
''Keesokan harinya saat datang ke kantor rekan rekan nya memberi selamat atas keberhasilanya tidak terkecuali Pak Lukman atasannya yang seorang pengacara senior ternama.
"Congratulation Tyas hebat.. hebat bapak bangga sama kamu!" Ucap , atasannya membuat Tyas tersipu malu.
" Terima kasih pak, tapi saya seujung kukunya bapak pun tidak ada."
"Jangan begitu semua ada prosesnya saya pun memulai dari bawah seperti kmau, semangat ya."Timpal Pak Lukman tanpa tersirat sedikit pun rasa Jumawa.
Semoga kelak suatu hari nanti saya bisa mengikuti jejak bapak."
"Aamiin insya allah siapa pun bisa seperti saya asal mau terus belajar dan berusaha. " Timpal pak Lukman lagi.
Sorenya Tyas pulang kerumah keluarga Prasodjo dengan hati yang riang gembira senyum terkembang senantiasa di wajah ayunya.
Seperti biasa rumah besar dan megah itu dalam keadaan sepi sambil bersenandung kecil Tyas masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Namun langkah nya terhenti karena abang angkat nya tengah memperhatikan dirinya di depan paino di sudut ruangan depan kamar mereka.
" Erhhhm ada yang bahagia sepertinya." Celetuk Harsha abang angkatnya sambil tersenyum menggoda kearahnya. Tyas tersipu malu mendengar celetukan abang angkatnya.
"Sini ngapain kamu berdiri disitu terus?." Ujar abang angkatnya yang melihat Tyas masih berdiri mematung di depan tangga. Tyas segera melangkah menghampiri Harsha dan duduk bersebelahan di depan piano.
"Kenapa kok kelihatannya happy banget ." Tanya Harsha sembari kembali memencet tuts tuts piano.
" Aku memenang kan sidang dan client bebas." Jawab Tyas sambil tersenyum sumringah
"Wow really? congratulations!."
Timpal Harsha sambil menegembangkan tangannya dan meraih adik angkatnya itu dalam pelukannya.Tyas mengangguk sambil terus tersenyum.
" Oh ya mas keluar yuk aku traktir dech, sebagai perayaan kemenangan ini."
" Serius nich?." Goda Harsha . Lagi lagi Tyas hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Saya ganti baju dulu ya ." Ujar tyas seraya beranjak masuk kedalam kamarnya, Harsya mengangguk sambil menutup piano dan dia pun segera menyusul masuk kekamarnya.
20 Menit kemudian mereka berdua sudah siap untuk pergi.
"Mboooook, tolong kunci pagar kami akan pergi keluar." Seru Harsha memanggil Mbok Marni.
"Ya deeeen Mbok datang.
__ADS_1
Mbok Marni datang tergopoh gopoh sekilas ia melirik kedalam mobil ia melihat Tyas yang duduk di samping Harsha anak majikannya itu.
Ia segera mengalih kan pandangannya. sejurus kemudian Harsha menurunkan kaca mobilnya dan berpesan pada Mbok Marni.
" Mbok tidak usah siapkan makan malam, kami semua makan di luar mama sama papa juga sepertinya tidak pulang." Pesan Harsha.
" Baik den." Timpal Mbok Marni sambil menunduk dia tidak berani menatap kerah tyas setelah peristiwa beberapa hari yang lalu.
Jalanan ibu kota tampak begitu crowded meski hari sudah menjalang malam mereka terlibat perbincangan seru selagi dalam perjalanan menuju sebuah resto untuk makan malam.
Tidak lama mereka telah sampai di tempat tujuan dan tengah menikmati hidangan yang mereka pesan.
Saat Tyas dan Harsha memasuki resto banyak mata yang memandang iri kearah mereka, bagaimana tidak mereka terlihat sebagai pasangan yang ideal.
Tyas mengangguk ramah pada beberapa pasang mata yang tampak mencuri curi pandang kearah mereka.
" Tuch ada yang lihatin mas terus, ajak kenalan dong." Goda Tyas pada abang angkatnya.
Harsya menoyor kepala Tyas sambil nyengir.
" Dikira eike cowok apaan iiih." Harsha membalas Tyas lebih gokil dengan menirukan tingkah lelaki gemulai.
Melihat hal yang tidak di duga duga membuat Tyas tertawa sontak air mineral yang berada di mulutnya menyembur keluar membasahi kaos yang ia kenakan .
Hahaaha hahha uhuk uhuk uhuk.. Tyas tersedak yang mengakibatkan iya terbatuk batuk karena tingkah konyol Harsha
Harsha buru buru meraih Tissue dan membantu Tyas mengeringan baju dan lengan yang tersembur air.
