
Happy Reading.
Ciara benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat kali ini. Seorang pria yang sudah dua tahun ini tidak ia temui atau lebih tepatnya Ciara tidak ingin bertemu, pria yang sangat ingin dia hindari. Pria yang telah menorehkan luka terdalam di hatinya kini tengah tersenyum kepadanya.
Ada riak rindu di netra hitam itu, bahkan pancaran rindu yang ditunjukkan untuknya. Hanya ada Ciara di mata Arkan dan selama saat itu tidak pernah ada yang lain lagi.
"Arkan!" gumam Ciara.
Tidak dipungkiri jika ada sebersit rasa rindu di hatinya untuk pria itu, tetapi rasa sakit hati lebih mendominasi, rasa kecewa dan kecewa yang selalu terpatri di hati Ciara untuk sang mantan suami.
Sedangkan Arkan sudah tidak bisa membendung rasa rindu di hati yang sudah meluap-luap seperti aliran sungai yang terus diguyur hujan. Ingin rasanya Arkan menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, mencium kening Ciara sambil melimpahkan segala rasa yang menumpuk dihatinya.
Namun, Arkan harus sadar jika saat ini mantan istrinya tengah menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam, ada kekecewaan yang tercetak jelas di mata hitam itu.
Arkan sadar diri, jika mungkin kemunculannya saat ini membuat Ciara benar-benar terkejut, tapi Arkan tidak bisa tinggal diam setelah mengetahui keberadaan Ciara dua bulan yang lalu.
Selama dua tahun pria itu benar-benar seperti orang gila karena sang mantan belum juga di temukan. Namun, Arkan tetap tidak pernah meninggalkan pekerjaannya sama sekali, justru dia semakin giat bekerja dan terus berusaha mencari keberadaan sang mantan istri.
Dan inilah kegilaannya yang dia wujudkan sekarang, membeli apartemen di samping apartemen milik sang mantan. Padahal apartemen itu awalnya masih ada pemiliknya.
Tetapi sang pemilik sebelumnya dengan suka rela menjual apartemen mewah itu kepada Arkan dengan harga yang tidak murah.
Namun Arkan tetap membelinya demi agar dekat dengan Ciara. Arkan akan melakukan apapun agar bisa memantau sang mantan dan tidak menghilang seperti dua tahun ini.
"Ehmm ... Aku hanya ingin memberikan ini, sebagai tetangga baru tentu aku harus memperkenalkan diri dan memberi sedikit makanan sebagai pengenalan," ucap Arkan masih dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Menyodorkan sebuah kotak yang sepertinya berisi masakan Padang, dari baunya memang masakan Padang sih, tapi Ciara nggak tau juga nggak mau nebak.
"Kebetulan aku sudah kenyang, karena baru saja makan, ambil kembali makananmu!" Ciara sudah akan menutup pintunya tapi tidak jadi karena suara Arkan yang menyela.
"Cia, please! Aku tahu kamu pasti sangat membenciku, tapi tolong terimalah! Nggak baik nolak rezeki," Arkan masih menyodorkan kotak makanan itu meski Ciara enggan mengambilnya.
"Baiklah, terima kasih!" Ciara akhirnya mengambil kotak itu dengan terpaksa.
Senyum lebar kembali tersungging di bibir Arkan, "aku senang melihatmu baik-baik saja dan masih seperti yang dulu," ucapnya karena melihat Ciara yang masih sama, sehat-sehat saja.
Jika dia ingat bagaimana dulu Arkan terpaksa melepaskan Ciara karena keinginan wanita itu yang begitu kuat, sekarang dia juga akan mengejarnya sampai Ciara luluh kembali.
Arkan tahu jika itu tidaklah mudah, tetapi dia yakin jika ketulusan nya akan membuat sang mantan istri menerimanya kembali.
Beberapa bulan sebelum perceraian.
