ibu angkatnya itu berpelukan dengan seorang lelaki yang seumuran dengan anak sulung nya.
" Hai sayang gimana kabarnya." Sapa brondong bertubuh atletis dan dengan wajah maskulin tersebut seraya menyongsong Amira Prasodjo ibu angkatnya.
" Baik sayang, do you miss me?." Sahut Amira Prasodjo sambil menggelendot manja pada lelaki yang seumuran anak sulung nya itu.
" Off course i miss you."
Dengan masih menggelendot manja di pelukan lelaki muda itu Amira Prasodjo mengenalkan Tyas .
" Frans." Ujar lelaki muda yang seumuran dengan anak sulung ibu angkatnya itu.Tyas menyambut uluran tangannya dengan rasa campur aduk.
" Keluarga edan." Gumam Tyas dalam hati. Suaminya bermain gila dengan dirinya dan istrinya bermain gila dengan lelaki yang seusia dengan anak sulung mereka.
Tapi di depan semua orang mereka bersikap seolah olah sebagai keluarga yang harmonis dunia oh dunia! Tanpa sadar Tyas mengeleng gelengkan kepalanya.
Tidak lama semua anggota arisan telah berkumpul setelah berbasa basi sebentar mereka langsung mengocok gulungan gulungan kertas yang berada di mangkok kristal itu.
" Satuu..duaa tiii ... gaa." Mereka langsung berebutan mengambil gulungan kertas yang keluar dari mangkok itu.
Situan rumah dengan sigap membuka gulungan kertas teman teman lainnya menunggu dengan tidak sabaran.
" Cepat buka gak sabar eike, eeh by the way mana nich door pricenya." sahut salah seorang di antara mereka.
"Sabar... dese lagi dalam perjalanan biasa macet."
Begitu kertas di buka yang keluar ternyata tuan rumah.
Dia berjingkrakan semacam anak kecil yang dapat surprise dari orang tua nya.
" Yang ini cucok meong..Awwwww!." Dengan genit nya tuan rumah memperagakan gerakan seekor kucing yang hendak mencakar.
Tidak lama seorang lelaki muda berperawakan atletis berkulit sawo matang memasuki ruangan.
Sontak terdengar sorakan sorakan histeris dari peserta arisan yang notabene adalah para ibu ibu kesepian yang berusia setengah baya itu.
"Jeng tuker nomor lah eike gak tahan nich."
" No.. no ..no.. Sahut si tuan rumah sambil menggoyang goyang kan jari telunjuknya.
__ADS_1
" Malam ini kamu milik eike sayang." Ujar tuan rumah sambil menjawil dagu si brondong yang baru datang itu.