Malam itu mereka begitu ceria candaan candaan ringan sesekali terlontar dari mulut keduanya.
Baru saja mereka selesai menyantap dessert , tiba tiba Smarphone Tyas berbunyi.
Tring!
Terdengar notif pesan masuk ke smartphone Tyas berkali kali , Tyas segera meraih smartphonenya dari dalam tas nya.
DEGHHH! Jantung Tyas serasa berhenti berdetak matanya nanar menatap layar ponselnya apa yang ia takut kan terjadi akhirnya salah satu customernya telah menyadari bahwa berlian yang ia jual adalah berlian palsu.
Tyas teringat sebuah pepatah yang mengatakan sepandai pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh. Itulah situasi yang sedang ia hadapi saat ini.
" Hallo jeng saya mau uang saya kembali ,kalau tidak saya akan bawa masalah ini ke ranah hukum." Tulis salah satu customernya. Belum selesai ia mengetik balasan pesan baru kembali mendarat di smartphonenya kali ini customer nya yang lain complain tentang tas branded yang di beli nya dari Tyas.
__ADS_1
" Jeng bikin saya malu saja! ternyata tas yang jeng jual itu palsu , ini teman saya yang kolektor baru saja mengeceknya tanggung jawab!".Tyas memijit mijit pelipisnya yang berdenyut setelah membaca pesan pesan dari customernya.
Wajahnya tampak pucat dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya karena di landa panik,itu baru customer. Yang berada di luar jakarta.
Bagaimana jika customernya yang berada di jakarta juga segera sadar ?, bagaimana ia akan mengembalikan uang mereka yang terbilang tidak sedikit? kepanikan Tyas semakin memuncak.
Karena ia telah mengalokasikan uang uang itu untuk membeli property di bali.
Tyas segera menonaktifkan smartphonenya dan tersenyum semu kearah Harsha. rupanya Harsha menyadari perubahan sikap Tyas yang tiba tiba menjadi diam dan terlihat pucat setelah memeriksa smartphonenya.
" Kenapa dek kamu sakit? Tanya Harsha yang terlihat cemas karena melihat perubahan sikap Tyas.
Tyas hanya menggeleng lemah sejurus kemudian ia melambaikan tangan pada pelayan resto untuk meminta bill karena mereka telah menyelesaikan makan malam mereka.
"Kita pulang ya mas." Ujar tyas lirih. Harsha mengangguk dan tidak melontarkan pertanyaan lagi karena ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan adik angkatnya itu.
Sepanjang perjalanan pulang Tyas tampak lebih banyak diam dan tampak merenung wajahnya terlihat pucat.
"Ada apa sih dek cerita dong sama mas siapa tahu mas bisa kasih solusi." celetuk Harsha memecah kesunyian diantara mereka.
" Tidak ada apa apa mas masalah dengan kawan." Sahutnya berbohong ia tidak ingin Harsha tahu masalah yang sebenarnya karena ia tidak mau nantinya merembet kemana mana dan berujung terbongkarnya kebusukan dirinya selama ini.
"Ouuh." Sahut Harsha singkat.Namun ia bisa merasakan bahwa Tyas sedang menyembunyikan sesutu yang terlihat dari gesture tubuh Tyas.
Setibanya mereka di rumah Tyas berpamitan pada Harsha untuk masuk ke kamarnya dengan alasan kurang enak badan.
Di dalam kamar ia mondar mandir gelisah memikirkan langkah yang akan ia ambil setelah beberapa saat ia menemukan solusi dari masalahnya.
Yap melarikan diri ! Ia harus melakukan antisipasi sedini mungkin.
Diam diam dia menurun kan koper besar miliknya di susunnya semua baju dan segala ***** bengek kedalam koper besar itu dan menguncinya.
Tyas kembali mengecek laci laci lemari baju dan meja riasnya ia memastikan tidak ada yang tertinggal satu pun. setelah merasa segala sesuatunya tidak ada yang tertinggal ia merebahkan diri untuk merelax kan otot otot tubuh nya sejenak.
Sepanjang malam itu Tyas hanya tidur 2 jam saja tepat pukul 4 ia bangun dan segera berkemas kemas dengan hati hati ia mendorong kopernya menuruni tangga ia tidak ingin Harsha memergoki dirinya dengan koper besar itu .
Dengan hati hati ia menuruni anak tangga berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Ia tampak celingak celinguk mengawasi keadaan di rumah seperti maling kemudian ngacir mendorong kopernya keluar pintu
Setelah detik detik yang menegangkan itu dengan perlahan mendorong garasi rumah megah itu ,dan mengeluarkan mobil pribadinya di masukan segala barang barang bawaanya 1 koper besar dan dua travel bag besar lainnya.
__ADS_1