Ciara menatap kosong langit-langit rumah sakit dengan pandangan tanpa ekspresi. Hidupnya terasa hancur ketika mengingat kembali jika anaknya telah pergi jauh meninggalkan nya.
Ekor matanya melirik ke arah nakas di mana terletak pisau buah yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Perlahan tangan Ciara yang bebas dari infus mengambil pisau itu.
Entah untuk apa, tapi nalurinya mengatakan jika dia ingin mengambilnya. Tetapi kali ini Ciara hanya sendiri, tidak ada Arkan yang mendampinginya. Entah kemana perginya suaminya itu. Dia baru saja terbangun setelah disuntik penenang karena mengamuk dengan Arkan yang tidak mau melepaskannya.
Di dalam kamar rawat itu, Ciara hanya menatap hampa semua hal disekitarnya. .
Sedangkan Arkan sudah cukup lama meninggalkan Ciara untuk pergi ke kantin mengisi perutnya yang sudah dua hari ini tidak diisi. Dia tidak boleh sakit dan harus segera mengisi perutnya yang memang sudah terasa melilit.
__ADS_1
Arkan tidak memiliki penyakit lambung, tapi kalau perut itu tidak di kasih makanan, tentu saja akan membuat tubuhnya drop. Arkan tidak mau sakit, kalau dia sakit lalu siapa yang akan menjaga istrinya. Mumpung Ciara masih tidur, Arkan bergegas ke kantin untuk makan.
Akhirnya setelah menyelesaikan makannya, pria itu segera kembali ke kamar rawat sang istri.
Namun, ketika Arkan membuka pintu kamar rawat itu, pemandangan yang langsung membuatnya berteriak seperti orang kesetanan.
"CIARA!! Stop!! Apa yang kamu lakukan sayang!!" Seru Arkan saat melihat Ciara tengah memegang pisau ditangan kanannya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Arkan, sehingga dia merasa jika Ciara akan melakukan tindakan bodoh, sepertinya bunuh diri.
Ciara hanya menatap datar pada Arkan, entah seberapa benci nya dia terhadap lelaki ini, karena dia yang telah membuat sang anak pergi meninggalkan nya.
"Sayang, tolong jangan seperti ini, apa kamu benar-benar membenciku hingga kamu harus melakukan ini?? Please Cia, aku sudah kehilangan anakku, aku tidak mau kehilangan lagi!!" Arkan maju mendekati istrinya, perlahan dia akan mengambilnya pisau itu, tetapi Ciara menjauhkan dari Arkan dan masih menatapnya tajam.
"Tolong sayang, jangan sakiti dirimu, aku yang salah, seharusnya kamu menyakiti ku!!"
Sedangkan air mata Ciara sudah mengalir dari sudutnya, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk bunuh diri, tetapi setelah melihat bagaimana Arkan begitu shock dan sakit hati, mungkin dengan cara menyakiti dirinya sendiri bisa membuat Arkan sadar bagaimana rasa sakit Ciara saat melihat suaminya lebih memilih wanita lain di bandingnya mengantarkan istrinya yang akan memeriksakan kondisi calon anaknya, darah dagingnya sendiri.
Perlahan Ciara menutup mata dan membukanya kembali, kali ini sorot matanya terlihat tenang, walaupun tidak menatap Arkan. "Aku tidak akan menyakiti diri kalau kamu mau melepaskan ku, pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan kembali karena hanya akan saling melukai dan menorehkan luka yang tiada akhir, jadi kabulkan gugatan cerai ku!!"
Mata Arkan langsung memanas, muncul genangan air disudut nya. Matanya kini berkaca-kaca, dadanya terasa sesak. Tapi kalau hanya dengan cara seperti ini bisa membuat Ciara tenang, maka Arkan akan membuat keputusan besar di hidupnya.
"Bisakah kamu berjanji akan baik-baik saja dan bahagia jika aku melepaskan mu!"
Bersambung.
__ADS_1